Latihan Rohani Pertama:“Pisang Goreng” untuk Banyak Orang

Saat mengambil buku ini, Anda yang mengetahui – entah sedikit
maupun banyak – tentang Latihan Rohani St. Ignasius, mungkin
bertanya: Apa itu Latihan Rohani Pertama? Mengapa disebut
sebagai Latihan Rohani Pertama? Apa bedanya dengan Latihan
Rohani yang selama ini saya kenal?
Belum lama ini saya mendampingi anggota Magis – kelompok
orang muda yang mendalami Spiritualitas Ignasian – melaksanakan
Latihan Rohani Pertama. Guna memperdalam pengalaman yang
telah mereka peroleh sekaligus untuk memperkenalkan Latihan
Rohani Pertama kepada para Novis Serikat Yesus, Romo John
Nugroho (Pendamping Magis) dan Romo Setyodarmono (Magister
Novis) merancang refleksi akhir Latihan Rohani Pertama di
Novisiat Girisonta. Dalam refleksi akhir ini anggota Magis berbagi
pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani Pertama sementara
para Novis berbagi pengalaman mereka menjalani Latihan Rohani
yang dilaksanakan sebagai retret selama 30 hari.
Dalam kesempatan sharing tersebut, Romo Nano – panggilan
akrab Romo Setyodarmono – mengibaratkan Latihan Rohani
Pertama sebagai “pisang goreng” sementara Latihan Rohani 30 hari
sebagai “nasi goreng”. Dengan ekspresi yang gokil dia mengatakan,
“Hai para Magiser, kalian jangan puas telah menjalani Latihan
Rohani Pertama. Latihan Rohani Pertama itu, hanyalah “pisang
goreng”, snack atau menu pencuci mulut saja. Kalian mesti punya
impian suatu saat nanti dapat menikmati juga menu utamanya:
Latihan Rohani 30 hari.” Sebaliknya, kepada para Novis Romo
Magister berseru, “Hai kalian para Novis, jangan puas dan bangga
telah menjalani Latihan Rohani 30 hari. Kalian boleh bersyukur
telah memperoleh banyak anugerah dalam Latihan Rohani. Namun
ingatlah, banyak orang tidak mampu atau tidak punya kesempatan
mencicipi “nasi goreng” Latihan Rohani seperti kalian. Karena

itu, penting juga bagi kalian mengetahui dan mempelajari “pisang
goreng” Latihan Rohani Pertama ini. Dengan demikian, kalian
punya keterampilan untuk membagikan pengalaman yang telah
kaliah peroleh dalam Latihan Rohani 30 hari.”
Saya selalu tersenyum geli kalau ingat penjelasan Romo Nano
tersebut. Semoga tidak ada pengagum dan ahli Spritualitas
Ignasian yang marah atau tersinggung karena Latihan Rohani
dibaratkan sebagai “pisang goreng” dan “nasi goreng”. Namanya
saja pengibaratan, di dalamnya selalu ada penyederhanaan. Namun
justru dalam kesederhanaan itulah kita dapat menemukan inti
makna atau paling tidak semangat yang ingin dikomunikasikan.
Dibandingkan dengan Latihan Rohani 30 hari, Latihan Rohani
Pertama memang lebih ringan dan mudah. Ia sekadar snack ringan
saja. Namun karena mudah dan ringannya inilah, Latihan Rohani
Pertama lebih terjangkau oleh banyak orang. Dan inilah keunggulan
Latihan Rohani Pertama. Ia dapat menjadi pilihan bagi mereka yang
ingin memperdalam relasi dengan Allah lewat Latihan Rohani,
namun belum memiliki kesempatan atau kemampuan yang cukup
untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari. Setelah mencicipi Latihan
Rohani Pertama ini, semoga nantinya ada kesempatan bagi mereka
(atau muncul dorongan kuat dalam diri mereka sehingga sanggup
menciptakan kesempatan) untuk menjalani Latihan Rohani 30 hari.
Pada sisi lain, bagi mereka yang sudah menjalani Latihan Rohani
30 hari – para Yesuit, imam praja maupun imam serta suster dan
bruder dari tarekat tertentu, serta beberapa awam terpilih – dan
bersyukur atas anugerah Latihan Rohani, namun masih bingung
bagaimana cara mengantar orang untuk mengalami anugerah yang
sama, Latihan Rohani Pertama merupakan sarana yang mudah dan
efektif. Bahan, langkah dan struktur doa Latihan Rohani Pertama
sangat mudah dipahami dan diikuti oleh mereka yang sudah
menjalankan Latihan Rohani 30 hari sehingga pasti tidak ada
kesulitan juga bagi mereka untuk menjelaskannya kepada peserta
yang akan didampingi.

Latihan Rohani Anotasi 18
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan sekilas perbedaan
Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani 30 hari. Lalu apa
beda Latihan Rohani Pertama dengan Latihan Rohani Anotasi 19?
Dalam buku Latihan Rohani St. Ignasius menjelaskan bahwa Latihan
Rohani dapat diberikan dalam tiga bentuk. Hal ini dijelaskan dalam
“Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20, ke-19 dan ke-18.”
Dalam “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-20” disampaikan
bahwa Latihan Rohani Penuh – penuh artinya seluruh latihan yang
terdapat dalam buku Latihan Rohani dapat diberikan selama 30
hari di mana orang menyepi atau mudur dari aktivitas sehari-hari.
Kemudian, “Catatan Pendahuluan ke-19” menyebutkan, “… orang
yang terpelajar dan berbakat, namun terhalang oleh kepentingan
umum atau pekerjaan-pekerjaan yang penting,” dapat menjalankan
Latihan Rohani Penuh selama 30 minggu sambil tetap menjalankan
aktivitas sehari-hari. Inilah yang selama ini dikenal sebagai Latihan
Rohani Anotasi 19. Bahan Latihan Rohani Anotasi 19 sama dengan
Latihan Rohani 30 Hari, namun pelaksanaannya lebih panjang dan
peserta tidak perlu mundur dari aktivitas sehari-hari. Baik Latihan
Rohani dalam bentuk retret 30 hari maupun Latihan Rohani
Anotasi 19 inilah yang dalam uraian sebelumnya oleh Romo Nano
diistilahkan sebagai “nasi goreng”.
Sementara itu, “Catatan Pendahuluan atau Anotasi ke-18”
menyebutkan Latihan Rohani harus disesuaikan dengan keadaan
orang yang hendak melakukannya. Mereka yang mempunyai
keterbatasan tertentu entah “umur, pendidikan, dan bakatkemampuan” maupun waktu dan keterbatan lain dapat diberikan
sebagian Latihan Rohani asal mereka mempunyai keinginan atau
dambaan untuk mencapai “sampai ke tingkat tertentu kedamaian
jiwa.” Latihan Rohani Pertama tidak lain merupakan pelaksanaan
Anotasi ke-18 sehingga dapat disebut juga sebagai Latihan Rohani
Anotasi 18. Latihan Rohani Pertama memberikan sebagian bahan
dari buku Latihan Rohani sesuai dengan kondisi orang yang tidak

atau belum mampu menjalankan Latihan Rohani Penuh. Seperti
Latihan Rohani Anotasi 19, Latihan Rohani Pertama dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari, namun durasinya lebih pendek, yaitu
cukup sebulan saja.

Latihan Rohani Pertama

Sampai di sini perlu ditegaskan bahwa Latihan Rohani Pertama
bukanlah hasil tulisan St. Ignasius sendiri, melainkan pengolahan
Michael Hansen, SJ – seorang Yesuit dari Australia – atas Anotasi
ke-18 Latihan Rohani St Ignasius. Lewat penelitian atas tulisan serta
surat-surat St Ignasius dan kesaksian orang-orang tentang apa yang
dilakukan St Ignasius, Hansen menyusun Latihan Rohani Pertama.
Hansen bertolak dengan merekonstruksi “percakapan rohani” yang
dilakukan oleh Ignasius sejak ia mengalami betapa Allah telah
mencintainya dan mendidiknya seperti seorang guru mendidik
muridnya. Percakapan rohani ini dimulai ketika Ignasius berada
di Loyola dan Manresa dan terus dilakukan setelah ia kembali
dari peziarahan di Yerusalem dan selama ia studi di Barcelona,
Alcala dan Salamanca. Bahan percakapan dan cara bercakap-cakap
Ignasius dengan orang yang bimbing inilah yang menjadi cikal
bakal buku Latihan Rohani, yakni buku panduan melaksanakan
dan memberikan retret tigapuluh hari. Inipula yang menjadi dasar
bagi Hansen menyusun bahan doa dan langkah percakapan dalam
Latihan Rohani Pertama.
Mengapa Latihan Rohani Anotasi ke-18 ini disebut sebagai
Latihan Rohani Pertama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
saya menggunakan penjelasan dari Michael Hansensendiri. (bdk.
The First Spiritual Exercise (Notre Dame: Ave Maria Press, 2013)),
hlm. 15) Latihan ini disebut sebagai Latihan Rohani Pertama
karena, pertama, inilah perziarahan rohani pertama. Inilah latihan
rohani pertama yang dipelajari dan dilaksanakan oleh Ignasius, Si
Peziarah, dalam mencari kehendak Tuhan.

Inilah pula latihan rohani pertama yang diberikan oleh Ignasius
kepada orang lain. Dan mungkin inilah pula latihan rohani pertama
yang akan kita berikan kepada orang yang ingin maju dalam
kehidupan rohani saat ini.
Kedua, latihan ini pertama dari sudut isi. Dalam Latihan Rohani
Pertama banyak diberikan latihan “pertama”: Prinsip pertama
tentang kebebasan Kristiani, doa-doa Kristiani pertama, keutamankeutaman pertama, gagasan yang perlu dibangun pertama kali
ketika kita bangun pagi, penciptaan pertama, dosa pertama, metode
doa serta buah-buah roh pertama, langkah pertama pembedaan
roh, dst.
Ketiga, latihan-latihan yang diberikan berada pada urutan
pertama dan menjadi bagian dinamika pertama dalam Latihan
Rohani. Salah satu modul Latihan Rohani Pertama berisi seluruh
bahan dalam Minggu Pertama Latihan Rohani Penuh. Bahan ini
dilakukan sebelum orang melanjutkan latihan yang lain.
Keempat, latihan-latihan ini pertama digunakan. Mereka adalah
bentuk pertama Latihan Rohani yang dapat diberikan. Tidak
seperti Latihan Rohani Penuh, mereka dapat langsung diberikan
kepada siapa saja. Mereka merupakan bentuk lengkap dari Latihan
Rohani pada dirinya sendiri. Dalam spiritualitas Ignasian, latihan
ini tidak hanya merupakan cara awal yang paling tepat untuk mulai,
melainkan juga satu-satunya cara untuk mulai.

Empat Retret Latihan Rohani Pertama

Latihan Rohani Penuh, baik yang dilaksanakan dengan menyepi
maupun dalam kehidupan sehari-hari, dilaksanakan dalam bentuk
satu retret. Sementara itu Latihan Rohani Pertama lebih fleksibel;
mereka dibuat dalam bentuk empat retret yang dapat dipilih
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing orang.
Setiap retret menjawab dambaan terdalam akan kedamaian sejati
dan dambaan akan pengalaman cinta, pelayanan, pengampunan,
penyembuhan, kebebasan dan persahabatan dengan yang Ilahi.
Inilah dambaan terdalam yang ada dalam lubuk hati semua orang.
Empat Retret tersebuat adalah:

  1. Damai Sejati dalam Cinta Ilahi
    (Inner Peace in Divine Love)
  2. Damai Sejati dalam Kegelapan dan Terang
    (Inner Peace in Darkness and Light)
  3. Damai Sejati dalam Persahabatan dengan Yesus
    (Inner Peace in Friendship with Jesus)
  4. Damai Sejati dalam Pelayanan kepada Allah
    (Inner Peace in the Service of God).
    Buku yang ada di tangan Anda ini baru menyajikan terjemahan
    untuk retret “Damai Sejati dalam Cinta Ilahi.” Semoga dalam waktu
    yang tidak terlalu lama, terjemahan tiga retret yang lain dapat
    segera tersedia. Bagian Pertama dari buku ini berisi Penjelasan
    Umum tentang Latihan Rohani Pertama. Bagian Kedua merupakan
    kumpulan Panduan Praktis untuk melaksanakan Latihan Rohani
    Pertama. Panduan Praktis ini menjelaskan berbagai langkah
    yang akan dilakukan, baik pribadi maupun kelompok, selama
    menjalankan Latihan Rohani Pertama. Di dalamnya dijelaskan
    struktur serta dinamika doa dan percakapan rohani, cara menuliskan
    pengalaman doa dan percakapan, serta pedomaan pembedaan roh.
    Bagian Ketiga berisi Bahan Doa Harian dari retret “Damai Sejati
    dalam Cinta Ilahi.”

Perlu ditegaskan di sini bahwa seperti buku Latihan Rohani
yang ditulis oleh St. Ignasius, panduan Latihan Rohani Pertama
ini bukanlah buku atau renungan untuk dibaca. Kita perlu
menggunakan buku ini seperti cara kita menggunakan buku
panduan berenang atau buku resep masakan. Kita tidak akan dapat
berenang atau merasakan masakan yang lezat dengan sekadar
membaca buku panduan. Supaya dapat berenang, kita harus
menceburkan diri ke kolam renang; untuk menikmati masakan
dan kegembiraan memasak, kita harus pergi ke dapur, memasak
dan mencicipi hasilnya. Demikian pula Latihan Rohani Pertama
akan membuahkan pengalaman akan kasih Allah kalau dilakukan:
kita berdoa, membuat catatan tentang doa, melakukan pembedaan
rohdan berbagi pengalaman dalam doa lewat percakapan rohani.
Penerbitan buku Latihan Rohani Pertama ini dilaksanakan
dalam kerjasama dengan Magis. Magis pula yang akan menjadi
ujung tombak untuk memperkenalkan Latihan Rohani Pertama
di Indonesia. Jika Anda atau Komunitas Anda (kelompok orang
muda, paroki, lingkungan, kelompok kategorial maupun kelompok
lain) berencana untuk melakukan Latihan Rohani Pertama
dan memerlukan penjelasan atau bimbingan silakan kontak ke
lrpertama@gmail.com.
Mengakhiri Pengantar ini baik kiranya kita mendengarkan apa
pandangan St. Ignasius sendiri tentang Latihan Rohani. Sembilan
tahun setelah diperiksa dan bebas dari penjara di Alcalá, Ignatius
menulis kepada seorang teman:

Biarkan aku mengulang sekali lagi, dua kali dan bahkan berulangkali sepanjang aku mampu: Aku memohon kepadamu – permohonan
yang lahir dari keinginan untuk melayani Allah Tuhan kita – agar
engkau melaksanakan apa yang telah kukatakan kepadamu sejak dulu
hingga sekarang.
Semoga Allah yang Mahamulia tidak akan bertanya kepadaku
pada suatu saat nanti mengapa aku tidak meminta dan mendesakmu
dengan sekuat tenaga.
Latihan Rohani adalah hal terbaik dari semua yang dapat
kupikirkan, kualami dan kupahami dalam hidup ini. Latihan Rohani
dapat membantu seseorang untuk merealisasikan diri terbaiknya,
sekaligus memampukan orang untuk memberikan manfaat,
membantu dan berguna bagi banyak orang. Bahkan, jika engkau tidak
merasa memerlukan bantuan untuk yang pertama [merealisasikan
diri terbaikmu], engkau akan melihat bahwa manfaat Latihan Rohani
untuk hal kedua [membantumu menolong orang lain] lebih besar dari
yang engkau bayangkan.

Ignasius kepada M. Minoa, 16 November 1536

Dengan kata lain, bahkan ketika engkau tidak merasa
membutuhkan Latihan Rohani bagi dirimu sendiri, paling tidak
engkau membutuhkannya supaya engkau dapat menolong orang
lain dengan lebih baik. Bagi Ignasius Latihan Rohani tidak lain
adalah sarana terbaik untuk menolong orang lain.

Yogyakarta, 16 April 2016
Antonius Sumarwan, SJ

(Power Point) Latihan Rohani Pemula oleh Rm Antonius Sumarwan, SJ