Renungan Harian: 27 September 2021

Renungan Harian
Senin, 27 September 2021
PW. St. Vincentius a Paulo

Bacaan I: Za. 8: 1-8
Injil: Luk. 9: 46-50

Manajer

Beberapa waktu yang lalu di sebuah paroki ada pengantin yang akan memancarkan perayaaan ekaristi saling menerimakan sakramen perkawinan melalui live streaming. Hal itu dilakukan mengingat situasi pandemi covid 19 masih belum aman, sehingga jumlah umat yang boleh hadir di gereja amat terbatas.

Sebagaimana biasa di paroki, permintaan live streaming selalu dilayani oleh petugas yang dengan sukarela melayani. Mengingat koor akan diiringi dengan live music maka petugas meminta agar ada cek suara apakah dengan sarana yang ada di gereja memadai untuk kepentingan pengantin tersebut, seandainya tidak memadai akan dibantu mencarikan jalan keluar.
 
Melalui keluarga pengantin disepakati bahwa pada malam hari itu akan ada cek suara dan melihat sarana yang tersedia di gereja. Para petugas gereja yang siap melayani sudah hadir, pengantin sudah hadir tetapi dari kelompok koor yang akan diwakili manajernya tidak datang. Manajernya mengatakan tidak bisa datang karena hujan, dan sakit. Dia mengatakan membutuhkan 10 mic, nanti kalau ada masalah supaya minta telpon dirinya. Saat diajak bicara melalui telpon dan diberitahukan bahwa di gereja hanya tersedia 4 mic, dengan ringan mengatakan bahwa itu aja cukup dan minta petugas datang aja lagi besok waktu nya akan dia tentukan.
 
Pastornya tidak enak karena para petugas ini adalah petugas sukarela dan orang-orang yang punya kesibukan. Maka pastornya menelpon manajernya dan menjelaskan apa yang diharapkan oleh para petugas. Para petugas berharap dapat melayani pengantin dengan baik karena ini peristiwa sekali seumur hidup. Ketika dijelaskan manajer tetap mengatakan:
“saya tidak bisa datang karena kehujanan, petugasnya suruh datang lagi.”
Dan dia juga mengatakan bahwa sudah bicara dengan keluarga pengantin kalau ada masalah supaya menghubungi dia.

Pastor itu mengatakan kepada manajer bahwa para petugas itu bukan karyawan gereja, mereka adalah orang yang sukarela melayani dan lagi mereka itu adalah para pemilik perusahaan dan pimpinan perusahaan jadi tidak bisa seenaknya seperti maunya manajer.
 
Peristiwa di atas menunjukkan betapa sering orang menganggap dirinya orang penting dan entah sadar atau tidak meremehkan orang lain. Godaan terbesar manusia adalah ingin dihargai, ingin menjadi yang terhormat sehingga mudah untuk meremehkan orang lain. Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan pentingnya menghargai orang lain, bahwa dengan ekstrem Yesus mengatakan dia yang bisa menghargai orang yang tidak penting dialah yang terbersar. “Siapa yang terkecil diantara kalian, dialah yang terbesar.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mudah untuk menghargai dan menghormati orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.