Renungan Harian: 7 Februari 2021

Renungan Harian
Minggu, 07 Februari 2021
Minggu Biasa V

Bacaan I   :  Ayb. 7: 1-4. 6-7
Bacaan II : 1Kor. 9: 16-19. 22-23
I n j i l : Mrk. 1: 29-39

G e l a p

Sore itu saya kedatangan tamu seorang ibu. Ibu tersenyum ketika bertemu dengan saya, dan menanyakan kabar saya; ibu itu kelihatan sebagai ibu yang bahagia. Setelah sejenak bertukar kabar dan ngobrol soal situasi pandemi, ibu mulai bicara dan wajahnya berubah menjadi amat serius.
 
“Romo, bagaimana caranya, saya sebagai orang katolik dan menikah secara katolik tetapi ingin bercerai dengan suami saya?” tanya ibu itu.

Saya terkejut mendengar pertanyaannya.
“Ibu, ibu pasti tahu bahwa dalam Gereja katolik tidak ada perceraian, jadi tidak ada caranya. Apa yang ibu alami?” Jawab saya.
 
“Romo, saya sudah lelah, sudah tidak tahan lagi dengan perkawinan ini. Hari-hari saya menjadi mengerikan, saya sudah muak dengan semua ini. Kami sudah 10 tahun menikah, sejak awal perkawinan kami selalu ribut. Sumber keributan adalah kecemburuan dia yang berlebihan. Memang  sejak kami pacaran dia sudah cemburuan, tetapi saya pikir itu wajar karena khawatir kehilangan, nanti setelah menikah dia berubah; ternyata tidak bahkan semakin menjadi-jadi.
 
Sebetulnya bagi saya aneh, dia yang selalu pergi main dengan teman-temannya baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan saya selalu di rumah; hidup saya kantor dan rumah jarang saya pergi-pergi; tetapi justru saya yang selalu dicurigai yang inilah yang itulah. Setiap kali saya pulang dari kantor dia selalu periksa hp saya, dan yang menjengkelkan adalah kalau ada nomor laki-laki, dia langsung telpon tanya ada hubungan apa dengan saya. Itu bikin malu romo, mereka itu klien saya.
 
Suami saya tidak kerja sejak kami menikah, jadi saya yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Dia setiap hari main game, kalau tidak,  pergi dengan teman-temannya. Setiap kali minta uang untuk bensin, untuk makan; yang paling bikin saya marah adalah dia sering mentraktir teman-temannya seperti seorang bos. Kalau tidak ada uang marah-marah dan mengancam.
 
Romo, soal dia tidak kerja saya tidak masalah, tetapi mari membangun rumah tangga ini dengan damai. Dia mau main dengan teman-temannya saya tidak keberatan, Dia tidak mengurus rumah saya tidak keberatan juga tetapi sikapnya membikin saya ketakutan dan lelah.
 
Romo, saya sudah selalu berdoa, saya berharap seperti St. Monica yang mendoakan suami dan anaknya sehingga berubah. Ternyata, saya tidak mampu romo. Saya sudah sebulan ini tidak bisa berdoa, semua terasa hampa, saya tidak tahu lagi Tuhan ada dimana. Saya merasa Tuhan meninggalkan saya, saya dibiarkan sendiri, semua terasa gelap.
 
Romo, saya ingin bercerai, saya tidak ingin mati konyol karena situasi ini. Tolong romo, bantu saya agar bisa bebas dari semua ini. Tuhan sudah tidak mendengarkan saya, maka saya mohon romo bantu saya.” Ibu itu bercerita dengan berurai air mata.
 
Pengalaman yang amat menyedihkan, pengalaman menghadapi hari-hari gelap yang mengerikan. Sebagaimana sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam kitab Ayub, Ayub  menghadapi hari-hari yang gelap, malam terasa amat panjang, hari-harinya menjadi lambat sehingga penderitaan menjadi semakin berat. Tetapi Dia tidak pernah lari dari Tuhan. “Demikianlah aku diberi bulan-bulan yang sia-sia, dan kepadaku ditentukan malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka yang kupikirkan “Bilakah aku akan bangun”. Tetapi malam terentang panjang, dan aku dicekam oleh kegelisahan sampai dinihari.”
 
Bagaimana dengan Aku? Adakah aku tetap setia pada Tuhan di saat-saat aku mengalami kegelapan dalam hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.