Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Selamat pagi di hari Waisak yang penuh berkah 🌻

*Teman-teman CLC dan Para Sahabat Ignatius Ytk. *
🌹🥰🍀

Tanpa terasa kita sudah menuju minggu ke 4 di bulan Mei.

Bulan April yang lalu, tidak ada pertemuan komunitas Jakarta, karena kita sibuk dengan perayaan Paskah di paroki masing-masing.

Kiranya akan menjadi sangat berarti kalau kita sebagai komunitas berkumpul lagi di bulan ini.

Pada pertemuan bulan ini, kita akan melanjutkan tema yang lalu, yaitu tentang Latihan Rohani dengan tema : “Pertimbangan dan Diskresi

👨 Pendamping : Rm. A. Sudiarja SJ
🗓 22 Mei 2022
⏰. 10.00 – 12.00
Via Zoom.

Mari Sahabat Ignatius, silakan bergabung dengan mengajak teman yang lain juga.
Kehadiran setiap orang sangat berarti untuk kita semua.
🙏🏻🔥🙏🏻

Sampai jumpa minggu depan 🤗

Salam
AMDG 🔥🌻🪴

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Hai Bestie…
Gimana sepekan ini berjalan?
Masih overthinking? Masih cari partner traveling? Atau lagi butuh healing? Apapun situasimu, pastikan weekendmu positive vibes. Yuk buruan. Daftarkan dirimu dan bestiemu. Ga ada kamu, ga ada kesan, Bestie.
Sunday Morning, Sunday Healing Bersama Christian Life Community
“I heart you”

🗓️ Minggu, 29 Mei 2022
⏰ Pukul 09.30 s.d 12.00 WIB
📍 Aula Realino
Universitas Sanata Dharma, Kampus II USD Mrican, Jl. Affandi, Yogyakarta
☎️ CP 085729611395 (Putri)
💜 Link Registrasi : https://bit.ly/PendaftaranAcaraRefleksiCLCYogya

Acara berlangsung tetap memperhatikan protokol kesehatan

Terimakasih dan Tuhan Memberkati kita semua. Amin

Refleksi Sahabat CLC – “ BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang ”

Dalam rangka menyambut Bulan Maria dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Br. Norbert Mujiyana, S.J. atau yang biasa disapa dengan Br. Norbert, S.J. dengan judul tulisan “BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima Lokal Magelang”.

Br. Norbert, SJ saat ini bertugas sebagai pamong di Seminari Mertoyudan Magelang. Beliau menjadi Pendamping CLC di Magelang (Kelompok Maria Fatima).

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

BUNDA MARIA dan CLC (Christian Life Community) Maria Fatima lokal Magelang

Perutusan Maria : Bunda Allah dan Bunda Kita dalam Rahmat.

Maria: Bunda Allah dan Bunda kita dalam Rahmat “Dan di kaki Salib Yesus berdiri ibu-Nya… Dan ketika Yesus melihat Ibu-Nya dan murid yang dikasihiNya, berkatalah Ia pada Ibu-Nya: “Ibu inilah anakmu!” kemudian kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid terkasih menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19:25-27)

Keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, membiasakan, menanggapi Sabda Tuhan. Sebagai ujud nyata berupaya peduli terhadap sesama, kami beranggapan bahwa, yang terpanggil hidup selibat dalam komunitas Biarawan Biarawati dan berserah kaul TAAT, WADAT, MLARAT, mereka adalah pilihan  Allah.

Sebagai gambaran Sabda, Para Orang Tua Biarawan Biarawati, telah merelakan putra-putrinya untuk melayani Tuhan secara total sesuai dengan komunitas yang dipilihnya. Sudah selayaknyalah para Orang Tua Biarawan Biarawati (‘bagaikan Bunda Maria’) perlu diperhatikan. Kami sebagai keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, menyempatkan, memperhatikan, berkunjung sebagai bentuk sapaan kasih. Tindakan nyata, kami pernah berkunjung ke Orang Tua Rm Leo Agung Sardi, SJ; Orang Tua Rm TB. Gandhi Hartono,SJ; Orang Tua Br Norbert Mujiyana, SJ. Mereka semua juga sebagai Orang Tua kami. Mereka semua merelakan putranya kepada Allah untuk membahagiakan banyak orang, tepatlah kalau kami ikut berbahagia dan menghormati mereka.  Para Orang Tua Romo dan Bruder, pasti mereka  diberikan Rahmat tersendiri dibanding kami sebagai kaum awam oleh Allah. Para Orang Tua Biarawan Biarawati, terutama Ibu mereka adalah Ibu ILAHI, yang mengalir, meluap, terbuka, meluas dan dirasakan banyak orang. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang mengagendakan minimal satu tahun satu kali berkunjung, syukur bisa beberapa kali dalam setahun (minimal saat Paskah atau saat Natal).

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara banyak orang  dan berkata kepada-Nya, “ Berbahagialah Ibu yang mengandung Engkau” dan Susu yang menyusui Engkau” tetapi Ia berkata, yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan FIRMAN ALLAH dan yang memelihara-Nya. (Luk.11: 27-28).

Peristiwa Kalvari, jelas bahwa Maria membawa Kristus kepada dunia. Kristus dan Maria bukan hanya untuk orang Nasaret, tetapi untuk seluruh manusia yang bersatu dengan Kristus dan yang tidak melawan kita.

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, berbahagia diberi kesempatan Tuhan untuk berbagi kasih kepada para Ibu dari para Biarawan dan tidak lepas dari tuntunan Bunda Maria Ibu Yesus. Kami bersama belajar untuk bersyukur, lebih sabar, hidup sederhana, rendah hati, dan ikhlas ketika putera mereka melayani Tuhan. Secara Iman mendalam kami yakin para Orang Tua mereka dipenuhi Rahmat. Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang dalam hidup sehari-hari ikut mendoakan Biarawan biarawati, secara khusus kami berdoa untuk para Romo yang mendampingi CLC. Tidak terlewatkan kami selalu mohon Rahmat dari Bunda Maria Ibu Yesus, yang secara optimal mengabulkan doa-doa permohonan kami. Kami juga berziarah Rohani ke beberapa tempat Goa Maria yang bisa kami jangkau. Prinsip Maria adalah Bunda perantara kami semua dan Bunda Penolong.

Dengan memahami Sabda Tuhan tersebut keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, peduli terhadap banyak orang tanpa membedakan agama, kami membantu mereka yang berkesesakan hidup, kaum papa yang membutuhkan uluran tangan kasih, dan kami berusaha untuk mengajak siapapun yang berkehendak baik untuk Memuliakan Tuhan lewat Sesama diabdi (AMDG). Kami saling merindukan untuk bisa bertemu, karena dalam perjumpaan itulah kami bisa saling menguatkan dan yakin Tuhan ada  ditengah-tengah kami semua. Hal yang rutin kami lakukan di rumah masing-masing adalah mendoakan banyak orang  terutama yang sakit dan yang mengalami kesulitan. Dalam pertemuan rutin setiap minggu ketiga kami berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran, dan dirasa sangatlah mengena, yang akan dibahas disampaikan dengan jelas, dipikirkan bersama, dirasakan bersama  dan diputuskan bersama, dan dilaksanakan bersama sehingga kami semua ringan, nyaman dalam kegiatan dan praktis, sehingga muncul rasa kerinduan untuk ingin bertemu. Kami selalu belajar menerapkan kasih, Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Untuk itu kami melakuakan kehendakNya dengan keterbatasan kami, dan kami semua bersyukur karena masih dipercaya Tuhan untuk diutus dan melayani-Nya. Kami berusaha seoptimal mungkin supaya hidup kami bisa menjadi Berkat bagi banyak orang.

Maria jelas Bunda kita, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut kehendakMu” (Lukas 1: 38). Maria Ibu Yesus yang sangat luar biasa, sangat memperhatikan setiap kata dan tindakan Yesus selembut apapun, Maria adalah murid-Nya, “ikutlah Aku”.

Bunda Maria sebagai Bunda Perantara, ketika pesta  dengan penggandaan lima roti dua ikan perjamuan di Kana (Yoh 2 : 1-12).

Kami keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang, mengimani bahwa Maria adalah Ibu Spiritual, kami semua belajar, meneladan dengan tekun berdoa. Tekun dalam ekaristi, berdoa Rosario, pujian kepada Maria semua itu  merupakan santapan rohani harian bagi kami semua. Nama Maria Bunda Yesus selalu kami sebut dalam setiap peristiwa. Dalam kenyataaan sharing kelompok dalam pertemuan, doa mohon Rahmat dengan pertolongan Maria rata-rata ujub permohonan dikabulkan.

Dengan mendengarkan dan melakukan perintah sang Guru dipadukan dengan kehendak untuk menanggapi kasih keibuan Maria, kita dibentuk sebagaimana Sang Sabda sendiri dibentuk dalam Rahim Perawan dan menjelma menjadi Manusia Baru – Manusia Allah.

Syukur atas kepercayaan Tuhan kepada keluarga CLC Maria Fatima lokal Magelang untuk melayani Tuhan dengan kasih. Kami semua siap diutus Tuhan.  St. Ignatius Loyola doakanlah kami, Santo Santa Pelindung, doakanlah kami. Berkah Dalem Gusti.

Disarikan oleh Ibu Christiana E. Supriyati dan editor Br. Norbert, S.J.

Magelang,  Hari Raya Kerahiman April 2022

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan

.

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

BERZIARAH KE GUA MARIA & BERDOA ROSARIO BERSAMA

Setelah Rosario di Goa Maria Jatiningsih dg Br.. Norbert. SJ

.

Setelah selesai Rosario di Goa Sumur Arum Grabag dengan Br. Norbert, SJ dan Rm. Mario, SJ.

.

(searah jarum jam dari kiri atas) Setelah Rosario di Gereja Boro dengan Br. Norbert, SJ, Setelah selesai Rosario di Gereja Boro Yogyakarta, Ziarah ke Gereja Jago Ambarawa, Setelah selesai Rosario di Gereja Katedral Semarang.

.

Doa Rosario dipimpin Fr. Anes, SJ

MENGUNJUNGI ORANG TUA ASISTEN GEREJANI LOKAL & PENDAMPING CLC Maria Fatima Lokal Magelang

Kunjungan ke Ibu Hardi (Ibunda Rm. TB. Gandhi Hartono. SJ)

Mengunjungi ayahanda Rm Leo Agung Sardi, S.J.

Kunjungan ke ibunda Br. Norbert, S.J.

MENGUNJUNGI ANGGOTA CLC DI MAGELANG YANG SAKIT

Kunjungan Bu Ita (CLC) sakit jantung bocor.
Kunjungan Bpk Giyo (CLC) yang sedang sakit.

.

MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN

Beri bantuan unt Yoga (19 th di kursi dorong).
Ngantar Pakaian Pantas Pakai di Ngablak.

Memberikan bantuan tanaman Lerak di Stasi Tangkil Muntilan.

.

PERTEMUAN ONLINE (lewat zoom)

Minggu, 19 September 2021, pk. 18.00

.

PERTEMUAN OFFLINE (di rumah CLCers)

..

SHARING PERCAKAPAN ROHANI 3 PUTARAN

Pertemuan rutin setiap minggu ketiga: berlatih bersama mengikuti penerapan sinode sesuai ajakan Gereja, dalam penyampaian materi atau permenungan menggunakan metode  tiga putaran

PERSIAPAN KEGIATAN OFFLINE

.

Br. Norbert, SJ, Frater Blasius OSCO dan tim CLC Magelang pesan tempat Retret untuk tgl 8, 9 Juni 2022.

Rm. E. Sapto Jati Nugroho, S.J. menyiapkan materi Retret 8,9 Juni 2022

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Refleksi Sahabat CLC – “HARAPAN ADALAH BENIH KASIH YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Prof. Dr. Antonius Sudiarja, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Dipo, S.J. dengan judul tulisan “ Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang “.

Rm. Dipo, S.J. saat ini adalah Asisten Gerejani Lokal CLC di Jakarta. Beliau saat ini tinggal di Kolese Hermanum, Jakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang

(A. Sudiarja, SJ)

Dari mana mesti kumulai refleksi ini? Hingga saat ini isu pandemi Covid-19 masih belum juga surut, sejak diumumkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia pada bulan Maret 2020. Tentu saja bukan hanya di Indonesia; namanya juga ‘pandemi’ (penyakit yang menjalar cepat di wilayah seluruh dunia) bukan endemi atau epidemi. Isu yang beredar pun berubah-ubah dari waktu ke waktu.  Saya masih ingat di awal-awal merebaknya penyakit ini, berbagai berita lewat media sosial, mengenai korban-korban yang terpapar ( satu orang dari komunitas saya meninggal sesudah dirawat hampir selama sebulan), lukisan penyakit yang mengerikan, suasana yang mencekam, keluarga yang dipisahkan oleh karena penyakit ini, tidak bisa menengok pasien, banyaknya angka kematian, penanganan yang lambat karena kurangnya perlengkapan dan obat-obatan, bahkan banyak  dari antara tenaga medis yang terpapar; kemudian munculnya kontroversi tentang vaksin yang berbeda, perdebatan panas memasuki ranah politik, saling menyalahkan dan mencurigai pihak mana yang menciptakan pandemi ini; Di tanah air ada kelompok yang melanggar larangan kumpul-kumpul, atau menyalahkan pemerintah, hingga perdebatan soal baik-tidaknya menyelenggarakan pilkada di masa pandemi dan masih ratusan persoalan, belum lagi kejahatan dalam penyalahgunaan fasilitas, penipuan dan eksploitasi ekonomis untuk mencari keuntungan di tengah situasi yang sulit.

Dilema yang akut adalah antara pembatasan yang seketat mungkin untuk mencegah penularan, di lain pihak desakan perlunya pelonggaran untuk kegiatan ekonomi, agar kehidupan ekonomi jangan sampai mati sama sekali. Sungguh tidak mudah pemerintahan, tidak hanya di Indonesia tetapi di mana pun, menata kehidupan bersama di masa seperti ini, karena ada banyak kepentingan, pemikiran, pengetahuan dan pengalaman berbeda yang menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan sosial politik. Padahal, dalam ‘situasi darurat’, selalu berlaku prinsip ‘we are in the same boat’; kita berada dalam satu perahu, kalau tidak kompak, kita semua celaka.  

Di beberapa negara di Eropa muncul berbagai protes, dari kalangan masyarakat yang ingin melawan prinsip kebersamaan ini, karena merasa dikungkung oleh peraturan dan pengaturan prokes yang ketat. Maka mereka tidak mau memakai masker dan tidak mau disuruh tinggal di rumah, atau pun dilarang untuk berkumpul-kumpul, karena menganggap ‘pandemi’ sekedar mitos atau isu yang berbau politik-ekonomi, yang mengelabui. Mereka tidak merasa dalam ‘keadaan darurat’. Tentu saja sikap seperti ini berpengaruh pada penanganan pandemi. Saya tidak mau mempersoalkan data dari akibat kebijakan dan reaksi masyarakat ini, melainkan mau merenungkan peristiwa-peristiwa ini dalam rangka refleksi akhir tahun 2021 untuk merajut harapan untuk tahun 2022.

Dari peristiwa-peristiwa di atas, memang tampak bahwa sulit menyatukan pandangan dan kebijakan untuk mengatasi bersama pandemi covid-19. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin hari, individualisme dan pengelompokan semakin berkembang, karena perbedaan keinginan dan pemikiran. Akan tetapi bukankah hal ini juga memperlihatkan bahwa keunikan, perbedaan dan kebebasan manusia semakin dihargai? Masalahnya, apakah keunikan, perbedaan-perbedaan dan kebebasan ini akan mengembangkan kebersamaan sebagai manusia atau menghancurkannya? Hal ini tergantung pada keberanian untuk ‘saling percaya’ dan kerelaan untuk ‘berkorban’. Inilah ukuran dari mutu masyarakat dalam hidup bersama.

Kalau kita perhatikan, sebetulnya banyak juga rahmat kebaikan yang kita terima selama pandemi ini, semacam ‘blessing in disguise’ yang patut kita sadari dan syukuri. Kesetiaan dan kerelaan para tenaga kesehatan yang meresiko hidup mereka dalam tugas-tugas merupakan ‘pengorbanan’ yang luar biasa, di tengah penolakan mereka yang tidak percaya dan meremehkan bahaya pandemi ini; Demikian juga kesediaan membantu dan menyumbang dari berbagai orang, instansi, kelompok-kelompok relawan merupakan rahmat yang kita terima. Kerjasama yang semakin tumbuh dan lain sebagainya.

Ada pepatah Latin (seingat saya dari Kardinal Newman) yang mengatakan: “In necessariis unitas, in dubitas libertas, in omnibus caritas” (Dalam hal yang mendesak perlu kesatuan, dalam keraguan ada kebebasan, dari segala hal cinta kasih). Mudah untuk mengatakan perlunya ‘bersatu dalam keadaan darurat’, tetapi tidak mudah, atau setidaknya masih ada yang ragu-ragu, ‘apakah sekarang ini keadaan sudah (atau masih) begitu darurat’, sehingga mereka ada yang tidak percaya dan menuntut kebebasan. Akan tetapi dan inilah ukuran atau indikasi dari mutu sebuah masyarakat, yakni kalau mereka, atau masing-masing orang, dalam keadaan apa pun melakukan segalanya dalam cinta-kasih.

Kesulitan yang mencolok menyangkut ‘pembatasan kegiatan’ (PMKL), terutama dirasakan oleh orang-orang kecil yang tidak bisa tidak harus bergerak untuk, mencari nafkah kebutuhannya sehari-hari, kalau tidak mau mati; sebab meski lautan (pandemi) mengganas, namun mereka tidak merasa dalam kapal yang sama (‘we are not in the same boat’). Tiba-tiba saya diingatkan pada kisah Buddhis, mengenai burung berkepala dua yang terukir pada dinding candi Mendut. “Jangan mengeluh!”, kata kepala burung yang di atas, yang selalu dapat makanan, “bukankah makanan ku sampai di perut yang sama, untuk kita”. Akan tetapi kepala burung yang di bawah tidak merasa senang, karena tidak selalu mendapat peluang untuk makan. Maka karena sikap kepala burung yang di atas itu, akhirnya ia memutuskan untuk makan makanan yang beracun. Akibatnya burung berkepala dua itu mati.

‘Keadaan darurat’ tidak memberi peluang yang sama bagi setiap orang, ada yang beruntung karena ia kaya sehingga bisa menyimpan makanan, ada yang rugi karena tidak bisa mencukupi makanan sehari-hari. Ada tuntutan moral bagi yang berkecukupan, membantu yang berkekurangan, kalau mau meyakinkan mereka bahwa ‘we are in the same boat’ dan tidak boleh merasa tenang dan senang, seperti kepala burung yang di atas itu. Hal ini juga merupakan indikasi, sejauh mana mutu kehidupan sudah dihayati secara bersama (in the same boat).

Sejauh mana tahun depan 2022 akan memberikan harapan, tergantung sejauh mana tahun 2021 yang berlalu sudah memperlihatkan indikasi-indikasi mutu kehidupan bersama, seperti kesadaran akan rahmat Tuhan, kemampuan untuk bersyukur, kesadaran akan ‘keadaan darurat’ dan kerelaan untuk berbagi atau berkorban, kesediaan membantu mereka yang ada dalam kesulitan. Harapan bukanlah ilusi yang diciptakan dari kekosongan, hanya karena terdorong oleh keinginan, melainkan kasih yang tumbuh dan berkembang dari benih yang sudah ditanamkan, dan orang tetap setia memeliharanya. Semoga demikian.*** 

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

.

BERSAMA CLC di YOGYAKARTA

Natalan di Aula SMA De Britto – 2010

.

.

BERSAMA CLC di JAKARTA

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Divine Love”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Darkness and Light”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Juni 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Friendship with Jesus.” Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 19 September 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in The Service of God“. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 21 November 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN  

JURNAL PUSAT STUDI IGNASIAN – UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

.

.

SEKOLAH TINGGI FILSAFAR (STF) DRIYARKARA – JAKARTA

https://gagasmakna.wordpress.com/tag/stf-driyarkara/

.

.

Sabtu, 23 Januari 2021 — https://www.youtube.com/watch?v=LRa098FHvbk

.

.

Jumat, 6 Maret 2020 – https://youtu.be/5WazMHS1otE?t=450

Komunitas JumPer Daan Mogot – St. Paulus

https://www.facebook.com/103343051027713/posts/misa-jumper-6-maret-2020-oleh-rm-antonius-sudiarja-sj/217047676323916/

.

.

Buku digital yang ditulis oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/penulis/a-sudiarja-s-j

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menjadi-semakin-insani-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menemukan-tuhan-dalam-segala-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/masih-ada-orang-baik-di-sekitar-kita-remah-remah-rohani

.

.

Buku yang diberi pengantar oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://obormedia.com/product/guruku-malaikat-jiwaku/

.

.

https://opac.perpusnas.go.id/ResultListOpac.aspx?pDataItem=Antonius%20Sudiarja&pType=Author&pLembarkerja=-1&pPilihan=Author

.

http://cn.sakikokoide.xyz/author/a-sudiarja

,

.

https://www.kompasiana.com/jeremiasjena/5c1af197ab12ae66f42fa076/pergilah-ke-mana-hati-membawamu#google_vignette

.

.

Kumpulan Esai (tulisan rekan-rekan untuk memperingati Ultah Ke-65 Rm. A. Sudiarja, S.J.)

https://shopee.co.id/Buku-Meluhurkan-Kemanusiaan-A-Sudiarja-i.6970153.5364639134

.

.

https://gerai.kompas.id/belanja/buku/penerbit-buku-kompas/bayang-bayang-kebijaksanaan-dan-kemanusiaan/

Renungan Harian: 18 Mei 2022

Renungan Harian
Rabu, 18 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 15: 1-6
Injil: Yoh. 15: 1-8

Keropos

Di halaman gereja tempat saya menjalani perutusan ada pohon buah yang cukup besar dan sudah tua. Menurut cerita umat yang sudah lama paroki ini dan tahu tentang pohon buah itu, pohon itu pada masanya berbuat lebat dan buahnya amat lezat. Namun saat saya bertugas pohon itu tidak pernah menghasilkan buah. Pohon itu tinggi, besar dan rindang sehingga meski tidak memberikan buah tetap dipertahankan karena sebagai peneduh.
 
Atas saran beberapa orang yang ahli tentang tanaman buah, maka pohon itu disemprot dengan pupuk dan diberi pupuk di tanah sekitar pohon itu. Dan benar, setelah beberapa bulan pohon itu berbuah dan buahnya cukup banyak. Untuk pertama kalinya saya melihat pohon itu berbuah. Beberapa umat yang mengenal pohon itu juga senang bahwa pohon itu berbuah lebat seperti pada masa lalu.
 
Namun demikian ada keanehan pada pohon buah itu. Ada satu dahan yang sama sekali tidak ada buahnya sama sekali padahal kalau melihat daunnya yang rindang maka kelihatan bahwa dahan itu mendapatkan nutrisi yang sama. Hampir semua yang melihat pohon itu heran dengan salah satu dahan besar yang tidak menghasilkan buah.
 
Seorang teman mengusulkan agar dahan itu  dibor untuk disuntik nutrisi agar pada saatnya menghasilkan buah. Pada saat kami mengebor kami terkejut karena bagian yang kami bor ternyata dalamnya berongga. Kami mencoba bergeser agar mendapatkan bagian dari dahan itu yang tidak berongga. Namun hasilnya sama, kami mendapatkan bagian yang berongga. Kami menduga bahwa ada bagian dahan itu yang berongga sehingga kami mencoba memotong salah satu ranti untuk melihat keadaan dahan itu. Ternyata dahan itu berongga sehingga kami memutuskan untuk memotong dahan itu. Saat kami memotong kami melihat bahwa dahan itu sudah keropos di dalamnya; itulah mengapa menjadi berongga.
 
Kami menjadi mengerti mengapa dahan itu tidak menghasilkan buah sebagaimana dahan-dahan yang lain. Meskipun berdaun lebat nampak baik dan subur ternyata dalamnya keropos dan tidak menghasilkan buah. Meskipun nampaknya masih menempel pada batang pohon tetapi tidak mendapatkan nutrisi yang seharusnya.
 
Dahan yang keropos menjadi gambaran banyak orang yang terlihat luar biasa tetapi sesungguhnya tidak memberikan buah karena dalamnya keropos. Penampilan luar biasa tetapi sesungguhnya tidak ada sesuatu yang ditawarkan olehnya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Mei 2022

Renungan Harian
Minggu, 15 Mei 2022
Hari Minggu Paskah V

Bacaan I: Kis. 14: 21b-27
Bacaan II: Why. 21: 1-5a
Injil: Yoh. 13: 31-33a. 34-35

Pengganggu

Beberapa tahun yang lalu seorang teman bercerita tentang situasi perusahaannya. Dia merasa bahwa  suasana kerja di perusahaannya semakin hari semakin tidak nyaman. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya tetapi juga oleh semua karyawannya.

Dia sendiri bingung dengan suasana yang terjadi di perusahaannya. Dia mengatakan bahwa awalnya suasana kerja di perusahaannya amat menyenangkan, semua merasa menjadi saudara satu sama lain. Suasana kerja saling membantu amat terasa dan semua dengan rela dan bahagia membantu bagian lain. Tidak ada satu karyawan pun yang merasa bahwa pekerjaanku adalah pekerjaanku dan pekerjaanmu adalah pekerjaanmu. Apa yang terjadi sekarang sungguh-sungguh berubah. Semua karyawan seolah-olah bersaing satu sama lain. Mereka hanya berpikir tentang pekerjaannya sendiri, sehingga ketika diminta bantuan mereka bisa marah. Bahkan tidak jarang mereka saling menjatuhkan.
 
Teman saya sudah berusaha dengan berbagai cara untuk membangun suasana agar kembali seperti pada awal dulu. Beberapa kali dia mengundang trainer dan motivator untuk membantu, namun tidak membuahkan hasil. Bahkan pada saat training pun kelihatan bahwa mereka sulit untuk disatukan. Hal itu membuat teman saya sedikit frustasi. Dia sempat berpikir untuk mengganti semua karyawan sehingga ada suasana baru dan membangun budaya baru.
 
Sampai suatu ketika teman saya bertemu dengan seorang imam yang mempunyai kemampuan untuk “melihat”. Imam itu mengatakan bahwa ada seorang karyawan yang menjadi sumber “kekacauan” dalam perusahaannya. Karyawan itu diduga  bekerjasama dengan kuasa-kuasa gelap untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Tanpa disadari bahwa hal itu akan menghancurkan dirinya dan perusahaan tempat dia bekerja. Teman saya bingung, satu sisi dia percaya dengan apa yang dikatakan imam itu namun sulit untuk membuktikan.
 
Suatu ketika teman saya mengadakan acara mengundang imam itu. Entah kebetulan atau bagaimana karyawan yang dimaksud minta ijin ada acara keluarga. Dan apa yang terjadi dalam acara itu, semua karyawan bisa menikmati acara dan beberapa game kerjasama yang dibuat oleh imam itu dapat berjalan dengan baik. Semua karyawan dapat bekerja sama dengan baik; mereka saling membantu; saling mendukung; hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
 
Teman saya tetap sulit untuk membuat keputusan mengeluarkan karyawan yang diduga bekerja sama dengan kuasa gelap itu karena tidak ada alasan obyektif. Namun tidak berapa lama karyawan itu mengundurkan diri. Percaya atau tidak sejak karyawan itu mengundurkan diri suasana perusahaan berubah total. Suasana yang diharapkan oleh teman saya sekarang terjadi di perusahaannya. Dan suasana itu terjadi begitu saja begitu karyawan itu mengundurkan diri.
 
Saya tidak mengerti dunia semacam itu, namun saya percaya bahwa roh jahat bisa menggunakan manusia untuk menunjukkan kuasa gelapnya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Yudas yang sudah dikuasai roh jahat pergi untuk menjalankan rencananya tanpa mempedulikan guru dan teman-temannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 14 Mei 2022

Renungan Harian
Sabtu 14 Mei 2022
Pesta St. Matias, Rasul

Bacaan I: Kis. 1: 15-17. 20-26
Injil: Yoh.15: 9-17

Pak Guru

Beberapa tahun yang lalu ketika saya dalam perjalan tugas ke pedalaman di luar Jawa, saya bertemu dengan seorang mantan frater adik kelas saya. Saya terkejut bahwa bertemu dengan dia di tempat yang amat jauh. Dia pun terkejut bertemu dengan saya; dia tidak menduga bahwa bertemu dengan saya.
 
“Mas, kok bisa tersesat di tempat ini?” tanya saya sambil bercanda. Meskipun dia adik kelas saya di seminari tetapi umurnya lebih tua.

“Melarikan diri mo,” jawabnya sambil tertawa.

“Wah hebat, berani sampai di tempat ini,” kata saya.

“Ah biasa saja mo, tidak ada yang istimewa,” jawabnya.

Pembicaraan kami tidak bisa lebih lama, karena acara harus segera mulai.
 
Ketika berlangsung acara, saya tahu apa yang menjadi pekerjaan dan karya teman saya itu. Dia seorang guru dan seorang tokoh dan penggerak masyarakat. Dari cerita romo dan beberapa tokoh mengatakan bahwa teman saya telah menjadi tokoh yang luar biasa. Banyak karya-karya besar telah dikerjakan bersama dengan masyarakat bukan hanya di lingkungan tempat tinggalnya tetapi telah meluas ke daerah-daerah lain. Bahkan seorang romo menyebut bahwa dia telah berperan seperti camat (bahkan bupati) dan lebih dari pastor paroki. Artinya dia berkarya dalam gereja dengan luar biasa demikian pula di tengah masyarakat.
 
Ketika acara hari itu sudah selesai, saya mencari waktu untuk ngobrol dengan teman saya itu.
“Mo, saya sampai disini sebenarnya saya menjauh dari lingkungan keluarga dan teman-teman. Setelah saya keluar dari seminari saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menjadi guru di tempat ini. Saya langsung menerima karena memang saya ingin “melarikan diri”. Sampai di tempat ini saya bahagia karena tidak ada yang mengenal saya dan latar belakang saya, kecuali bahwa saya guru.
 
Hal itu membuat saya menjadi lebih mudah bergerak, mudah bergaul dan kemudian diterima oleh masyarakat di sini. Oleh karena itu saya dapat melakukan banyak hal dan rasanya banyak ide saya bisa diterima dan dapat dikembangkan disini. Sehingga saya merasa amat berkembang di tempat ini. Sekarang ini saya merasa bahwa saya memang diutus di tempat ini. Betul bahwa awalnya saya “melarikan diri” namun tempat pelarian ini menjadi tempat saya berkembang dan merasa bahwa saya diutus.
 
Mo, saya ingat apa yang dikatakan pembimbing rohani saat saya memutuskan mundur dari seminari. Beliau mengatakan: “Untuk menjadi pelayan dan alat yang baik bagi Tuhan tidak harus menjadi Imam. Kiranya kamu diutus untuk menjadi garam dan terang di suatu tempat bukan sebagai imam. Di sana kamu akan lebih berkembang dan berbuah banyak.” Dan itu sekarang saya merasakan kebenarannya,” teman saya bercerita.
 
Kisah yang luar biasa yang disharingkan teman saya. Dan sungguh untuk memanggil dan mengutus setiap orang dengan cara yang luar biasa agar menghasilkan buah. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Mei 2022

Renungan Harian
Jumat, 13 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 13: 26-33
Injil: Yoh. 14: 1-6

Camping

Beberapa waktu yang lalu saya menemani anak-anak misdinar camping. Dalam pertemuan persiapan terakhir, diputuskan bahwa beberapa misdinar senior berangkat lebih dahulu untuk memasang tenda dan mempersiapkan beberapa hal yang nanti akan dibutuhkan di sana. Sedang peserta yang lain akan berangkat kemudian sambil menunggu beberapa anak yang pada hari itu masih sekolah hingga siang.
 
Saya dan peserta camping berangkat menggunakan truk. Kami meminjam dua buah truk militer untuk mengangkut peserta dan perbekalan. Waktu keberangkatan agak terlambat dari waktu yang telah ditentukan karena ada beberapa anak yang datang terlambat.  Sepanjang jalan kami bersuka cita, bernyanyi dan bercanda. Ketika sampai ke daerah dimana kami mau camping, hari sudah mulai gelap meski demikian tidak mengurangi kegembiraan kami. Tak berapa lama, kendaraan berhenti, pengemudi bertanya apakah benar ini jalan yang harus kami tempuh. Menurut pengemudi, semakin lama jalan semakin menyempit dan rasanya bukan seperti jalan yang biasa dilalui kendaraan. Saya yang tidak tahu jalan karena belum pernah ke area dimana kami akan camping, saya minta waktu untuk bertanya ke teman-teman yang sudah mendahului.
 
Dalam pembicaraan dengan teman-teman yang sudah mendahului, mereka meyakinkan bahwa itu jalan yang benar menuju area tempat dimana kami mengadakan camping. Teman-teman juga menginformasikan bahwa mereka telah mendirikan tenda dan menyiapkan keperluan untuk makan malam. Setelah mendapatkan informasi dari teman-teman, kami melanjutkan perjalanan. Namun tidak berapa lama berhenti kembali. Pengemudi tidak yakin dengan jalan yang kami lalui, menurutnya jalan ini berbahaya sehingga mereka ragu. Saya mencoba meyakinkan namun tidak berhasil. Dari pada berdebat saya meminta teman yang sudah sampai untuk menjemput kami agar pengemudi yakin dengan jalan yang kami lalui.
Akhirnya setelah dijemput pengemudi dengan yakin mengendarai truk dan menghantar kami sampai ke tujuan dengan selamat.
 
Dalam perjalanan imanku, seringkali seperti perjalanan menuju tempat camping. Aku  beriman akan Tuhan yang sudah mendahului, aku  tahu jalan yang harus  ku tempuh namun bila menemui hambatan menjadi ragu apakah benar jalan ini yang menghantar aku sampai ke tujuan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan injil Yohanes: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Mei 2022

Renungan Harian
Kamis, 12 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 13: 13-25
Injil: Yoh. 13: 16-20

Kecewa

“Romo, kami pindah ke kota ini sungguh-sungguh mulai dari nol. Kami mempunyai sedikit tabungan untuk memulai hidup di tempat ini. Meski semua serba sulit karena kami serba kekurangan namun di sini kami merasa lebih aman dan tenteram.
 
Romo, kami pindah dan merantau disini karena kami menjadi salah satu korban kerusuhan di kota kami. Kerusuhan yang menghabiskan semua yang telah kami usahakan dengan susah payah. Meski kami tetap bersyukur karena kami semua bisa tetap hidup. Romo, pengalaman itu sungguh-sungguh menjadi pengalaman traumatic bagi kami sekeluarga maka kami memutuskan untuk pindah dari kota kami. Awalnya kami tidak punya gambaran kemana harus pindah, syukurlah seorang teman membantu kami untuk pindah dan tinggal di kota ini.
 
Romo, kami tidak dendam dengan mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu. Saya tahu bahwa mereka hanyalah orang-orang yang diprovokasi. Tetapi kami menjadi terluka dengan salah satu karyawan kami. Dia itu ikut kami sejak masih SD. Orang tuanya sudah tidak ada, dia ikut dengan neneknya. Suatu saat ada kenalan kami di gereja yang cerita tentang anak itu lalu kami pikir baik kami menolong. Dia kami ambil dan kami perlakukan seperti anak sendiri. Kami tidak pernah membeda-bedakan antara dia dan anak kami. Kami selalu makan bersama di meja yang sama dan makanan yang sama. Dia sekolah dan tumbuh bersama dengan anak-anak kami.
 
Tetapi pada saat kerusuhan dia justru ikut memporak porandakan rumah bahkan dia yang memimpin orang-orang untuk masuk dan membakar rumah kami. Di saat kami semua ketakutan dia tidak peduli seolah tidak melihat dan tidak kenal dengan kami. Itu romo yang membuat kami terluka dan dendam sampai sekarang. Mengapa orang yang sudah kami anggap anak sendiri yang tumbuh bersama kami tetapi justru di saat seperti itu melawan dan menghancurkan kami,” pasangan suami istri itu berkisah.
 
Dalam banyak hal dalam hubunganku dengan Tuhan, aku juga sering berlaku seperti anak muda dalam keluarga itu. Aku mendapatkan banyak rahmat, banyak permohonanku dikabulkan tetapi sering aku mengingkari Tuhan untuk mencari kesenanganku sendiri. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.”
 
Iwan Roes

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 11 Mei 2022

Renungan Harian
Rabu, 11 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 12: 24-13: 5a
Injil: Yoh. 12: 44-50

Kesepian

Sore itu, saya menerimakan sakramen orang sakit kepada seorang bapak yang dirawat di sebuah rumah sakit. Bapak itu sudah sakit yang cukup parah meski usianya masih terbilang muda. Saat ibadat penerimaan sakramen orang sakit saya hanya ditemani suster perawat .tidak ada satu orangpun anggota keluarga yang menemani. Suster perawat itu mengatakan bahwa keluarganya sudah diberi tahu akan adanya ibadat ini tetapi semua sibuk sehingga tidak ada yang bisa datang.
 
Setelah ibadat pengurapan orang sakit, saya ngobrol dengan bapak yang sedang sakit itu.

“Romo, inilah keadaan saya sehari-hari yang sesungguhnya, saya selalu sendiri dan kesepian. Mereka semua sudah tidak peduli lagi dengan saya. Saya rasa kalau saya meninggal lebih baik dan membahagiakan mereka semua. Sesungguhnya saya heran dengan mereka, untuk apa saya diobati kalau kematian saya membuat mereka bahagia. Sering saya berpikir bahwa mereka mempertahankan hidup saya agar saya menderita lebih lama,” bapak itu bercerita.

Cerita bapak itu terputus karena kedatangan anak perempuannya yang membawa makanan untuk bapaknya.
Saya terkejut, saat anak perempuannya menyiapkan makanan yang dibawanya bapak itu marah dan membuang makanan itu di lantai sembari ngomel bahwa makan itu tidak layak untuk dirinya. Anak perempuan itu nampak tenang, diam tidak menjawab semua omelan bapaknya. Dia menghubungi suster agar membantu membersihkan lantai. Melihat situasi yang tidak menyenangkan itu, saya mohon pamit. Anak perempuan itu mengantar saya keluar.
 
“Maaf, romo dengan sikap bapak saya. Bapak itu  sejak sebelum sakit memang mudah marah. Kami, ibu dan adik-adik sudah kenyang dengan caci maki bapak yang tidak jarang disertai dengan sifat ringan tangannya. Sesungguhnya kami sudah tidak tahan dengan sikap bapak, tetapi ibu selalu mengatakan apapun itu beliau adalah bapak kami. Ibu selalu berharap bapak suatu saat berubah.
 
Saya heran dan kagum dengan ibu yang tetap mau bertahan dan melayani bapak meski diperlakukan amat tidak pantas. Bapak tidak bekerja setiap hari hanya berurusan dengan kesenangannya sendiri, sedang ibu yang membanting tulang untuk menopang kehidupan keluarga. Ibu yang sudah kerja keras luar biasa tetapi selalu mendapatkan luka batin dan fisik bila keinginan bapak tidak dipenuhi. Bahkan disaat bapak sakit beliau tetap saja bertindak yang menyakitkan bagi kami seperti yang romo lihat.
 
Tapi yang membuat kami sering menjadi lebih sakit, bapak selalu bercerita ke setiap orang bahwa kami tidak memberi perhatian kepada beliau. Beliau selalu bercerita bahwa dirinya seperti habis manis sepah dibuang seolah semua hal yang kami  dapatkan adalah hasil kerja keras bapak. Jadi sering kami menjadi malu  kalau teman-teman bapak menasehati kami agar memberi perhatian ke bapak agar tidak menjadi anak-anak yang durhaka. Untunglah semua keluarga bapak sudah tahu dengan “kelakuan” bapak,” anak perempuan itu bercerita.
 
Kesepian yang dialami bapak akibat dari perbuatannya sendiri. Dia memilih cara hidupnya yang demikian. Dia selalu merasa bahwa dirinya orang paling baik dan benar akibatnya dia tidak mampu melihat dan mendengar hal yang lebih baik dan lebih benar. Dalam rasa sebagai orang paling baik dan benar dia hidup dalam kegelapan rasanya sendiri.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu, jangan tinggal di dalam kegelapan.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 10 Mei 2022

Renungan Harian
Selasa, 10 Mei 2022

Bacaan I: Kis. 11: 19-26
Injil: Yoh. 10: 22-30

Menutup Mata

Berita di media sosial berkaitan dengan situasi politik semakin marak dan semakin tajam. Sisa-sisa perpecahan kelompok akibat pemilu yang lalu meski sudah sekian tahun lalu masih ada bahkan dimunculkan lagi. Apa yang muncul dalam berita-berita itu menjadikan banyak hal kabur mana yang benar dan mana yang hoaks.
Berita-berita yang mewartakan data-data yang benar dianggap hoaks sedangkan data-data hoaks dianggap benar.
 
Kelompok yang sebut saja “anti” pemerintah selalu menyebut bahwa pemerintah telah gagal menjalankan tugasnya. Sehingga mereka menuntut agar presiden turun dan pemerintah diganti oleh kelompok mereka. Kelompok ini selalu mengomentari apapun yang dibuat oleh pemerintah dengan nada negatif. Apapun yang dibuat pemerintah sebagai sesuatu yang salah atau bahkan dianggap hanya sekedar pencitraan. Sementara itu kelompok yang sebut saja “pro” pemerintah memuji-muji bahwa pemerintah telah berhasil menjalankan tugasnya. Mereka menunjukkan data-data yang menunjukkan keberhasilan pemerintah. Semua kritik dan komentar kelompok “anti” pemerintah selalu dijawab atau dibuat berita yang menunjukkan bahwa kritik dan komentar itu salah. Apa yang terjadi adalah perang opini yang sering kali disertai data-data. Soal mana yang benar tentang data-data itu tidak tahu.
 
Situasi menunjukkan bahwa apapun yang dianggap sebagai bukti keberhasilan pemerintah tidak pernah akan dipercaya. Semua pertanyaan, pernyataan dan kritik yang dialamatkan kepada pemerintah dan menuntut pembuktian kinerja pemerintah, seolah sebuah pertanyaan, pernyataan atau kritik yang bersifat retoris saja karena tidak membutuhkan jawaban. Apapun jawaban dan bukti yang diberikan tidak akan dipercaya. Demikian pula kritik, pernyataan yang mungkin benar dari kelompok “anti” pemerintah juga dianggap sebagai “angin lalu”. Semua itu bersumber pada kepentingan yang berbeda. Kepentingan telah menyebabkan “mata tertutup”. Semua hal tidak berguna sejauh tidak memenuhi kepentingannya.
 
Situasi ini kiranya menggambarkan situasi pengalamanku dengan Tuhan. Aku sering kali mengeluh, bertanya dan bahkan marah dengan Tuhan karena kepentinganku tidak terpenuhi. Aku sering mencari bukti-bukti bahwa Tuhan mencintai aku, hadir dan terlibat dalam diriku. Namun apapun yang kuterima dan kualami tidak pernah menjadi bukti bahwa Tuhan sungguh-sungguh mencintai, hadir dan terlibat dalam hidupku karena tidak memenuhi kepentinganku.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Aku telah mengatakannya kepada  kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.