Refleksi Sahabat CLC – “MODEL PEMBELAJARAN PASCA PANDEMI”

Edisi khusus hari ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, kami menyuguhkan refleksi Sahabat CLC, akan pendidikan dan teladan bagi generasi penerus.

Dalam edisi ini kami sajikan tulisan dari Bp.
Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

Pak Eka lahir di Sukoharjo, 20/10/63. Gabung CLC 1985, pernah jadi ktua CLC lokal yogya, wakil keyua dan ketua nasional serta pernah jadi anggota CLC di Manila 1992 sd 1993. Sekarang dosen Informatika USD.

Model Pembelajaran Pasca Pandemi

Oleh Johanes Eka Priyatma

Kita memetik pelajaran berharga dari pembelajaran daring selama pandemi ini. Ternyata,
meskipun sudah menggunakan teknologi internet dan multimedia yang canggih, pembelajaran
daring tetap terasa garing. Suasana belajar garing ini membuat gairah belajar menurun. Bukan
hanya mahasiswa tetapi dosen juga merasakan suasana garing ini. Sejalan dengan harapan pandemi
akan segera berakhir lewat program vaksinasi, apakah pembelajaran pasca pandemi sebaiknya
kembali sepenuhnya ke luring ?
Sejatinya, garingnya pembelajaran daring bukan karena tiadanya tatap muka di kelas
melainkan hilangnya sebagian besar interaksi sosial yang menyertainya. Peristiwa belajar hanya
akan berlangsung efektif dan bermakna bila menjadi bagian dari interaksi sosial yang otentik.
Mahasiswa akan bergairah belajar bila itu berlangsung di antara berbagai kegiatan sosial seperti
ngobrol di luar kelas, menikmati camilan di kantin rame-rame, ataupun sibuk dengan berbagai
kegiatan kemahasiswaan.
Pembelajaran daring telah memberikan pengalaman mendalam bahwa belajar bukan
semata perkara teknis menyangkut ketersediaan bahan ajar, sarana komunikasi, serta sistem
evaluasi yang tepat. Belajar selalu tidak sederhana karena menyangkut berbagai faktor sosial yang
berelasi secara kompleks. Relasi sosial ini akhirnya akan memengaruhi sikap dan semangat
belajar. Dengan kata lain, belajar adalah peristiwa sosial dan bukan semata individual.
Sementara itu, pembelajaran daring sebenarnya menawarkan berbagai nilai tambah seperti
efisiensi, fleksibilitas, perluasan jangkauan, serta kemandirian. Sayangnya, berbagai nilai tambah
ini tidak berpengaruh positif terhadap gairah belajar bila pembelajaran berlangsung sepenuhnya
daring. Dari survey yang melibatkan 8500 mahasiswa dan 275 dosen di sebuah PTS di Yogyakarta,
93 % mahasiswa dan 85 % dosen merasa lebih bersemangat belajar dan mengajar bila dapat
bertatap muka kembali.
Setelah pandemi berlalu dan interaksi sosial fisik kembali normal, saya kuatir kita akan
kembali memakai model pembelajaran yang sepenuhnya luring. Bila ini yang terjadi, kita akan
sangat merugi. Pengalaman masif menjalani pembelajaran daring selama setahun tidak mengubah
secara signifikan pembelajaran tradisional yang sudah lama mendapat banyak kritik jauh sebelum
pandemi terjadi. Kehadiran teknologi e-learning selama 25 tahun terakhir yang tidak mengubah
signifikan model pembelajaran tradisional menjadi fakta mencolok betapa kekuatiran ini sangat
relevan.
Idealnya, pengalaman setahun ini menjadi bekal bernilai dan konkrit untuk
mentransformasi pembelajaran tradisional kita menjadi lebih berkualitas. Kita tentu berharap
pandemi segera berlalu tetapi selayaknya sedih bila pandemi tidak mengubah pembelajaran
menjadi lebih berkualitas.
Secara umum ada dua hal pokok yang sebaiknya kita lakukan. Pertama, pembelajaran
sebaiknya dirancang dengan memanfaatkan seluas-luasnya sumber belajar di internet. Kedua,
internet dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan relasi yang efisien, fleksibel, serta
memperluas jangkauan akses belajar.
Dua langkah transformatif ini, secara konseptual mengarah kepada model pembelajaran
terbalik (flipped). Memakai model ini, kelas fisik tetap berlangsung tetapi orientasi dan jenis
aktifitas utamanya bukan untuk ceramah. Interaksi di kelas diubah supaya mahasiswa lebih aktif
terlibat dalam perbincangan lewat diskusi, pemecahan masalah, studi kasus, debat, maupun
seminar.
Dalam pembelajaran terbalik, mahasiswa dituntut belajar mandiri terlebih dahulu sebelum
mengikuti kuliah. Mahasiswa belajar mandiri memakai bahan yang disediakan dosen di laman
belajar (Learning Management System /LMS). LMS berisi sumber belajar yang kaya bentuk seperti
teks, gambar, multimedia, maupun tautan ke berbagai alamat di internet. Pada LMS ini dosen perlu
memandu mahasiswa menjalani dinamika belajar mandiri yang efektif sekaligus menantang.
Dosen harus memastikan mahasiswa menjalani dinamika belajar tersebut, misalnya dengan
mewajibkan mengumpulkan tugas sebelum mengikuti kuliah.
Ketika kegiatan kuliah di kampus berubah menjadi interaksi dialogis yang intensif antara
dosen, mahasiswa, dan antar mahasiswa maka kualitas belajar akan meningkat drastis. Lewat
diskusi, tanya-jawab, serta debat yang konstruktif, kedalaman dan perluasan pengetahuan akan
terjadi secara alami dan otentik. Dinamika belajar ini akan membuka kesempatan yang luas bagi
perbincangan keilmuan yang kontekstual dengan berbagai persoalan sosial terkait. Model interaksi
di kelas ini akan menyemai kemandirian berpikir dan bersikap mahasiswa. Kemandirian itu sangat
lemah selama ini karena model pembelajaran kita yang cenderung monolog dan informatif semata
sehingga miskin dialog yang transformatif.
Dalam perspektif yang lebih luas, pembelajaran modern yang kontekstual sebaiknya
dilangsungkan bukan hanya dalam bentuk campuran antara daring dan luring tetapi menggunakan
gagasan ruang sibernetik (cybernetics space). Mitra dan Schwartz (2001) mengusulkan cara
pandang sibernetika (cybernetics) dalam melihat realitas saat ini. Ini adalah cara pandang integratif
yang tidak memisah-misahkan antar komponen. Memakai cara pandang ini, ruang siber/maya
(cyberspace) dan ruang fisik (physical space) dipahami sebagai satu kesatuan dan menjadi ruang
hibrida baru cybernetic space (ruang sibernetik).
Gagasan ruang sibernetika dapat menjadi paradigma untuk menata ulang praksis pendidikan
kita. Kerangka ini memberi panduan setidaknya dalam empat wilayah besar pembelajaran yakni
identitas dosen dan mahasiswa, relasi antara keduanya, pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi
kepentingan kedua belah pihak, serta ‘ruang’ di mana relasi tersebut berlangsung.
Karena pengetahuan tersedia melimpah di jagad maya maka identitas dan relasi dosenmahasiswa sebagai yang ‘mahatahu’ dan yang ‘kurang tahu’, semakin sumir. Perubahan identitas
dan relasi ini juga mencakup perubahan cara, waktu dan tempat relasi. Kerangka sibernetik akan
memaksa dosen dan mahasiswa menyiapkan diri sebagai warga sibernetik dengan tata relasi yang
baru. Di alam baru ini, eksistensi dan kehadiran harus mewujud baik di ruang fisik maupun maya.
Kegiatan memberi informasi sebaiknya diganti menjadi mengkritisinya. Ruang kerja dosen akan
sama penting dengan akun media sosial. Komunikasi visual dan verbal serta formal dan informal
akan menjadi sama penting.
Karena kurang siap, kita mungkin memaksa mahasiswa sepenuhnya belajar di ruang fisik. Ini
merugikan karena pendidikan akan kehilangan kesempatan menegosiasikan ruang fisiknya
menjadi bagian penting ruang sibernetik. Padahal, ruang fisik memiliki nilai tersendiri dibanding
ruang maya, seperti otentisitas, kepastian, kehangatan otentik serta kepermanenan. Sementara itu,
bagi mahasiswa ruang fisik haruslah semudah dan senyaman ruang maya. Konsekuensinya, kelas,
laboratorium, perpustakaan, dan kantin perlu ditata ulang menjadi bagian ruang sibernetik dalam
arti ketersediaan dan kualitas sarana fisikal sama penting dengan sarana digital.
Pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi hal paling pokok dalam pembelajaran memang
menjadi hal yang paling sulit untuk digagas ulang dalam ruang sibernetik ini. Perkara ini menjadi
semakin pelik manakala pengetahuan dan nilai-nilai kita pahami lebih sebagai perkara otoritas
yakni menjadi hak milik, bersumber pada, atau kewenangan dari pendidik. Internet telah lama
menegasikan hal ini karena informasi dan pengetahuan telah bersifat terbuka, demokratis,
melimpah, dan murah. Perbincangan yang jujur dan reflektif dapat menjadi salah satu solusi dalam
perkara ini.
Akhirnya, internet bukan hanya sarana untuk memasuki ruang maya tetapi lebih pas kita
dudukkan sebagai sarana untuk hidup dalam ruang sibernetik. Cara pandang ini membawa
konsekeunsi bahwa sejatinya e-learning tidak dapat serta merta menggantikan traditional
learning. Ini juga memperjelas mengapa keberhasilan e-learning meningkatkan kualitas hasil
belajar masih belum signifikan (Sun dkk., 2008). Untuk itu sistem-sistem pembelajaran berbasis
internet perlu dikembangkan dalam perspektif sibernetik, terutama dalam mempertimbangkan
aspek-aspek non-virtualnya. Kuncinya terletak pada terintegrasinya aspek-aspek penting dalam
belajar yang justru banyak terkait dengan persoalan di ruang non-virtual seperti motivasi,
penerimaan, dukungan dan kebersamaan.

Referensi


Mitra, A., & Schwartz, R.L. (2001). Rethinking the Relationship between Real and Virtual Spaces
Journal of Computer-Mediated Communication. http://www.ascusc.org/

Sun, P.C., Tsai, R.J., Finger, G., Chen, Y.Y. & Yeh, D. (2008). What drives a successful eLearning? An empirical investigation of the critical factors influencing learner satisfaction.
Computer & Education, 50 (4), 1183–1202.

Biodata Penulis:

  1. Penulis adalah Rektor Unversitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Anggota Pusat Kajian Pendidikan Tinggi APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia
  2. Pendidikan terakhir S3 Sistem Informasi Universiti Putra Malaysia
  3. Pekerjaan tetap : Dosen pada Jurusan Teknik Informatika Sanata Dharma

Bersama para Wakil Rektor Universitas Sanata Dharma

Bersama para mahasiswa

Bersama CLC dan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma dalam acara CLC di Yogyakarta

Bersama keluarga tercinta