Renungan Harian: 20 Januari 2021

Renungan Harian
Rabu, 20 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 7: 1-3. 15-17
Injil    : Mrk. 3: 1-6

Orang Benar

Ketika menjelang pekan suci, paroki selalu disibukan dengan berbagai latihan. Sebagaimana biasa, saya akan menemani latihan lektor, misdinar dan prodiakon. Sore itu saya menemani para lektor berlatih untuk bertugas pada pekan suci.
 
Kebiasaan yang saya lakukan ketika menemani berlatih, saya selalu meminta mereka untuk membaca dan menangkap pesan dari perikop yang akan dibacakan. Setelah mereka mengungkapkan kemudian saya akan menjelaskan. Dengan cara itu, saya berharap para lektor dapat membacakan sabda Tuhan dengan baik. Setelah itu baru mereka satu persatu belajar membacakan.
 
Ada satu anggota lektor senior, kalau latihan selalu terlambat, menurut teman-temannya dia sengaja terlambat karena tidak mau ikut proses awal. Dia ingin datang membaca lalu pulang. Masih menurut teman-temannya, dia sudah senior dan membaca selalu baik. Ketika gilirannya tiba untuk berlatih membacakan sabda Tuhan, saya memberikan masukan beberapa hal karena tidak jelas dan terlalu monoton. Saya meminta dia mengulang, dan karena masih salah, saya meminta mengulang lagi.
 
Ternyata dia tidak suka bahwa dia dikritik, karena dia merasa benar.

“Romo, saya selalu membaca yang paling baik dibanding semua anggota lektor, saya seharusnya menjadi pelatih mereka dan bukan diperlakukan seperti orang yang belajar,” katanya dengan agak marah kepada saya.

“Siapa yang mengatakan anda membaca yang paling baik?” tanya saya.

“Suami dan anak-anak saya,” jawabnya.

“Menurut saya, anda bisa lebih baik lagi,” kata saya.

Dia langsung pulang dan sejak itu dia tidak pernah mau ditugaskan menjadi lektor lagi. Menurut para pengurus dia mau menjadi lektor kalau romonya datang ke rumahnya dan meminta dia menjadi pelatih.
 
Sejak dia tidak pernah melatih, apa yang dilakukan adalah menjadi pengamat lektor. Setiap kali sehabis misa, dia akan menemui lektor yang bertugas dan menyampaikan kritik. Kebiasaan itu membuat para lektor yang bertugas menjadi jengkel dan selalu menghindari dia dengan berbagai alasan. Karena tidak pernah didengarkan oleh para lektor, dan romonya tidak pernah datang meminta dia menjadi pelatih, dia tidak pernah ke gereja lagi. Menurut teman-temannya, dia akan ke gereja lagi kalau romonya sudah pindah.
 
Kemarahan lektor itu karena merasa direndahkan ketika diberi masukkan, menjadikan dia sebagai orang yang selalu mencari kesalahan lektor yang lain. Selama ini dia selalu menjadi lektor paling benar dan paling baik, sehingga sudah tidak membutuhkan kritik lagi. Selama ini dia selalu yang memberikan kritik kepada lektor yang lain.
 
Sikap merasa diri benar dan paling baik menjadikan dia anti kritik sehingga ketika ada yang mengkritik dia ingin membuktikan bahwa dirinya paling baik dan paling benar dengan cara mengkritik orang lain dengan tujuan menjatuhkan orang lain. Ketika dia bisa menjatuhkan orang lain maka dia mendapatkan kepuasan karena merasa paling baik dan paling benar.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Markus, orang-orang Farisi yang tidak terima dikritik Yesus, maka dia berusaha menjatuhkan Yesus. “Orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku bagian dari orang-orang anti kritik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Januari 2021

Renungan Harian
Selasa, 19 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 6: 10-20
Injil    : Mrk. 2: 23-28

Memperjuangkan Harapan

Beberapa hari yang lalu di media sosial menampilkan kisah haru yang menyentuh nurani berkaitan dengan gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. Dikisahkan ada seorang laki-laki muda yang diminta oleh orang tuanya untuk mencari adik perempuannya yang menjadi korban gempa.
 
Adik perempuannya yang masih sekolah di SMK mengisi waktu sekolah online dengan bekerja sebagai pelayan rumah makan. Dia bersama dengan teman-temannya yang bekerja di rumah makan itu tinggal di gedung tempat rumah makan itu. Ketika terjadi gempa bangunan itu runtuh menimbun semua penghuni beserta semua barang dalam gedung itu.
 
Pemuda itu langsung menuju ke lokasi reruntuhan gedung itu. Dia berjuang untuk menemukan adiknya. Dia berharap bahwa dia menemukan adik perempuannya masih hidup. Namun melihat keadaan yang ada, dia masih berharap untuk menemukan jenazah adiknya sehingga bisa membawa pulang ke keluarganya untuk memakamkan dengan layak.
 
Datang ke lokasi reruntuhan dengan harapan besar menemukan adik perempuan yang dicintai tentu bukan perkara mudah. Apalagi ketika sampai di lokasi mendapati gedung sudah luluh lantak menimbun semua yang ada di bawahnya. Dia bukan hanya berjuang untuk menemukan adiknya tetapi lebih dari itu ia berjuang untuk menghidupkan harapan untuk dapat menemukan adik yang dicintai.
 
Betapa berat untuk menyalakan harapan menemukan adik dalam keadaan hidup melihat situasi yang ada. Betapa menyedihkan berjuang menghidupkan harapan menemukan adiknya dalam keadaan apapun. Berjuang menyalakan harapan yang paling pahit yaitu dapat memakamkan adik yang tercinta dengan layak.
 
Harapan harus selalu diperjuangkan kendati sungguh tidak mudah namun dengan adanya harapan memberikan daya hidup untuk berjuang. Hidup akan menjadi tetap hidup dan berkobar karena harapan. Namun pada saat yang sama hidup yang berkobar itu adalah hidup yang memperjuangkan harapan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada jemaat Ibrani: “Jadi maksud Allah mengikat janji dengan sumpah ialah: supaya kita mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat bahwa kita akan menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu memperjuangkan harapan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Januari 2021

Renungan Harian
Senin, 18 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 5: 1-10
Injil    : Mrk. 2: 18-22

Amputasi

Sewaktu saya sakit dan dirawat di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang, saya sekamar dengan seorang bapak yang sudah sepuh. Ketika saya masuk untuk dirawat, bapak itu sudah dalam masa pemulihan. Beliau sedang latihan berjalan menggunakan tongkat karena satu kakinya baru saja diamputasi.
 
Bapak sepuh itu amat ramah demikian juga istrinya, amat ramah sehingga kamar tempat kami di rawat menjadi hangat oleh cerita-cerita beliau. Salah satu nasehat dan cerita yang saya ingat adalah harus taat dengan dokter supaya cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
 
Ibu itu bercerita bahwa suaminya yang sekarang dirawat 2 bulan sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit ini karena kakinya luka tertusuk paku. Luka itu menjadi sulit sembuh karena bapak mempunyai penyakit gula. Setelah 1 minggu dirawat bapak itu diperbolehkan pulang, karena lukanya sudah mengering. Beliau pulang dengan pesan dari dokter agar tekun mengkonsumsi obat dan pantang beberapa jenis makanan. Salah satu makanan yang tidak boleh dimakan adalah sate kambing.
Ibu itu tahu bahwa pantangan yang terberat adalah makan sate kambing, mengingat bapak itu amat suka makan sate kambing, demikian pula dengan anggota keluarga yang lain.
 
Pada suatu ketika, anak-anaknya, menantu dan cucu-cucunya berkumpul di rumah beliau. Pada saat kumpul seperti itu menu yang selalu ada adalah sate kambing. Ketika makan malam, salah satu menu yang disediakan adalah sate kambing. Pada saat makan malam, bapak itu sama sekali tidak menyentuh sate kambing karena beliau tahu itu salah satu pantangannya.
 
Namun ketika malam hari, bapak ke dapur untuk membuat kopi, beliau melihat sate kambing yang tersisa dari makan malam masih tersimpan di almari dapur. Beliau amat ingin maka beliau mengambil satu tusuk dan memakannya. Beliau berpikir kalau hanya satu tusuk tidak akan berakibat apa-apa.
 
Ternyata akibat dari memakan satu tusuk sate itu membuat lukanya yang sudah mengering menjadi terbuka lagi. Hal itu diperparah dengan ketidak tekunan bapak itu meminum obat. Selama ini ternyata bapak itu sering tidak minum obat. Dalam beberapa hari luka semakin parah dan membusuk. Sehingga bapak dibawa ke rumah sakit lagi.
 
Sampai di rumah sakit, dokter memutuskan bahwa kakinya harus diamputasi sampai di lutut. Sudah barang tentu keputusan dokter itu membuat shock bapak, ibu dan anggota keluarganya. Bapak itu amat menyesal dan ibu itu nampak jengkel karena gara-gara satu tusuk sate harus kehilangan satu kaki.
 
Di akhir ceritanya beliau selalu menekankan agar saya taat dengan dokter agar selamat.
“Nak, taat sama dokter pasti tidak enak, mungkin menderita sedikit, tetapi ketidak enakan dan penderitaan karena taat itu menjadikan selamat,” itu pesan ibu sepuh itu yang selalu saya ingat.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada jemaat Ibrani ketaatan Yesus  bahkan  taat sampai mati telah membawa keselamatan bagi semua orang. “Akan tetapi sekalipun Anak, Kristus telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah dideritaNya.”
 
Bagamana dengan aku? Sanggupkah aku  selalu taat untuk keselamatanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 17 Januari 2021

Renungan Harian
Minggu, 17 Januari 2021
Minggu Biasa II

Bacaan I  : 1Sam. 3: 3b-10. 19
Bacaan II : 1Kor. 6: 13c-15a. 17-20
Injil     : Yoh. 1: 35-42

Kesan Mendalam

Seorang keponakan setiap hari rajin memilah sampah. Sampah-sampah plastik, kertas dan dus dipilah disendirikan. Esok pagi sampah-sampah itu diberikan kepada pemulung yang lewat. Setelah beberapa hari, pemulung itu datang membawa keranjang bambu dan mencari keponakan. Pemulung itu memberikan keranjang bambu untuk menampung sampah yang sudah dipilah.
 
Keponakan ternyata tidak hanya memilah sendiri tetapi juga mengajar orang-orang di rumah dan beberapa tetangga. Maka sejak itu di depan rumah beberapa warga ada keranjang bambu yang berisi sampah yang sudah dipilah.
 
Saya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh keponakan. Maka ketika bertemu dengan dia saya bertanya: “Kenapa kamu punya gagasan untuk memilah sampah dan memberikan kepada pemulung?”

“Pak de, 2 bulan yang lalu saya live in di tempat pemulung. Tiap hari saya ikut pemulung mencari barang-barang yang bisa dijual. Saat keliling mencari barang-barang, saya ingat kalau di rumah sering kali banyak barang-barang yang seperti ini menjadi sampah. Jadi saya berniat kalau pulang akan memilah sampah.
 
Jadi setelah saya pulang langsung memilah sampah, dan mengajak orang rumah untuk membuang sampah dengan terpisah. Setelah itu saya mengajak teman-teman di sekitar rumah untuk memilah sampah juga,” dia menerangkan.
 
Pengalaman tinggal bersama pemulung memberikan kesan yang amat mendalam pada keponakan saya. Kesan yang mendalam membuat dia melakukan sesuatu yang positif; ada perubahan cara pandang dalam hidupnya.
 
Sebagaimana pengalaman dua murid Yohanes yang mengikuti Yesus sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes; mereka berdua mengalami pengalaman yang mendalam. Pengalaman yang mendalam itu menghantar pada pengenalan akan mesias. “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah pengalaman mampu mengubah hidupku ke arah yang lebih baik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 16 Januari 2021

Renungan Harian
Sabtu, 16 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 4: 12-16
Injil    : Mrk. 2: 13-17

Tertangkap

Dalam sebuah kesempatan mendampingi retret ada satu peserta yang menarik perhatian saya. Peserta itu seorang bapak muda yang selalu riang. Dia seorang yang kreatif, pintar bermain gitar dan lucu sehingga dengan kemampuannya itu membuat suasana jadi meriah dan hidup.
 
Di antara kawan-kawannya, dia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan dan selalu menghidupkan suasana. Beberapa teman mengatakan dia itu orang yang tidak bisa sedih. Bagi dia apapun bisa menjadi bahan untuk membuat orang lain tertawa terbahak, bahkan kekurangan dirinya bisa dia tertawakan sendiri.
 
Namun dalam perjalanan retret dia cukup mengganggu karena kesan saya tidak bisa membedakan saat serius dan tidak. Ketika sedang sharing serius dia membuat lawakan-lawakan yang menurut saya tidak pada tempatnya. Ada saja ulahnya yang menjadikan orang lain tertawa. Sehingga pada satu kesempatan teman-temannya merasa terganggu dengan ulahnya. Beberapa kali diingatkan tetapi dia sendiri tampaknya kesulitan untuk mengendalikan diri.
 
Dua tahun kemudian saya mendapatkan kesempatan mendampingi kelompok yang sama sehingga saya bertemu dengan bapak muda itu. Gayanya tetap sama selalu membuat kelucuan-kelucuan dan membuat suasana meriah.
 
Namun pada hari berikut dalam renungan-renungan dia mulai diam, tidak membuat ulah. Bahkan dalam sesi sharing dia tidak bisa bicara apapun kecuali dia bercucuran air mata. Pemandangan yang amat aneh bagi teman-temannya. Bahkan ada satu orang yang teman yang berbisik ke saya: “Romo, dia sepertinya “kesambet” tidak ada cerita dia sedih seperti itu.”
 
Malam hari, dia meminta waktu untuk berbicara. Dia mulai cerita: “Romo, saya ditangkap Tuhan, saya tidak bisa lari lagi. Romo selama ini, selalu membuat hidup saya selalu gampang, semua saya jalani dengan santai, saya banyak tertawa. Jujur romo, saya tidak pernah berdoa, tidak pernah ke gereja. Kalau ditegur saya tanggapi dengan enteng.
 
Romo, entah kenapa hari ini saya merasakan Tuhan itu mencintai saya dengan luar biasa. Saya merasakan pengalaman cinta yang sulit saya gambarkan. Tetapi cinta itu menelanjangi saya. Saya selama ini rasanya seperti orang yang selalu lari dan menghindar dari Tuhan. Dan sekarang saya ditangkap dan tidak bisa menghindar lagi. Dan yang saya rasakan saya ditangkap bukan untuk dihukum tetapi untuk dicintai. Saya bahagia sekali tetapi jadi sedih sekali melihat hidup saya.
 
Saya menangis karena bahagia merasakan dicintai, tetapi juga sedih karena kelakuan saya. Saya sedih karena saya selama ini membuang kebahagiaan yang luar biasa ini.”
 
Sebuah pengalaman luar bisa dari bapak muda itu yang tersentuh oleh sabda Tuhan. Dia mengalami kebahagiaan rohani luar biasa karena membuka diri atau lebih tepatnya dibuka oleh cinta. Dan karenanya dia menjadi jujur dengan dirinya sendiri dihadapan Tuhan. Semakin dia jujur semakin mengalami cinta Tuhan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada orang Ibrani: “Sabda Allah itu hidup dan kuat, lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun. Sabda itu menusuk amat dalam, sampai ke batas jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mengalami cinta Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 15 Januari 2021

Renungan Harian
Jumat, 15 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 4: 1-5. 11
Mrk. 2   : 1-12

N e k a t

Dulu waktu masih frater novis, saya menjalani probasi (percobaan) menjadi buruh pabrik Tekstil Argo Pantes di Tangerang. Dalam menjalani probasi itu saya bekerja di gudang kain jadi. Setiap hari selama 2 bulan saya menjalani kegiatan sebagaimana buruh-buruh yang lain.
 
Pengalaman yang paling menarik adalah rasa persaudaraan yang luar biasa di antara para buruh. Meski saya orang baru dan tidak punya pengalaman dan yang paling utama tidak mempunyai tenaga sekuat mereka, saya tetap diterima mereka dengan baik. Tiap kali istirahat saya mendengarkan cerita-cerita pengalaman mereka. Bahkan salah satu buruh yang paling senior sering memberi nasehat  yang amat baik. Nasehat-nasehat itu bersumber dari pengalaman hidupnya.
 
Teman itu bercerita: “Wan, saya anak ke tiga dari 5 bersaudara. Orang tua saya, dua-duanya guru dan mempunyai sawah yang luas di kampung sana. Keempat saudara saya semua sarjana, 2 jadi dokter, 1 kerja di Bank dan 1 jadi dosen, sedang saya hanya lulus SMP. Kalau saya mengingat pengalaman masa lalu saya, sering saya menyesal, seandainya saya dulu nurut orang tua, mungkin saya juga sudah jadi sarjana.
 
Wan, setelah lulus SMP, saya tidak mau sekolah lagi. Saya mau ikut teman-teman kerja di Jakarta. Saya lihat teman-teman saya yang kerja di Jakarta, kalau pulang kampung banyak uang, dan pakaiannya bagus-bagus. Maka saya ingin seperti mereka.
 
Orang tua dan saudara-saudara saya marah, melarang saya pergi, tetapi saya tidak pernah mau mendengarkan. Saya hanya mendengarkan teman-teman saya yang mau berangkat ke Jakarta. Siapapun yang memberi tahu dan bahkan menunjukkan bukti-bukti bahwa  sekolah itu amat penting, tidak pernah bunyi untuk saya. Orang tua melarang dengan keras, semakin saya dilarang semakin saya yakin untuk pergi. Akhirnya saya nekat pergi ke Jakarta.
 
Wan, kalau saya mengingat masa itu, saya juga heran, kenapa nasehat semua orang itu tidak ada yang saya dengarkan. Saya heran kenapa saya seperti orang yang tuli. Saya sekarang menyesal, sudah bikin malu orang tua dan saudara-saudara saya. Tetapi yang lebih penting adalah hidupku sekarang ini ya… hanya bisa jadi buruh.
Maka Wan, kamu meski sekarang kerja, usahakan kalau sore kamu kuliah, biar kamu tidak selamanya jadi buruh seperti saya.”
 
Saya terharu mendengarkan kisah teman itu. Ketegaran hati yang membuat tidak mau mendengarkan nasehat apapun selain apa yang dia mau menghasilkan penyesalan panjang. Saya bisa membayangkan bagaimana ketika lebaran kumpul keluarga dimana semua saudaranya sukses sementara dirinya seperti itu.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada orang Ibrani, pewartaan apapun tidak berguna dan tidak bunyi bagi mereka yang tegar hati karena tidak beriman. “Sabda pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh seiring dengan pertumbuhan mereka, sebab mereka tidak beriman.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mudah mendengarkan sabdaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Januari 2021

Renungan Harian
Kamis, 14 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 3: 7-14
Injil    : Mrk. 1: 40-45

Andai Mendengarkan

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima tamu seorang perempuan muda. Dia datang dengan raut muka sedih, dan matanya menunjukkan seseorang yang sehabis menangis panjang. Begitu bertemu, belum sempat bicara sudah menangis dengan berurai air mata.
 
Setelah agak tenang, dia mulai bicara: “Romo, saya amat berdosa terhadap sahabat saya. Dosa saya amat besar romo, karena menyebabkan sahabat saya meninggal.” Saya terkejut mendengar apa yang dia katakan dan saya berpikir kejahatan apa yang telah dia lakukan.

“Apakah kamu mau bercerita tentang apa yang terjadi?”, tanya saya.
 
“Romo, saya punya sahabat yang baik, kami saling menyayangi, saling mendukung, pokoknya kami sudah seperti saudara kandung.  Sejak sekolah TK sampai kuliah kami selalu di sekolah yang sama, sehingga kami selalu bersama. Pada saat kuliah, kami beda jurusan meski satu fakultas, namun hal itu tidak menghalangi persahabatan kami.
 
Sejak semester 5, mulai jarang main bareng karena kesibukan kuliah tetapi kami setiap hari selalu kontak. Sahabat saya kelihatannya mulai terpengaruh teman-teman kuliahnya ke arah yang tidak baik. Beberapa kali saya dengar dia pacaran dengan orang yang sudah punya istri. Setiap kali saya tanya dia bilang tidak, tetapi kalau saya bisa membuktikan dia baru ngaku. Berkali-kali saya menasehati dia romo, bahkan dia bilang saya ini cerewet seperti nenek lampir.
 
Mulai masuk semester akhir dia terlambat karena kebanyakan pacaran, sehingga saya lulus lebih dahulu. Saya selalu mendorong dia untuk segera lulus. Tetapi dia mulai banyak bohong dengan saya romo. Terakhir dia sering keluar malam, dan saya tegur dia dengan keras. Teguran ini membuat dia tersinggung, sehingga dia mengatakan: “Kamu jangan ngurusin aku, aku bisa urus diri saya sendiri, dan teman-temanku juga bisa menjaga aku.” Saya terkejut dan sedih banget. Dia mendiamkan saya, nomor kontak saya diblock, sehingga saya tidak bisa menghubungi dia lagi. Saya pikir: “ya sudah itu pilihan dia, dan saya menghormati pilihan dia.”
 
Beberapa bulan lalu saya dengar dari teman lain kalau dia sudah tidak kuliah lagi karena hamil di luar nikah. Saya shock, dan mencoba menemui dia tetapi dia tidak mau ketemu. Berkali-kali saya datang dia selalu tidak mau menemui. Bahkan terakhir dia marah dan mengusir saya.
 
Romo, beberapa hari lalu dia meninggal, kata teman-teman dia depresi. Romo, saya sedih, terpukul dan saya merasa amat berdosa. Andai saja saya selalu mengingatkan dia, dan saya berjuang keras untuk mengingatkan dia meski saya ditolak mungkin dia tidak meninggal. Sering saya ngomong sendiri: “Andai saja kamu mau mendengarkan saya, mungkin semua ini tidak terjdi.” Romo, sejak dia meninggal saya merasa amat berdosa, saya merasa, saya yang menyebabkan dia meninggal,” dia bercerita tentang apa yang terjadi.
 
“Kamu tidak bersalah, kamu sudah melakukan apa yang bisa kamu lakukan sebagai seorang sahabat. Dia telah memilih, dan pilihan itu menolak dirimu. Dia meninggal bukan karena kamu,” kata saya menenangkan.
 
Betapa penting untuk berani menegur dan memberi nasehat pada saudara kita, agar saudaraku tidak terjatuh dalam kesulitan. Persoalan dan tantangan terbesar adalah manakala saudaraku bukan hanya tidak mendengarkan aku, tetapi menolak diriku dan memutuskan hubungan dengan diriku.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada umat Ibrani mengingatkan dan menegaskan pentingnya menjaga saudaraku agar tidak jatuh dalam kesulitan. “Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hati karena tipu daya dosa.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku mau berlelah-lelah untuk menasehati saudaraku?
 
Iwan Roes RD. 

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 13 Januari 2021

Renungan Harian
Rabu, 13 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 2: 14-18
Injil    : Mrk. 1: 29-39

Senasib

Ketika saya berkunjung ke Panti Rehabilitasi Narkoba saya bertemu dengan konselor-konselor yang mendampingi  para resident (pecandu yang direhabilitasi). Saya kagum dengan para konselor-konselor itu karena mereka dengan sepenuh hati mendampingi para resident. Para konselor hampir 24 jam mendampingi para resident.
Saya semakin kagum kepada para konselor ketika melihat perilaku para resident yang sungguh-sungguh “aneh” dan “sulit”.
 
Dalam perjumpaan dengan para konselor saya bertanya kenapa para konselor tahan untuk mendampingi para resident. Salah satu konselor menjawab:
“Romo, saya dulu adalah pecandu seperti mereka, bahkan saya lebih parah dari kebanyakan mereka. Saya mau menjadi konselor karena saya ingin menolong mereka. Melihat teman-teman yang masuk ke sini, saya kasihan dan saya seperti melihat diri saya yang dulu. Melihat teman-teman satu perasaan yang selalu muncul adalah dorongan agar mereka sembuh dan berani berubah menjadi manusia baru. Bukan hanya lepas dari kecanduan tetapi bisa melihat masa depan dan berani berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.
 
Karena itu romo, jam berapa pun saya dipanggil, tengah malam sekalipun saya tidak pernah merasa lelah. Tidak tahu kenapa, tetapi bertemu dengan teman-teman ini seperti bertemu dengan adik-adik saya sendiri.”
 
Pengalaman para konselor pada masa lalu ini menjadikan para konselor mudah diterima oleh para resident dan juga lebih mudah memotivasi. Para konselor tahu bahasa mereka, mengerti perasaan mereka, mengerti kegundahan mereka. Para konselor karena punya pengalaman yang sama dengan para resident menjadikan para konselor bekerja penuh empati dan compassion.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada umat Ibrani: “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena percobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Pengalaman menjadi guru yang luar bisa dan sekaligus mendorong untuk lebih berempati dan compassion.
 
Bagaimana dengan aku? Adakah pengalaman hidupku mendorongku untuk lebih berempati dan ber’compassion?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 12 Januari 2021

Renungan Harian
Selasa, 12 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 2: 5-12
Injil    : Mrk. 1: 21b-28

Pohon Mangga

Dulu di halaman rumah kami ada beberapa pohon mangga. Beberapa dari pohon mangga itu adalah hasil cangkokan dari pohon lama yang paling tua dan paling besar. Semua pohon mangga itu menghasilkan buah yang cukup lebat dan buahnya manis. Pada musimnya pemandangan di halaman rumah kami menarik perhatian setiap orang lewat karena lebatnya buah mangga. Banyak orang mengatakan buah mangga di rumah kami “cemolong” (merangsang untuk mencuri).
 
Namun di antara pohon-pohon mangga itu ada satu pohon mangga yang tidak pernah berbuah. Pohon itu bukan hasil cangkokan tetapi bapak menanam dari biji. Karena sudah waktunya berbuah dan tidak pernah berbuah bapak tanya ke ahli pertanian. Bapak mendapatkan saran agar pohon mangga itu dilukai dan dipaku dengan paku yang sudah berkarat.
 
Berdasarkan saran itu bapak melukai pohon mangga itu dan memakunya dengan paku-paku yang berkarat. Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya tetapi yang terjadi pada musim berikutnya pohon mangga itu berbuah lebat dan menghasilkan buah mangga yang manis. Bahkan dibandingkan dengan pohon yang lain, hasil dari pohon mangga yang dilukai itu jauh lebih banyak.
 
Seperti pohon mangga yang menghasilkan buah berlimpah karena dilukai; kiranya penderitaan, kesulitan dan tantangan yang dialami manusia bisa dimaknai sebagai sarana agar manusia menghasilkan buah yang lebat. Ternyata penderitaan, kesulitan dan tantangan bukanlah kutuk bagi manusia melain rahmat agar hidupnya jauh lebih berkualitas.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada umat Ibrani: “Maka sudah sepatutnya Ia pun menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan dengan penderitaan.” Yesus disempurnakan oleh penderitaan. Maka bagiku pun penderitaan, kesulitan dan tantangan adalah sarana penyempurnaan.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mampu melihat penderitaan, tantangan dan kesulitan menjadi sarana penyempurnaan hidupku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 11 Januari 2021

Renungan Harian
Senin, 11 Januari 2021

Bacaan I : Ibr. 1: 1-6
Injil    : Mrk. 1: 14-20

Penghargaan

Dulu, waktu saya masih kecil, pernah diutus bapak untuk memanggil tukang yang biasa bersih-bersih di rumah. Biasanya untuk memanggil pak tukang itu bapak atau ibu cukup menitip pesan kepada tetangganya yang sering jualan di pasar. Namun sudah berkali-kali diminta datang melalui tetangganya tidak juga mau datang.
 
Waktu saya diminta ke rumah pak tukang itu saya keberatan karena rumahnya cukup jauh dari rumah kami. Bapak tetap bersikukuh meminta saya, karena menurut bapak, kalau saya yang datang pak tukang itu akan datang. Bapak menjelaskan kalau saya yang datang pak tukang itu akan merasa sungguh dihargai dan sungguh dibutuhkan.
 
Saya pergi ke rumah pak tukang itu dan bertemu dengan beliau. Saya menyampaikan pesan kalau pak tukang diminta ke rumah untuk membantu bersih-bersih. Pak tukang kelihatan senang melihat saya datang diutus bapak. Beliau mengatakan: “Walah, kok harus mas sendiri yang datang jauh-jauh. Wah, bapak kok repot-repot mengutus mas hanya untuk memanggil saya.” Saat itu juga pak tukang pergi ke rumah kami bersama dengan saya.
 
Ketika saya ingat pengalaman itu, saya sadar betapa penghargaan yang diberikan bapak kepada pak tukang, membuat hati pak tukang luluh sehingga segera mau datang ke rumah kami. Saya berpikir seandainya bapak tidak mengutus saya, dan hanya mengundang lewat tetangganya mungkin pak tukang belum datang ke rumah.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat kepada orang Ibrani, menunjukkan betapa Allah memberikan penghargaan kepada manusia sehingga mengutus PutraNya sendiri. Allah begitu mencintai manusia dan berharap hati manusia luluh dan mau kembali kepadaNya. “Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi. Tetapi pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku merasakan cinta dan penghargaan Allah kepadaku, sehingga aku menjadi luluh hati dan kembali kepadaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.