Renungan Harian: 29 Mei 2021

Renungan Harian
Sabtu, 29 Mei 2021

Bacaan I: Sir. 51: 12-20
Injil: Mrk. 11: 27-33

Mengolah Hidup

Dalam sebuah retret, ada seorang peserta retret (retretan) yang kelihatan ogah-ogahan sejak awal retret dimulai. Dalam perjalanan retret kehadiran dia mulai dirasakan mengganggu oleh rekan-rekannya yang lain. Ketika teman-temannya sedang hening untuk merenungkan sesuatu, dia membuat ulah yang menarik perhatian teman-teman yang dirasakan amat mengganggu. Ketika ada sesi sharing dalam kelompok, menurut teman-temannya justru menggurui teman-temannya dan tidak ada sesuatu yang disharingkan. Teman-teman dalam kelompoknya meminta saya agar satu teman itu dipindahkan ke kelompok lain.
 
Pada malam ketiga, ketika saya sedang memberikan bahan renungan untuk esok hari, dia semakin membuat ulah untuk menarik perhatian. Sehingga ada satu peserta menyampaikan ke saya di depan semua peserta, bahwa dirinya amat terganggu dengan satu teman itu. Dan tanpa ada komando, semua peserta mengatakan iya bahwa orang itu mengganggu. Bahkan ada satu orang peserta mengusulkan kalau dia tidak mau retret sebaik dipersilakan pulang atau tidak ikut pertemuan.
 
Mendengar semua itu, saya lalu bertanya kepada retretan yang mengganggu itu:
“Mas, apakah ada yang ingin disampaikan ke saya atau juga ke teman-teman?”

“Romo, saya bosan dengan bahan yang romo berikan. Saya sudah tahu semua dan sebetulnya saya bisa memberi retret. Saya sudah membaca buku latihan rohani St. Ignatius sampai selesai, saya sudah beberapa kali ikut seminar tentang hipnoterapi, saya pernah ikut kursus-kursus di Bali, sudah banyak dan saya yakin lebih banyak dari romo,” kata retretan itu dengan berapi-api.

“Mas, sudah pernah ikut latihan rohani atau hanya membaca buku latihan rohani,” tanya saya.

“Saya belum pernah ikut latihan rohani, tetapi saya sudah membaca sampai habis,” jawabnya.

“Mas, ikut kursus-kursus yang banyak itu apa pengalaman mempraktekkan hasil kursus itu?” tanya saya.

“Apa yang mau dipraktekkan, saya gak berpikir untuk mempraktekkan, saya hanya butuh pengetahuan aja. Dan saya sudah tahu.” Jawabnya.
 
Buku latihan rohani dan juga kiranya kursus-kursus kerohanian adalah penuntun agar seseorang sadar akan tujuan hidupnya, kemudian mengolah hidupnya sedemikian sehingga dapat mengarahkan hidupnya menuju ke tujuan hidup yang sebenarnya. Pengetahuan tentang hal, itu penting dalam kerangka untuk dijalankan, untuk mengolah hidup. Kalau pengetahuan hanya sampai pengetahuan kiranya tidak membuahkan apa-apa; kalau tidak hati-hati justru mengganggu hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Namun tidak dapat dipungkiri ada banyak orang yang sudah merasa puas dengan pengetahuan atau mengikuti banyak kursus tetapi tidak berbuah pada hidupnya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Putra Sirakh, kebijaksanaan adalah kesadaran akan tujuan hidup dan menuntun untuk mengolah hidup menuju pada tujuan hidup yang sesungguhnya. “Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dalam kemurnian hati aku menemukannya.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bagian dari orang yang berjuang untuk menemukan tujuan hidup dan mengolah hidup agar selaras dengan tujuan hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.