Renungan Harian: 10 Juli 2021

Renungan Harian
Sabtu, 10 Juli 2021

Bacaan I: Kej. 49: 29-32; 50: 15-26a
Injil: Mat. 10: 24-33

Menanamkan Kebiasaan

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi dengan keluarga seorang teman untuk sebuah acara. Dalam perjalanan itu, teman saya menyetir mobil, saya duduk di sebelahnya, sedang istri dan anak-anaknya ada di belakang. Dalam perjalanan anak-anak ramai bercerita dan berceloteh banyak hal. Kemudian teman saya mengingatkan anaknya untuk bertanya ke saya beberapa hal berkaitan dengan Kitab Suci yang anak-anaknya tanyakan kepada orang tuanya dan mereka tidak puas mendapatkan jawabnya. Maka dalam mobil terjadi percakapan tentang Kitab Suci, dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup mendalam. Saya agak kesulitan menjelaskan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh mereka.
 
Kira-kira setengah perjalanan, anak-anak mulai hening dan ketika saya menengok ke belakang ternyata mereka sudah tertidur. Maka kami berdua yang banyak ngobrol tentang keprihatinan terhadap Gereja. Menarik pembicaraan kami, karena teman saya tidak hanya menyampaikan keprihatinan tetapi juga mengusulkan solusi serta menyatakan kesediaannya untuk membantu. Tak berapa lama handphone saya bergetar alarm saatnya doa angelus tengah hari. Karena saya tidak ingin mengganggu teman saya maka saya berdoa sendiri dalam hati.
 
Selang beberapa saat salah satu anaknya kecil terbangun dan setengah terkejut berkata:
“Pa, kita belum doa angelus ya, aduh ketiduran, sekarang jam berapa?”

“Belum nak, sekarang sudah jam 12.15,” jawab bapaknya. “Bangun-bangun yuk kita doa, kita belum doa angelus,” anak itu membangunkan kakak dan adiknya. Kemudian anak itu memimpin kami doa angelus. Setelah doa anak itu tidur lagi.
 
“Wow,” kata saya dalam hati. Anak yang sedang tidur terbangun dan spontan bertanya soal doa angelus. Memang halnya sederhana soal doa angelus, kiranya kalaupun dia tetap tidur juga tidak menimbulkan dosa apapun. Namun apa yang terjadi bagi saya merupakan bentuk kesaksian luar biasa. Anak itu menunjukkan bahwa doa angelus sudah merupakan kebiasaan yang selalu dia jalankan bersama dengan keluarganya. Menurut saya, kiranya dimanapun anak itu menjalankan doa angelus.
 
Salah satu kebiasaan yang ditanamkan orang tua kepada anaknya menjadikan anaknya terbiasa melakukan apa yang baik. Apa yang dilakukan menjadi kesaksian akan apa yang selalu dilakukan. Bagi saya seseorang tidak mudah begitu saja memberi kesaksian akan imannya kalau tidak pernah ditanamkan dan dibiasakan. Pada awalnya tentu melalui hal-hal amat sederhana dalam memberi kesaksian. Namun pada saatnya hidupnya sendiri akan menjadi kesaksian iman bagi orang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini: “Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-KU yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga.”
 
Bagaimana dengan aku? Akan aku dengan mudah memberi kesaksian akan imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.