Refleksi Sahabat CLC – “KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN”

Ketua CLC di Indonesia, Gregorius Tjaidjadi atau yang biasa dipanggil dengan Ko Rius ikut memperingati Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan juga merayakan dan merefleksikan (Pembukaan) Tahun Igantian, 20 Mei 2021 ini dengan menulis refleksi dengan judul tulisanKISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN.

Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.

KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN

Oleh Gregorius Tjaidjadi

Tahun Peringatan 500 tahun pertobahan Ignatius di Hari Kebangkitan Nasional

Berhenti sejenak di hari ini, melihat garis sejarah yang bersilangan membawa banyak kisah dan cerita yang beberapa dasawarsa ini dibaca, didengar, dan coba dipahami. Dua kisah yang hari ini bersilangan di tengah refleksi pagi, sebelum saya memulai kerja di hari ini. Dua kisah itu adalah Kisah Dr. Soetomo yang organisasi Boedi Oetomo-nya (Budi Utomo; BU) kemudian melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, Peringatan Nasional di setiap tanggal 20 Mei. Satunya lagi, kisah Santo Ignatius Loyola, yang secara khusus tahun ini kita peringati, 500 tahun pertobatannya.

Di awal berdirinya, BU muncul sebagai kumpulan orang orang terdidik yang memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat bangsa. Sebuah cita-cita luhur, yang mereka usung lewat berbagai upaya sosial, ekonomi, dan terutama budaya. Sebagai organisasi anak bangsa, yang lahir di era penjajahan Belanda, organisasi ini tidak mengawali kiprahnya dengan membangun narasi besar untuk mengubah status kemerdekaan bangsa, tapi  justru melalui narasi- narasi kecil tentang membangun integritas diri lewat pendidikan dan kebudayaan bangsa. Tidak ada issue politik yang digadang saat awal BU mengawali gerakan mereka, namun niat baik ini kemudian menggelombang, dan mendorong gerakan bangsa untuk bangkit dan menjadi utuh sebagai Bangsa dan Negara yang merdeka.

Demikian juga dengan Ignatius, gelombang besar cara hidup spiritualitas Ignatian yang tersebar dimana-mana saat ini, tidaklah berawal dari cita-citanya untuk mengubah dunia, namun gelombang itu dimulai dari riak kecil pertobatan pribadi, setelah nyaris kehilangan jati diri dihantam peluru meriam yang membekas dalam. Ignatius menemukan titik terendah dalam hidupnya saat itu, kejayaan diri sebagai ksatria, membuatnya hilang arah, ketika mendekam dalam kamar pemulihan tanpa kejelasan masa depan. Titik terendah, berubah menjadi titik balik, saat dia menemukan cita- cita baru, sebuah pertobatan pribadi, dari ksatria yang gemar berbagai kenikmatan duniawi, menjadi peziarah, dengan niat pertobatan lewat mati raga dan mendera diri.

Mendidik diri, mengasah gergaji

Kisah BU dan Santo Ignatius memaparkan sebuah fakta, bahwa proses belajar, dan pendidikan adalah langkah awal yang menjadi bahan bakar perubahan dalam diri dan dalam orang orang yang didampingi. BU tidak serta merta memberikan pendidikan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar tempatnya hidup, namun mengawalinya lewat pengorganisasian dan pengembangan anggota, yang kemudian berdaya, dan mampu berbagi kepada sesama.

Jauh sebelum masa BU, Santo Ignatius sudah mengalami tahap menempa diri yang menghadapkannya dengan kenyataan untuk belajar. Relasinya dengan Tuhan berawal dari kenaifan diri yang melihat hukuman dan pertobatan adalah bentuk relasi dengan Tuhan. Namun Tuhan mengajar Ignatius dengan cara-Nya, sehingga ia menemukan proses pengolahan, pembentukan dan penerimaan diri, sebagai pribadi yang utuh. Tuhan mendidik layaknya seorang guru, yang memberikan pengajaran lewat berbagai peristiwa hidup, dan terutama, lewat perjumpaan Ignatius dengan dirinya sendiri.

Maka tidaklah berlebihan, bila refleksi saya hari ini, menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa sebuah gerakan perubahan besar, selalu berawal dari kesediaan diri untuk belajar, menempa diri dan terus mengasah gergaji*. Hanya dengan kesadaran diri seutuhnya, kita dapat membuat gelombang dan gerakan yang konsisten untuk berubah kearah yang lebih baik. Perubahan besar tentunya tidak selalu berkisah tentang narasi besar dalam hidup, tapi justru dari narasi narasi kecil yang utuh. Apakah saya sadar hari ini? apakah saya hendak memulai hari lebih pagi? Apakah saya akan meluangkan waktu untuk berdoa bersama? Apakah saya mau memperbaiki kesalahan saat bekerja? Apakah saya konsisten berkomunitas? Apakah saya menyadari sungguh setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak-Nya? Apakah saya mampu berbuat lebih baik? Semua hanya dapat dijawab ketika saya mau belajar dan mengembangkan diri.

Berbagi hati, membentuk empati

                Pribadi yang selalu mau untuk belajar, bisa kita kenal lewat para penikmat budaya refleksi. Mereka yang tak jemu, untuk melihat kisah hidup, sebagai guru dan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu kita memahami berbagai peristiwa hidup, dengan kacamata yang baru. Proses ini, membantu keselarasan pola  berpikir, merasa, dan bertindak.

Dalam CLC, kita tahu bahwa budaya refleksi adalah budaya dasar yang selalu disandingkan dengan budaya berbagi. Kita meyakini, bahwa dengan berbagi isi hati, kita dapat terus mempertajam kemampuan kita merasa. Kemampuan mengenali dan mengelola perasaan akan membuat kita lebih jernih melihat peristiwa hidup, baik lewat peristiwa hidup pribadi, maupun mereka yang berbagi dalam kelompok. Bila kita sungguh mengenali rasa dalam diri, dan kemudian dengan pengetahuan yang selalu kita tambah, kita akan mempu mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan, dengan sadar dan utuh.

Keinginan kita untuk selalu belajar lewat refleksi diri, akan menggiring kita untuk menemukan rasa dan empati. Berempati berarti mengubah rasa menjadi tindakan, memperkuat niat dengan keutuhan diri, yang kemudian memunculkan konsistensi dalam bertindak. Sebuah riak kecil yang menciptakan gelombang yang membesar, hanya akan terjadi, ketika riak kecil terus terjadi, terpelihara dan konsisten.

Komunitas dan kisah perubahan

                Saya mengenali CLC sebagai keluarga besar, yang menyediakan ruang dan penghuni, yang konsisten menjadi cermin bagi diri dan sesama untuk berefleksi. Dan dari setiap perjumpaan, proses belajar terjadi. Dari berbagai kisah hidup, berbagai proses pembelajaran dan perubahan dilakukan. Kita melihat betapa spiritualitas Ignatian dan semangat kebangkitan BU, terpatri dalam proses ini. kita menempa diri dengan terus belajar lewat refleksi, kemudian mendorong perubahan lewat empati yang sungguh diyakini. Maka kebangkitan diri adalah konsekuensi yang akan kita terima, saat kita terus belajar mengembangkan diri dan tak ragu mengaktualisasikan empati kita. Maju sebagai pembawa perubahan akan menjadi tantangan yang ada di depan kita. Maka mari kita bertanya pada diri kita sebagai CLC, sudahkan saya berkomunitas untuk bangkit bersama? sudahkah saya berani menjadi pembawa perubahan?

Maka kisah Kebangkitan Nasional, sama seperti napas Siritualitas Ignatian, sebuah kisah mendidik diri lewat refleksi, yang mendorong perubahan perubahan kecil dan besar dalam hidup, sampai akhirnya di suatu titik, kita sungguh dapat berkisah tentang perubahan baik yang dapat kita lakukan, sendiri, maupun bersama. Kisah kebangkitan diri akan terpampang jelas saat Kisah Perubahan terjadi. Beranikah kita untuk berubah? Beranikah kita membawa perubahan? Hari ini? Selamat Hari Kebangkitan Nasional, selamat merefleksikan Tahun Ignatian.

Curriculum Vitae

Foto-foto Rius bersama anggota CLC di Bandung

Foto-foto Rius bersama tim Asia Pasific CLC