Renungan Harian: 12 Februari 2021

Renungan Harian
Jumat, 12 Februari 2021

Bacaan I :  Kej. 3: 1-8
I n j i l : Mrk. 7: 31-37

I l u s i

Seorang teman berkisah tentang pengalamannya bagaimana ia bisa terjerumus ke dunia narkoba.
“Romo, saya terjerumus dalam lembah hitam ini bukan karena saya frustasi atau melarikan diri. Saya berasal dari keluarga terhormat dan saya mendapat pendidikan yang baik pula. Saya menjalani hidup dengan baik (dalam arti normal) tidak pernah aneh-aneh, pergaulan saya juga baik, teman-teman saya tidak ada yang keluar dari norma-norma yang ada.
 
Setelah lulus kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bonafid, sehingga membuat kehidupan saya baik dan mapan. Kemudian saya berumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak. Saya merasakan hidup saya penuh berkat.
 
Setelah kelahiran anak yang kedua, karir saya semakin baik. Dengan kenaikan jabatan menuntut tanggung jawab yang lebih tentu saja. Namun dengan beban yang ada saya mencoba tetap membangun keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
 
Sampai suatu waktu saya mendapat tanggung jawab untuk memimpin proyek perusahaan bersama 3 orang teman lain. Proyek ini menuntut energi yang luar biasa, bukan hanya pikiran tetapi juga fisik. Beberapa kali saya harus pulang kerja agak larutmalam, dan badan sungguh-sungguh sudah capai. Beberapa kali pekerjaan menuntut kerja lembur, tetapi saya selalu menyerah dan ijin untuk pulang. Syukur pada Allah teman-teman mengerti. Namun demikian saya juga sungkan kalau terus-menerus minta ijin.
 
Saya heran romo, melihat 3 orang rekan kerja saya itu. Mereka bisa bekerja dengan energi yang luar biasa. Mereka bisa kerja hampir 24 jam nonstop saat sibuk banget dan seperti tidak kelelahan. Saya tanyak ke mereka, bagaimana mereka bisa mendapatkan energi yang luar biasa seperti itu. Mereka mengatakan minum jamu. Wah, saya jadi tertarik dan ketika ditawari saya mau.
 
Romo, yang mereka tawarkan adalah sabu (salah satu jenis narkotika). Dan benar romo, sejak saya mengkonsumsi sabu, energi kerja saya luar biasa dan di awal-awal saya jadi lebih produktif. Tetapi lama-kelamaan saya jadi tergantung dengan sabu itu; kalau tidak ada sabu saya jadi tidak semangat, malas maunya tidur terus dan tidak ada energi.
 
Sampai suatu saat salah satu rekan kerja saya meninggal karena overdosis. Saya jadi takut romo, saya tidak mau hal itu terjadi pada diri saya. Kemudian saya becerita kepada istri dan orang tua tentang keadaan saya. Mereka semua terkejut dan shock mendengar pengakuan saya. Syukurlah mereka semua mau mengerti dan mendukung saya untuk keluar dari ketergantungan ini.
 
Romo, saya sungguh-sungguh menyesal harus mengalami semua ini. Sebuah tawaran yang sungguh-sungguh menarik dan sungguh-sungguh saya rasakan manfaatnya di awal-awal menggunakan,  tetapi ternyata merusak diri saya baik secara fisik maupun psikis. Saya terjebak dengan keinginan menjadi kuat dan luar bisa, tetapi ternyata saya salah jalan.
 
Romo, narkoba itu sungguh-sungguh jahat, menawarkan ilusi yang luar biasa. Kiranya banyak orang yang terjebak seperti saya, terjerumus karena melihat tawaran yang positif dan luar biasa padahal itu semua hanya ilusi, tidak pernah sungguh menjadi nyata.”
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, ular menawarkan buah terlarang dengan iming-iming manusia keluar dari batasannya dan menjadi seperti Allah. Sebuah tawaran yang amat menarik memenuhi kerinduan manusia tetapi akhirnya menjerumuskan pada jurang yang dalam. “Sekali-kali kamu tidak akan mati! Tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mampu melawan godaan yang begitu menarik dan memikat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.