Renungan Harian: 26 September 2021

Renungan Harian
Minggu, 26 September 2021
Hari Minggu Biasa XXVI

Bacaan I: Bil. 11: 25-29
Bacaan II: Yak. 5: 1-6
Injil: Mrk. 9: 38-43. 45. 47-48

Pindah

“Saya sudah lama pindah dari kota dan tinggal di desa ini, kurang lebih sudah 15 tahun. Saya bersyukur atas apa yang kami alami selama tinggal di desa ini, meski awalnya tidak mudah. Saya memutuskan pindah ke desa ini saat anak saya yang paling besar lulus SD. Sebenarnya tidak terlintas dalam pikiran saya untuk pindah ke desa. Aku merasa sudah hidup mapan, karir di perusahaan tempat saya bekerja juga baik maka saya berpikir saya akan menghabiskan hidup saya di kota ini.
 
Pikiran pindah dari kota mulai muncul saat aku ribut dengan istri gara-gara anak saya minta dibelikan sepeda motor. Aku sama sekali tidak setuju karena anak kami belum saatnya untuk mengendarai sepeda motor. Bagi saya dengan membelikan sepeda motor berarti saya akan mencelakakan anak kami. Istri saya, tidak terima dengan alasan saya, dan menganggap saya tidak sayang dengan anak. Istri saya beralasan hampir semua tetangga dan teman-teman anak saya sudah bisa mengendarai sepeda motor dan punya sepeda motor. Tetapi saya tetap pada pendirian saya dan hal itu menjadikan sumber keributan setiap hari.
 
Suatu saat ketika saya pulang kerja, saya melihat anak saya yang baru mau mulai masuk SMP terlihat kumpul dengan teman-temannya. Saya terkejut karena melihat anak saya sedang merokok dan terlihat ada botol minuman keras. Sampai rumah saya bicara dengan istri saya tentang apa yang saya lihat, tetapi istri saya tidak percaya. Kami menunggu anak kami pulang dan saat sampai di rumah tercium aroma rokok dan minuman keras. Istri saya amat terkejut karena tidak menyangka anak yang di rumah tampak baik-baik ternyata saat kumpul dengan teman-temannya melakukan yang sebaliknya.
 
Dengan pertimbangan masa depan anak-anak kami menjadi lebih penting, dan tampaknya kami akan kesulitan mendidik anak-anak kami di kota besar dengan segala godaannya, maka kami memutuskan untuk pindah ke desa ini. Pergulatan yang amat berat bagi keluarga kami untuk memutuskan pindah ke desa ini dan memulai hidup yang baru. Satu pihak istri saya tidak setuju, tetapi melihat ke depan, dia khawatir untuk tinggal di desa. Anak kami terutama yang besar protes keras, tetapi kami menegaskan bahwa ini pilihan yang terbaik untuk keluarga kita.
 
Dan setelah 15 tahun kami tinggal di desa kami mengalami pertumbuhan, keluarga kami menjadi baik, anak-anak kami telah sukses dengan pilihan hidup mereka. Mereka telah mendapatkan bekal pendidikan yang baik untuk masa depan mereka. Tidak terbayangkan andai kami tidak pernah pindah ke desa ini,” Seorang bapak menceritakan pengalamannya.
 
Keputusan keluarga untuk pindah adalah keputusan yang berat dan luar biasa tantangannya. Sebuah pilihan yang luar biasa demi kebaikan dan keutuhan keluarga. Berani melepaskan kemapanan dan kenyamanannya untuk kehidupan keluarga yang lebih baik. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengajarkan untuk menjadi muridNya harus berani melepaskan hal-hal yang merintangi untuk dekat denganNya. “Dan jika tangamu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam hidup daripada dengan utuh kedua belah tangan dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku berani melepaskan hal-hal yang merintangi aku dekat dengan Tuhan?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.