Refleksi Sahabat CLC – “MENEMUKAN TUHAN MELALUI PROFESI GURU”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus. Untuk itu kami sajikan tulisan refleksi dari Ibu Dra. Magdalena Indria Dewi.

Ibu Magda lahir di Padang tanggal 24 April 1964.
Masuk CLC tahun 1983 kelompok Metanoia.
Menjadi Pendamping Kelompok Kecil CLC yaitu Kelompok Fidelis, Kelompok IFO, Kelompok Pierre Favre, dan Kelompok Francis Xave.
Dalam Kepengurusan CLC :
Bendahara Lokal Yogyakarta ( Waktu CLC muda sekitar tahun 1984)
Bendahara Yogyakarta ( CLC tua )
Bendahara CLC Nasional,
Ketua CLC Yogyakarta.

Profesi saat ini adalah Guru SMAN 1 Depok, Yogyakarta.

MENEMUKAN TUHAN DALAM PROFESI SEBAGAI GURU

Oleh Magdalena Indria Dewi

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional, membuat saya melihat 35 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang guru.

Pada mulanya sebagai orang muda penuh dengan keidealisan ingin mencerdaskan anak bangsa, merasa cukup ilmu untuk terjun ke sekolah . Surat lamaran kebeberapa sekolah yang punya nama di Yogyakarta, tetapi  tidak  mendapat balasan. Mungkin karena saya belum lulus dari IKIP Sanata Dharma.

Kemudian saya mendapat informasi SMA St Thomas membutuhkan tenaga pengajar Matematika, saya diterima dengan tangan terbuka. Dengan semangat saya mempersiapkan untuk mengajar, ternyata situasinya sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, materi Matematika yang saya kuasai rasanya  sia-sia, anak-anak  tidak memperhatikan pelajaran saya,

Suatu ketika pada saat saya merasa gagal sebagai seorang guru, saya masuk ke kelas memberi pekerjaan ke anak-anak, kemudian saya berkeliling, bukan untuk menanyakan soal yang mereka kerjakan, tetapi ngobrol secara pribadi dengan mereka satu persatu, tentang asalnya ( karena kebanyakan mereka bukan  dari  Yogyakarta ), keluarganya. Ternyata setelah itu sikap mereka berubah, mereka mulai memperhatikan ketika saya mengajar. Waktu istirahat hanya saya habiskan bersama mereka, relasi saya dengan anak-anak semakin akrab, saya semakin tahu latar belakang keluarga mereka, sehingga saya makin memahami mereka.

Keidealisan saya untuk membuat mereka menguasai pelajaran Matematika berubah  mereka menyukai pelajaran Matematika. Saya semakin menghayati profesi saya sebagai guru, saya melihat keindahan menjadi seorang guru, bukan hanya untuk mentransfer ilmu saja  tapi bagaimana menghargai setiap pribadi anak didik dengan segala keunikannya. Beruntung saya di CLC dilatih untuk sharing, mendengarkan, memahami, menghargai setiap pribadi .

Anak-anak SMA St Thomas sudah kenyang dengan nasehat-nasehat, mereka lebih senang mendengarkan, sharing-sharing saya.

Saya berterima kasih dengan SMA St Thomas, karena di situlah saya ditempa sebagai seorang guru yang sesungguhnya. Dan memantapkan panggilan hidup saya sebagai seorang guru.

Ketika saya ditempatkan disekolah negeri saya tidak mengalami kesulitan lagi dalam hal pendekatan dengan anak-anak. Tantangan yang dihadapi berbeda, di tengah kelompok mayoritas bukan Katolik, saya belajar menjadi pribadi yang kokoh, tidak terbawa arus kebiasaan yang kurang baik, saya semakin menghayati tugas orang Kristiani itu menjadi garam, bukan hal besar yang dilakukan tetapi mewarnai.

Di masa pandemi mendidik anak lebih sulit, karena tidak berhadapan langsung dengan anak-anak, memang terasa ada yang sangat berbeda, soal materi mereka lebih canggih untuk eksplore di internet.

Tetapi pendidikan karakter tidak bisa maksimal tanpa ada komunikasi langsung, saya hanya  menjadi akrab dengan anak-anak yang sering bertanya lewat WA.

Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi, masih menjadi PR buat saya bagaimana  dalam situasi yang sangat terbatas, tetapi dapat menjalin relasi hati dengan anak-anak.

Yang menarik buat saya ketika studi banding untuk pembelajaran tatap muka ke SMA negeri lain yang sudah uji coba tatap muka. Mereka mengatakan “ target kami tidak pada penguasaan  kompetensi, tetapi bagaimana membentuk karakter  anak didik “

Tiga tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun, melihat perjalanan hidup saya sebagai seorang guru, membuat saya terkagum-kagum akan peran Tuhan yang mendidik saya secara personal. Tidak selalu mudah untuk memahami waktu itu, bahkan harus mengeluarkan airmata, merasa gagal.

Setiap saya merasa sudah tahu, tantangan baru muncul lagi. Ya mungkin seumur hidup saya harus belajar

Lepas bebas, cura personalis, magis yang dulu jauh dalam pikiran saya, semakin dapat saya pahami setelah merefleksikan setiap peristiwa yang saya alami. Spiritualitas Ignatian sangat membantu dalam menemukan Tuhan dalam peristiwa hidup saya

Dokumentasi kebersamaan yang penuh kegembiraan bersama para siswa SMAN Depok Sleman Yogyakarta