Renungan Harian: 17 Juli 2021

Renungan Harian
Sabtu, 17 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 12: 37-42
Injil: Mat. 12: 14-21

Hukum Jalanan

Pagi itu, saya pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter. Saya pergi dengan sepeda motor. Seperti biasa di Bandung, pagi  hari jalan cukup padat. Di sebuah persimpangan terjadi antrian yang cukup panjang, namun pada hari itu semua kendaraan teratur, dan nampaknya semua sabar tidak ada yang saling slonong dan membunyikan klakson.

Namun tidak diduga ketika lampu lalulintas hijau, situasi yang tertib itu menjadi gaduh karena tiba-tiba ada sebuah mobil yang ada di paling kiri memotong jalur ke kanan. Sontak semua kendaraan yang di depan membunyikan klakson, mungkin semua terkejut. Karena situasi padat, dan mungkin kendaraan yang di kanan tidak mau memberi jalan, mobil itu justru berhenti di tengah dan mengakibatkan kemacetan lebih parah.
 
Aneh bin ajaib, pengemudi mobil itu bukannya minta maaf, justru marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar karena dirinya tidak diberi jalan. Dia keluar dari mobil menantang semua orang itu sambil teriak-teriak. Beberapa pengemudi sepeda motor turun dan meringkus orang itu, meskipun orang itu teriak dan mau memukul, untunglah para pengemudi motor itu tidak ada yang terpancing untuk memukul. Ada seorang polisi yang kemudian meminggirkan mobil orang itu.
 
Pemuda itu dibawa ke pinggir, dan seorang bapak dengan amat sopan dan halus, bertanya:
“Nak, kamu tahu gak kalau salah?”

“Salah dimananya? Ini jalanan umum, mereka aja yang tolol gak ngerti,” jawab orang itu.

Jawaban itu memancing emosi orang-orang di situ. Untung bapak itu bisa menenangkan sehingga tidak terjadi pemukulan.

“Nak, kamu yang lebih pintar, harusnya kamu memberitahu dengan memberi tanda pakai tanganmu (bapak itu sambil memberi contoh) pasti gak akan terjadi seperti ini. Nak, sebagai orang pintar, lain kali jangan marah-marah seperti itu, malu nak,” bapak itu melanjutkan.
 
Orang itu sontak bersujud minta maaf ke bapak itu dan minta maaf ke semua orang yang di situ. Saya kaget dan kagum dengan apa yang dilakukan bapak itu. Bapak itu mampu menghadapi orang yang kasar, orang yang merasa sok hebat dan kuat, dengan cara yang amat halus dan sopan. Bagi saya bapak itu mewartakan kasih pada orang itu. Dia telah mengalahkan hukum jalanan dengan hukum kasih. Mengalahkan tidak dengan menghancurkan tetapi memanusiakan dan mengembalikan martabatnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mengedepankan hukum kasih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.