Latihan Rohani Anotasi 18 dan 19

Beberapa tahun yang lalu, saya retret di Girisonta. Salah satu bahan yang saya pakai adalah “Memilih Kristus di Dunia” karangan Jospeh A. Tetlow S.J; sebuah buku yang indah, baik format mau pun isinya, tebal (dan pasti mahal), diterjemahkan oleh Willie Koen, dalam rangka kerjasama dengan Universitas Sanata Dharma, sebagai kenangan Provinsi Serikat Yesus Indonesia atas 75 tahun berdirinya KOLSANI.

Andaikata tidak saya bawa buku ini untuk retret, barangkali ia akan tersimpan rapi tak tersentuh untuk waktu yang lama. Sebab sebagaimana dimaksud di pengarang, buku ini adalah buku pegangan (manual) untuk memberi bimbingan Latihan Rohani Ignasian menurut anotasi 18 dan 19 kepada para awam yang membutuhkan. Dan saya merasa kurang punya peluang untuk pekerjaan ini.

Sebenarnya ketertarikan saya pada buku ini sudah lama, sejak buku itu diperkenalkan oleh Rm. Darminta S.J. dalam retret kami selama tersiat, tahun 1992. Lalu kami rame-rame memfotokopi dengan semangat dan harapan waktu itu, bahwa suatu hari kami pun akan diminta dan mendapat kesempatan untuk memberi bimbingan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari bagi umat biasa atau tokoh-tokoh  katolik yang sibuk dan tak mampu meluangkan waktu panjang untuk retret. Tetapi waktu berlalu sesudah tersiat sampai saat saya menghadiri Lokakarya Latihan Rohani di Cimacan  (Villa Renata) pada Februari 1997, dimana pater Tetlow sendiri hadir dan memimpin. Suatu kesempatan yang bagi saya memberi pengetahuan baru tentang bagaimana memberi Latihan Rohani yang sebaiknya. Buku dari pater Tetlow itu tiba-tiba menjadi aktual lagi bagi saya dan lebih terasa manfaat dan kemudahan pemakaiannya, dengan lembar-lembar pembimbing di sebelah kiri serta lembar-lembar bagi pembuat retret di sebelah kanan, yang setiap kali bisa difotokopi dan diberikan kepada peserta retret.

Saya tidak tahu dan tidak ingat, sejauh mana buku  itu sudah dibedah atau diresensi atau dibicarakan sesudah diterbitkan. Pada waktu kita merayakan 450 tahun Serikat dan 500 tahun hidup Ignatius,  Rm. Tom juga telah membuat buku tuntunan retret anotasi 18 dan 19 untuk komunitas-komunitas kita. Waktu itu memang ada gerakan untuk mempromosikan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari. Tentu saja nasib karangan Rm. Tom dan juga buku Tetlow yang baru ini dapat kita pertimbangkan. Sebagai manual, tentu saja bisa dipertanyakan sejauh mana sudah dipergunakan dan dimanfaatkan secara efektif.

Dalam ngomong-omong dengan seorang rekan yesuit, saya berpikir memang banyak orang yang membutuhkan Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi kalau dilayani, sejauh mana kita bersedia (atau mamapu) meluangkan diri? Kalau dituruti, buku Tetlow ini bisa menuntut cukup banyak waktu, bagi orang yang sudah sibuk (atau mapan). Membimbing satu orang saja, misalnya, selama tiga puluh lima kali pertemuan dengan satu kali pertemuan per minggu untuk konperensi selama kurang lebih satu jam dengan peserta retret, membutuhkan ketekunan tidak saja bagi peserta Latihan Rohani, tetapi juga bagi pemberi Latihan Rohani. Orang harus menyediakan diri sungguh-sungguh dan mengatur waktunya, agar tidak membuat perjalanan lebih dari satu minggu, yang bisa membuat satu pertemuan batal atau tertunda. Itu pun baru satu orang. Bagaimana kalau harus membimbing lebih dari satu orang? Membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Jadi dalam waktu satu tahun, mungkin kita hanya bisa menolong satu orang saja.

Hal inilah yang memerlukan pemikiran dalam menindak lanjuti penerbitan buku Tetlow itu. Tidak perlukah dibicarakan siapa calon-calon yang perlu diberi retret anotasi 18 dan 19 itu? Bagaimana menyeleksinya? Para pemuka jemaat? Para politikus? Cendekiawan katolik? (yang sudah lama mengeluh kurang mendapat pelayanan kategorial?). Tidak perlukah dipromosikan secara agak khusus praksis Latihan Rohani anotasi 18 dan 19 ini untuk mereka? Sudah siapkah kita menyediakan pelayanan itu? Perlukah dibentuk panitia promosi yang melayani mereka yang membutuhkan (semacam medan kerasulan baru?) ataukah cukup dilayani secara sambilan oleh semua yesuit yang kebetulan diminta untuk membimbing? Tidak bisakah pendampingan Latihan Rohani jenis ini dilakukan secara kelompok, dan tidak hanya pribadi, untuk mengefesiensikan tenaga yang ada? Inilah sejumlah pemikiran atau lebih tepat pertanyaan yang mungkin perlu dibicarakan, kalau mau menggunakan dan memanfaatkan buku Tetlow ini dengan sebaik mungkin. Dari sini mungkin akan berkembang studi Spiritualitas Ignatian di Indonesia. (A. Sudiarja)

Sumber :https://psiusd.wordpress.com/2011/07/24/latihan-rohani-anotasi-18-dan-19/