Renungan Harian: 13 November 2020

Renungah Harian
Jumat, 13 November 2020

Bacaan I : 2Yoh. 1: 4-9
Injil    : Luk. 17: 26-37

S e k t e

Sore itu, saya kedatangan tamu sebuah keluarga; pasangan suami istri dan dua anaknya. Bapak itu memperkenalkan keluarganya, beliau mengatakan bahwa mereka memiliki tiga orang anak. Anak pertama laki-laki yang sekarang ikut dan si bungsu perempuan yang juga ikut dalam perjumpaan itu; sedang anak nomor dua perempuan, yang sekarang tidak bisa ikut.
 
Setelah berbincang sejenak, bapak mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
“Pastor, kami sekeluarga sedang berduka. Anak perempuan kami yang kedua, sekarang ini pergi dari rumah, dan membenci kami semua, orang tua dan kakak-adiknya. Kami sudah beberapa kali mencoba membujuk agar mau pulang tetapi tetap tidak mau pulang dan akhir-akhir ini sudah tidak mau ditemui lagi.
 
Pastor, awalnya dia itu ikut kumpul dengan teman-temannya untuk pendalaman alkitab. Saya senang, dia yang awalnya tidak pernah pegang alkitab sekarang jadi rajin membaca alkitab, dan setiap pagi dia selalu memberikan rhema kepada kami semua. Kami semua bangga dengan perkembangannya.
 
Tetapi dalam perjalanannya dia mulai aneh, dia mulai bicara bahwa baptisan kami semua itu tidak sah, dan kami semua harus bertobat, doa-doa kami semua salah dan macam-macam. Puncaknya saat makan malam dia ngomong bahwa dirinya sudah dibaptis lagi, dan meminta kami semua untuk bertobat dan dibaptis lagi karena kami semua ini sesat. Kalau tidak bertobat kami semua tidak akan selamat. Dia tidak mau lagi mendengarkan kami, satu hal yang selalu diulang-ulang bahwa dia harus mempertobatkan semua keluarga agar selamat.
 
Pastor, saya menegur dia dengan keras, dan mengatakan bahwa dia tersesat. Dia marah dan mengatakan kalau dia tidak mau tinggal lagi di rumah ini, karena rumah ini isinya orang-orang yang sesat dan tidak mau mendengarkan warta pertobatan.  Karena saya emosi yang bilang ke dia: “Kalau kamu merasa kami orang sesat dan kamu mau pergi ya silahkan.” Dan dia pergi sampai sekarang.
 
Saya kemudian tahu bahwa selama ini, dia ikut sebuah sekte yang ekstrem. Kami amat sedih dan kehilangan dia. Ibunya jadi sakit-sakitan karena memikirkan dia. Kami harus bagaimana pastor?” Bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
Saya sangat sedih mendengarkan cerita bapak itu, dan bisa merasakan betapa keluarga ini berduka. Saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya bisa mengajak keluarga itu untuk selalu berdoa agar anak tercinta segera kembali ke keluarga, meminta mereka untuk tetap menyapa putrinya, jangan memaksakan sesuatu, tunjukkan bahwa keluarga amat mencintai dan merindukannya. Kalau dia pulang terima dia baik, jangan mengungkit sesuatu.
 
Pada masa sekarang ada banyak ajaran-ajaran maupun pengaruh-pengaruh yang mudah membius dan kemudian menyesatkan. Banyak orang yang dengan mudah menafsirkan kitab suci maupun ajaran-ajaran agama demi mendapatkan keuntungan pribadi.
 
Benarlah pesan St. Yohanes dalam suratnya yang kedua:”Banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia…… Waspadalah, jangan sampai kalian kehilangan apa yang telah kami kerjakan. Tetapi berusahalah agar kalian mendapat ganjaranmu sepenuhnya.”
 
Adakah aku mampu memberikan teladan keteguhan iman dan kewaspadaan agar tidak tersesat?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.