Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Pertemuan bulan September CLC Jakarta

Teman-teman CLC dan Para Sahabat Ignatius Ytk.
😍🥰🔥🌹
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita semua dalam keadaan sehat 🙏🏻❤️🍀

Realita bumi kita yang sekarang sedang menangis, memanggil setiap orang untuk peduli pada alam ciptaan ini.

Kita dipanggil untuk menanggapi ajakan Pater Arturo Sosa SJ untuk mengambil langkah konkret mewujudkan Preferensi Kerasulan Universal dimana kita berada.

Kami ingin mengajak teman-teman CLC dan para Sahabat Ignatius untuk belajar dan berproses bersama :

📌Tema
Merawat Rumah Kita Bersama

✅Narasumber :
Rm. Effendi Kusuma Sunur SJ
(Pastor Mahasiswa DIY),

Pertemuan dilakukan secara daring pada:

📅 : 25 September
Hari Minggu
🕰: 10.00-12.00 WIB

Mari teman-teman CLC dan Sahabat Ignatius, silakan bergabung dengan mengajak teman lain, para pemerhati bumi kita.

Kehadiran setiap orang adalah berkat dan sangat berarti untuk kita semua.
Terima kasih 🙏🏻🔥🥰

Salam kami,
Pengurus CLC Jakarta
AMDG 🤝✊🏻🙏🏻

Kegiatan CLC-DI-SOLO

CLC (Christian Life Community) Indonesia Lokal Solo mempersembahkan:

Refleksi : A Way of Self-Healing

Setiap kita pernah sakit, mungkin sedang dan akan mengalami sakit, baik sakit jasmani, pikiran maupun perasaan. Kita berusaha memeluk rasa sakit itu untuk memperoleh kesembuhan.
Dalam dunia yang sakit ini, kami mengundang anda semua untuk mengenal salah satu jalan untuk memperoleh kesembuhan dalam sarasehan “Refleksi:A Way of Self Healing”, yang akan kami selenggarakan pada:
Hari/Tgl. : Minggu 25 September 2022
Pukul : 10.00 – 12.30
Tempat : Aula Fransiskus Xaverius Paroki St. Antonius Purbayan
Narasumber: RM. Agustinus “Nano” Setyodarmono, SJ.

Kami nantikan kehadiran anda. Tempat terbatas.

Persembahan Kasih : 80k
Fasilitas: Gratis buku Jejak Refleksi Perjalanan Awam Sahabat Ignatius (edisi terbatas) dan Snack.

Informasi.
Dina (0816-6784-72)
Arani (0813-2993-4176)

Pendaftaran :
https://qrco.de/bdFGo7

Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 22 September 2022 pukul 23.00 WIB.

Refleksi Sahabat CLC – “DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan Penutupan Tahun Ignasian, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Dominico Savio Octariano, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Nico , dengan judul tulisan “Dianggap Gila Demi Kristus“.

Rm. Nico baru saja menyelesaikan studi spiritualitas di Comillas, Madrid, Spanyol. Sejak 21 Juli 2022 kembali ke Indonesia. Selanjutnya akan menjalani perutusan baru sebagai Socius Magister di Girisonta.

Selamat membaca dan berefleksi

Ad Maiorem Dei Gloriam.

.

“DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Selama setahun ini, di tahun Ignatian, kita pemerhati dan penghayat spiritualitas Ignatian mendapatkan kesempatan untuk mencecap-cecap banyak tema spiritualitas Ignatian lewat pertemuan-pertemuan di berbagai kelompok dan forum. Di dalam pertemuan itu, kita, sebagai peserta diperkaya, tidak hanya dengan paparan materi, diskusi atau tanya-jawab, namun juga lewat percakapan rohani, yakni sarana yang membuat tema-tema tersebut lebih membatin, karena daya-daya jiwa kita digerakkan.

St. Ignatius Loyola, dalam Latihan Rohani, menerangkan bahwa hidup kita itu digerakkan oleh 3 daya jiwa, yakni ingatan, pikiran dan kehendak (lih. LR 45, 50, 246). Bila dilihat dari sudut pandang pengolahan daya-daya jiwa, selama setahun ini, dalam berbagai forum diskusi dan pertemuan, kita lebih banyak melatihkan daya ingatan dan pikiran kita. Lalu bagaimana dengan daya kehendak? Daya kehendak pada diri kita dalam forum-forum itu juga sudah dilatihkan, namun baru sampai pada tahap dorongan atau keinginan internal saja.

Spiritualitas Ignatian bukanlah spiritualitas yang cukup puas atau berhenti pada transformasi batin atau internal saja. Spiritualitas Ignatian harus membawa seseorang sampai pada transformasi cara hidup. St. Ignatius dalam meditasi Tiga macam kerendahan hati, mengungkapkan bahwa kerendahan hati yang hendak dicapai atau cara hidup yang sempurna hendak dihayati adalah cara hidup yang meneladani dan menyerupai Yesus, yakni cara hidup dalam pengabdian, mau ikut memanggul salib Yesus di dunia dalam hidup keseharian kita (lih. LR 167).

Dalam nomer yang sama, LR 167, St. Ignatius bahkan menggunakan frase yang sangat khas: “Aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu”. Lalu apa artinya kerendahan hati tingkat 3 ini dalam spiritualitas Ignatian dan apa kaitannya dengan daya kehendak yang harus diaktualkan dalam hidup sehari-hari?

Sebagai peziarah Allah, St. Ignatius memberikan contoh lewat pengalaman personalnya. Autobiografi menceritakan pergulatan bagaimana Ignatius berjuang menghidupkan daya kehendaknya. Setidaknya ada 3 fase dalam hidup Ignatius, yang menunjukkan proses transformasi cara hidup atau cara dia mengaktualkan daya kehendaknya.

Hombre de Saco (manusia karung goni)

Pilihan Ignatius untuk membeli dan menggunakan pakaian yang berbahan karung goni (Autobiografi 18), bukanlah pilihan sesaat atau pilihan yang semata-mata demi pertobatannya, melainkan sebagai cara/bentuk hidup yang memang ia ingin jalani. Kehendak batinnya mengarah pada memilih cara hidup yang hina. St. Ignatius ingin benar-benar menghidupi cara hidup “gila demi Kristus” lewat penampilan fisik yang menyerupai orang gila.

Pada waktu itu, sangat jamak bahwa orang-orang yang ingin sungguh-sungguh berbakti kepada Allah, meninggalkan cinta dunia, dengan memilih hidup yang secara fisik memang kelihatan “meninggalkan dunia”. Cara hidup ini pada saat itu disebut sebagai cara hidup para “Santo gila” (el santo loco), yakni dengan meninggalkan keramaian, tinggal di hutan atau padang gurun, menggunakan pakaian seadanya, membiarkan penampilan fisik yang ala kadarnya, makan dari hasil hutan/alam, dan mengabdi Tuhan lewat doa dan puasa. Secara khusus, menurut Hieronimus Nadal, St. Ignatius, pada fase ini mencontoh cara hidup Santo Onofrius, seorang “santo gila” yang terkenal di gereja Barat. St. Ignatius mengatualkan daya kehendaknya dengan cara mengikuti hidup para “santo gila”.

Ayudar las animas (menolong jiwa-jiwa)

Kondisi fisik St. Ignatius yang seperti “santo gila” ini berlangsung cukup lama. Bahkan sepulang dari Yerusalem dan gagal tinggal di sana, dia masih mengenakan cara hidup demikian. Bahkan ketika dia melewati wilayah konflik, dan kemudian ditangkap oleh sejumlah prajurit karena dicurigai sebagai mata-mata, pada saat diinterogasi oleh komandan pasukan, sang komandan berkomentar “Orang ini gila, tidak punya pikiran, berikan barangnya dan suruh dia keluar” (Autobiografi 53).

Pasca Yerusalem, Ignatius sudah mulai menghidupi daya kehendaknya dalam fase yang berbeda. Dia melihat kegagalan tinggal di Yerusalem sebagai bagian dari kehendak Allah dalam hidupnya. Dalam refleksinya kemudian, adalah lebih baik cara hidup yang kemudian dia pilih adalah dengan membantu orang-orang dalam hidup imannya. Lalu dia mulai meninggalkan cara hidup “santo gila” dan memeluk cara hidup yang baru, yakni mengutamakan keselamatan jiwa-jiwa. Daya kehendaknya tidak lagi berhenti pada hanya keselamatan jiwanya sendiri, tetapi sekarang bekerja bersama Tuhan, dengan cara membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang lain.

Ad Maiorem Dei Gloriam (berakar dari pengalaman La Storta)

Pentingnya studi adalah bagian refleksi yang mendalam dari Ignatius, karena dengan bekal studi dan pengetahuan iman serta teologi yang memadai, maka “ayudar las animas” akan menjadi lebih mudah diterima. Studi di Barcelona, Alcala, Salamanca dan Paris menandai fase ini. Ignatius melewati proses jatuh-bangun dalam hal studi. Tetapi pengalaman studi ini benar-benar menjadi pondasi dasar bagi hidupnya. Daya kehendaknya yang menginginkan menyelamatkan jiwa-jiwa ditopang dengan modal studi yang sangat memadai pada zaman itu.

Selepas fase studi, Ignatius dan teman-temannya masih berketetapan untuk pergi ke Yerusalem. Tetapi karena keadaan pelayaran yang belum aman, mereka tidak mungkin ke sana. Lalu dalam perjalanan ke Roma, Ignatius singgah di kapel La Storta, dan di kapel itu, dia mengalami pengalaman peneguhan sekaligus mempertegas daya kehendaknya ke arah lebih spesifik lagi. Keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa diperteguh dengan penampakan La Storta dan Ignatius merefleksikan pengalaman itu sebagai gambaran cara hidup yang akan dia hadapi yakni memanggul salib bersama Yesus dan semua dikerjakan demi lebih besarnya kemuliaan Allah (AMDG). Fase yang ketiga ini adalah fase peneguhan cara hidup. Bagi Ignatius, ini adalah bentuk cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3. “Dianggap gila demi Kristus” dia hidupi dengan cara total dalam pengabdian pada Kristus, dengan menyelamatkan jiwa-jiwa.

Dari tema kecil tentang “Dianggap gila demi Kristus” ini, kita hendak belajar tentang bagaimana St. Ignatius mengaktualkan daya kehendaknya. Lalu, bagaimana dengan kita di akhir tahun pertobatan Ignatius ini, apakah tema-tema dari forum dan pertemuan yang sudah kita ikuti mengarah pada kemampuan mengaktualkan daya kehendak kita sampai ke cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3, sebagaimana diharapkan oleh St. Ignatius lewat Latihan Rohani? Semoga setelah tahun Ignatian ini, kita tidak lupa pada bagian yang penting ini. Spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas pengabdian. Semoga setelah ini, ketika kita kembali ke dalam realitas hidup dan pekerjaan kita, transformasi yang terjadi pada diri kita adalah tranformasi cara hidup yang semakin mengabdi Allah dan ikut memanggul salib bersama Yesus di dunia. AMDG.

Pesta St. Ignatius Loyola, 31 Juli 2022

Dominico Savio Octariano, SJ

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan:

KEGIATAN DENGAN CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Sentir y gustar internamente – Rekoleksi Penutupan Tahun Ignatian Bersama CLC di Jakarta : Minggu, 24 Juli 2022

.

KEGIATAN MENJADI NARASUMBER DALAM ANEKA WEBINAR …

.

.

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Renungan Harian: 3 Februari 2023

Renungan Harian
Jumat, 03 Februari 2022

Bacaan I: Ibr. 13: 1-8
Injil: Mrk. 6: 14-29

Prasangka

Sebuah perikop dalam injil Lukas, yaitu Lukas 15: 11-32 dimana dalam alkitab tertulis judul: “Perumpamaan Anak Yang Hilang” sering kali dimengerti bahwa isi perikop itu adalah tentang anak yang hilang. Hampir setiap kali perjumpaan dan bertemu dengan perikop itu kalau ditanya isi perikop itu maka jawaban yang muncul adalah anak yang hilang. Bahkan ketika diminta untuk membaca dengan teliti jawaban yang muncul tetap sama bahwa isi perikop itu tentang anak yang hilang. Padahal kalau dicermati dan dibaca dengan teliti maka isi perikop itu tentang Bapa yang baik.

Jawaban-jawaban itu muncul mungkin karena orang membaca judul sehingga menyimpulkan dengan cepat bahwa isi sama dengan judul; mungkin juga karena orang mendengar penjelasan-penjelasan teks itu lebih menekankan tentang anak yang hilang sehingga apa yang terekam adalah anak yang hilang. Apa yang didengar, apa yang dilihat dengan sepintas dan direkam menjadikan jawaban-jawaban berdasarkan apa yang direkamnya tidak penting apakah yang direkam itu benar atau salah.

Apa yang terjadi itu adalah sebuah prasangka. Orang belum sungguh-sungguh membaca dengan benar, mengerti dengan benar tetapi sudah membuat kesimpulan. Simpulan dibuat dengan cepat karena sudah ada rekaman yang dipunya dan rekaman itu menutupi kenyataan yang sesungguhnya dihadapi.

Dalam hubungan dengan sesama, prasangka menimbulkan salah paham yang berujung pada penilaian tentang sesama. Sayangnya prasangka yang muncul seringkali adalah prasangka yang kurang baik atau tidak baik akibatnya prasangka menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada ketidak serasian hubungan dengan sesama. Adanya prasangka menyebabkan kasih dengan sesama menjadi sulit terwujud karena prasangka itu dianggap sebagai kebenaran dan sulit untuk diubah.

Prasangka bisa dihilangkan manakala aku mampu membuka diri terhadap sesamaku dengan membiarkan sesamaku menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Salah bentuk keterbukaan diriku yang paling dasar adalah keberanianku untuk mendengarkan sesamaku sampai aku mengerti dan memahami apa yang disampaikan tanpa kesibukan berpikir. Dengan demikian aku bisa mengasihi sesamaku apabila aku mampu membuka diri untuk sesamaku. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat Ibrani ajakan untuk mengasihi sesama dengan kerelaan untuk membuka diri pada sesama.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 2 Februari 2023

Renungan Harian
Kamis, 02 Februari 2023
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Bacaan I: Mal. 3: 1-4
Bacaan II: Ibr. 2: 14-18
Injil: Luk. 2: 22-40

Menunggu

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk saya jawab ketika diajukan:
“Orang yang sudah sepuh itu apa yang ditunggu?”.

Saat masih muda punya begitu banyak mimpi yang diperjuangkan; saat mulai bercucu menunggu saat-saat bertemu dan bercengkerama dengan cucu-cucu. Ketika semakin sepuh dan tinggal sendiri karena suami atau istrinya sudah mendahului, anak-anak sudah sibuk dengan cucu-cucu mereka, dan cucu-cucu sudah sibuk dengan keluarga masing-masing, Ia tinggal sendirian adakah yang masih ditunggu?

Banyak dari mereka yang sudah sepuh tidak mau meninggalkan rumahnya, karena ada banyak ikatan rasa di dalamnya. Mereka memilih hidup sendiri di rumahnya. Mungkin juga ada banyak perasaan tidak enak kalau dirinya merepotkan orang lain. Ia sadar bahwa dirinya sudah mengalami banyak kerepotan untuk mengurus dirinya sendiri, maka tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Ketika masih banyak teman sebaya, maka ada hiburan ketikaketemu teman-temannya yang adalah juga tetangganya. Namun ketika banyak teman yang sudah semakin sepuh dan dirinya juga menjadi sepuh sehingga sulit untuk bertemu dan berkegiatan. Ia hanya akan tinggal di rumah sendirian, apa yang dinantikan?

Mungkin ia menanti kedatangan anak, menantu, cucu atau buyutnya yang akan memberikan penghiburan. Meski menanti dan berharap ia tidak berani untuk mengungkapkan hal itu kepada mereka karena takut menjadi beban bagi mereka. Mungkin juga menanti untuk dijemput dan diajak jalan-jalan oleh anak, menantu, atau cucunya, tetapi tidak juga berani mengungkapkan karena khawatir merepotkan. Haruskan ia menantikan hal itu?

Semakin sepuh, semakin sedikit waktu untuk tidur, dan sering kali mengalami kesulitan untuk tidur. Tidak jarang dini hari terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Apa yang berkecamuk dalam dirinya? Hampir semua orang tua selalu menjawab bahwa sebagaian besar waktunya digunakan untuk berdoa.

Berdoa bagi anak, menantu, cucu dan buyut. Saat tidak bisa tidur, saat terbangun yang dilakukan adalah berdoa. Tentu mereka tidak menunggu dan menanti datangnya saat dirinya dipanggil tetapi lewat doa-doa yang dipanjatkan sekaligus menyiapkan diri untuk itu.

Mereka menyiapkan diri sedemikian, membuat dirinya damai dan menikmati hari tuanya sehingga bila saatnya tiba bisa mengidungkan doa Simeon:
“Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu.”

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 26 Januari 2023

Renungan Harian
Kamis, 26 Januari 2023
Peringatan Wajib St. Timotius dan Titus

Bacaan I: 2Tim. 1:1-8
Injil: Luk. 10:1-9

Disiapkan

Menjelang Pertemuan Nasional OMK 2005, saya bersama 2 orang lainnya dikumpulkan dan dipersiapkan untuk menjadi utusan Keuskupan, menemani ketua Komisi Kepemudaan di Keuskupan mengikuti perhelatan nasional ini.

Pertemuan Nasional dimasanya adalah ajang pertemuan yang tidak sekedar Perayaan, namun lebih menyerupai Sidang, yang sangat dinamis dan penuh buah buah rohani.

Sebelum pergi, kami dipersiapkan dan disegarkan pada informasi dan kebijakan kebijakan Reksa Pastoral Kepemudaan dimasa itu, termasuk informasi kondisi OMK di keuskupan Bandung. Pengalaman kami dalam proses pelayanan di teritorial dan kategorial pun menjadi hal yang kami persiapkan untuk kami bagikan nantinya.

Saat Pernas, kami berkumpul dengan teman teman utusan dari keuskupan lainnya. Di Cibubur kami berproses, mulai dari Misa pembukaan, misa harian, sidang, keakraban, diskusi sengit, sampai membuat rekomendasi OMK untuk Sidang Agung Katolik Indonesia (SAGKI) 2005.

Saat pulang dari pernas, ada banyak buah buah rohani yang saya bawa. Terutama pada issue kerusakan lingkungan, korupsi dan lemahnya pendidikan nilai.
Tapi jujur, rasanya berat sekali membawa amanat seruan Pernas ini. Dikepala sudah khawatir, apakah saya bisa melakukannya? Apakah sungguh perutusan kembali kami ke keuskupan dan kelompok kategorial selepas pernas, bisa menjadi tindakan nyata, dan bukan sekedar jargon yang lenyap dalam hitungan bulan. Saya khawatir.

Ketua komisi kepemudaan saya saat itu sering menggoda saya dengan bilang ‘khawatir’ adalah kata favorit saya. Mungkin karena dia tahu bahwa saya sudah dipersiapkan sedemikian rupa, tapi masih meragu dalam banyak hal. Saya meragu tentang dari mana saya memulainya, dengan siapa saya menjalankannya, mengapa sulit mengajak orang peduli, mengapa banyak yang juga tidak mendukung, dan banyak lagi kekhawatiran yg muncul.

Disaat saat itu, Bacaan hari ini, adalah bacaan yang kemudian menguatkan saya untuk belajar lebih tenang berjalan bersamaNya dalam pelayanan.

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala

Ada janji bahwa Tuhan akan selalu menemani kita, terutama disaat kita merasa harus berjalan sendiri, dan Tuhan akan mengirimkan bantuan lewat sesama, saat itu sungguh sesuai dengan kehendakNya.

Ada pengingat, bahwa semua itu bukan hal yang mudah, akan sulit, dan karenanya Dia menguatkan hati kita dan memberi kita petunjuk praktis dalam kerasulan pada sesama.

Jangan terganggu oleh sarana, fokus pada tujuan.
Terus berbuat baik, entah diterima atau tidak. Cukupkan dirimu dengan hal hal yang dibutuhkan dan bukan yang hanya ada karena dorongan hasrat keinginan semata. Setia, dan bawa damai dan kesembuhan, bukan sebaliknya.

Semoga sungguh kita bisa terus menjadi utusan, jangan menanti sempurna untuk diutus, karena walau Tuhan meminta kita selalu berjaga dan bersiap, Tuhan tak meminta kita sungguh sempurna, untuk mulai melayaniNya.

Tuhan ampuni kami orang yang banyak khawatir ini

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 Januari 2023

Renungan Harian
Rabu, 25 Januari 2023
Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul

Bacaan I: Kis. 22:3-16
Injil: Mrk. 16:15-18

Penyembuh

Beberapa hari yang lalu seorang teman yang sedang bekerja bersama kami secara online, pamit untuk berhenti, karena ada hal mendesak dan mendadak. Kami tetap lanjut tugas memfasilitasi kegiatan online, tapi cukup penasaran apa yg terjadi, sampai dia meninggalkan ‘pos’ nya.

Dia masuk bergabung kembali, dan saat acara selesai, kami bertanya apa yang terjadi.

“Ada mahasiswa dampingan yang depresi kena serangan panik, dan mau melakukan hal yang buruk pada diri sendiri” katanya dengan tenang, namun sontak membuat kami panik.

“Siapa itu? Maksudnya boleh tahu nama atau anak mana gitu? Jadi khawatir pada beberapa keponakan” Seorang teman bertanya khawatir

“Dia ngapain? Sekarang sudah aman? Baik baik saja?”tanya yang lain

Dengan tenang dia bercerita singkat seperlunya, untuk lebih menjelaskan pilihannya meninggalkan pos pekerjaannya di online kali itu untuk hal yang jelas lebih penting, soal hidup seseorang. Kami tahu selanjutnya bahwa dia dan beberapa teman menemani dan memantau yang bersangkutan sampai pukul 2 dini hari selanjutnya, menunggu orang tua si mahasiswa datang.

Teman kami, dan beberapa rekan banyak berurusan dengan mahasiswa dan anak anak muda. Tampak sederhana, konseling dan training. Tapi prakteknya, banyak orang yang tidak hanya butuh konseling pendidikan dan pelatihan pengembangan diri, anak anak itu membutuhkan telinga mereka, butuh ditemani saat sedang panik, butuh masukan yang berupa pertanyaan reflektif, butuh teman, dan semua ini bahkan menguras tenaga, perhatian dan waktu, diluar jam kerja kantor mereka.

Anak anak mencari mereka, entah mereka sadari atau tidak, mereka mengusahakan kesembuhan, sekurangnya pereda sakit dan kecemasan yang anak anak ini miliki entah dari kapan. Teman teman saya bukan tidak punya kehidupan dan beban hidupnya sendiri, tapi mereka mendedikasikan diri untuk integritas dan panggilan hidup yang mereka pilih, menemani dengan tulus dan membantu yang membutuhkan.

Kehendak Tuhan adalah agar kita mau menyiapkan diri dan berproses untuk menjadi orang percaya, orang yang mampu menjadi saksi, pembawa kesembuhan bagi banyak orang.

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Dalam Bacaan Injil tertulis perutusan Tuhan untuk kita, dan dalam kisah pertobatan Paulus, Ananias menyapa dan menyembuhkannya secara fisik dan rohani.

Adakah kita menyiapkan diri, untuk mampu menjadi penyembuh dan pembawa damai, dan bukan sebaliknya?

Tuhan ampuni kami orang berdosa

*Tabik, dan hormat saya pada kalian, yang menyediakan diri dengan tulus menemani jiwa jiwa yang butuh kesembuhan, tanpa semata mata dibatasi dan diukur oleh rupiah, jam kerja, jabatan, serta nama besar.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 Januari 2023

Renungan Harian
Selasa, 24 Januari 2023
Peringatan Wajib St. Fransiskus dr Sales

Bacaan I: Ibr. 10:1-10
Injil: Mrk. 3:31-35

Termasuk

“Aku tuh bingung, kenapa harus pakai istilah OMK sih? Bukannya sama saja dengan mudika?” Tanya seorang muda dalam pertemuan di tingkat paroki, sekitar tahun 2005.

Di tahun 2004, saya mulai mengenal istilah OMK. Sepertinya demikian juga dengan banyak orang tahun itu. Sampai beberapa tahun kemudian, istilah ini masih sering menjadi bahan pembicaraan, apa dan siapa itu OMK?

“Apa nya yang buat bingung?” Tanya saya sambil tertawa saat itu. Saya tertawa karena saya juga pernah sempat bingung dengan istilah baru ini.

“Iya kan Muda mudi katolik adalah Orang Muda Katolik, dan sebaliknya kan? Untuk apa dimunculkan istilah baru ini? Jadi malah buat perpecahan nggak nanti?”tanyanya serius

“Gini deh, kamu anggota OSIS bukan di SMA dulu?” Tanya saya

“Bukan, nggak seaktif itu saya. Cuma saya anak Basket yang pasti” jawabnya

“Nah itu. Istilah ‘Anak Basket’ dan terutama ‘anak OSIS’ kan seperti menunjuk pada kelompok tertentu dan seolah ada hal-hal yg membuatnya khas dan berbeda. Kalau anak Basket sudah jelas, anak anak yang ikut ekskul Basket. Nah kalau anak OSIS atau anggota OSIS, kan ini jadi salah kaprah.

Kalau kamu sekolah di SMA formil, yang setiap hari pakai baju dengan batch OSIS disaku kiri, yah kamu anggota OSIS, semua siswa yah anggota OSIS. Cuma yang dirimu maksud, dirimu bukan Pengurus OSIS kan? Kamu yang anggota jadi merasa bukan, karena tidak aktif mengurusi organisasi nya.

Nah demikian juga dengan Mudika dan OMK. Pelayanan Gereja untuk orang muda, yah semua anak direntang usia 13-35 dan belum menikah. Tidak soal dia aktif atau tidak, dia berhak dan wajib terlibat dan dilibatkan dalam pelayanan Gereja, terutama tentang kaum muda.

Ada kondisi seperti pemahaman ‘anggota OSIS’ tadi saat kita bilang Mudika, saat banyak anak muda tidak merasa menjadi bagian dari Mudika, dan ketika diajak berkegiatan, mereka menolak karena merasa bukan mudika. Atau mereka yang merasa aktifis mudika menolak melayani mereka yang tidak aktif.

Maka untuk merangkul, kita perlu membahasakan ulang dan mengembalikan makna awal, bahwa semua orang katolik direntang 13-35, dan belum menikah, adalah Orang Muda Katolik. OMK adalah pengkategorian rentang usia, bukan kelompok kategorial tertentu, otomatis kamu OMK begitu memenuhi syarat yang ada, nggak perlu daftar dan diseleksi. Sudah otomatis dapat hak dan kewajiban sebagai bagian dari Gereja”saya mencoba menjelaskan

“Oh, jadi semua OMK yah bukan cuma yang ngurus di Paroki?”tanyanya lagi untuk memastikan

Dan pertanyaan serupa masih berlanjut dibanyak tempat dan tahun.

Dalam hal ini, kita dapat melihat, bahwa ada kesenjangan saat itu, saat kita menyebut Mudika, yang selayaknya memberi gambaran untuk keseluruhan, jadi hanya ke sekelompok kecil. Orang menjadi merasa bukan bagian dari kelompok tertentu. Tidak ada keterikatan dan tidak merasa masuk menjadi bagian dari kelompok. Ada keintiman yang lalu disekat sekat, dan memisahkan.

Bacaan hari ini, Yesus mendobrak sekat sekat yang ada, dan membuka pintu keintiman lain bagi semua pengikutnya. Semua saudara dan ibu, tidak tersekat oleh darah, namun terikat karena iman

Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”
Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku, barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Semua menjadi anggota gereja, bukan sekedar mereka yang bertalian darah, tapi semua yang melakukan kehendak Allah.

Apakah Maria tersinggung saat Yesus mempertanyakan siapa saudara dan ibu Nya? Saya rasa tidak, karena dari semua yang hadir disana, Maria saya yakini sebagai yang paling total dalam melakukan kehendak Allah, Maria sudah barang tentu adalah Saudara dan Ibu Yesus.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah bagian dari Gereja? Adakah keintiman muncul, hingga kita dengan yakin menjawab, YA?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Januari 2023

Renungan Harian
Senin, 23 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 9: 15,24-28
Injil: Mrk. 3:22-30

Fitnah

Sekali waktu untuk keperluan pengukuran awal sebelum proses pendampingan sebuah lembaga kami lakukan, kami melakukan observasi dan probing terhadap semua bagian terkait, terutama bagian Keuangan dan akuntansi, atas permintaan komisaris lembaga tersebut.

Di hari-hari awal, kami menemukan banyak keganjilan, dan semua mengarah pada satu titik, yaitu bagian accounting. Beberapa wawancara bahkan secara terbuka mengatakan bahwa kepala bagian akunting tidak cakap dalam menjalankan tugasnya, sampai banyak ketidakjelasan yang terjadi.

Tapi kami semakin terkejut, saat kami mewawancarai kepala akunting, dia sedemikian terbuka, dan setiap pertanyaan dijawab. Sampai akhirnya kami menanyakan keganjilan keganjilan yang kami curigai.

“Bapak bapak, saya tahu, waktu ini akan tiba. Saya selalu aneh, setiap kali ada revisi dan permintaan double, atau instruksi pembatalan dan penambahan anggaran dari manager dan kepala yang lain, bahkan bapak direktur.

Saya ini akuntan, tidak pegang akses uang secara langsung, kalau saya dibuat seolah saya melakukan perbuatan curang, cukup ikuti arah uang. Saya yakin itu tidak diawali di saya, atau berakhir di saya.

Kalau saya dijadikan alasan keuangan lembaga tidak berjalan baik, saya malah aneh, karena kerjaan saya justru selalu berbenah dan menambal sana sini.

Tapi karena saya tahu ini akan terjadi, silakan bandingkan sendiri, ini laporan yang saya yakin bapak sudah dapat dari manager dan bapak direktur. Dan ini pak, satunya, laporan keuangan yang saya yakini sebagai laporan yang sebenarnya.

Saya lengkapi dengan informasi bukti bukti transaksi hasil foto copy, yang dapat dicek ke suplyer, karena yang aslinya selalu ditarik secara berkala dan entah disimpan dimana. Tapi karena saya mulai curiga, saya rekap semua sendiri pak.

Saya tahu kebenaran hanya bisa dipastikan saat ada klarifikasi dan bukti. Saya hanya bisa berharap, ini cukup untuk memberi awalan pemeriksaan. Selebihnya, saya pasrah kalau saya di fitnah sebagai sumber kekacauan dan ketidakpastian di lembaga selama ini.” ibu itu jawabnya tenang, walau terlihat air mata menetes deras sepanjang dia menjelaskan dan memberi bukti bukti.

Tentunya hal ini membuat kami berpikir panjang. Tapi diakhir kami menemukan, bagaimana beberapa pihak bersekutu untuk melimpahkan tanggungjawab hanya pada satu orang ini.

Menimbang hal tersebut, kami serahkan temuan dan meminta komisaris selaku pemilik untuk memperhatikan dan melakukan kajian serta pemeriksaan yang layak dr Audit dan KAP sebelum kami melakukan pendampingan, mengingat ada perselisihan didalam lembaganya.

Beberapa waktu berselang, kami mendapat kabar, bahwa benar ibu kepala akunting di fitnah untuk kesalahan dan kecurangan yang terjadi. Dan setelah di periksa, betul bahwa kecurangan secara sistematis sudah terjadi di beberapa tingkat management.

Andai kami hanya mendengar berita yang disebarkan dan digaungkan oleh beberapa orang penting disana, mungkin kami bisa ambil jalan pintas untuk percaya dan mengusulkan penggantian kepala akunting. Dan lalu seolah semua akan baik dan beres.

Namun kita tahu, bahwa kebenaran sejati, harus lengkap dengan bukti, dan motivasi kerja serta prilakunya, teruji oleh waktu.

Saat kita mendengar sebuah berita, tanpa memahami bukti dan menyilangnya dengan fakta yang ada, kita sangat berpotensi jatuh dalam fitnah.

Dalam bacaan hari ini, Yesus difitnah.
ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”

Dengan pengaruh dan jabatan sosial dimasyarakat, mereka berusaha membunuh karakter Yesus dengan fitnah. Namun dengan bukti dan ketulusan motivasi kerajaan Allah, Yesus bertahan dan terus melakukan perbuatan kasih. Tuhan tidak berkenan dan membenci mereka yang melakukan fitnah, apa lagi menyebarnya.

Kita diajak untuk menjadi bijak, agar tak jatuh pada jurang fitnah, atau tanpa sadar, menjadi penyebar fitnah.

Tuhan ampuni kami orang berdosa ini.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 22 Januari 2023

Renungan Harian
Minggu, 22 Januari 2023

Bacaan I: Yes. 8:23b-9:3
Injil: Mat. 4:12-23

Pengalaman di cinta

Saat beberapa kali menemani Retret yang di bimbing Romo Paul Suparno SJ., Saya mengalami kesan yang mendalam, saat beliau memimpin doa penyembuhan ditahap menjelang akhir.

Dalam prosesnya peserta disiapkan untuk mengenali diri mereka dan memohon pada Tuhan, akan penyembuhan yang mereka butuhkan.

Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami, dari dosa sembuhkanlah kami, Tuhan Yesus.

Alunan lagu yang mengajak kita lebih dalam melihat hidup, yang butuh disembuhkan.

Dalam proses saya memahami bahwa, kedalaman Doa Penyembuhan, akan semakin dalam mengena dan membantu, saat dalam proses retret, peserta mengingat dan menemukan pengalaman dicinta oleh Tuhan dan dengan rendah hati mencari Tuhan, mencari kesembuhan yang sejati, yaitu hidup didalam, dan bersama Tuhan.

Untuk mukjizat kesembuhan, kita perlu mengikuti dan bersama dengan Yesus. Sudahkah kita, bersediakah kita?

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

KEGIATAN CLC-DI-YOGYAKARTA: Minggu, 22 Januari 2023

Acara CLC Yogyakarta
Hari Minggu, 22 Januari 2023
Pukul 10.00~12.00 WIB
Di Gedung Pusat Pastoral Mahasiswa DIY, (Marga Siswa) Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo (seberang Timur RS Bethesda)

Pertemuan Awal Tahun CLC

Bersama Romo Azismardopo, S.J.

Acara : Nostalgia dan bercerita bagaimana pengalaman lucu dan berkesan selama ber CLC. Selanjutnya diteguhkan oleh Romo Azis dengan ” kembali ke Prinsip prinsip Umum CLC. ( bernostalgia dan penyegaran). Seperti biasanya, ditutup dengan makan siang bersama . AMDG ❤️

Renungan Harian: 21 Januari 2023

Renungan Harian
Sabtu, 21 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 9:2-3,11-14
Injil: Mrk. 3:20-21

Aneh

Saat itu saya baru dua tahun lulus kuliah dan bekerja. Demikian juga dengan kebanyakan teman teman seangkatan saya.

Tapi ada satu diantara teman teman saya, yang tampak lebih menonjol. Lulus kuliah dia langsung bergabung dengan satu perusahaan terkemuka di kota kami, bahkan sangat dikenal di Indonesia.

Kami sama sama sarjana akuntansi, tapi saat saya masih berkutat mencatat laporan di buku tulis panjang dengan banyak tabel, dia sudah berkisah diterbangkan perusahaannya keliling Indonesia, untuk melakukan audit.

Jangankan soal biaya perjalanan dinas dan fasilitas yang bisa dia dapat, mendengar kisah naik pesawat saja sudah membuat kami kagum dan iri.

Disatu hari minggu, kami janjian kumpul di rumah saya. Seperti biasa, kami kumpul sambil makan siang bersama. Saat kami sudah asik ngobrol sambil makan, tiba tiba kami mendengar berita mengejutkan

“Per bulan depan gue dah nggak gawe lagi, gue mengundurkan diri dan bikin warung didepan rumah”katanya simpel

“Apa!! Ngapain sih?! Gila lue yah. Emang kenapa? Ada masalah di kantor?

Sayang tahu, udah enak tempat loe kerja tuh, ngapain pake keluar” respon seorang teman menanggapi dengan serius

Yang lain tak kalah terkejutnya, memandang dengan aneh dan terdiam. Teman kami itu satu satunya orang yang tertawa melihat reaksi kami

“Duh kalian ini, tidak ada apa apa kok. Hanya ada satu orang yang suka memasak, ingin mengaktualisasi diri. Kebetulan tukang beras yang sewa kios di depan sudah tidak lanjut, jadi sepertinya waktu yang tepat buat memulai pekerjaan yang gw suka.

Kan kalian tahu gue suka masak. Kalau pun nggak berhasil nggak soal lah, kita masih muda ini, coba lagi aja, atau yah cari kerjaan lagi” jawabnya tenang

“Lue tuh yah, orang aneh”kata seorang teman disambung tawa kami saat itu.

Usahanya tidak langsung berhasil, ada jatuh dan bangun, tapi dia tampak bahagia dan dari waktu ke waktu tampak mapan dengan pilihannya.

Kadang saat kita melakukan apa yang kita sukai, tidak semua orang paham dan nyaman melihatnya. Orang orang dekat, akan dengan mudah memberi peringatan dan teguran, bahkan larangan. Ketidaktahuan, dan prilaku yang tidak umum, sering kali membuat orang orang cemas dan khawatir.

Nampaknya itu yang dirasakan sanak keluarga Yesus. Ketidak tahuan mereka membuat mereka khawatir dan cemas melihat Yesus, bahkan mungking saja melihatnya sebagai orang aneh.

Kita sering terjebak pada asumsi negatif untuk segala hal yang tidak umum dan aneh. Dari bacaan hari ini, kita belajar betapa kita perlu memberi waktu dan ruang untuk mengenal dan memahami hal lebih dalam. Tidak terjebak pada kesimpulan yang melompat, atau asumsi negatif.

Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Semoga kita, lebih arif melihat perbedaan, dan menyediakan ruang dan waktu untuk mengenal sebelum menyimpulkan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Januari 2023

Renungan Harian
Jumat, 20 Januari 2023

Bacaan I: Ibr. 8: 6-13
Injil: Mrk. 3:13-19

Bercermin

“Mas sepertinya bisa sendirian saja yah mendampingi kelompok yang tidak terlalu besar?”
Tanya seorang rekan muda saat menemani proses pelatihan

“Kalau dengan metode kita, yah tidak bisa”saya menjawabnya

Itu dia tanyakan hal diawal kegiatan, dan tampaknya dia mengamati proses pendampingan, dan tampak lebih bingung. Dihari ke dua, saat istirahat makan siang dia bertanya lagi.

“Mas, melihat prosesnya, sepertinya ke handle (bisa dipegang) deh oleh mas sendiri. Kenapa lalu mas selalu mengingatkan bahwa fasilitasi perlu tim? Jadi berasa nggak punya kerjaan”tanyanya

Kehadirannya di pelatihan itu memang sebagai anggota tom yang ditugaskan untuk belajar, dan melakukan observasi.

“Bagus, berarti kamu mengamati yah”saya jawab sambil tertawa

“Memang kalau mau dilihat dari pekerjaan, sepertinya bisa dilakukan sendiri. Tapi dalam kerja kita, perlu orang lain yang membantu lewat menemani, mengamati, memberi feedbacks, masukan dan tempat bercermin akan apa yang kita lakukan. Dengan seperti itu, saya bisa tetap dijalurnya, dan kalau melebar atau menyimpang, ada yang mengingatkan.

Bukan hanya diam saat menemani, tapi justru menjadi cermin yang jujur, sehingga kita bisa memberi yang terbaik pada klient”papar saya.

Obrolan siang itu menambah keyakinan saya, bahwa saat bekerja dalam tim dan bersama-sama, proses belajar dan mengajar bisa terjadi secara formil dan informil.

Kadang kita lupa, bahwa dengan kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan mereka, kita saling belajar, menjaga dan mendukung. Kehadiran mereka, membantu kita melihat dengan berbagai cara, bercermin lebih jernih saat melihat semua.

Kita butuh teman, yang bukan hanya dapat menjaga, membantu dan menemani kita, tapi lebih dari itu, menjadi cermin yang jujur dalam setiap langkah hidup kita.

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.

Semoga seperti Tuhan memanggil para murid, dia memberkati kita dengan teman teman yang baik, yang mau dan mampu menjadi cermin, media kita merefleksikan hidup.

Mari bersyukur, atas para sahabat yang disediakan Tuhan sebagai sarana kita bercermin.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.