Renungan Harian: 19 November 2020

Renungan Harian
Kamis, 19 November 2020

Bacaan I : Why. 5: 1-10
Injil : Luk. 19: 41-44

G r a n t e s

Hari itu jam 02.00 dini hari, saya pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah, untuk memberi sakramen perminyakan. Di halaman Rumah Sakit paman dari pasien itu telah menunggu, kemudian mengantar saya ke IGD tempat pasien mendapat perawatan.
 
Pasien itu adalah anak muda kelas 3 SMU. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas, motor yang dikendarainya bertabrakan dengan motor pengguna jalan lain. Sesampai di tempat anak itu dirawat, saya melihat luka yang cukup parah. Saya segera mengajak keluarga untuk berdoa. Selama berdoa, ibu dari anak itu tidak berhenti menangis dan meratap.
 
Setelah selesai berdoa, kami menunggu di ruang tunggu karena anak itu sedang mendapatkan perawatan. Saya duduk di sebelah ibu itu untuk menenangkan. Sambil terus berurai air mata dan terisak, ibu itu bercerita. “Pastor, ini semua salah saya, seandainya saya tidak membelikan motor pasti tidak ada kejadian seperti ini. Pastor, dia sudah sejak masuk SMU ribut minta dibelikan motor, karena dia ingin seperti teman-temannya. Saya tidak pernah menuruti permintaannya karena saya khawatir kalau dia celaka.
 
Sebulan yang lalu dia minta dengan marah-marah; saya menjelaskan banyak hal kenapa tidak menuruti permintaannya, tetapi dia tidak mau dengar. Saya amat khawatir pastor, karena saya dengar teman-temannya seneng balap-balapan. Dia marah dan tidak mau sekolah, pokoknya kalau tidak dibelikan motor dia tidak mau sekolah. Saya tetap tidak menuruti. Tetapi saya kemudian dipanggil ke sekolah karena anak saya sudah 1 minggu tidak sekolah.
 
Saya bingung pastor, saya berharap anak saya berhasil, punya masa depan yang baik, saya sebagai orang tua hanya bisa membekali dengan ilmu untuk masa depan dia. Tetapi gara-gara motor, anak saya lalu menjadi tidak jelas. Akhirnya saya mengalah dan membelikan motor. Apa yang saya khawatirkan terjadi, sekarang saya harus melihat anak saya seperti itu. Pastor, manah kula grantes. (Pastor, hati saya menangis sedih),” Ibu mengakhiri ceritanya.
 
“Ngger, saumpama kowe ngerti yen ibu orang nuruti kuwi merga ibu tresna lan ngeman kowe, kedadian iki mesthi ora ana.” Ibu itu berguman lirih.
(Nak, seandainya kamu mengerti kalau ibu tidak mau membelikan motor itu, karena ibu mencintai dan sayang denganmu, kejadian ini pasti tidak ada.)
 
Hubungan anak dengan ibunya itu seperti aku dengan Tuhan. Aku sering mencari keinginanku sendiri dan tidak peduli dengan Tuhan. Aku sering protes dengan Tuhan tanpa mengerti betapa Tuhan mencintai aku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas, Yesus bersedih akan kedegilan hati umat yang dicintaiNya: “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
 
Sadarkah aku, akan cinta Tuhan yg sedemikian besar, lewat setiap peristiwa hidup yang kualami?

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.