Renungan Harian: 20 Februari 2021

Renungan Harian
Sabtu, 20 Februari 2021

Bacaan I :  Yes. 58: 9b-14
I n j i l : Luk. 5: 27-32

S e h a t

Bapak tua itu setiap sore selalu duduk-duduk di halaman Gereja. Entah di situ ada teman-temannya atau tidak, dia selalu ada disitu. Dia duduk menikmati kopi yang ia bawa dalam termos dan merokok. Setiap isapan rokok dan hembusannya nampak selalu dia nikmati. Kehadirannya menjadi khas, karena dia selalu batuk-batuk, sehingga meski tidak melihat orangnya, semua orang sudah tahu bahwa ada bapak tua di halaman gereja.
 
Bapak itu berperawakan tinggi, kurus tapi kekar. Dia mempunyai toko kelontong di kota itu yang cukup dikenal. Sedari subuh dia sudah membuka tokonya melayani pedagang-pedagang yang “kulakan” di tokonya. Sore jam 4, dia sudah tutup toko dan duduk-duduk di halaman gereja.
 
Beberapa temannya yang sering ikut nongkrong selalu menyarankan agar bapak itu periksa ke dokter, mengingat bapak itu sering batuk-batuk dan seringkali setelah batuk-batuk seperti kesulitan untuk bernafas. Di samping itu bapak itu juga sering mengeluh kalau badannya pegal-pegal terutama di pundak dan leher. Tetapi bapak itu bergeming, semua saran teman-teman selalu dianggap angin lalu. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya sehat, bahkan dengan bangga mengatakan sejak kecil belum pernah masuk rumah sakit. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya akan sembuh pegal-pegalnya bila dikerok.
Lama-lama teman-temannya tidak lagi mengingatkan mungkin karena sudah bosan atau karena merasa tidak berguna; meski teman-temannya merasa prihatin dengan kesehatannya.
 
Malam itu saya dikejutkan berita bahwa bapak tua itu telah dipanggil Tuhan. Saya terkejut karena sore hari saya masih melihat dia menikmati kopi dan rokoknya di halaman gereja. Ternyata berita tentang kematiannya mengejutkan banyak temannya terutama yang sore hari tadi ikut ngobrol di halaman gereja.
 
Ketika saya melayat ke rumah duka, teman-teman menyesalkan sikap bapak tua itu. Seandainya dia mau mendengarkan saran teman-teman untuk ke dokter mungkin dia belum meninggal. Tetapi sayang dia selalu merasa sehat. Teman-teman berkomentar betapa bahaya orang yang merasa sehat karena bisa jadi badanya tidak sesehat yang dia pikir atau barangkali dia menutupi keadaan dirinya yang sesungguhnya.
 
Mengingat peristiwa itu, saya jadi sadar tentang keadaan diriku, ternyata aku pun juga berlaku seperti bapak tua itu terhadap jiwaku. Aku selalu merasa bahwa aku baik-baik saja. Merasa tidak melakukan dosa besar, merasa selalu bertindak benar dan yang lebih konyol adalah selalu merasa lebih baik dibanding dengan orang lain. Akibatnya saya merasa tidak perlu bertobat, pun kalau bertobat karena memang sudah menjadi kewajibanku bukan karena aku membutuhkan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang-orang yang selalu merasa sehat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.