HARI 2: SELASA, 24 NOV 2020

MENEMUKAN TUHAN DALAM PENGALAMAN GELAP DAN BERAT

Tujuan

Untuk menemukan Tuhan dalam pengalaman gelap dan berat, sehingga lebih happy dalam hidup ini

Mohon

Boleh menyadari dan mensyukuri kasih Tuhan dalam pengalaman gelap kita

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik,
  • Sebagai seorang CLC kadang kita juga punya pengalaman gelap, pengalaman berat, dan pengalaman yang menyakitkan.
  • Dalam situasi seperti itu, kadang kita bertanya, “Apakah Tuhan pergi dari padaku? Apakah Tuhan tidak mencintai aku lagi?”
  • Ternyata tidak! Bahkan kadang dalam pengalaman gelap dan berat itu, kehadiran Tuhan lebih jelas dan peran Tuhan lebih kentara bagi hidup kita. Bahkan dalam pengalaman yang menyakitkan itu, sering kita semakin tahu apa yang diinginkan Tuhan pada kita, kita semakin mengerti betapa cintaNya luar biasa.
  • Seorang mahasiswa saya berontak pada Tuhan waktu ayahnya meninggal karena ayahnya adalah satu-satunya yang bekerja dan membeayai kuliahnya. Ia frustrasi, stress, dan sungguh gelap.  ”Lalu mau apa saya?” Tetapi setelah beberapa bulan, ia menemukan maksud Tuhan, yaitu agar dia belajar mandiri, dan juga sadar ternyata Tuhan tetap mencintainya dengan berbagai cara yang lain. Ia menjadi gembira dan semangat lagi!
  • Kita lihat pengalaman beberapa orang di Kitab Suci yang justru menemukan Tuhan dalam situasi yang berat, gelap, berdosa, dan kacau:  
    • Saulus, yang mengejar murid Yesus dan ingin membunuh mereka. Ia tetap dicintai Tuhan dan bahkan dipercaya menjadi muridNya yang hebat.
    • Perempuan yang berjinah itu, di depan Tuhan Yesus, tidak dihukum, tetap dihidupkan dan menjadi baru.
    • Banyak orang sakit dan berbeban berat datang pada Yesus dan disentuh serta disembuhkanNya.
  • Apa aku juga sering datang pada Tuhan di saat berbeban berat?
  • Kita ingin mendalami, menyadari, dan menemukan kasih Tuhan dalam pengalaman kita yang berat tahun ini.

Bahan Renungan

1. Melihat pengalaman yang sangat berat tahun ini

  • Kenang kembali pengalaman-pengalaman yang sangat berat, gelap, dan menyakitkan dalam setahun ini! Pengalaman apa itu?
  • Apa yang anda rasakan dan alami dengan pengalaman itu?
  • Bagaimana akhirnya anda dapat keluar dari situasi berat dan gelap itu?
  • Siapa saya yang ikut andil dalam mengangkat anda?
  • Apa peran Tuhan dalam pengalaman itu? Apa dampaknya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?
  • Syukurilah pengalaman itu.

2. Melihat orang yang menjengkelkan tahun ini

  • Lihat orang-orang yang setahun ini anda rasakan menjengkelkan, membuat anda tidak enak, membuat anda sakit hati.
  • Apa yang dilakukan mereka itu pada anda? Bagaimana perasaan anda?
  • Mengapa anda jengkel pada mereka?
  • Apakah anda sudah berdamai dengan orang itu?
  • Apa maknanya pengalaman itu bagi hidup anda sekarang?  
  • Apa maksud Tuhan dengan pengalaman itu?
  • Syukurilah pengalaman itu.

3. Pengalaman gagal dan hancur

  • Barangkali anda punya pengalaman gagal, hancur, atau bakan traumatis. Pengalaman apa itu? Apa sebabnya anda gagal dan hancur?
  • Bagaimana anda bangun kembali?
  • Apa dalam pengalaman seperti itu anda datang pada Tuhan atau lari dari padaNya? Mengapa? Apa peran Tuhan dalam hal itu?
  • Syukurlah itu.

Menghadap Tuhan secara pribadi

  • Dengan semua pengalaman itu, pandanglah Tuhan yang memandang anda.
  • Ungkapkan semua perasaan dan pengalaman serta isi hati anda pada Dia?
  • Apa yang tergerak dalam hati anda?

Menuliskan pengalaman di WAG

  • Tuliskan dengan singkat apa yang anda temukan dalam permenungan hari ini.
  • Buah apa yang anda dapatkan untuk hidup anda kedepan?


Panduan Hari Kedua ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 24 November 2020

Renungan Harian
Selasa, 24 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 14-20
Injil    : Luk. 21: 5-11

S e x y

Sudah amat sering dalam berbagai kesempatan maupun di pelbagai tempat diadakan seminar atau pengajaran tentang akhir zaman. Pelbagai judul seminar yang memikat ditampilkan untuk menarik orang mengikuti acara tersebut. Judul itu misalnya: “Mengintip zaman akhir”, “Sekarang tanda-tanda akhir zaman mulai nampak “ dan lain sebagainya.
 
Dengan pelbagai judul dan warta itu banyak orang terpikat untuk mengikutinya; karena mereka berprasangka bahwa para pembicara itu tahu kapan akhir zaman akan terjadi. Sehingga para pengikut seminar atau pengajaran itu punya harapan besar bahwa setelah ikut seminar atau pengajaran, mereka akan tahu kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Saya tidak tahu persis apa isi seminar atau pengajaran tersebut, karena belum pernah mengikuti, dan tanpa bermaksud menghakimi para narasumbernya, tapi dapat diduga bahwa yang dibicarakan adalah hal-hal yang tertulis dalam kitab Wahyu, kitab Daniel atau dari Injil yang bicara tentang akhir zaman. Saya menduga demikian karena saya yakin bahwa para narasumber tidak tahu pasti kapan akhir zaman akan terjadi.
 
Pertanyaan muncul, mengapa tema-tema akhir zaman menjadi tema yang sexy untuk “dijual”? Akhir zaman adalah misteri besar dalam hidup manusia maka bila ada yang bisa menguak misteri itu pasti menjadi menarik. Sering kali mereka yang ikut seminar dan pengajaran tersebut lebih ingin memuaskan pengetahuan mereka  daripada ingin mempersiapkan diri lebih baik sehingga bila saatnya tiba mereka selamat.
 
Banyak orang, termasuk saya sering kali merasa puas dan senang ketika menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang luar biasa. Namun rasa puas dan senang itu seringkali menjebak saya untuk berhenti pada rasa itu. Saya lupa untuk mengolah, mengunyah dan mencecap-cecap pengetahuan itu sehingga tidak memunculkan gerakkan batin, tidak memunculkan kehendak, apalagi sebuah keputusan untuk bertindak.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini mengingatkan, agar tidak terjebak dengan pengetahuan semata, tetapi yang lebih penting adalah bertindak, menata diri, mempersiapkan diri dari waktu ke waktu agar bila saatnya tiba, aku dianggap pantas. Sabda Tuhan sejauh diwartakan St. Lukas dengan tegas mengingatkan agar waspada: “Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan.”
 
Bagaimana dengan aku? Orang yang menyesatkan atau disesatkan? Orang yang puas dengan pengetahuan atau orang yang berani mengolah apa yang kuterima?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 23 November 2020

Renungan Harian
Senin, 23 November 2020

Bacaan I : Why. 14: 1-3. 4b-5
Injil    : Luk. 21: 1-4

Orang Kaya

Malam itu kami mengadakan rapat pembangunan. Rapat ini adalah rapat rutin setiap akhir bulan untuk membicarakan berbagai hal berkaitan dengan pembangunan pastoran. Sebagaimana biasa dalam rapat kami mendengarkan laporan tentang perkembangan  pembangunan, laporan berbagai macam kendala yang harus diselesaikan dan yang paling terakhir adalah laporan tentang dana.
 
Setiap kali kami mendapatkan sumbangan dalam jumlah besar, kami selalu bersyukur dan kagum dengan orang-orang yang menyumbang dalam jumlah besar. Malam itu salah satu tim dana menyampaikan bahwa ada amplop sumbangan dari seorang ibu. Kami mengenal ibu yang memberi sumbangan itu adalah seorang janda yang hidup amat sederhana, dan untuk kehidupan sehari-hari selain berjualan, beliau selalu mendapatkan bantuan dari seksi sosial paroki.
 
Amplop itu belum dibuka karena tim dana tidak berani membuka dan berpikir sumbangan itu lebih baik dikembalikan mengingat keadaan beliau. Kami memutuskan untuk membuka amplop sumbangan beliau dan ternyata jumlah uang dalam amplop itu 2 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar bahkan amat besar untuk ibu itu. Setelah ditimbang-timbang kami memutuskan untuk mengembalikan sumbangan itu karena menurut kami akan lebih berguna untuk kehidupan ibu itu.
 
Ketika saya bertemu dengan ibu itu untuk mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan sumbangannya dan bermaksud untuk mengembalikannya, ibu itu berkata:

“Romo, mohon agar berkenan menerima sumbangan Oma, meskipun amat sedikit. Ketika romo mengumumkan pembangunan pastoran dan mengumpulkan dana, oma sedih karena oma tidak punya apa-apa. Ingin ikut andil tetapi untuk hidup sehari-hari saja oma dibantu paroki.
 
Romo, karena oma ingin sekali ikut andil, maka oma memutuskan menyisihkan sedikit uang oma. Oma pikir, cukup bisa makan sekali sehari dan sisanya oma kumpulkan. Mungkin hanya sekali oma bisa memberikan sumbangan tetapi oma bahagia bisa ikut andil dalam pembangunan pastoran. Maka oma berharap dengan sangat agar romo berkenan menerima sumbangan oma.”
 
Saya pulang ke pastoran tanpa terasa air mata saya berlinang. Saya telah bertemu dengan orang yang luar biasa; orang yang secara materi memang miskin tetapi beliau bagi saya adalah orang yang kaya; dan yang lebih membuat hati saya sedih, pastoran yang bagus itu dibangun dari uang orang yang rela makan sekali sehari.
 
Bagi saya, oma itu adalah janda miskin yang dalam sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan oleh St. Lukas. Orang yang memberikan persembahan amat besar. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku memberikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

HARI 1: SENIN, 23 NOV 2020

MENSYUKURI KASIH TUHAN DALAM SETAHUN INI

Tujuan

Untuk boleh mensyukuri kasih Tuhan dalam tahun ini, sehingga hidup kita lebih happy.

Mohon

Boleh bersyukur atas kasih Tuhan yang kita alami.

Pengantar

  • Teman-teman CLC yang baik, selamat bertemu dalam retret tahunan 2020 ini!
  • Semoga di tengah keramaian dan kesibukan tugas dan pekerjaan kita, kita masih dapat menyisihkan waktu sejenak untuk berdoa, bermenung, dan berefleksi tentang hidup dan panggilan kita sebagai seorang CLC.
  • Sebagai seorang CLC, dasar hidup kita adalah bahwa kita ini dicintai Tuhan, apapun keadaan kita. Cinta Tuhan itu dapat kita rasakan dalam berbagai pengalaman hidup kita setahun ini, lewat orang-orang yang baik kepada kita, lewat kemajuan dan rahmat yang kita alami setahun ini. Maka kita ingin merenungkan hal itu.
  • Untuk membuka hati kita, kita sejenak ingin membaca pelan-pelan, merenungkan pengalaman pemasmur yang sungguh mengalami dalam hidupnya kasih Tuhan, yaitu dalam masmur 23: Tuhanlah Gembalaku.
  • Silahkan dengan tenang anda baca masmur itu dengan  pelan, resapkan isinya, dengarkan gerak batin anda selama membaca masmur itu!
    • Tuhanlah Gembalaku, aku tak kan kekurangan sesuatu
    • Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
    • I membimbing aku ke air yang tenang
    • Ia menyegarkan jiwaku…….dst…

Bahan Renungan

  1. Melihat pengalaman yang mengesankan tahun ini
  2. Lihatlah kembali pengalaman-pengalaman yang mengesankan dalam hidup anda selama setahun ini, yang anda rasakan sebagai bentuk kasih Tuhan pada anda!
  3. Pengalaman apa itu? Apa yang anda alami?
  4. Apa peran Tuhan yang anda rasakan dalam pengalaman itu?
  5. Setelah itu dengan tenang, ungkapkan perasaan anda pada Tuhan! Syukurilah semua itu!
  • Orang-orang yang menyertai anda setahun ini
  • Dengan tenang, anda ingat kembali beberapa orang yang sungguh anda rasakan sebagai tanda kasih Tuhan bagi hidup anda setahun ini!
  • Siapa saja mereka itu? Apa yang mereka lakukan pada anda?
  • Bagaimana perasaan dan hati anda mengenang apa yang dibuat orang itu?
  • Syukurilah mereka, karena mereka telah menjadi tanda kasih Tuhan bagi anda.
  • Dengan tenang doakan orang itu pada Tuhan pula.
  • Kemajuan dan berkat pribadi yang dialami
  • Dengan tenang anda lihat kembali kemajuan apa yang anda alami selama setahun ini baik sebagai pribadi maupun dalam tugas anda.
  • Barangkali anda bertambah pengetahuan, bakat, kebijaksanan, penghasilan, tambah penghargaan, kesehatan yg baik, makin mantap dalam hidup, makin tenang, dll.  
  • Sadarilah bahwa itu semua adalah bentuk kasih Tuhan pada anda. Syukurilah itu semua di depan Tuhan.

Bersyukur dan berdoa pribadi

  1. Dari semua yang ada temukan diatas, berdoalah secara pribadi pada Tuhan, ungkapkan semua perasaan dan isi hati anda pada Dia yang mencintai anda!
  2. Kalau anda ingin bernyanyi, bernyanyilah, kalau ingin menulis puisi, tulislah!  
  3. Ingin menulis doa, silahkan pula!
  4. Mau diam menatap Tuhan, silahkan!

Mensharingkan pada teman di WAG

  1. Tulislah secara singkat apa yang ada alami, yang anda rasakan, yang anda temukan, yang mengesankan dalam permenungan sehari ini.

SELAMAT BERMENUNG! TUHAN MEMBERKATI!



Panduan Hari Pertama ini juga bisa diunduh dalam bentuk PDF:

Renungan Harian: 22 November 2020

Renungan Harian
Minggu, 22 November 2020

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Bacaan I  : Yeh. 34: 11-12. 15-17
Bacaan II : 1Kor. 15: 20-26a. 28
Injil     : Mat. 25: 31-46

Nasi Bungkus

Dalam pertemuan seksi sosial paroki, para pengurus mengusulkan agar paroki mengadakan aksi sosial membagi nasi bungkus satu kali dalam seminggu untuk saudara-saudara yang  berkekurangan. Idenya bukan hanya agar  saudara-saudara yang berkekurangan mendapatkan makan tetapi juga agar mereka mendapatkan makanan yang sedikit lebih baik. Akhirnya diputuskan untuk dijalankan.
 
Sesuai dengan kesepakatan dalam rapat pada hari itu mulai pagi beberapa ibu dan beberapa bapak mulai memasak untuk menyiapkan nasi bungkus. Hari itu kami menyediakan 250 nasi bungkus untuk dibagikan. Setelah selesai membungkus maka para bapak dan ibu itu berbagi tugas untuk berkeliling membagikan nasi bungkus.
 
Dalam perjalanan waktu, kami kesulitan untuk menentukan menu, karena bahan dasar selalu telur, daging ayam dan tahu tempe. Kami selalu bicara tidak masalah dengan bahan dasar tetapi yang penting cara mengolahnya selalu berganti dan selalu diusahakan agar nasi harus baik.
 
Pada suatu saat harga ayam begitu mahal, sehingga kami memutuskan untuk beberapa kali menyediakan masakan berbahan dasar telur. Keputusan itu dibuat karena kemampuan kami terbatas. Dalam bulan itu hanya satu kali menu berbahan dasar daging ayam.
 
Suatu hari, beberapa ibu sepulang membagi nasi bungkus, tampak sedih dan marah. Beliau bercerita bahwa ada dua orang yang menerima nasi bungkus ketika melihat menunya berbahan telur ngomel-ngomel dan langsung membuang nasi bungkus itu ke tempat sampah. Mendengar cerita ibu-ibu itu, saya mengatakan untuk tidak berkecil hati. Hal yang paling penting adalah usaha kita untuk berbagi. Niat baik disertai usaha yang baik dan kerja yang baik untuk saudara-saudara kita, menurut saya itu sudah luar biasa. Soal ada yang menerima dengan senang hati atau ada yang menolak bahkan mencemooh jangan menjadikan risau dan surut. Tugas kita adalah berbagi kasih.
 
Dalam pembicaraan pada waktu evaluasi beberapa dari bapak dan ibu itu bercerita bahwa pengalaman kebahagiaan saat berbagi lebih besar dari pada dukanya. Kelelahan dan kesulitan dalam menyiapkan nasi bungkus terbayar melihat kebahagiaan saudara-saudara yang menerima. Bahwa ada yang menolak tidak menjadi persoalan karena hati ini diajarkan, dilatih untuk peka dengan saudara-saudara yang berkekurangan.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menegaskan bahwa betapa penting kepekaan hati pada saudara-saudara yang berkekurangan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini , kamu telah melakukannya untuk Aku.”
 
Apakah aku mampu melihat kehadiran Tuhan dalam diri saudaraku yang hina dan berkekurangan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 21 November 2020

Renungan Harian
Sabtu, 21 November 2020

PW. St. Maria dipersembahkan kepada Allah
Bacaan I : Why. 11: 4-12
Injil    : Luk. 20: 27-40

Memperalat

Suatu pagi, saya kedatangan tamu, yang memperkenalkan diri sebagai seorang penginjil. Pada waktu itu pastoran tempat saya tinggal adalah rumah sederhana berada di tengah perkampungan penduduk terpisah dari gereja. Sehingga penginjil itu tidak tahu kalau saya seorang pastor.
 
Setelah memperkenal dirinya, dan saya juga memperkenalkan diri sebagai pastor Gereja katolik, beliau berkata bahwa saya harus bertobat, karena kalau tidak bertobat saya akan masuk neraka. Kemudian beliau menambahkan bahwa baptisan yang telah saya terima tidak sah karena tidak ditenggelamkan dalam air dan hidup selibat itu juga tidak benar. Untuk mendukung pendapatnya itu beliau membacakan ayat-ayat kitab suci dari berbagai surat dan kitab.
 
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya sudah mengimani Kristus dengan cara yang diajarkan Gereja Katolik, jadi saya tidak akan meninggalkan apa yang sudah saya yakini. Dan kemudian beliau pergi.
 
Saya menjadi aneh dengan penginjil itu mengapa saya yang sudah memperkenalkan diri sebagai pastor tetap dikotbahi untuk berpindah keyakinan. Dan yang lebih aneh lagi bagi saya, beliau sudah menyiapkan ayat-ayat dari kitab suci yang menurut saya dipaksakan untuk mendukung pernyataannya. Ayat-ayat kitab suci  telah diperalat untuk kepentingannya.
 
Saya ingat Sri Paus pernah menegaskan agar para imam tidak menggunakan mimbar untuk marah-marah atau memarahi umat. Bukankah ketika menggunakan mimbar untuk marah-marah berarti juga telah memperalat sabda Tuhan untuk kepentingan pribadi?
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas mengisahkan orang-orang Saduki yang menggunakan ajaran Musa untuk mendukung kepentingan pribadi bukan untuk melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Guru, Musa menuliskan untuk kita perintah ini……”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku telah memanipulasi hal-hal yang rohani dan baik hanya demi kepentingan pribadiku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 20 November 2020

Renungan Harian
Jumat, 20 November 2020

Bacaan I : Why. 10: 8-11
Injil    : Luk. 19: 45-48

Pamrih

Beberapa tahun yang lalu setelah makan malam, saya menemui tamu seorang bapak. Saya mengenal bapak tersebut sebagai salah satu orang yang aktif dalam berbagai kegiatan di paroki, dan bukan hanya saja aktif bapak tersebut juga beberapa kali memberi sumbangan untuk acara-acara di paroki.
 
Bapak tersebut sebenarnya aktif ikut kegiatan di gereja baru kurang lebih selama 6 bulan ini. Sebelumnya saya tidak mengenal bapak itu meski saya sudah beberapa tahun bertugas di paroki ini karena memang bapak tersebut tidak pernah muncul di gereja.
 
Malam itu, bapak tersebut menyampaikan bahwa dirinya akan maju menjadi anggota parlemen, beliau minta restu dan dukungan. Mendengar permintaan tersebut, saya menjawab bahwa saya dengan senang hati mendoakan dan mendukung niat baik bapak tersebut. Kemudian beliau meminta dukungan konkret dari saya. Bentuk dukungan konkret yang beliau minta adalah sebuah surat pernyataan dan himbauan dari pastor bahwa pastor mendukung bapak tersebut dan meminta umat untuk memilih dia, itu yang pertama. Dukungan berikut adalah bapak itu minta dalam beberapa kesempatan mengisi khotbah dalam perayaan ekaristi untuk menyampaikan visi misi serta meminta dukungan umat untuk memilih beliau.
 
Atas permintaan bapak tersebut saya menjawab: “Bapak, mohon maaf permintaan bapak untuk dua bentuk dukungan konkret tidak bisa saya penuhi. Bahwa saya mendukung bapak untuk maju menjadi anggota parlemen, tidak berarti saya bisa menerbitkan surat tersebut karena hal itu akan menyeret Gereja ke dalam politik praktis, dan lagi pasti ada umat lain yang mau maju atau punya calon yang lain.
 
Permintaan kedua sudah pasti tidak bisa dipenuhi karena dalam peribadatan jangan dicampur adukan dengan politik praktis, jangan menjadikan Gereja dan ekaristi sebagai sarana untuk kampanye. Saya akan memberi ruang dan kesempatan tetapi tidak dalam ekaristi.”
 
Mendengar jawaban saya, bapak tersebut menjadi kecewa dan marah. Beliau dengan keras mengatakan bahwa dirinya sia-sia selama ini aktif di gereja mengorbankan waktu, tenaga dan materi kalau tidak bisa mendapatkan dukungan. Beliau menyatakan bahwa saya tidak punya rasa terimakasih dan tidak tahu balas budi. Di ujung kemarahannya bapak itu mengatakan bahwa dirinya tidak akan terlibat di gereja lagi.
 
Saya diam mendengarkan kemarahan bapak tersebut. Hampir selama 1 jam bapak itu marah dan menceramahi saya pentingnya balas budi dan rasa terima kasih atas pengorbanan beliau.
Tidak ada satu katapun keluar dari mulut saya menjawab kemarahan bapak itu, sampai kemudian beliau pergi tanpa pamit.
 
Saya sedih mengalami peristiwa tersebut. Sedih bukan karena dimarahi dan dicela, tetapi sedih karena ada orang yang mengungkapkan dan mewujudkan imannya hanya demi kepentingan pribadi sesaat, demi sebuah ambisi dan pencitraan.
 
Kiranya hal ini yang dikritik Tuhan dengan dengan bersabda: “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikan sarang penyamun” sebagaimana diwartakan St. Lukas.
 
Bagaimana dengan aku? Untuk apa aku ikut dalam peribadatan dan aktif dalam kegiatan gereja?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

ST IGNATIUS LOYOLA

Awal Mulanya

Inigo de Loyola dilahirkan pada tahun 1491 di Azpeitia di provinsi Guipuzcoa di wilayah Basque di sebelah utara Spanyol. Dia adalah anak bungsu dari tigabelas bersaudara. Pada usia enam belas tahun dia dikirim untuk bekerja sebagai pesuruh bagi Juan Velazquez, bendaharawan kerajaan Castile. Sebagai anggota rumah tangga Velazquez, dia seringkali tampil di balai sidang dan mengembangkan cita rasa terhadap segala hal mengenainya, terutama urusan perempuan. Dia sangat suka berjudi, suka bertengkar, dan terlibat dalam adu pedang. Bahkan dalam suatu perselisihan antara keluarga Loyola dan keluarga lainnya, Ignatius dan saudara lelakinya dengan disertai beberapa sanak famili pada suatu malam menyerang beberapa kaum religius anggota keluarga lain tersebut. Ignatius harus melarikan diri ke luar kota. Ketika akhirnya dibawa ke pengadilan, dia membela dirinya dengan menyatakan “imunitas religius” karena telah “dicukur gundul” (seperti layaknya rambut kaum biarawan pada waktu itu) sewaktu masih sebagai seorang anak laki-laki, dan oleh karenanya bebas dari pengadilan sipil. Ini adalah pembelaan diri yang semu karena selama bertahun-tahun dia telah berpakaian sebagai ksatria berpedang, mengenakan baju besi, dan membawa-bawa pedang termasuk senjata-senjata lainnya. Jelas ini bukan baju yang biasanya dikenakan oleh kaum religius. Kasus ini berlarut-larut sampai beberapa minggu tetapi keluarga Loyola tampaknya sangat berpengaruh. Mungkin melalui pengaruh kaum petinggi, kasus terhadap Ignatius akhirnya ditutup.

Pada usianya yang ke-30 di bulan May 1521, Ignatius adalah salah seorang tentara yang membela kubu-kubu kota Pamplona terhadap serangan Perancis, yang menyatakan wilayah tersebut sebagai wilayah mereka dan berperang dengan Spanyol. Orang-orang Spanyol kalah jauh dari segi jumlah dan komandan pasukan Spanyol ingin menyerahkan diri, tetapi Ignatius meyakinkannya untuk bertempur demi kehormatan Spanyol kalau bukan demi kemenangan. Pada waktu pertempuran sebuah bom kanon mengenai Ignatius, melukai salah satu kakinya dan mematahkan kaki yang satu lagi. Karena mereka mengagumi keberaniannya, tentara-tentara Perancis tidak menjebloskannya ke penjara, melainkan mengusungnya kembali ke rumahnya untuk berobat, di puri Loyola. Kakinya sembuh tetapi tidak sempurna, sehingga perlu untuk mematahkannya kembali dan meluruskannya, semua ini dilakukan tanpa pembiusan. Kondisi Ignatius memburuk dan akhirnya para tabib memberitahukan supaya ia bersiap-siap untuk mati. 

Pada hari raya Santo Petrus dan Paulus tanggal 29 Juni, kondisinya secara tak terduga membaik. Kakinya sembuh, tetapi meski demikian tulangnya menonjol dibawah tempurung lututnya dan kakinya pendek sebelah. Ignatius tidak dapat menerima hal ini dan menganggapnya sebagai nasib buruk yang lebih buruk daripada kematian karena tidak bisa lagi memakai sepatu boot tinggi yang ketat dan celana ketat yang biasa dipakai oleh kaum ksatria kerajaan. Oleh karenanya dia menyuruh para tabib untuk memotong benjolan tulang yang menonjol dan memanjangkan tulang kakinya dengan merenggangkan secara sistematis. Lagi-lagi hal ini semua dilakukan tanpa anestesia. Sungguh malang, segala usaha ini tidak berhasil. Sepanjang hidupnya dia berjalan pincang karena salah satu kaki lebih pendek dari yang lainnya.

Pertobatan Ignatius

Selama minggu-minggu panjang pengobatannya, dia merasa sangat bosan dan meminta disediakan cerita-cerita roman percintaan untuk menghabiskan waktunya. Untungnya di kastil Loyola tidak ada buku demikian, tetapi ada buku tentang hidup Kristus dan sebuah buku tentang para kudus. Karena terdesak, Ignatius mulai membacanya. Semakin banyak dia membaca, semakin dia beranggapkan bahwa kisah para kudus tersebut patut untuk ditiru. Akan tetapi, pada saat yang sama dia juga masih memiliki mimpi-mimpi indah tentang ketenaran dan kemuliaan, termasuk fantasi-fantasi memenangkan cinta gadis bangsawan tertentu. Identitas wanita ini tidak pernah diketahui tetapi agaknya dia dari keturunan bangsawan. Akan tetapi dia mendapatkan bahwa setelah membaca dan merenungkan kisah para kudus dan Kristus dia berada dalam kedamaian dan merasa puas lahir-batin. Tetapi waktu dia berfantasi tentang gadis bangsawan tersebut, hatinya merasa tidak tenang dan tak terpuaskan. Pengalaman ini tidak hanya merupakan awal dari pertobatannya, tetapi juga awal dari pertimbangan spiritual, atau pertimbangan roh, yang diasosiasikan dengan Ignatius dan seperti dijelaskan dalam Latihan Rohani-nya.

Latihan tersebut menyatakan bahwa tidak hanya segi intelektual tapi juga emosi dan perasaan bisa membantu kita untuk memahami kerja Roh dalam hidup kita. Akhirnya, bertobat sepenuhnya dari segala keinginan-keinginan dan rencana romans dan kemenangan duniawi, dan sembuh dari luka-lukanya sehingga dia bisa bepergian, pada bulan Maret 1522 dia meninggalkan puri tempat tinggalnya.

Dia telah memutuskan untuk pergi ke Yerusalem untuk tinggal di tempat dimana Tuhan kita menjalani hidup-Nya di dunia. Sebagai langkah pertama dia memulai perjalanannya ke Barcelona, Spanyol. Meskipun dia telah bertobat dari cara-cara hidup yang lama, dia masih sangat kurang memiliki semangat kerendah-hatian dan penghayatan hidup Kristiani, seperti bisa digambarkan dari pengalamannya bertemu dengan orang Moor (penganut Muslim) dalam perjalanannya. Orang Moor tersebut bertemu dengannya di tengah jalan, mereka sama-sama menunggang keledai, dan mereka mulai mendebatkan topik-topik religius. Orang Moor itu mengatakan bahwa Santa Perawan Maria tidak lagi merupakan seorang perawan setelah melahirkan Kristus. Ignatius menganggap hal ini sebagai suatu penghinaan besar dan dia menimbang-nimbang tentang apa yang akan dilakukannya. Merekapun sampai ke persimpangan jalan, dan Ignatius memutuskan bahwa dia akan melihat apa yang akan terjadi untuk memutuskan tindakan yang akan dilakukannya. Orang Moor itu meneruskan ke satu arah. Ignatius melepaskan tali kekang keledainya dan membiarkan keledainya memilih arah di persimpangan tersebut. Kalau keledainya mengikuti arah yang diambil oleh orang Moor tersebut, dia akan membunuh orang itu. Kalau sang keledai mengambil arah yang satu lagi, dia tidak akan menyerang orang Moor itu. Untungnya bagi si orang Moor, keledai Ignatius lebih bermurah hati daripada penunggangnya dan mengambil jurusan yang berlawanan dengan orang Moor tersebut.

Dia meneruskan ke tempat ziarah Bunda Maria dari Montserrat yang diasuh oleh kaum Benediktin, menerimakan pengakuan dosa umum, dan berlutut sepanjang malam di depan altar Bunda Maria, mengikuti tata-cara kebiasaan para ksatria. Dia menanggalkan pedang dan pisaunya di altar, berjalan keluar dan memberikan semua baju-bajunya yang indah kepada seorang miskin, dan mendandani dirinya dengan pakaian kain kasar dengan sendal dan tongkat.

Pengalaman di Manresa

Dia meneruskan perjalanannya ke Barcelona tetapi berhenti sepanjang sungai Cardoner di kota yang disebut Manresa. Dia tinggal di sebuah gua diluar kota dan bermaksud untuk tinggal hanya beberapa hari, tetapi ternyata dia tinggal selama sepuluh bulan. Dia menghabiskan berjam-jam setiap harinya dalam doa dan juga bekerja di suatu balai perawatan. Disalanah ide-ide yang sekarang dikenal sebagai Latihan Rohani mulai terbentuk. Juga di pinggiran lekuk sungai inilah dia mendapatkan penglihatan yang dianggap sebagai yang paling menonjol selama hidupnya. Penglihatan itu lebih merupakan suatu pencerahan, yang mana dia nantinya mengatakan bahwa dia belajar lebih banyak dalam satu kesempatan itu daripada seumur hidupnya. Ignatius tidak pernah menjelaskan apa tepatnya penglihatan yang dialaminya tersebut, tetapi agaknya merupakan peristiwa penglihatan Ilahi dengan kemuliaan-Nya sehingga semua ciptaan tampak dalam sudut pandang yang baaru dan dia mendapat makna yang baru dan relevansi, suatu pengalaman yang memungkinkan Ignatius untuk melihat kehadiran Allah dalam segala hal. Karunia ini, yaitu menemukan Allah dalam segala hal, adalah satu satu karakteristik utama dari spiritualitas Yesuit.

Ignatius sendiri tidak pernah menulis dalam aturan-aturan Yesuit bahwa mesti ada jam-jam tertentu untuk berdoa. Sesungguhnya, dengan menemukan Allah dalam segala hal, setiap waktu adalah waktu untuk berdoa. Tentunya, dia tidak menghapuskan doa-doa formal, tetapi dia berbeda dengan berbagai pendiri tarekat religius lainnya menyangkut penentuan saat-saat tertentu untuk berdoa maupun lamanya waktu berdoa. Salah satu alasan mengapa sebagian kalangan menentang pembentukan formasi Serikat Yesus adalah karena Ignatius mengusulkan untuk menghapuskan nyanyian doa-doa Brevir dalam koor. Ini adalah perubahan yang radikal dari kebiasaan pada waktu itu, karena sampai saat itu, setiap tarekat religius diharuskan untuk mengucapkan doa-doa liturgi harian yang sama (doa Brevir). Bagi Ignatius, pengucapan seperti itu berarti model aktivitas yang dibayangkan dalam Serikat Yesus tidak dapat terlaksanakan. Beberapa saat setelah wafatnya Ignatius, seorang Paus begitu jengkelnya mengenai hal ini sehingga dia mengharuskan pengucapan doa Brevir kepada kaum Yesuit. Untungnya, Paus berikutnya lebih pengertian dan membolehkan kaum Yesuit untuk kembali pada praktek spiritualisme mereka.

Pada periode yang sama di Manresa, sewaktu dia masih kurang memahami kebijakan yang sejati menyangkut kekudusan, dia melakukan banyak penitensi yang ekstrim, karena keinginan untuk melebihi apa-apa yang dilakukan oleh para kudus lewat buku yang dibacanya tentang mereka. Mungkin, beberapa dari penitensi ini, terutama puasanya, melemahkan pencernaannya, yang terus menggangunya sepanjang hidupnya. Dia masih belum belajar sikap tidak berlebihan dan spiritualisme yang sejati. Mungkin ini juga sebabnya kongregasi yang nantinya didirikan olehnya tidak memiliki aturan-aturan penitensi yang telah ditentukan, seperti layaknya dimiliki oleh tarekat-tarekat religius lainnya.

Dia akhirnya tiba di Barcelona, berlayar ke Italia, dan tiba di Roma dimana dia bertemu dengan Paus Adrianus VI dan meminta ijin untuk melakukan perjalanan ziarah ke Tanah Suci, Yerusalem. Setibanya dia di Tanah Suci dia ingin tinggal, tetapi diperintahkan oleh atasan Fransiskan yang memiliki otoritas terhadap seluruh umat Katolik disana, bahwa situasinya terlalu berbahaya. Ingat bahwa orang Turki adalah penguasa Tanah Suci. Atasan tersebut memerintahkan Ignatius untuk pergi tetapi Ignatius menolak. Tetapi ketika diancam dengan eks-komunikasi (pengucilan) Ignatius barulah menurut.

Kembali ke Sekolah

Pada saat ini dia telah berusia 33 tahun dan memutuskan untuk masuk seminari. Akan tetapi, dia telah melalaikan belajar bahasa Latin, suatu syarat penting untuk belajar di universitas pada masa itu. Sehingga dia harus kembali ke sekolah untuk belajar tata-bahasa Latin bersama-sama dengan anak-anak kecil di suatu sekolah di Barcelona. Disana dia meminta-minta untuk makan dan tempat berteduh. Setelah dua tahun dia meneruskan ke Universitas Alcala. Disanalah semangatnya yang menggebu-gebu membawanya pada kesulitan, masalah yang terus menghantuinya sepanjang hidupnya. Dia mengumpulkan anak-anak sekolah maupun orang dewasa dan mengajarkan Injil kepada mereka dan mengajarkan mereka cara berdoa. Kerja kerasnya mengundang perhatian pihak Inkuisisi dan diapun dimasukkan ke penjara selama 42 hari. Ketika dia dibebaskan dia diminta untuk tidak kembali mengajar. Inkuisisi Spanyol agak sedikit paranoid dan siapapun yang belum ditahbiskan sebagai imam bisa dicurigai (termasuk juga mereka yang sudah ditahbiskan.)

Karena dia tidak bisa menahan dorongan semangatnya untuk menolong, Ignatius pindah ke Universitas Salamanca. Disana, dalam waktu dua minggu, kaum Dominikan kembali menjebloskan dia ke penjara. Meskipun mereka tidak dapat menemukan penyelewengan iman dari apa yang Ignatius ajarkan, dia hanya dibolehkan untuk mengajar anak-anak kecil dan itupun hanya semata-mata kebenaran iman yang sederhana. Sekali lagi dia melakukan perjalanan kali ini menuju Paris.

Di Universitas Paris dia meneruskan pelajarannya, belajar tata-bahasa Latin dan literatur, filosofi, dan teologi. Dia menghabiskan waktu beberapa bulan setiap musim panas untuk meminta-minta di Flanders demi uang yang digunakannya untuk menghidupi dirinya sendiri dan membiayai pelajarannya sepanjang tahun itu. Di Paris dia bertemu dan tinggal bersama Franciscus Xaverius dan Peter Faber. Dia juga sangat mempengaruhi beberapa orang lainnya sesama seminarian dan memberi pengarahan kepada mereka semua dari waktu ke waktu selama tiga puluh hari, yang mana hal ini nantinya dikenal sebagai Latihan Rohani. Franciscus Xaverius adalah yang paling sulit menerima bimbingan karena pikirannya dipenuhi oleh kesuksesan dan kemuliaan duniawi. Akhirnya Ignatius dan enam lainnya memutuskan untuk mengambil kaul selibat dan kemiskinan dan pergi ke Tanah Suci. Kalau tidak mungkin melakukan perjalanan ke Tanah Suci, mareka akan pergi ke Roma dan menyerahkan tugas pelayanan mereka sesuai kehendak Sri Paus. Mereka tidak melakukan semua hal ini sebagai suatu tarekat religius atau kongregasi, tetapi sebagai imam-imam secara individual. Selama setahun mereka menunggu, akan tetapi tidak ada satupun kapal yang bisa mengangkut mereka ke Tanah Suci karena pertikaian antara umat Kristen dan Muslim. Sementara menunggu mereka menghabiskan waktu dengan bekerja di rumah sakit dan mengajarkan katekisme di berbagai kota di wilayah utara Italia. Selama masa inilah Ignatius ditahbiskan menjadi imam, meskipun dia tidak memimpin Misa Kudus sampai setahun berikutnya. Dipercaya bahwa dia ingin merayakan Misa pertamanya di Yerusalem, di tempat dimana Yesus sendiri pernah hidup.

Serikat Yesus

Ignatius bersama-sama dua pendampingnya, Peter Faber dan James Lainez, memutuskan untuk pergi ke Roma dan menyerahkan misi mereka sesuai kehendak Sri Paus. Beberapa kilometer diluar kota Ignatius kembali mendapat pengalaman mistik. Di suatu kapel di La Storta dimana mereka pernah berhenti untuk berdoa, Allah Bapa memberitahukan kepada Ignatius, “Aku menyukai engkau tinggal di Roma” dan bahwa Dia akan menempatkan Ignatius bersama Putera-Nya. Ignatius tidak mengerti makna dari pengalaman mistis tersebut, karena bisa saja berarti penindasan maupun keberhasilan karena Yesus mengalami keduanya. Tetapi hatinya merasa tenang karena seperti dikatakan oleh Santo Paulus, “berada bersama Yesus meski dalam penindasan adalah suatu keberhasilan.” Ketika mereka bertemu dengan Sri Paus, dia dengan gembira menugaskan mereka untuk mengajar Kitab Suci, teologi dan pewartaan. Disinilah pada pagi hari Natal 1538 Ignatius merayakan Misanya yang pertama di gereja Santa Maria Mayor di Kapel Palungan. Kapel ini dipercaya memiliki palungan yang asli dari Betlehem, jadi, jika Ignatius tidak bisa merayakan Misanya yang pertama di tempat kelahiran Yesus di Tanah Suci, maka ini adalah alternatif yang terbaik.

Selama masa pra-Paskah berikutnya, tahun 1539, Ignatius meminta semua kawan-kawannya untuk datang ke Roma untuk mendiskusikan masa depan mereka. Mereka tidak pernah berpikir untuk mendirikan tarekat religius sebelumnya, tetapi sekarang melihat kenyataan bahwa mereka tidak mungkin pergi ke Yerusalem, mereka harus memikirkan masa depan mereka. Apakah mereka akan menghabiskan waktu mereka bersama-sama. Setelah berminggu-minggu dalam doa dan diskusi, mereka memutuskan untuk membentuk suatu komunitas, dengan persetujuan Sri Paus, dimana mereka akan mengucapkan kaul kepatuhan kepada seorang pejabat superior yang menduduki jabatan itu seumur hidupnya. Mereka juga menyerahkan diri mereka sesuai kehendak Bapa Suci untuk pergi kemanapun dia menyuruh mereka dan untuk tugas apapun. Kaul ini ditambahkan atas kaul-kaul lainnya yang umum seperti kaul kemiskinan, kaul selibat, dan kaul kepatuhan. Persetujuan resmi atas tarekat terbaru ini diberikan oleh Paus Paulus III pada tahun berikutnya, tanggal 27 September 1540. Karena mereka merujuk pada dirinya sendiri sebagai Perkumpulan Yesus (dalam bahasa Latin disebut Societatis Jesu), dalam bahasa Indonesia tarekat mereka dikenal sebagai Serikat Yesus. Ignatius terpilih pada voting yang pertama sebagai superior jendral, tetapi dia memohon dengan sangat agar mereka untuk mempertimbangkan kembali, berdoa dan memilih ulang beberapa hari sesudahnya. Pada pemungutan suarata yang kedua kalinya, kembali Ignatius terpilih dengan suara bulat, kecuali pilihan Ignatius sendiri tentunya. Dia masih saja enggan untuk menerima jabatan ini, tetapi pembimbing spiritualnya, seorang anggota tarekat Fransiskan mengatakan kepadanya bahwa ini adalah kehendak Allah, oleh karena itu Ignatius menurut. Pada hari Jumat, minggu perayaan Paskah, 22 April 1541, di Gereja Santo Paulus-diluar-Dinding, para sahabat tersebut mengucapkan kaul-kaul mereka dalam tarekat yang baru saja terbentuk.

Tahun-tahun Terakhir

Kecintaan Ignatius adalah untuk secara aktif terlibat mengajar katekisme kepada kanak-kanak, mengarahkan orang dewasa dalam Latihan Rohani, dan bekerja diantara orang-orang miskin di rumah sakit. Namun dia mengorbankan kecintaan ini selama lima belas tahun berikutnya, yaitu sampai wafatnya, dengan bekerja dari dua ruang kecil, kamar tidurnya dan disebelahnya adalah ruang kerjanya. Dari sinilah dia memberi pengarahan kepada serikat yang baru ini di seluruh dunia. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun menuliskan Konstitusi Serikat dan menuliskan ribuan surat-surat ke segala penjuru dunia kepada sesama kaum Yesuit yang menyangkut segala hal-hal yang berhubungan dengan Serikat Yesus dan juga memberi pengarahan spiritual kepada kaum awam pria dan wanita. Dari tempat tinggalnya yang kecil di Roma, dia akan melihat semasa hidupnya perkembangan Serikat Yesus dari delapan anggota menjadi seribu anggota, dengan universitas dan rumah-rumah spiritual yang tersebar di segala penjuru Eropa sampai Brazilia dan Jepang. Beberapa dari sesama pendiri Serikat nantinya menjadi teolog-teolog asisten Sri Paus di Konsili Trente, suatu peristiwa yang merupakan tonggak penting dalam Gerakan Katolik Kontra-Reformasi.

Pada mulanya, Ignatius menulis sendiri surat-suratnya, tetapi setelah Serikat Yesus berkembang menjadi besar dan tersebar ke seluruh dunia, nyaris tidak mungkin baginya untuk berkomunikasi dengan setiap orang dan masih punya waktu untuk mengurus Serikat yang baru ini. Oleh karenanya father Polanco diangkat menjadi sekretaris pada tahun 1547 untuk membantu Ignatius dalam hal korespondensi surat-surat. Ignatius menulis nyaris 7000 surat sepanjang hidupnya, dan sebagian besar ditulis setelah dia diangkat menjadi pejabat superior jendral Yesuit. Ignatius menganggap bahwa korespondensi antara para anggota Yesuit sebagai elemen yang paling penting dalam membina persatuan. Perpisahan antara Yesuit di seluruh dunia adalah salah satu bahaya terbesar bagi perkembangannya, kerasulan maupun persatuan Serikat Yesus. Oleh karenanya dia tidak hanya menulis kepada semua rumah-rumah spiritual tarekat tersebut, tetapi dia juga memerintahkan supaya setiap superior lokal di seluruh dunia menulis surat secara teratur ke Roma, dan menginformasikan kepadanya tentang hal-hal yang terjadi. Informasi ini lantas bisa diteruskan ke pusat-pusat Yesuit dimanapun.

Dalam surat-suratnya kepada anggota-anggota Serikat, dia memperlakukan mereka masing-masing secara individual. Dia sangat bermurah hati dan lembut terhadap mereka yang paling memberinya kesulitan. Di lain pihak, terhadap mereka yang paling saleh dan rendah hati, dia tampak kadangkala terlalu keras, tentunya karena dia tahu bahwa mereka bisa menerima koreksinya tanpa protes, karena menyadari bahwa Ignatius mengasihi mereka dan semata-mata ingin yang terbaik bagi kehidupan spiritual mereka. Father James Lainez, salah satu pendamping Ignatius sejak awalnya, adalah pejabat superior provinsi di Italia Utara. Dia telah melakukan beberapa hal yang membuat Ignatius menjadi sorotan publik, termasuk membuat beberapa komitmen yang tidak dapat dipenuhi oleh Ignatius. Ditambah lagi, Lainez pernah menyatakan ketidak-setujuannya kepada yang lain-lainnya tentang suatu pergantian personel yang dibuat oleh Ignatius.

Ignatius menulis kepada Lainez melalui sekretarisnya, father Polanco: Dia (Ignatius) meminta saya untuk menulis kepadamu dan mengatakan kepadamu untuk mengurus wilayahmu sendiri, yang mana jika engkau lakukan dengan baik, engkau telah melakukan lebih daripada biasanya. Jangan engkau memusingkan diri dengan memberikan pendapatmu terhadap urusan-urusannya, karena dia tidak menghendaki pendapat darimu kecuali kalau dia memintanya, dan malah lebih tidak lagi sekarang ini setelah engkau menduduki jabatanmu, karena administrasi provinsimu belum berbuat banyak untuk menambah kredibilitasmu dimatanya. Periksalah kesalahanmu di hadapan Allah Tuhan kita, dan selama tiga hari sempatkan waktumu untuk berdoa bagi hal ini. Orang-orang kudus itu tidak hanya semata-mata orang yang baik hati.

Lainez menerima kritikan tajam ini dengan kerendahan hati dan meminta untuk diberikan beberapa tugas berat sebagai penitensi, seperti misalnya diturunkan dari jabatannya dan diberikan tugas yang paling keras dalam Serikat Yesus. Ignatius bahkan tidak pernah lagi menyinggung insiden tersebut, dan membiarkan Lainez menjalankan tugasnya seperti sebelumnya. Lainez nantinya akan menggantikan Ignatius sebagai Superior Jendral Yesuit yang kedua.

Meski penuh semangat untuk membawa orang-orang kepada Allah dan menolong mereka secara spiritual, Ignatius tetap merupakan seorang yang praktis dan masuk akal. Seorang anggota Yesuit pernah mengeluh karena mendapat kesulitan dari sekelompok umat yang sangat taat yang memonopoli semua waktunya tanpa alasan yang kuat. Melalui father Polanco, Ignatius memberi petunjuk kepadanya bagaimana menangangi dengan secara rendah hati, orang-orang yang demikian, tanpa membuat mereka merasa tersinggung. Ignatius juga pernah menyatakan bagaimana untuk membebaskan diri kita dari orang yang sudah tidak bisa diharapan. Dia menyarankan untuk berbicara kepada orang itu dengan tegas mengenai neraka, penghakiman dan hal-hal demikian. Dengan demikian dia tidak akan kembali terus mengganggu, dan jikapun dia kembali, ada kemungkinan dia bisa tersentuh oleh Tuhan.

Ada seorang uskup yang punya rasa permusuhan yang besar terhadap Serikat Yesus. Dia menolak untuk membolehkan tarekat ini di wilayah keuskupannya, dan dia mengucilkan siapapun yang menjalakan Latihan Rohani. Dia dikenal sebagai uskup “Cilicio” oleh para Yesuit. (“Cilicio” adalah pakaian dari kain kasar yang biasa dipakai sebagai tanda penitensi.) Ignatius mengatakan kepada para Yesuit yang cemas terhadap sikap uskup ini untuk relaks “uskup Cilicio adalah seorang yang sudah tua. Serikat Yesus masih muda. Kita bisa menunggu.”

Yesuit dan Dunia Pendidikan

Mungkin karya pelayanan Serikat Yesus yang dimulai oleh Ignatius yang paling terkenal adalah dalam dunia pendidikan. Akan tetapi sungguh menarik kenyataan bahwa dia tidak bermaksud untuk menyertakan pengajaran ditanara karya pelayanan Yesuit pada mulanya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, tujuan para anggota-anggota yang pertama adalah menyerahkan diri kepada kehendak Sri Paus untuk pergi kemanapun mereka dibutuhkan. Sebelum tahun 1548, Ignatius telah membuka sekolah-sekolah di Italia, Portugis, Belanda, Spanyol, Jerman dan India, tetapi sekolah-sekolah ini terutama dimaksudkan untuk mendidik calon-calon Yesuit yang masih muda. Sepuluh akademi serupa didirikan dalam enam tahun yang menunjukkan perkembangan yang pesat dari Yesuit. Tetapi di tahun 1548 atas permintaan magistrat Messina di Sicilia, Ignatius mengirim lima orang untuk membuka sekolah bagi kaum awam maupun murid-murid Yesuit. Segera sesudahnya menjadi nyata atas permintaan berbagai penguasa, uskup, dan berbagai kota bahwa karya pelayanan ini adalah cara yang paling efektif untuk mengkoreksi korupsi dan penyelewengan diantara kaum religius dan awam, untuk menghentikan kemunduran Gereja di tengah-tengah Reformasi, dan untuk memenuhi moto Serikat Yesus, “Ad Maiorem Dei Gloriam,” artinya, demi kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.

Ignatius menyebutkan hal ini dalam suratnya kepada father Araoz: “Kebaikan yang lebih universal adalah kebaikan yang lebih Ilahi. Oleh karena itu sebaiknya berikan preferensi kepada orang-orang dan tempat-tempat yang melalui pertumbuhannya, menjadi sumber penyebaran kepada orang-orang lain yang mencari bimbingan daripadanya. Atas alasan yang sama, preferensi sebaiknya diberikan kepada universitas-universitas yang pada umumnya dihadiri oleh sejumlah besar orang yang mendapat pertolongan daripadanya dan pada gilirannya bisa menjadi pekerja untuk menolong yang lain-lainnya.”

Ini sesuai dengan salah satu prinsip utama Ignatius dalam memilih kerasulan: segala hal sifatnya setara, pilih diantara kerasulan tersebut yang akan mempengaruhi mereka yang paling berpengaruh terhadap orang lain. Mungkin pernyataan yang terbaik dari ide ini adalah surat yang ditulisnya tentang pendirian sebuah universitas di bulan Desember 1551: Dari antara mereka yang sekarang ini cuma sebagai murid, pada waktunya sebagian akan memegang berbagai peran, seseorang untuk mewartakan iman dan membimbing jiwa-jiwa, yang lainnya kepada bidang pemerintahan dan kehakiman, yang lain-lainnya kepada panggilan-panggilan lainnya. Akhirnya, karena anak-anak muda akan menjadi pria dewasa, pendidikan yang baik dalam doktrin iman dan kehidupan mereka, akan bermanfaat bagi banyak orang lainnya, dengan buahnya terus tumbuh lebat setiap harinya. Sejak saat itu, Ignatius membantu mendirikan sekolah-sekolah Yesuit dan universitas-universitas di seluruh Eropa dan dunia.

Ignatius sebagai Seorang Manusia

Mungkin benar gambaran tentang Ignatius yang dimiliki orang-orang yaitu sebagai seorang prajurit: kokoh, bersemangat baja, praktis, kurang menunjukkan emosi – jelas bukan suatu karakter yang menarik dan hangat. Akan tetapi jika ini adalah gambaran yang tepat, sulit untuk dicerna bahwa dia bisa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap mereka yang mengenalnya. Luis Goncalves de Camara, salah satu sahabatnya yang terdekat menulis: “Dia (Ignatius) selalu cenderung kepada kasih; bahkan, dia seluruhnya adalah kasih, dan karena itu dia secara universal dikasihi oleh semua orang. Tidak seorangpun dalam Serikat Yesus yang tidak memiliki kasih yang besar terhadapnya dan tidak menganggap dirinya juga sama dikasihi olehnya.”

Kadangkala dia menangis keras pada waktu Misa Kudus sehingga dia tidak dapat meneruskan, bahkan tidak dapat berbicara untuk beberapa waktu, dan dia khawatir bahwa karunia airmatanya bisa membuatnya kehilangan penglihatannya. Goncalves de Camara mengatakan, “Kalau dia tidak menangis tiga kali selama Misa Kudus, dia menganggap dirinya kehilangan rasa penghiburan.” Kita menganggap banyak orang kudus sebagai mistik yang agung, tetapi tidak pernah berpikir bahwa Ignatius adalah salah satu diantaranya. Kita telah menyebutkan sedikit dari banyak penglihatan dan pengalaman mistik yang dialami selama hidupnya. Akan tetapi, kekudusannya tidak didasarkan atas hal demikian, melainkan dalam kasih yang besar yang mengarahkan jalan hidupnya untuk melakukan segala hal AMDG, untuk kemuliaan yang lebih besar bagi Allah.

Saat-saat Ajal

Sejak masih sebagai pelajar di Paris, Ignatius telah menderita berbagai penyakit pencernaan dan keadaan ini memburuk setelah ia pindah ke Roma. Pada musim panas 1556 kesehatannya memburuk, tetapi dokter yang merawatnya berpendapat dia bisa selamat seperti sebelum-sebelumnya. Akan tetapi Ignatius merasa ajalnya sudah dekat. Pada sore hari tanggal 30 Juli, dia meminta father Polanco untuk pergi menemui Sri Paus dan meminta berkat darinya bagi Ignatius, dan menyiratkan kepada father Polanco bahwa ia menjelang ajal. Akan tetapi father Polanco lebih percaya pada kata-kata dokter daripada Ignatius dan menjawab bahwa ia harus menulis banyak surat dan mengirimkannya pada hari itu. Dia akan pergi meminta berkat Sri Paus besok harinya. Meskipun Ignatius menyatakan bahwa dia lebih suka kalau father Polanco pergi sore itu namun dia tidak memaksakan. Segera setelah lewat tengah malam, keadaan Ignatius memburuk. Father Polanco bergegas ke Vatikan untuk meminta berkat Sri Paus, tetapi sayang sudah terlambat. Mantan ksatria duniawi yang telah terlibat dalam medan peperangan yang berbeda itu, telah menyerahkan nyawanya ke tangan Tuhan. Ignatius dibeatifikasi pada tanggal 27 Juli 1609 dan dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622, bersama-sama dengan Santo Franciscus Xaverius. Pesta peringatan Santo Ignatius dirayakan oleh Gereja secara universal pada tanggal 31 Juli, yaitu pada hari wafatnya.

Sumber: flyer dari paroki St.John of God, San Francisco. Diterjemahkan oleh: Jeffry Komala

Sumber : https://jesuits.id/santo-ignatius-loyola-2/