Renungan Harian: 13 Juli 2021

Renungan Harian
Selasa, 13 Juli 2021

Bacaan I: Kel. 2: 1-15a
Injil: Mat. 11: 20-24

Penjudi

Suatu sore  saat saya diajak salah seorang teman untuk ngobrol di sebuah café, tak sengaja bertemu seorang teman lama kami. Kami sudah lama tidak pernah bertemu. Kami berdua tahu persis bahwa teman lama kami ini dulu seorang penjudi. Dia orang yang pandai dan punya banyak bakat, tetapi karena hobinya berjudi, dia tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah menengah. Dulu, kalau bertemu, dia selalu kelihatan lusuh, dan kurang tidur. Setiap kali bertemu dia akan selalu bilang pinjam uang untuk modal judi. Maka sering kali kami menghindari dia, karena tidak mau terlibat dalam pinjam meminjam uang dengan dia.
Kali ini penampilan dia jauh berbeda. Dia berpakaian rapi, dan kelihatan segar. Kami berdua senang melihat perubahan dalam dirinya. Kami berdua berpikir bahwa dia sekarang sudah bertobat dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
 
Setelah berbasa-basi, tiba-tiba teman lama kami itu mengundang kami ke rumahnya, dan agak sedikit memaksa. Karena tidak enak dengannya maka kami memutuskan untuk singgah di rumahnya. Sampai di rumahnya kami agak terkejut dan bersyukur, melihat rumah dia. Rumah cukup besar, bagus dan indah, serta nampak perabot-perabot yang bagus. Kami ngobrol di ruang keluarga tempat dia biasa bersantai. Kami ngobrol kenangan akan dia di masa lalu yang selalu berpenampilan “gembel”.

“Wah, hebat kamu   sekarang, sudah mapan dan sudah bertobat. Begitu dong, hidup lebih baik jangan jadi penjudi aja,” kata teman saya.

Teman lama saya tertawa dan menjawab: “Kamu pikir semua ini hasil saya kerja apa? Ini semua hasil judi. Sekarang judi sudah menjadi pekerjaan saya. Tetapi bukan judi “gembel” lagi.”
 
Kami berdua terkejut mendengar jawabannya. “Jadi kamu sekarang masih judi kerjaannya, cuma sekarang naik kelas?” tanya saya.

“ya begitulah. Aku membuktikan pada semua, kalau judi itu bisa membuat orang hidup mapan,” jawabnya.

“Sik, sik (sebentar), kamu jangan begitu. Kalau sekarang kamu mendapat rezeki yang luar biasa dari judi seharusnya membuat kamu itu sadar, kalau Gusti itu sayang banget dengan dirimu. Dan ini menjadi peringatan agar kamu berhenti, Gusti sudah memberikan bekal untuk dirimu berhenti berjudi,” kata temanku.

Teman lama saya itu tertawa lepas sambil menjawab:
“Yen aku mertobat, teneh wit biyen-biyen jaman dadi kere. (andai saya bisa bertobat ya sudah dari dulu waktu saya  masih jadi kere).”
 
Obrolan kami terhenti karena asisten rumah tangganya menghidangkan jajan pasar kesukaan kami bertiga sejak dulu. Setelah kami ngobrol kesana kemari dan bercanda, kami berdua pamit pulang karena memang hari sudah malam.
 
Kurang lebih setahun kemudian sejak kami bertemu dengan teman lama kami, teman lama kami sekarang tinggal di kampung dalam keadaan sakit sedang hartanya sudah habis untuk judi. Sekarang untuk biaya pengobatan, dia dibantu oleh teman-teman. Dalam hati saya berkata: “andai dia mau mendengarkan apa yang dikatakan teman saya waktu itu, mungkin tidak akan begini.” Tetapi itu semua hanya berandai-andai karena kenyataannya beda.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus mengkritik orang-orang Betsaida, Khorazim yang meskipun melihat tanda yang menghantar pada pertobatan, mereka tidak pernah bertobat. “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”
 
Bagaimana dengan aku? Maukah  aku bertobat?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.