Renungan Harian: 5 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 05 Oktober 2021

Bacaan I: Yun. 3: 1-10
Injil: Luk. 10: 38-42

Pengakuan

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan tamu seorang anak muda yang ingin ngobrol. Dalam pembicaraan, anak muda itu bercerita bahwa dirinya baru saja mengundurkan diri dari tempatnya bekerja; dan menurutnya ini sudah yang ketiga kali dirinya mengundurkan diri dari tempat kerja. Saya bertanya untuk memastikan dan menegaskan apakah anak muda ini mengundurkan diri atau “dipaksa” untuk mengundurkan diri. Anak muda itu menegaskan bahwa dirinya sungguh-sungguh mengundurkan diri. Dia mengatakan alasan mengundurkan diri karena dia sulit sekali untuk konsentrasi dalam bekerja, sulit untuk bekerjasama dengan rekan kerja sehingga banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Dia merasa gagal untuk mewujudkan idealismenya dalam  bekerja.
 
Dalam pembicaraan terungkap kalau mengerjakan suatu hal, dia punya idealisme bahwa pekerjaan ini seharusnya dilakukan dengan cara demikian.  Banyak hal yang ada dalam pikirannya adalah seharusnya begini, seharusnya begitu; akibatnya menjadi tidak fokus pada hal yang sedang dihadapi. Rekan-rekan kerjanya amat sulit memahami cara berpikir dan cara kerjanya, meskipun mereka mengakui bahwa apa yang dipikirkan baik. Dampaknya banyak rekan kerja menyerahkan seluruh tanggung jawab ada pada dirinya, dan rekan kerja mendukung sekedarnya. Hal seperti itu membuat dirinya terbebani dan merasa sulit bekerja sama dengan rekan-rekannya karena merasa tidak didukung oleh rekan-rekannya. Sementara rekan-rekan kerjanya merasa bahwa anak muda ini terlalu banyak tuntutan yang menurut mereka aneh. Hal sederhana menjadi rumit, hal yang seharusnya bisa dikerjakan cepat menjadi lebih lama.
 
Setelah berbicara panjang lebar dengan anak muda ini sudah tentu bukan bermaksud menghakiminya, saya saya menangkap bahwa anak muda ini butuh pengakuan dalam banyak hal. Dia anak yang pandai, hal itu dibuktikan dengan hasil studi sejak sekolah dasar hingga lulus kuliah S2. Namun apa yang telah dicapainya seolah tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dia merasa sudah berjuang maksimal untuk memberikan hasil yang terbaik tetapi dia merasa tidak ada yang menghargai dan mengakui apa yang telah dicapainya. Demikian juga ketika masuk dunia kerja, dia ingin membuktikan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kerja kerasnya untuk mendapatkan pengakuan (yang tidak disadarinya) membuat dirinya sering kali kehilangan fokus dan prioritas atas apa yang sedang dikerjakan. Dia sibuk dengan idealismenya dan seharusnya- seharusnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan akan pentingnya menentukan mana prioritas utama mana yang kemudian. Marta ditegur Yesus bukan karena kerja kerasnya tetapi karena tidak mampu memilih prioritas utama. Marta melakukan untuk karena membutuhkan pengakuan akan apa yang telah dikerjakan. “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku telah mampu memilih bagian yang terbaik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.