Renungan Harian: 26 Juni 2020

Renungan Harian
Jumat, 26 Juni 2020

Bacaan I : 2Raj. 25: 1-12
Injil    : Mat. 8: 1-4

R a p u h

Ada seorang anak muda, perilaku dan tutur katanya santun . Dia melamar kerja di perusahaan seorang teman. Perusahaan teman saya sebenarnya tidak membutuhkan karyawan, tetapi karena melihat perilaku anak muda itu, maka ia ditawari untuk bantu-bantu di rumahnya. Anak muda itu mau.
 
Dugaan teman saya tidak salah; anak muda itu santun, rajin dan jujur. Selama bekerja di rumah teman saya, ia diminta melanjutkan sekolah paket, hingga menamatkan setingkat SMA. Kemudian diminta kuliah dan ternyata anak muda ini bukan hanya santun, jujur dan rajin akan tetapi juga cukup cerdas. Singkat cerita ia bisa menyelesaikan sarjana ekonomi.
 
Setelah ia menyelesaikan tingkat sarjana, dia diangkat menjadi staf di perusahaan. Di perusahaan dia juga menunjukkan kinerja yang luar biasa. Hingga akhirnya diangkat menjadi pimpinan di sebuah perusahaan yang baru didirikan oleh teman saya. Dalam bekerja dia selalu didampingi oleh teman saya, dan anak itu rendah hati sehingga selalu bertanya dan bertanya.
 
Memasuki tahun ketiga sebagai pimpinan perusahaan, dia sudah hidup layak, punya rumah dan mendapat fasilitas mobil. Namun entah mengapa dia tidak disukai oleh semua karyawan. Ternyata dia sekarang menjadi anak muda yang angkuh, dan semena-mena dengan karyawan. Karena merasa menjadi orang kepercayaan si empunya perusahaan, dia dengan mudah memberhentikan karyawan yang tidak dia sukai walaupun karyawan itu baik. Bahkan di antara karyawan dia sering mengatakan bahwa si empunya perusahaan tidak akan memecat dia, karena perusahaan ini tidak akan jalan tanpa dirinya.
 
Akhirnya teman saya tahu persis bahwa anak muda yang baik ini telah berubah. Ketika ditegur dia berani menantang  teman saya dengan mengatakan: “Pecat saja saya, saya gak akan minta pesangon apapun. Banyak perusahaan yang akan menerima saya.” Teman saya memutuskan untuk memberhentikan dia.
 
Enam bulan kemudian dia datang lagi ke teman saya, mohon maaf dan minta untuk diterima lagi. Ternyata setelah keluar dari perusahaan teman saya, dia sudah tiga kali diberhentikan dari perusahaan tempat dia bekerja, karena kinerja dan sikap yang tidak baik. Dia menjadi pengangguran sekarang. Teman saya tidak bisa menerima dia lagi.
 
Mendengar cerita teman saya, membantu saya untuk memahami pesan Sabda Tuhan sejauh diwartakan Matius yang kita dengar hari ini. (maaf, ini tafsir jauh). Orang yang sakit kusta itu mohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.” Si kusta amat tergantung dengan kemurahan hati Tuhan, dirinya hanya bisa memohon. Kalau Tuhan mau dia akan sembuh kalau tidak dia tetap akan menjadi penderita kusta.
 
Hubunganku dengan Tuhan sering kali seperti anak muda itu. Aku sering merasa hebat, aku sering merasa mampu dan seolah-olah semua bisa karena diriku sendiri tanpa Tuhan. Aku lupa betapa aku amat rapuh. Dalam seluruh hidupku hanya bergantung pada belas kasih Tuhan. Dalam banyak hal, aku seperti penderita kusta itu yang hanya bisa memohon, tidak punya daya apapun tanpa belas kasihNya.
 
Aku tidak bisa membayangkan seandainya Tuhan mengatakan padaku: “Aku tidak mau.” Bukankah aku tidak bisa apa-apa? Aku bertanya pada diriku sendiri:
“ Untuk apa aku menyombongkan diri padahal kenyataannya aku sungguh amat tergantung pada belas kasihNya? Adakah aku bisa menyombongkan diri ketika tidak ada belas kasih Allah?”
 
Persoalan besar dalam hidupku adalah aku sering lupa bahwa segala yang ada padaku hanya karena belas kasihNya. Ia yang selalu mengatakan: “Aku mau.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.