Renungan Harian: 20 Juli 2021

Renungan Harian
20 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 14: 21-15 :1
Injil: Mat. 12: 46-50

Orang Tuaku

Suatu sore, saya kedatangan tamu seorang anak muda. Dia bukan warga paroki di mana saya menjalani perutusan, dia adalah salah seorang yang sedang berziarah di tempat kami. Dalam perjumpaan itu ia langsung bertanya: “Romo, apakah yang disebut orang tua, bapak dan ibu saya itu karena adanya hubungan darah? Karena darah mereka mengalir dalam tubuh saya sehingga mereka disebut orang tua?”

Mendengar pertanyaan yang seperti itu disertai emosi saya agak hati-hati menjawab.

“Mas, kalau bisa cerita, sebenarnya ada apa sehingga bertanya seperti itu?” tanya saya.
 
“Romo, saya sekarang ini sedang jengkel dan marah dengan mereka yang menyebut sebagai orang tua saya, mereka menyebut bapak dan ibu saya. Mereka menyebut diri mereka orang tua saya, yang mengalirkan darahnya dalam diri saya hanya untuk merongrong saya. Setiap kali mereka meminta uang, yang untuk berobatlah, untuk memperbaiki rumahlah, untuk biaya sekolah mereka yang disebut adik-adik saya, pokoknya ada banyak alasan untuk meminta uang. Awalnya saya bantu dengan rela ya untuk amal saja, tetapi kok ke sini menjadi semakin sering dan seolah saya harus bertanggung jawab atas kehidupan mereka dengan alasan mereka orang tua saya dan adik-adik saya,” orang muda itu bicara dengan penuh emosi.

“Mas, sesungguhnya mereka ini siapa?” tanya saya.
 
“Romo, mereka sesungguhnya adalah orang tua kandung saya. Menurut orang tua angkat saya, waktu saya masih kecil, waktu itu saya masih bayi, saya dijual oleh orang tua saya. Benar-benar dijual romo, dan “dibeli” oleh orang tua angkat saya. Dulu mereka tinggal bersebelahan dengan orang tua angkat saya. Mereka dulu hidup berkecukupan tetapi karena mereka hobby berjudi, sehingga semua habis termasuk usahanya. Dalam situasi itu saya dijual untuk menutupi hutang judi mereka.
 
Saya baru tahu setelah saya dewasa romo. Setelah saya dewasa mereka datang ke rumah dan mengatakan bahwa mereka orang tua kandung saya dan atas nama itu menuntut saya untuk bertanggung jawab atas kehidupan mereka.
 
Romo, menurut saya mereka bukan orang tua saya, benar mereka yang menjadikan saya ada di dunia ini, tetapi mereka bukan orang yang pantas saya sebut sebagai orang tua. Mereka tidak pernah memberikan kasih sayang, tidak pernah mendampingi dan mendidik dalam tumbuh kembang saya. Bagi saya yang pantas disebut orang tua adalah orang tua angkat saya, karena mereka yang mencintai saya, mereka yang mendampingi dan mendidik saya sehingga menjadi orang,” anak muda itu menjelaskan.
 
“Romo, kalau mereka meminta bantuan, saya ikhlas, tetapi jangan menuntut dengan mengatasnamakan orang tua,” imbuhnya.
 
Sebuah pengalaman luka yang amat dalam. Bagi saya pribadi apa yang dikatakan anak muda itu ada benarnya bahwa mereka yang disebut orang tua bukan hanya karena hubungan darah, tetapi lebih dari itu adalah mereka yang mencintai, mendampingi dan mendidik.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus menekankan hubungan saudara bukan pertama-tama karena hubungan darah tetapi soal melaksanakan sabda Allah. “Ini ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surge, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”
 
Apakah pantas disebut sebagai saudara Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.