Renungan Harian: 5 September 2021

Renungan Harian
Minggu, 05 September 2021
Hari Minggu Biasa XXIII

Bacaan I: Yes. 35: 4-7a.
Bacaan II: Yak. 2: 1-5
Injil: Mrk. 7: 31-37

Disentuh

Suatu pagi setelah selesai misa pagi (misa harian), seorang bapak menemui saya:
“Romo, kalau gereja ada acara butuh tenaga, saya mau bantu-bantu,” katanya.

“Oh, baik pak. Nanti 2 atau 3 hari sebelum misa malam natal bantu-bantu menyiapkan tempat dan perlengkapan di aula. Untuk jadwalnya tolong tanya pak koster karena dia yang tahu persis kapan akan mulai mempersiapkan,” jawab saya.

Pada waktu yang ditentukan beliau sungguh-sungguh datang dan terlibat bahkan dia bekerja lebih dari apa yang saya bayangkan.
 
Itulah awal dari keterlibatan dia di gereja. Sekarang dia banyak terlibat dalam berbagai kegiatan, bahkan dia menjadi salah aktivis di paroki. Saya sebenarnya agak heran dengan perubahan yang terjadi dalam dirinya, karena biasanya dia hanya datang untuk misa dan pulang, hampir tidak pernah bertegur sapa. Beberapa kali dihubungi untuk diminta terlibat tetapi selalu menolak karena sibuk. Berbekal rasa penasaran dalam sebuah perjumpaan saya bertanya tentang apa yang membuat dia bisa berubah.
 
“Romo, awal dari semua ini adalah retret. Istri saya beberapa kali meminta ikut retret kelompok ini. Saya sama sekali tidak ingin dan tidak tertarik. Tetapi istri saya terus menerus ngomong. Setiap kali ada berita tentang retret ini, istri saya selalu menyuruh dan mendorong saya. Akhirnya saya ikut karena malas ribut dengan istri.
 
Romo, saya ikut retret dengan ogah-ogahan, selama retret saya hampir tidak pernah mendengarkan dan tidak berdoa. Saya memang ada di ruangan itu tetapi saya menyibukkan diri dengan melihat hp. Bahkan saya hampir tidak tahu apa yang dibicarakan. Kalau boleh memilih saya pilih kabur dan pulang; tetapi karena supaya tidak ribut dengan istri saya tetap ikut. Ada acara dalam retret itu saling mendoakan, saya didoakan oleh peserta lain, tetapi saya tidak merasa apa-apa. Saat diminta sharing saya selalu menolak.
 
Sampai suatu kali ketika sesi sore, hp saya habis batre, sehingga saya tidak bisa lagi mainan hp, sehingga terpaksa mendengarkan. Saya lupa persis apa yang disampaikan romo itu, tetapi yang saya ingat romo itu bertanya apa yang telah kulakukan sebagai wujud syukurku pada Allah yang telah mengasihi aku. Romo, saya seperti disadarkan bahwa saya selama ini hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga saya. Saya selalu mohon dan mohon tetapi tidak pernah melakukan apapun untuk Tuhan. Saya itu seperti terbuka pada kesadaran baru dan berjanji dengan diri sendiri untuk memberikan diri terlibat di gereja sebagai wujud syukurku atas kasih Tuhan,” bapak itu mensharingkan pengalamannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus menyembuhkan orang yang gagap dan tuli sehingga dia menjadi terbuka, mampu mendengarkan Yesus dan mewartakan pengalamannya bersama Yesus. “Efata”.
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang menghalangiku untuk mendengarkan suara Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.