Renungan Harian: 11 Februari 2021

Renungan Harian
Kamis, 11 Februari 2021

Bacaan I :  Kej. 2: 18-25
I n j i l : Mrk. 7: 24-30

Sepadan

Ada seorang ibu yang datang untuk bertemu dengan saya. Begitu ketemu ibu itu langsung nyerocos  menumpahkan kekesalannya terhadap suaminya. Ibu itu merasa terkekang karena suaminya pencemburu. Setiap kali dia ada acara dengan teman-temannya selalu terjadi keributan karena suami tidak ingin istrinya pergi dan alasannya karena cemburu.
 
Setelah mendengarkan keluhan ibu itu, maka saya membuat janji untuk bertemu dengan ibu dan suaminya. Saya meminta nomor kontak suaminya agar saya bisa menghubungi beliau. Pada hari yang sudah kami sepakati, ibu dan suaminya datang ke pastoran untuk ngobrol bersama.
 
Saya menyampaikan kepada bapak itu bahwa ada keluhan dari istrinya. Saya menceritakan keluhan istri kepada bapak itu. Mendengar cerita saya tentang keluhan istrinya bapak itu terkejut dan mukanya memerah.
“Romo, saya amat terkejut dan malu mendengar keluhan istri saya. Betul romo bahwa kami sering ribut kalau istri mau pergi dengan teman-temannya, tetapi bukan karena saya cemburu, tidak sama sekali.
 
Saya sering menegur istri pergi dengan teman-temannya karena terlalu sering romo, hampir setiap week end selalu pergi dengan teman-temannya. Kami berdua bekerja, sehingga saya berharap kalau week end kami bisa kumpul dengan anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama.
 
Romo, semua pekerjaan rumah, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju sampai membereskan peralatan makan itu saya. Setiap akhir pekan saya mencuci dan setrika baju dan membersihkan halaman. Istrinya saya tidak pernah mau menyentuh pekerjaan rumah.
 
Romo, apakah saya salah kalau saya meminta istri saya tidak terlalu sering pergi dengan teman-temannya? Apakah salah kalau saya mengajak istri saya bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah? Romo, selama ini saya tidak pernah menceritakan semua kejadian ini karena saya malu dan menghormati istri saya. Tetapi karena dia mulai mengeluh ke romo dengan cerita yang tidak benar, maka saya menceritakan semua ini,” bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
“Ibu, apakah semua yang diceritakan bapak itu benar?” tanya saya. “Benar, romo,” jawab ibu itu dengan malu.
“Bapak, ibu seharusnya, bapak dan ibu itu saling mendukung sama lain, bekerjasama mengurus rumah tangga. Kalau ada masalah dibicarakan bersama, bukan menang-menangan. Bukankah saat menikah dulu berjanji untuk mencintai dan menghormati sepanjang hidup? Yuk, mulai sekarang mulai belajar berbagi tugas dan belajar ngobrol dengan baik,” saya memberi tanggapan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, perempuan adalah teman yang sepadan bagi pria. Pria tidak lebih berkuasa dari pada perempuan demikian sebaliknya. Wanita bukan jajahan pria tetapi juga bukan menjajah pria. Mereka sama tinggi sekaligus sama rendah. “…….tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia…….dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bisa menempatkan lawan jenis sebagai yang sepadan dengan aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.