Renungan Harian: 23 Juli 2021

Renungan Harian
Jum’at, 23 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 20: 1-17
Injil: Mat. 13: 18-23

Terbelit Mimpi

Beberapa waktu yang lalu ada seorang bapak datang dan berkeluh kesah tentang istrinya. Bapak itu bercerita panjang lebar, yang intinya dirinya merasa tidak didukung oleh sang istri untuk mengembangkan usaha.

Dia merasa bahwa dia selalu sukses dalam berusaha dan sekarang ada peluang bisnis besar yang amat menjanjikan. Ketika saya tanya bentuk dukungan apa yang diharapkan dari istrinya, bapak itu mengatakan bahwa dukungan yang diharapkan dari istrinya adalah modal. Saya agak bingung dengan cerita bapak itu maka saya bertanya:
“Bapak, kalau bapak sudah berhasil membangun bisnis mengapa sekarang  meributkan dukungan modal dari istri?”

Bapak itu menjawab bahwa semua usaha bisnisnya atas nama istrinya dan semua hasil dari bisnis yang sukses selalu diserahkan pada istri. Sehingga dirinya tidak memegang uang. Karena saya hanya mendengar sepihak maka saya meminta bapak itu datang mengajak istrinya untuk bicara bersama.
 
Pada hari yang dijanjikan kami bertemu bertiga. Saya menjelaskan pada istrinya bahwa beberapa waktu lalu suami datang dan berkeluh kesah berkaitan dengannya. Maka saya meminta datang untuk mendengarkannya.

Ibu itu berkata:
“Romo, maaf sebenarnya saya malu dan sudah bosan untuk bicara soal ini. Romo, apa yang dia ceritakan itu bohong. Semua itu tidak ada. Dia berkali-kali bilang minta modal untuk bisnis ini dan itu yang  katanya bisnis besar dan menjanjikan tapi tidak pernah ada hasil. Sudah banyak uang yang tidak jelas juntrungannya dan bentuk usahanya juga tidak ada kelihatan. Pernah suatu saat rumah dan kendaraan serta tabungan kami habis untuk mendukung usahanya, tetapi bangkai usahanya aja tidak bisa dilihat. Romo bisa tanya ke orangnya sekarang, dimana wujud usaha-usaha yang dia bangun. Romo juga bisa tanya ke dia apakah pernah dia memberi nafkah untuk kami, biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak. Sejak menikah dia hidup selalu dengan mimpi-mimpi membangun bisnis. Saya sudah berkali-kali bilang jangan mimpi yang tinggi-tinggi, yang aneh-aneh, sudah kerja apa saja yang bener. Tidak usah mikir keluarga, cukup untuk jajan dirinya aja saya sudah bersyukur romo.”
 
“Bapak sudah mendengar dari istri bapak sendiri. Menurut bapak yang dikatakan istri bapak benar? Atau ada yang ingin dikoreksi?” tanya saya kepada bapak itu.

“Semua betul romo, tetapi namanya usaha gagal itu biasa, kalau usaha berhasil kan untuk keluarga,” jawab bapak itu. 

“Bapak, menurut hemat saya, saran dan permintaan istri bapak itu amat baik. Bapak kerja dan tekuni pekerjaan itu. Bapak punya keluarga dan punya tanggung jawab besar, maka saatnya menjadi real,” kata saya.
 
Ternyata mimpi bisa membelit orang sehingga menjadikan seseorang lupa diri dan hidup dalam bayang-bayang. Orang tidak sadar dengan kemampuannya dan tidak mampu mempergunakan kemampuannya. Bahkan bukan hanya tidak mampu mempergunakan tetapi lebih dari itu dia telah menyianyiakan kemampuannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, orang semacam itu seperti benih yang jatuh di semak berduri.
“…Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan sehingga tidak berbuah.”
 
Bagaimana dengan aku? Tanah semacam apakah diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.