Renungan Harian: 9 Juni 2021

Renungan Harian
Rabu, 09 Juni 2021

Bacaan I: 2Kor. 3: 4-11
Injil: Mat. 5: 17-19

Mengandalkan Rahmat

Setiap kali mengikuti perayaan tahbisan imam, saya selalu terkenang saat saya menerima tahbisan suci. Bukan kemeriahan perayaan ekaristi atau pesta-pesta yang diadakan namun ritus-ritus yang ada dalam perayaan itu. Ada dua hal mengesan yang selalu membawa pada ingatan akan tahbisan yang saya terima.
 
Pertama, saat bapak Uskup memindahkan stola dan kemudian memberikan kasula. Pada saat bapak Uskup memberikan kasula beliau mengatakan: “Romo, jadilah pelayan umat yang baik.” Kemudian yang ditahbiskan menerima kasula dengan menjawab: “Mohon doa Bapak Uskup.” Uskup sebagai imam agung yang mentahbiskan memberi pesan dengan jelas agar imam yang ditahbiskan menjadi pelayan umat yang baik; bukan hanya sebagai pelayan umat saja tetapi pelayan umat yang baik. Artinya menjadi imam bukan sekedar pelayan umat tetapi menjadi pelayan umat yang baik; tuntutan minimal adalah menjadi pelayan umat yang baik. Sudah pasti menjadi pelayan umat yang baik tidak mudah, banyak tantangan yang luar biasa. Tantangan terbesar tentu saja mengalahkan diri sendiri. Menjalani panggilan dan perutusan menjadi pelayan yang baik seumur hidup sudah pasti bukan perkara mudah, dan rasanya kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri pasti tidak akan mampu. Oleh karenanya kesadaran akan ketidak mampuan itu hal yang utama untuk menjadi pelayan umat yang baik adalah mengandalkan rahmat. Kesadaran akan kelemahan diri dan berjuang untuk selalu terbuka pada rahat, maka imam yang menerima kasula menjawab mohon doa bapak Uskup.
 
Kedua, saat menerima bahan persembahan dari umat yang diterima bapak Uskup dan diserahkan kepada imam baru, bapak Uskup mengatakan: “Terimalah bahan persembahan yang dibawa umat Allah ini. Hayatilah apa yang kau perbuat; selaraskan hidup dengan rahasia salib Tuhan.” Tugas ini semakin berat, menghayati dalam melayani perayaan ekaristi sungguh-sungguh amat berat terlebih menyelaraskan dengan rahasia salib Tuhan.
 
P. Cantalamessa, OFM.Cap. dalam suatu retret mengatakan: “Ketika Imam dalam konsekrasi mengulang kata-kata Yesus: Terimalah dan makanlah inilah TubuhKu yang dikorbankan bagimu, bukan hanya sekedar mengulang kata-kata Yesus ribuan tahun lalu tetapi sungguh mengatakan dari dirinya sendiri juga bahwa bersedia untuk mengorbankan diri bagi umat yang dilayaninya.”
 
Dengan semua hal di atas, sudah pasti, saya dan para imam dengan segala kerapuhan dan dosa tidak akan mampu menjalankan semuanya. Tanpa rahmat dan daya ilahi Allah sendiri saya dan para imam bukan apa-apa. Maka tidak ada alasan untuk menyombongkan diri dan berbangga dengan segala hal yang telah kulakukan. Kalau mau sombong apa yang akan disombongkan? Kalau mau berbangga apa yang dibanggakan selain bangga dengan rahmat yang tidak pernah habis tercurah.
 
Kiranya pengalaman dipilih dan diutus menjadi imam dengan segala tantangan dan kesulitan serta kenyataan akan ketidak mampuan dalam menjalankannya tanpa dinaungi rahmat Allah, juga pengalaman semua orang dalam panggilan dan martabatnya masing-masing.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus: “Dari diri kami sendiri, kami merasa tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri……..Dialah yang membuat kami sanggup menjadi pelayan suatu perjanjian baru.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu mengandalkan rahmat Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.