Renungan Harian: 10 November 2021

Renungan Harian
10 November 2021
PW. St. Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Bacaan I: Keb. 6: 1-11
Injil: Luk. 17: 11-19

Tidak Tahu Diri

“Suatu hari, ART di rumah kami tidak masuk kerja karena sakit. ART di rumah kami adalah seorang ibu, yang datang pagi hari dan nanti sore hari pulang ke rumahnya. Rumah tidak terlalu jauh dari rumah kami. Karena kami mendengar bahwa dia sakit maka kami meminta sopir di rumah untuk membawa periksa ke dokter. Betapa kami terkejut mendengar cerita sopir kami, bahwa ART kami bukan sakit seperti yang kami kira, tetapi sakit karena luka-luka di wajah akibat dipukul suaminya. Mendengar itu kami menjemput untuk membawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan surat visum sebagai bukti untuk lapor ke polisi.
 
Namun ART kami tidak mau membawa peristiwa itu ke polisi, dia mau menerima saja, kasihan suaminya. Dari cerita ART kami, kejadian itu bukan yang pertama, tetapi sudah berulang kali. Setiap kali suaminya minta uang dan dia mengatakan tidak punya, suami akan marah-marah dan sering dengan memukul. Sejauh kami tahu, dari tetangganya, suami ART kami ini tidak bekerja, setiap hari kerjanya judi mancing. Sedang untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, ART kami yang bekerja.
 
ART kami ini luar biasa mencintai keluarganya. Setiap kali makan siang, kalau lauknya daging ayam, atau daging sapi, atau telur selalu dibungkus dan dibawa pulang. Dia rela makan nasi dengan sayur tanpa lauk demi suami dan anaknya. Bahkan kalau kami membeli makanan atau jajanan bagian dia selalu dibungkus untuk keluarganya.
 
Kami kasihan dengan ART kami, dia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya namun seringkali mendapatkan perlakukan kejam dari suami. Kami tidak tahu apa yang dalam pikiran suami semacam itu. Tidak mengerti terima kasih, tidak tahu diri  seolah-olah karena dia suami sehingga berhak untuk mendapatkan semua dari istrinya. Dan lagi seolah-olah punya hak untuk memukul istrinya demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Suatu saat ART kami pernah cerita dan berharap:
“Bu, sebenarnya suami saya tidak bekerja saya tidak menjadi masalah, karena saya  bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Namun yang membuat saya selalu tertekan itu sikap kasarnya dan sikapnya yang suka memukul.”

Bagi kami suaminya itu orang yang tidak tahu terima kasih,” seorang ibu bercerita tentang perjuangan membela ART-nya.
 
Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemui orang-orang yang tidak tahu terima kasih. Umumnya hal itu terjadi karena orang-orang merasa berhak dan sudah sepantasnya mendapatkan apa yang diharapkannya. Demikian juga hubunganku dengan Tuhan, seringkali aku tidak bersyukur atas apa yang telah aku terima karena merasa semua itu adalah usahaku dan atau aku merasa berhak mendapatkannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang Sembilan orang tadi? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.