Renungan Harian: 8 September 2021

Renungan Harian
Rabu, 08 September 2021
Pesta Kelahiran St. Perawan Maria

Bacaan I: Mi. 5: 1-4a
Injil: Mat. 1:1-16. 18-23

Niat Baik

“Tidak ada sedikitpun dorongan dalam diriku untuk mencampuri rumah tangga adikku. Aku berpikir mereka sudah dewasa sehingga mereka sudah dapat mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri dengan baik. Tapi belakangan ini aku rasanya sudah tidak tahan untuk mengatakan sesuatu kepada adikku tentang bagaimana harus bersikap dalam mengatur  rumah tangganya.
 
Ketika adik perempuanku menikah, mereka bicara kepada kami bahwa mereka akan numpang di rumah mama untuk sementara sambil mengumpulkan uang untuk bisa membeli rumah. Kami, saya dan mama tidak keberatan bahkan senang karena mama sejak papa meninggal memang tinggal bersama adik perempuanku itu. Rumah itu dibeli dan dibangun oleh papa sebelum beliau meninggal, dan tahun ini selesai direnovasi kebetulan ada rezeki di keluarga saya. Dengan keluarga adik tinggal di rumah mama, mama tetap ada temannya. Kehidupan di rumah mama semua damai dan menyenangkan apalagi dengan kelahiran anak pertama adik.
 
Masalah mulai muncul saat keluarga suami dari kampung ikut tinggal di rumah mama. Awalnya adiknya yang numpang karena mau kuliah, kemudian keluarga adiknya yang lain karena suami mau mencari kerja di kota dan yang terakhir mama dan papanya. Keluarga suami adik merasa bahwa rumah itu adalah rumah anaknya sedangkan mama saya menumpang di situ. Saya semakin tidak nyaman karena seluruh urusan rumah, dari masak sampai bebersih rumah mama yang melakukan sedangkan mereka tidak mau tahu tentang urusan rumah. Hal yang paling membuat saya jengkel adalah orang tua suami adik saya mengatakan kepada mama agar mama pindah dari rumah itu karena kamar mama akan mereka pakai. Mama kaget dan shock dengan peristiwa itu dan saat itu juga mama pergi dari rumahnya dan pindah ke rumah saya.
 
Berhari-hari saya menimbang-nimbang, saya berdoa mohon petunjuk apakah benar saya bicara dengan adik;  apakah dengan bicara tidak berarti ikut campur urusan keluarga adik; apakah ini tidak akan menimbulkan masalah bagi keluarga adik. Sementara mama bisa tinggal dengan saya dan kami juga senang mama tinggal dengan kami. Saya  menimbang cukup panjang, beberapa kali bicara dengan suami dan akhirnya saya berani memutuskan untuk bicara dengan adik dan suami tentang situasi di rumahnya dan apa yang dialami mama. Saya merasa tenang dan damai karena sungguh niat saya tulus untuk memperbaiki situasi dan menyampaikan kebenaran. Saya semakin yakin karena saya selalu mohon petunjuk Tuhan agar apa yang kulakukan bukan sekedar emosi semata,” seorang ibu berkisah tentang pergulatannya untuk memperbaiki kehidupan keluarga adiknya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, pergulatan Yusuf untuk meninggalkan Maria dan kemudian menerima Maria kiranya pergulatan yang luar biasa hebat. Satu hal yang penting, ketulusan hatinya, kehendak baiknya, memudahkan dia untuk terbuka pada kehendak Allah. Sehingga dapat memutuskan sesuai dengan kehendak Allah meski dengan resiko yang tidak mudah.
“Karena Yusuf, suaminya, seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”
 
Bagaimana dengan aku? Bagaimana caraku membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.