Peranan Bunda Maria Dalam Spiritualitas Ignasian

CLC Jakarta akan mengadakan pertemuan bulan Oktober.

Peranan Bunda Maria dalam Spiritualitas Ignasian

Bunda Maria berperan penting dalam perjalanan Spiritualitas Ignasian, Serikat Jesus, dan CLC (yang pada awalnya bernama Kongregasi Maria). Santo Ignasius sendiri sangat menghayati peranan Bunda dan devosinya kepada Bunda Maria, sangat dalam.

Berdasar itu, di bulan Maria ini, mari bersama dengan pendampingan Romo A. Sudiarja, SJ kita merefresh, mengolah dan merefleksikan tema diatas pada :
Hari Minggu, tanggal 25 Oktober, jam 10-12.

Pertemuan akan diselenggarakan secara virtual (online) melalui Zoom.

Kehadiran Anda sangat berarti bagi teman teman yang lain.

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Ibu Nancy.

Renungan Harian: 25 Oktober 2020

Renungan Harian
Minggu, 25 Oktober 2020

Hari Minggu Biasa XXX
Bacaan I : Kel. 22: 21-27
Bacaan II : 1Tes 1: 5c-10
Injil : Mat. 22: 34-40

K a s i h

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah perjumpaan dengan para pemimpin Sudan, Sri Paus Fransiskus, mencium kaki para pemimpin Sudan tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa Sudan dilanda perang saudara yang tidak berkesudahan. Sri Paus meminta agar pemimpin ke dua kubu untuk menghentikan perang saudara dan berdamai. Permintaan Sri Paus itu diikuti dengan tindakan mencium kaki para pemimpin Sudan tersebut.
 
Tindakan Sri Paus itu menjadi berita yang luar biasa. Seorang pemimpin umat katolik dunia mencium kaki para pemimpin politik dari sebuah negara. Sebuah tindakan yang tidak dipikirkan oleh para pemimpin dunia manapun.
 
Tindakan Sri Paus adalah sebuah tindakan simbolik yang mau menyatakan bahwa konflik hanya bisa diselesaikan dengan saling merendahkan diri. Di dalam perendahan diri itulah ada kasih yang mendalam. Dengan perendahan diri tidak ada lagi saling menyalahkan dan saling merasa lebih berhak.
 
Di samping hal itu dengan tindak simbolik itu Sri Paus menyatakan permintaan yang tulus untuk alasan cinta dan kemanusiaan. Perang telah menjadikan martabat manusia dihilangkan karena dalam perang tidak ada lagi cinta yang ada adalah kebencian. Dengan itu Sri Paus menegaskan bahwa perhatian utama beliau adalah kasih. Beliau mau menyatakan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kasih, dan mengajak semua orang untuk memberikan kasih itu.
 
Dengan tindakan itu Sri Paus dengan tegas menyatakan bahwa Gereja (agama) tidak melibatkan diri dalam politik praktis tetapi Gereja (agama) mengutamakan dan mengusahakan kasih. Sebuah sistem dan atau struktur apapun harus berlandaskan dan bertujuan pada kasih.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
 
Aku yang mengaku sebagai orang beragama dan bertuhan, adakah dalam hidupku selalu memancarkan kasih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 Oktober 2020

Renungan Harian
Sabtu, 24 Oktober 2020

Bacaan I: Ef. 4: 7-16
Injil: Luk. 13: 1-9

Dewasa

Suatu hari saya mengunjungi seorang teman yang sedang sakit. Dia sudah lama menderita sakit dan sudah lama tidak mau dikunjungi oleh siapapun kecuali keluarga intinya saja.
Dalam perjumpaan itu saya bertanya: “Kenapa kamu menyendiri? Banyak teman ingin bertemu lho. Kehadiran mereka bisa menjadi penghiburan bagimu.”
“Betul Wan, kehadiran mereka bisa menjadi penghiburan bagi saya. Tetapi untuk sekarang, saya masih ingin sendiri dulu.” Jawabnya.
“Lho memang ada apa?” tanya saya.
 
“Wan, berita tentang saya sakit cepat menyebar sehingga banyak teman yang menjenguk. Saya senang mendapatkan penghiburan. Tetapi di antara mereka yang datang, banyak membuat saya berkeputusan untuk menyendiri. Saya merasa dihakimi oleh banyak dari mereka. Saya tahu bahwa saya orang berdosa dan pasti butuh pertobatan. Namun kalau sakit saya dianggap sebagai kutukan, itu menyakitkan. Betapa mengerikan kalau orang sakit dianggap sebagai orang terkutuk.
 
“Wan, saya tidak masalah dengan omongan mereka dan penghakiman mereka. Saya sakit, dan saya terima sakit ini sebagai anugerah. Betul Wan, saya menerima sakit ini sebagai anugerah. Dengan sakit ini saya jadi punya waktu untuk diam, hening dan sendiri. Saya bisa melihat diri sendiri siapa diri saya yang sesungguhnya. Saya sekarang jadi lebih mudah bersyukur dan menghargai apapun yang dilakukan istri dan anak-anakku. Aku merasa menjadi orang yang amat beruntung mempunyai mereka.
 
Saya tahu separah dan segawat apa penyakit saya. Saya bersyukur karena dengan ini aku diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri bila saatnya tiba menghadap Dia. Aku juga diberi kesempatan untuk menyiapkan istri dan anak-anakku.
 
Wan, sering kali badanku terasa sakit yang amat sangat, rasanya aku tidak bisa menahannya. Dalam kesendirian aku berjuang untuk menerima dan tidak mengeluh. Aku selalu berjuang untuk tersenyum dan bahagia. Satu hal yang kuharapkan agar di saat terakhir hidupku aku selalu berbagi senyum dan kebahagiaan.
 
Wan, kalau aku tidak mau dijenguk, memang awalnya karena aku tidak ingin mereka yang dengan dalih mendoakan tetapi menghakimi datang. Tetapi sekarang alasanku agar aku lebih banyak waktu untuk keluargaku.” Teman mengakhiri ceritanya.
 
Wow dalam hatiku, sebuah pengalaman iman yang luar biasa. Saya membayangkan kalau ada dalam situasi seperti dirinya belum tentu mempunyai kedewasaan iman seperti dirinya. Ada keteguhan hati meski dihakimi oleh beberapa orang, ada kepasrahan diri yang luar biasa.
 
Seperti kata St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Dengan demikian kita semua akan mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”
 
Bagaimana dengan diriku, sejauh mana sikap dan penghayatan imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 23 Oktober 2020

Renungan Harian
Jumat, 23 Oktober 2020

Bacaan I : Ef. 4: 1-6
Injil    : Luk. 12: 54-59

Berkubu

Di sebuah paroki, dibentuk kelompok koor gabungan, yaitu menggabungkan beberapa kelompok koor lingkungan. Selama ini, kelompok-kelompok koor lingkungan yang melayani setiap kali perayaan ekaristi. Namun seringkali ada kesulitan untuk menentukan kelompok koor mana yang dapat melayani hari-hari besar, seperti Natal, Paskah atau perayaan khusus. Beberapa kelompok koor saat diminta untuk melayani pada hari besar sering kali keberatan karena jumlah anggota koornya sedikit.
 
Dengan pertimbangan di atas, maka dibentuk kelompok koor gabungan; akan tetapi tidak berarti meniadakan kelompok-kelompok koor lingkungan. Dan terjadilah, terbentuk kelompok koor gabungan.
 
Setelah diadakan latihan  beberapa kali, ada beberapa yang mengusulkan agar beberapa orang dari lingkungan tertentu yang belum ikut diajak untuk bergabung karena orang-orang itu suaranya bagus. Atas usul tersebut Koordinator koor paroki mencoba menghubungi orang-orang yang bersangkutan. Beberapa yang dihubungi mengatakan mau bergabung asal bapak itu ikut bergabung. Berdasarkan hal tersebut koordinator koor menghubungi bapak yang dimaksud karena beliau orang kunci  dari lingkungan tersebut.
 
Ternyata, bapak tersebut tidak bersedia bergabung karena alasan kesibukan kerja dan mengurus rumah tangga. Koordinator koor meminta saya sebagai pastor untuk menghubungi beliau dengan harapan kalau pastor yang menghubungi beliau akan mau.
 
Suatu malam saya berkunjung ke rumah bapak itu untuk meminta agar beliau dan beberapa orang di lingkungannya mau bergabung. Dalam pembicaran beliau menyatakan bahwa dirinya dan teman-teman di lingkungannya mau dengan senang hati bergabung namun dengan syarat. Ada dua syarat yang diminta, pertama, dalam kelompok koor gabungan itu tidak ada orang-orang yang beliau sebut, dan kedua pelatihnya bukan orang itu
 
Saya pulang dengan sedih dan galau memikirkan syarat yang diajukan bapak itu. Apakah koor gabungan ini harus mengeluarkan 7 orang anggotanya demi bergabungnya 3 atau 4 orang dari lingkungan bapak tersebut? Sementara 7 orang ini orang-orang yang rajin latihan dan selalu komit. Haruskah kelompok koor gabungan ini mengganti pelatih demi 3 atau 4 orang dari lingkungan bapak tersebut? Sementara pelatih ini orang yang sabar, dan diterima oleh semua anggota kelompok koor gabungan yang ada.
 
Peristiwa di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak peristiwa tentang kubu-kubu dalam sebuah paroki yang  menjurus pada perpecahan. Bahkan peristiwa ekstrem di mana satu kelompok tidak mau ikut ekaristi selama orang itu, atau orang-orang itu masih ikut ekaristi.
Betapa sulit untuk mengatakan Gereja adalah satu tubuh, ketika kubu-kubu itu masih selalu membayangi.
 
Sebagaimana kata St. Paulus dalam suratnya kepada umat Efesus: “Hendaklah kalian selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.”
 
Pertanyaan besar bagiku apakah aku membawa roh pemersatu atau roh pemecah belah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 22 Oktober 2020

Renungan Harian
Kamis, 22 Oktober 2020

Bacaan I : EF. 3: 14-21
Injil    : Luk. 12: 49-53

K a s i h

Beberapa Minggu yang lalu, saya dikejutkan sapaan seseorang yang  parkir di halaman gereja. Sapaan itu mengejutkan karena dia menyapa saya seperti seseorang yang teman sudah lama tidak bertemu, sementara saya merasa tidak mengenal orang itu.
 
“Pagi, romo, apakabar? Sudah lama pindah di sini? Wah akhirnya bisa ketemu, saya seneng banget,” sapanya nyerocos.

“Selamat pagi pak, kabar baik, terima kasih. Iya, sekarang saya tugas di sini,” jawab saya sembari berpikir tentang siapa dia.

“Romo lupa ya dengan saya?” tanyanya seolah mengerti kebingungan saya.

“Romo boleh ngobrol sebentar?” pintanya.

“Oh silahkan, mari-mari kita ke ruang tamu,” jawabku masih bingung.
 
Setelah kami duduk, dia memperkenalkan diri: “Saya Totok romo, yang waktu itu kita pernah ketemu dan ngobrol-ngobrol di gereja Subang.” Melihat saya masih berpikir dia melanjutkan: “Gak ingat ya romo, pasti sulit ya romo, karena romo kan bertemu banyak orang.”
“Maaf mas, saya sungguh-sungguh tidak ingat,” jawabku.
 
“Romo, ingat gak kira-kira 5 tahun lalu ada gembel yang datang ke gereja minta makan? Terus kemudian minta menginap?” katanya mencoba membantu saya untuk mengingat.
“Romo, 5 tahun lalu saya pernah terdampar di Subang, lalu mencari pertolongan ke gereja. Saya bertemu dengan romo, dan saya minta makan karena sudah sejak kemarin malam belum makan kecuali minum air putih. Saya ingat persis peristiwa itu. Romo kemudian mengajak saya makan sambil bertanya-tanya tentang saya.
 
Saya, orang yang cerita ke romo kalau saya adalah orang yang “lontang lantung” tidak jelas dengan hidup saya, sampai saya diusir oleh keluarga saya. Saya ingat waktu itu romo mengatakan: “Orang hidup harus punya mimpi. Untuk meraih mimpi, orang harus berani menata hidupnya.” Lalu romo mengajak saya untuk melihat kemampuan-kemampuan dalam diri saya. Hal yang paling mengejutkan dan membuat saya terhenyak ketika romo mengatakan bahwa saya adalah orang hebat, orang yang luar biasa, hanya belum bisa mengatur hidup. Romo mengatakan kalau saya akan jadi orang yang sukses kalau mau mengatur hidup saya.
 
Romo ingat, setelah makan malam itu romo mengajak saya berdoa di depan gua Maria? Romo mendoakan saya dan memberkati saya. Saya waktu itu minta romo agar diijinkan berdoa sendiri dan tidur di situ; romo mengijinkan.
 
Romo, sejak saat itu saya merasa mendapatkan pencerahan dan kekuatan untuk menjalani hidup. Romo, saya mulai buka usaha kecil-kecilan. Awalnya sulit sekali dan hampir putus asa, tetapi saya ingat pesan romo, harus tekun dan setia.  Entah bagaimana tanpa saya duga, saya bertemu dengan orang yang menawarkan kerja sama usaha. Saya diminta menjalankan usahanya. Saya tidak tahu bagaimana mungkin orang yang tidak saya kenal itu bisa percaya pada saya untuk menjalankan usahanya. Beliau percaya pada saya hanya karena setiap hari saya menawarkan dagangan saya. Beliau tidak pernah beli tetapi saya selalu menawarkan dagangan saya.
 
Romo, hidup saya sungguh-sungguh berubah, saya sekarang sudah berkeluarga dan hidup mapan. Hidup saya penuh mukjizat. Saya mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya pikirkan dan saya bayangkan. Kalau melihat semua yang saya alami, saya hanya bisa bersyukur dan bersyukur. Tuhan membuat sesuatu dalam hidup saya diluar nalar dan mimpi saya.” Dia mengakhiri ceritanya.
 
Sampai dia pulang, saya tetap tidak bisa mengingat siapa dia sesungguhnya. Tapi pengalaman dia amat luar biasa bagi saya. Tuhan berkarya dengan cara luar biasa, seperti istilah yang dia gunakan, Tuhan berkarya diluar nalar dan mimpi manusia.
 
Sebagaimana kata St Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus: “Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau kita pikirkan, seperti ternyata dari kuasa yang bekerja dalam kita.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 21 Oktober 2020

Renungan Harian
Rabu, 21 Oktober 2020

Bacaan I : Ef. 3: 2-12
Injil    : Luk. 12: 39-48

S i a g a

Beberapa tahun yang lalu, saat seorang sahabat saya baru saja mendapat anugerah anak pertama, dia mengabari saya kalau anaknya sudah lahir.

Suaranya ditelpon terdengar begitu ceria dan bangga. Saya mengucapkan selamat dan ikut berdoa untuk keluarganya.
 
Sebulan kemudian saya main ke rumahnya untuk menengok anaknya yang baru lahir. Dalam perjumpaan itu dia banyak cerita tentang bayinya. Seolah setiap pertumbuhan anaknya dari waktu ke waktu tidak pernah lepas dari perhatiannya. Dia bercerita setiap detail perkembangan anaknya dengan penuh kebanggaan.
 
“Wan, aku merasakan pengalaman yang luar biasa dengan kelahiran anakku. Pengalaman syukur, bahagia dan bangga, campur aduk, wah pokoknya luar biasa.” Katanya berapi-api.

“Gak capek ngurus bayi tanpa baby sitter?” tanyaku.

“Wah, kalau pikir capek, ya capek banget, yang pasti kurang tidur. Tapi anehnya ya Wan, meski capek, kurang tidur seperti tidak terasa. Aku pergi ke kantor semangat, tidak ngantuk juga lho. Meskipun tidur saya berkurang dibanding sebelum ada anak, tetapi rasanya cukup.
 
Wan, sebenarnya kalau ngomongin capek, yang paling capek istriku. Dia luar biasa, bisa ngurus anak hampir 24 jam. Dia tidurnya amat sedikit dan mungkin tidak pernah nyenyak. Saya heran, saat dia tidur, anaknya bergerak sedikit, dia bisa bangun. Dia peka banget dengan kondisi bayi kami. Dia lagi tidur lelap, saat bayinya pipis, dia bisa merasa dan bangun. Wah luar biasa banget. Dia betul-betul ibu siaga 24 jam untuk bayi kami.” Dia menutup ceritanya yang penuh kebahagiaan.
 
Kasih sayang ibu pada bayinya, menjadikan ibu mempunyai kepekaan yang luar biasa akan kebutuhan bayinya; ada ikatan rasa yang mendalam dengan bayinya. Semua itu menjadikan ibu selalu siap sedia dan mudah digerakkan oleh kebutuhan bayinya. Cinta yang mendalam menjadikan ibu menjalani semua itu dengan ketekunan dan kesetiaan yang luar biasa. Semua itu dilakukan dengan kebahagiaan sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan rasa lelah.
 
Andai hubunganku dengan Tuhan seperti ibu dan bayinya itu, betapa aku akan selalu siap sedia dan tekun dalam berjaga-jaga. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Hendaklah kalian juga siap-sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak kalian sangka-sangka.”
 
Semua itu dasarnya adalah kasih yang mendalam; maka pertanyaannya, adakah kasih dalam diriku  yang begitu mendalam pada Tuhan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 20 Oktober 2020

Renungan Harian
Selasa, 20 Oktober 2020

Bacaan I : Ef. 2: 12-22
Injil    : Luk. 12: 35-38

Berjaga

Malam itu, ketika saya sedang libur di rumah, saya menemani bapak nonton tv sambil ngobrol “ngalor ngidul”. Malam itu, saya hanya berdua dengan bapak, sedang ibu sedang pergi kondangan dengan teman-temannya ke luar kota.
 
Ketika sedang ngobrol tiba-tiba bapak berdiri. “Sik,” (sebentar) kata bapak sambil berjalan  ke belakang. Saya pikir bapak mau ke kamar mandi. Tetapi bapak tidak segera kembali, saya segera menyusul ke belakang. Saya khawatir kalau ada apa-apa dengan bapak di kamar mandi.
 
Ternyata bapak sedang menuangkan air dari thermos-thermos ke dalam panci yang besar dan menambah dengan air hingga hampir penuh. “Arep diagem apa Pak, kok bengi-bengi arep nggodok banyu?” tanyaku. (Pak mau buat apa kok malam-malam masak air?)
“Iki nyepake banyu panas ben mengko diagem siram ibu,” jawab bapak sambil meletakkan panci besar itu ke atas kompor yang sudah dihidupkan. (ini menyiapkan air panas untuk mandi ibu).

“Lho kok akeh banget ta?” tanyaku. (Kok banyak sekali?)

“Ibu yen kondur seka tindak adoh mesti siram jamas.” Jawab bapak. (ibu kalau pulang dari bepergian jauh selalu mandi keramas)
 
Tidak berapa lama bapak meletakkan ceret ke atas kompor, tetapi kompor tidak dinyalakan. “Iki ditumpangke wae, mengko yen ibu wis rawuh lagi digodhok. Dadi sedheng ibu siram, banyune wis umum.” Kata bapak seolah mengerti keherananku. (ini hanya diletakkan aja nanti kalau ibu sudah pulang baru dimasak, sehingga sementara ibu mandi, air sudah masak)
Setelah itu bapak menyiapkan gelas, diisi gula dan teh; karena ibu senang minum teh tubruk.
 
Kami kembali ke depan dan bapak duduk nonton tv. Saya lihat bapak bertahan untuk tidak tidur, walaupun kelihatan  sudah mengantuk.
“Pak, ibu kondur jam pira ta?” tanyaku. (Pak, ibu pulang jam berapa?)

“ya, mesti tengah wengi, wong resepsine bengi,” jawab bapak. (ya pasti tengah malam, karena resepsinya malam hari).

“Ya wis bapak sare sik wae, aku sing nunggu ibu, mengko yen ibu rawuh, bapak tak wungu,” pintaku. (Bapak tidur dulu saja, saya yang menunggu ibu, nanti kalau ibu pulang, bapak saya bangunkan).

“Ora papa, yen mas Iwan arep bobok, bobok wae,” jawab bapak. (tidak apa-apa kalau kamu mau tidur, tidurlah)
 
Setengah satu dini hari, ibu sampai rumah. Setelah menyapa ibu, bapak ke belakang. Bapak menyiapkan ember besar di kamar mandi. Lalu meminta saya untuk menuangkan air panas yang tadi sudah dimasukkan ke dalam thermos-thermos. Saya menuangkan 3 thermos ke dalam ember yang telah disiapkan bapak. Kemudian bapak mengisi dengan air dari bak sembari tangannya mengecek kehangatan air.
“Djeng, wis gek siram, kae banyune anget wis tak siapke,” kata bapak kepada ibu. (Bu, mandi, itu air hangat sudah saya siapkan)
Bapak kemudian ke dapur menyalakan kompor memasak air untuk bikin teh. Sementara ibu mandi bapak duduk di dapur menunggu air mendidih. Setelah air mendidih bapak menuangkan ke dalam gelas yang tadi sudah disiapkan. “djeng, ngunjuk sik,” kata bapak. (Bu, minumlah dulu).

Bapak menemani ibu minum teh sembari ibu mengeringkan rambut.
 
Sebuah pemandangan yang luar biasa bagi saya. Cinta bapak pada ibu yang begitu besar, membuat bapak sabar menunggu ibu dan menyiapkan segala sesuatu untuk ibu dan membuat ibu bahagia.
 
Dari pengalaman itu, saya sadar dan mengerti, menunggu dan berjaga yang didasari cinta yang besar menjadikan semua dapat dijalankan dengan luar biasa seolah tanpa beban. Andaikan menunggu dan berjaga karena kewajiban  dan keterpaksaan pasti akan menyiksa.
 
Kiranya sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang,” harus dipahami dalam pengalaman cinta.
Berjaga dan menanti dengan penuh kasih menjadikan seseorang siap sedia menyambut kedatanganNya.
 
Adakah aku selalu berjaga dan menanti kedatanganNya dengan hasrat dan cinta yang besar?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Oktober 2020

Renungan Harian
Senin, 19 Oktober  2020

Bacaan I : Ef. 2: 1-10
Injil    : Luk. 12: 13-21

Perpecahan

Suatu ketika saya mengunjungi seorang bapak sepuh. Bapak ini sebelumnya selalu rajin ikut misa pagi, tetapi akhir-akhir ini sudah lemah dan hanya berbaring. Dalam pembicaraan dengan beliau, beliau berkata: “ Pastor, kalau saya boleh ke rumah cucu saya, saya pasti sembuh.” Baru selesai bapak itu bicara, istrinya langsung menjawab: “Gak usah ke sana buat apa? Mereka aja gak pernah mau ke sini.” Saya agak terkejut dengan jawaban ibu itu.
 
Suatu saat saya mengunjungi bapak itu lagi dan bapak itu bercerita: “ Romo, saya merasa gagal mendidik anak-anak saya. Anak-anak saya sejak kecil dimanjakan oleh mamanya. Waktu itu saya pikir baik-baik saja. Tentu kami sebagai orang tua ingin anak-anak bahagia. Ekonomi kami juga baik, sehingga apapun yang anak-anak minta selalu kami penuhi.
 
Sekarang, kami menyesal, karena anak-anak saya walaupun sudah pada berumah tangga masih mengandalkan kami. Mereka sudah kami beri usaha sendiri-sendiri tetapi ya itu pastor, mereka tidak bisa mengelola dengan baik, ya….. karena mereka biasa dimanjakan. Akibat dari itu mereka jadi tidak akur pastor. Mereka berebut harta. Mamanya selalu membela anak-anaknya sementara menantu saya yang sudah janda seperti di anak tirikan. Menantu saya itu bisa mengelola usaha dengan baik sehingga berkembang dan itu yang menjadi sumber iri hati adik-adik iparnya.
 
Pastor, yang paling menyedihkan hidup perkawinan anak-anak saya hampir semua tidak beres. Mereka ke gereja ya ke gereja tetapi perkawinan mereka gak keruan. Saya sudah tidak bisa ngomong lagi, karena kalau ngomong selalu ribut dengan istri. Saya memilih diam.
 
Pastor, sedari muda saya kerja keras, ingin hidup mapan, punya harta untuk mencukupi dan membahagiakan keluarga. Tetapi ternyata bagi saya harta justru membuat saya semakin kesepian dan menderita. Harta jadi sumber pertikaian keluarga. Sekarang pun saya terus dihantui perpecahan anak-anak kami kalau kami sudah tidak ada.” Bapak itu menutup kisahnya.
 
Harta adalah sarana bukan tujuan dalam hidup kita. Sering kali kita terjebak menjadikan harta sebagai tujuan, maka tidak jarang berujung pada penderitaan dan kesepian. Dengan harta berharap kebahagiaan sering kali yang terjadi harta menjadi sumber petaka.
 
Sebagaimana Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “ Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah sadar mana yang tujuan dan mana yang sarana?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 18 Oktober 2020

Renungan Harian
Minggu, 18 Oktober 2020

Minggu Biasa XXIX
Bacaan I  : Yes. 45: 1. 4-6
Bacaan II : 1Tes. 1: 1-5b
Injil     : Mat. 22: 15-21

Penduduk

Setiap kali saya mendapatkan perutusan baru untuk bertugas di sebuah paroki, maka hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mendapatkan informasi tentang paroki di mana saya akan menjalani perutusan. Hal itu amat penting agar saya dapat memulai perutusan di tempat baru dengan baik.
 
Sesampainya di tempat baru, saya mulai memperkenalkan diri, dan mencoba mengenal umat. Butuh waktu lama untuk bisa mengenal umat dan kebiasaan-kebiasaan umat di tempat baru. Disadari atau tidak terkadang saya masih terpola dengan kebiasaan-kebiasaan di tempat yang lama. Sehingga tidak jarang mengalami benturan dalam diri; dan tanpa sadar memaksakan kebiasaan lama saya di tempat yang baru.
 
Selama ini pengalaman berpindah dari satu tempat perutusan ke tempat perutusan lain pola seperti di atas selalu terjadi. Setelah beberapa saat biasanya sudah mulai terbiasa dengan tempat yang baru dengan seluruh kebiasaan dan tata caranya.
 
Ternyata ada satu yang hilang dan hampir tidak pernah saya pikirkan dan saya lakukan adalah bahwa ketika saya mendapat perutusan di suatu tempat baru, saya bukan hanya diutus untuk menjalankan reksa pastoral di tempat yang baru. Satu hal penting yang lain, yang termuat dalam perutusan itu adalah aku diutus untuk menjadi penduduk di tempat yang baru.
 
Perutusan menjadi penduduk berarti perutusan untuk menjadi bagian dari masyarakat di tempat di mana saya diutus. Perutusan itulah yang hilang dalam diri saya ketika saya diutus di tempat yang baru. Sebagai imam seolah-olah aku punya dunia sendiri dan bukan menjadi bagian dari masyarakat setempat.
 
Saya menjadi warga dari sebuah RT, RW dan desa tertentu tetapi saya tidak terlibat sebagai warga di situ. Tidak pernah saya ikut pertemuan bapak-bapak di lingkungan, tidak pernah ikut kerja bakti bersama bapak-bapak di lingkungan, juga tidak pernah terlibat dalam menjaga keamanan kampung bersama dengan bapak-bapak yang lain. Maka tidak mengherankan bahwa saya tidak pernah menjadi bagian dari masyarakat di mana saya tinggal.
 
Betul bahwa saya dikenal oleh beberapa warga di sekitar gereja, tetapi tidak dikenal sebagai bagian dari mereka. Benar bahwa Gereja terlibat dalam beberapa kegiatan besar, tetapi hadir sebagai tamu atau lebih pada kegiatan karitatif. Akan tetapi tidak seperti warga lain yang hadir dan terlibat sebagai warga.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius telah menampar saya dan menyadarkan saya, bahwa perutusan di suatu tempat adalah perutusan untuk menjadi warga masyarakat biasa seperti warga yang lain. Sebagai pastor selalu mengajak dan mengingatkan umat agar terlibat sebagai warga sementara saya tidak terlibat sepenuhnya sebagai warga.
“Berikanlah kepada Kaisar apa wajib kamu berikan Kepada Kaisar”.
 
Perutusan menjadi warga biasa juga berarti menghadirkan Gereja dalam masyarakat. Sehingga Gereja juga menjadi bagian dari masyarakat.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 17 Oktober 2020

Renungan Harian
Sabtu, 17 Oktober 2020

PW. St. Ignatius dari Antiokhia
Bacaan I : Ef. 1: 15-23
Injil    : Luk. 12: 8-12

Berbeda

Di kompleks perumahan itu, seminggu sekali diadakan latihan bela diri untuk anak-anak kecil. Mereka umumnya masih usia Taman Kanak dan Sekolah Dasar. Tujuan utama bukan untuk keahlian bela diri tetapi lebih untuk memberi kegiatan positif untuk anak-anak di kompleks itu. Kompleks perumahan itu banyak dihuni oleh keluarga-keluarga muda, sehingga tidak mengherankan kalau di kompleks itu banyak anak-anak.
 
Dengan kegiatan latihan bela diri itu anak-anak diajar untuk bersosialisasi, mengenal teman dan disiplin. Setiap kali sebelum  dan sesudah latihan anak-anak selalu diajak berdoa. Pelatih akan mengajak anak-anak itu untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing. Sebenernya hanya satu anak kecil yang keyakinannya berbeda. Setiap kali diajak berdoa, anak itu akan bikin tanda salib dan berdoa. Entah apa yang didoakan.
 
Suatu saat bapak bertanya: “Mas, waktu tadi diajak berdoa, mas doa apa?”
“Mas doa Bapa Kami aja, kan waktunya pendek,” jawab anak itu dengan polosnya.
“Lho emang kalau lebih lama mas mau doa apa?” tanya bapaknya lebih lanjut
“Ya doa Bapa Kami dan Salam Maria dong,” jawabnya.
“Mas gak malu gitu doa pakai tanda salib di depan teman-teman?” Tanya bapaknya lagi.
“Ya gaklah Pak, berdoa pada Tuhan Yesus kok malu,”jawab anak itu dengan polosnya.
 
Sikap anak kecil yang berani berdoa di depan teman-temannya hanyalah peristiwa sederhana dan hal yang amat biasa. Akan tetapi pendidikan yang ditanamkan sejak kecil itu akan berdampak besar pada gilirannya. Anak tidak akan malu akan identitasnya sebagai orang katolik dan pada saatnya akan mampu memberi kesaksian tentang imannya.
 
Sebagaiman Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan diriku? Adakah aku berani memberi kesaksian tentang Dia yang kuimani?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.