Renungan Harian: 7 Maret 2021

Renungan Harian
Minggu, 07 Maret 2021
Minggu Prapaskah III

Bacaan I: Kel. 20: 1-17
Bacaan II: 1Kor. 1: 22-25
Injil: Yoh. 2: 13-25

H o r m a t

Sore itu kami di paroki mengadakan pembekalan untuk umat berkaitan dengan tata gerak dalam perayaan ekaristi. Kami mengundang romo yang berkompeten untuk memberikan penjelasan mengenai tata gerak.
 
Pembicara menjelaskan arti dan tujuan dengan tata gerak dalam perayaan ekaristi. Semua peserta antusias mendengarkan penjelasan itu. Banyak peserta yang mengatakan baru mengerti sekarang mengapa dalam perayaan ekaristi harus berdiri, membungkuk, berlutut dan berbagai tata gerak lain. Mereka selama ini mengikuti tata gerak itu karena kebiasaannya dan diajarkan demikian tetapi tidak mengetahui arti dan tujuannya.
 
Ketika sesi tanya jawab, banyak peserta yang bertanya meminta penjelasan, bahkan sampai hal-hal yang kecil dan sederhana. Kemudian ada satu peserta seorang bapak yang sudah sepuh bertanya tentang sikap  saat imam mengangkat Tubuh Kristus dan Darah Kristus, pada saat konsekrasi. Dalam penjelasannya pembicara menerangkan bahwa sikap yang benar bukan menunduk tetapi justru memandang Tubuh Kristus dan Darah Kristus yang diangkat. Bapak itu merasa bahwa sikap itu tidak hormat.
 
Pembicara menjelaskan dengan panjang lebar alasannya mengapa harus bersikap seperti itu. Sementara bapak itu mengatakan bahwa menurut rasanya tidak sampai, bahwa harus memandang. Menurut beliau memandang wajah orang yang amat dihormati dan diagungkan adalah tidak sopan. Sehingga beliau mengatakan tidak mungkin melakukannya.
Meskipun dijelaskan bahwa menurut tata aturan yang benar adalah memandang dan itu juga adalah sikap hormat namun bagi bapak itu tetap sulit untuk diterima.
 
Pembicaraan itu tidak akan pernah selesai, kalau diteruskan, karena pembicara harus menjelaskan tata aturan yang baku sedangkan bapak itu berbicara berdasarkan pengalaman rasa. Sebuah pengalaman rasa yang tumbuh dan hidup dalam diri bapak itu. Pengalaman rasa itu bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba dan sesuatu yang dipikirkan melainkan sesuatu yang sudah dihidupi sekian lama dan juga berdasarkan pengalaman budaya yang membentuknya.
 
Mungkin dalam khasanah ilmu liturgi dan teologi sikap bapak itu “tidak benar dan tidak pas” namun apa yang “benar dan pas” menurut teori itu “tidak benar dan tidak pas” menurut pengalaman rasa bapak itu.
 
Pengalaman akan Tuhan adalah pengalaman rasa, pengalaman personal yang menggetarkan. Ketika pengalaman akan Tuhan sampai pada pengalaman rasa, maka hubungan dengan Tuhan menjadi jauh lebih dalam. Mungkin banyak orang seperti bapak itu, yang mungkin menurut teori dan atau aturan baku adalah salah, namun  pengalaman rasa yang cukup mendalam dengan Tuhan melampaui teori dan aturan baku. Mereka mungkin sulit menjelaskan dasar teologi dan biblisnya tetapi mereka merasakan. Sering kali pengalaman iman “orang-orang sederhana” seperti bapak itu jauh lebih dalam dibandingkan banyak “orang cerdik pandai” yang mampu menjelaskan dasar teologi dan biblisnya.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada jemaat di Korintus: “orang Yahudi menuntut tanda dan orang Yunani mencari hikmat. Tetapi kami memberitakan Kristus yang tersalib. Suatu sandungan bagi orang Yahudi, dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah hubunganku dengan Tuhan sampai pada pengalaman rasa?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.