Refleksi Sahabat CLC – “MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN”

Dalam merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Internasional) yaitu pada tanggal 5 Juni 2021, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC Rm Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ, M.Sc. atau Rm. Wir, SJ.

Rm. Wir SJ berkenan berbagi/ sharing refleksi tulisan yang menyangkut kedua hal di atas berjudul “Menjalani Pertobatan Ekologis Secara Ignasian”.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.


MENJALANI PERTOBATAN EKOLOGIS SECARA IGNASIAN

P. Wiryono Priyotamtama, SJ

Suatu hari seorang teman dosen mentraktir penulis untuk bisa menikmati bakmi kesukaannya : bakmi Jamur Vegan Vegetarian. Sambil menikmati bakmi, dia cerita tentang mengapa dia sejak lima tahun yang lalu memutuskan untuk menjalani pola makan kaum vegetarian. Ia sedang menjalani sebuah pertobatan ekologis. Bertobat dari kebiasaan makan dengan lauk serba daging, ke kebiasaan makan dengan lauk non daging. Demi menjaga kesehatan, demikian alasan yang disampaikan.

Kembali dari makan bakmi traktiran teman, penulis tergerak untuk ikut berpikir  tentang perlunya merawat kesehatan dirinya. “Demi menjaga kesehatanku mengapa aku tidak tertarik dengan pola makan vegetarian? Ah, bukan tidak tertarik tetapi tidak mungkin ! Sebagai seorang yesuit aku hanya bisa makan menurut apa yang disajikan oleh komunitasku di meja makan. Pertobatan ekologisku harus memilih cara lain!” Demikian gerak batin penulis memberikan pembenaran. Dasar pembenaran ini bisa kita kaitkan dengan faham Ignatius tentang siapakah kita ini sebagai manusia,  untuk apa manusia diciptakan, dan bagaimana cara hidup ekologis selayaknya selalu menjadi pilihan kita? Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa diperoleh dengan mengikuti pencerahan yang dihasilkan oleh gerak batin kita. .

Siapakah kita ini sebagai manusia? Pertama, kita ini makhluk ciptaan. Sebagai ciptaan,  kelangsungan hidup kita tergantung pada Sang Pencipta. Tergantung pada rencana ilahi yang ditetapkan untuk setiap barang atau makhluk hidup yang Ia ciptakan. Segala sesuatu yang tercipta memiliki nilai khusus di mata Sang Pencipta. Kedua, manusia sebagai ciptaan diberi keistimewaan yakni diciptakan menurut citra Sang Pencipta. Citra utama Sang Pencipta adalah penuh kasih. Manusia diciptakan dengan citra utama ini yakni mampu dikasihi dan mampu mengkasihi. Bahkan lebih jauh kemanusiaan kita sebenarnya merupakan sebuah ekosistem afektif Allah kita.  Relasi kita sebagai manusia dengan Sang Pencipta bisa sangat intim bahkan menyatu sebagaimana kita temukan dalam diri Yesus Kristus.

Untuk apa manusia diciptakan?  Latihan Rohani St. Ignatius mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Pertanyaan yang perlu dilontarkan di sini adalah bagaimana kita memahami dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain agar benar-benar bisa menjadi penolong bagi kita? Dengan cara mengeksploitasi? Pasti tidak. Dengan cara apa? Di sinilah relevansi pertobatan ekologis  kita yakni untuk berubah dari cara eksploitatif  atau menguasai ke cara lain yakni merawat, melestarikan, dan memperlakukan ciptaan-ciptaan lain seperti Sang Pencipta memperlakukan. Manusia yang diciptakan menurut citra Sang Pencipta harus selalu belajar dari Sang Pencipta dalam memperlakukan segala sesuatu yang tercipta di muka bumi.

Bagaimana mengusahakan agar gerak batin kita selalu mengarah ke pilihan pertobatan ekologis? Pertama, yang dimaksudkan dengan gerak batin seperti diajarkan dalam Latihan Rohani St. Ignatius adalah gerak roh dalam kedalaman hati kita. Gerak roh ini bisa membawa keinginan atau hasrat, pikiran, dan perasaan  kita ke arah hal-hal baik atau hal-hal kurang baik atau jahat. Kedua, kita usahakan agar gerak batin kita selalu mengarah kepada kebaikan dan bukan kejahatan. Untuk ini kita bisa selalu melakukan pemeriksaan batin terkait ke arah mana hasrat, pikiran, dan perasaan kita digerakkan dan roh macam apa telah menggerakkan. Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Ignatius Loyola sebagai pemeriksaan batin harian. Praktek pemeriksaan batin ini sangat membantu dalam usaha kita menjalani pertobatan ekologis yang arahnya selalu mengedepankan kebaikan-kebaikan bersama.

Apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam kategori kebaikan-kebaikan bersama? Semua saja yang bisa kita kaitkan dengan pemeliharaan relasi afektif yang sehat  dengan diri kita sendiri, lingkungan, sesama, dan Allah yang masing-masing ataupun keseluruhan merupakan ekosistem afektif Allah sendiri.  Segala-sesuatu dipersatukan dalam ekosistem afektif Allah ini. Kitapun bisa menemukan Allah di dalam segala sesuatu. Di dalam pilihan temanku menjadi seorang vegetarian, aku bisa menemukan bagaimana Allah telah menggerakkan hatinya untuk memilih pola hidup yang terbaik bagi dirinya di usia menjelang 60 tahun. Dengan menjadi vegetarian kerja sistem pencernaan tubuhnya menjadi lebih ringan, gangguan obesitas menghilang, kolesterol menjadi normal, dan keluhan tekanan darah tinggi tak lagi terdengar. Pendek kata kesehatan tubuhnya menjadi lebih terpelihara. Hidupnya menjadi lebih ceria. Dalam refleksi kita bisa menyatakan bahwa dalam tubuh  yang sehat kita jumpai jiwa yang sehat. Relasi-relasi  afektif yang dibangun oleh jiwa yang sehat pastilah menciptakan pertumbuhan ekosistem tubuh, keluarga, komunitas, tempat kerja, masyarakat, dan Gereja yang sehat.

            Ada tiga rahmat yang bisa kita harapkan dari Tuhan lewat pertobatan ekologis kita seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si.  Ketiga rahmat tersebut adalah : 1) perdamaian diri kita dengan seluruh alam ciptaan (LS 218), 2) tumbuhnya semangat murah hati (LS 220), dan 3) terciptanya daya kreativitas dan antusiasme lebih besar dalam usaha memecahkan masalah-masalah dunia saat ini (LS 220). Tergerak hati penulis untuk selalu memohon rahmat-rahmat ini di saat-saat sedang menjalani pertobatan ekologisnya. Apa bentuk kongkritnya? Bisa disebutkan di sini : senam pagi 30 menit dengan gerakan-gerakan Taichi, jalan kaki 60 menit di sekitar rumah, menyelesaikan penyusunan buku ajar  mata kuliah lintas program studi Healing Earth  di Universitas Sanata Dharma, dan mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul. Inilah bentuk pertobatan ekologis yang dipilih penulis. Intensi pertobatan ekologis penulis adalah kombinasi antara kesehatan ekosistem afektif diri sendiri dan pembentukan  ekosistem afektif mahasiswa dan masyarakat yang sedang penulis dampingi saat ini.

                                                                              Girisonta, 30 Mei 2021

Mendampingi masyarakat Dukuh Karang dalam proyek pembangunan Eco Camp Mangun Karsa di Pantai Grigak, Gunung Kidul

Kelompok olah raga Taichi USD yang diikuti oleh Rm Wir

MENJADI SAHABAT CLC

Acara Awal Tahun Baru 2019 di Pastoran Paingan (Pradnya Laksita) Yogyakarta

Tentang Rm. Wir SJ (2020)

(sumber : https://books.google.co.id/books/about/Buku_Ajar_Pendekatan_Ilmiah_Lanjut.html?id=UWruDwAAQBAJ&redir_esc=y )

P. Wiryono Priyotamtama SJ, lahir di Madiun pada tanggal 8 September 1947. Mata pelajaran Biologi menjadi mata pelajaran paling disukai sejak menjadi siswa di SMP dan SMA Seminari Menengah Mertoyudan Magelang. Menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan berbagai kegiatan penelitian bidang Morfologi Tanaman dan Mikrobiologi, diantaranya praktek pengelolaan perkebunan di Perusahaan Perkebunan di Siluwok Sawangan Batang, dan penelitian lapangan di calon waduk Gadjah Mungkur, Wonorigi, pemukiman transmigran di Sitiung Sumatra Barat, dan Way Abung di Lampung, dan di tempat-tempat lain.

Gelar Educational Doctor (Ed.D) (1986) dari Oklahoma State University Stilwater, Oklahoma, USA, dalam bidang Pendidikan Pertanian. Sejak saat itu seluruh hidupnya diabdikan sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi yakni sebagai dosen tetap di Universitas Timor Timur di Dili, Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang, dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta. Mata kuliah yang paling sering diampu adalah Metode Penelitian, Pendekatan Ilmiah Dasar, Pendekatan Ilmiah Lanjut, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Budidaya Taman dan Hewan, Botani Ekoomi, dan mata kuliah Ilmu Lingkungan yangdiberi nama Healing Earth.

Dosen luar biasa di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1986 sampai dengan Maret 2020. Sejumlah pengalaman pengabdian yang pernah dijalani antara lain: menjadi Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993), Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996), Pimpinan Serikat Yesus Provinsi Indonesia di Semarang (1996- 2002), Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003), Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005), Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014), dan Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

Beliau saat ini berdomisili di Jesuit Residence, Wisma Pradnya Laksita, Pedukuhan Paingan, Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

HIDUP DAN KARYA SEBAGAI JESUIT

  • TAHBISAN sebagai JESUIT
  • PERAYAAN 50 TAHUN BERZIARAH DALAM ORDO SERIKAT JESUS

Perayaan bersama anggota CLC di Yogyakarta : Minggu, 21 Januari 2018, Di Ruang Seminar LPPM – Kampus II USD, Mrican

Perayaan di Universitas Sanata Dharma (Ruang Koenjono, lt 4 Gedung Pusat, Kampus II) : 27 Januari 2018

  • PERUTUSAN MENJADI PROVINSIAL JESUIT (1996 – 2002)
Source :
  • https://www.hidupkatolik.com/2014/10/12/19197/menabur-benih-iman-di-tanah-suai.php
  • Setia melayani: Romo Dewanto saat ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Mgr Ignatius Suharyo, Rm Wir sebagai Provinsial dan Rm Paul Suparno SJ sbg Rektor Kolsani.

    • PERUTUSAN MENJADI PIMPINAN PERGURUAN TINGGI (Rektor) dan aneka jabatan pimpinan yang lain

    Rektor Universitas Timor Timur di Dili (1989-1993)

    Rektor Universitas Katolik Soegijapranatan di Semarang (1993-1996)

    Direktur Kursus Pertanian “Taman Tani” di Salatiga (2003)

    Direktur Program Tersiat Serikat Yesus di Kandy, Srilanka (2004- 2005)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020.

    Fasilitator Program Tersiat Serikat Yesus di Giri Sonta (dari 2016 sampai dengan saat ini)

    Rektor Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta (2006-2014)

    Source : https://usd.ac.id/biro/personalia/daftar.php?id=berita&noid=74&offset=30

    https://www.viva.co.id/berita/politik/469383-jokowi-megawati-dan-pohon-beringin-yang-ditanam-soekarno?page=all&utm_medium=all-page

    • Ketua APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) Indonesia dari tahun 2014 sampai dengan Maret 2020

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Indonesia menyelenggarakan 1st International Conference yang mengangkat  isu kemiskinan dan lingkungan yang dibuka pada Jumat (21/9) lalu di Auditorium Kampus 3 Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). 

    Hari Studi APTIK 2018 : Mengukuhkan Kebangsaan dalam Kebhinekaan, 10-12 Oktober 2018, Bertempat di Hotel IBIS, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) gelar Hari Studi di kota Pontianak (11-12/10/ 2018). Untuk kegiatan ini, Yayasan Widya Dharma Pontianak dipercayakan menjadi tuan rumah. Tercatat 19 Yayasan Perguruan Tinggi Katolik yang menjadi anggota APTIK, didampingi oleh para Rektor Perguruan Tinggi anggota APTIK  hadir dalam Hari Studi kali ini. Total jumlah peserta 105 orang.

    Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menyelenggarakan Kongres APTIK XXXVI tahun 2019 pada tanggal 8-9 Maret 2019. Pembukaan Kongres dilaksanakan pada Jumat, 08 Maret 2019 di Ballroom Hotel Harper Mangkubumi Yogyakarta. Acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus APTIK, Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ sekaligus menandai dibukanya Kongres APTIK.

    FASILITATOR TERTIAT JESUIT PROVINSI INDONESIA

    Tersiaris Provindo 2017 (belakang: Rm Seno, Rm Bambang, Rm Andalas, Rm Nico. Depan: Rm Yuniko, Rm Putranto, Rm Priyo, Rm Wiryono, Rm IJ (PHI) dan Rm Jason (PHI)

    Tersiaris Provindo 2019 (Rm Wiryono, Rm Priyo, Rm Fristian, Br Marsono, Rm Mario, Rm Eko, Rm Agam, Rm Ochang (KOR), Rm Putranto

    Source : https://jesuits.id/tertiat-provinsi-indonesia/

    BERSAMA KELUARGA JESUIT, dan lain-lain

    Refleksi Sahabat CLC – “KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN”

    Ketua CLC di Indonesia, Gregorius Tjaidjadi atau yang biasa dipanggil dengan Ko Rius ikut memperingati Hari Kebangkitan Nasional Indonesia dan juga merayakan dan merefleksikan (Pembukaan) Tahun Igantian, 20 Mei 2021 ini dengan menulis refleksi dengan judul tulisanKISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.

    KISAH KEBANGKITAN NASIONAL, SEBUAH KISAH PERUBAHAN

    Oleh Gregorius Tjaidjadi

    Tahun Peringatan 500 tahun pertobahan Ignatius di Hari Kebangkitan Nasional

    Berhenti sejenak di hari ini, melihat garis sejarah yang bersilangan membawa banyak kisah dan cerita yang beberapa dasawarsa ini dibaca, didengar, dan coba dipahami. Dua kisah yang hari ini bersilangan di tengah refleksi pagi, sebelum saya memulai kerja di hari ini. Dua kisah itu adalah Kisah Dr. Soetomo yang organisasi Boedi Oetomo-nya (Budi Utomo; BU) kemudian melahirkan Hari Kebangkitan Nasional, Peringatan Nasional di setiap tanggal 20 Mei. Satunya lagi, kisah Santo Ignatius Loyola, yang secara khusus tahun ini kita peringati, 500 tahun pertobatannya.

    Di awal berdirinya, BU muncul sebagai kumpulan orang orang terdidik yang memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat bangsa. Sebuah cita-cita luhur, yang mereka usung lewat berbagai upaya sosial, ekonomi, dan terutama budaya. Sebagai organisasi anak bangsa, yang lahir di era penjajahan Belanda, organisasi ini tidak mengawali kiprahnya dengan membangun narasi besar untuk mengubah status kemerdekaan bangsa, tapi  justru melalui narasi- narasi kecil tentang membangun integritas diri lewat pendidikan dan kebudayaan bangsa. Tidak ada issue politik yang digadang saat awal BU mengawali gerakan mereka, namun niat baik ini kemudian menggelombang, dan mendorong gerakan bangsa untuk bangkit dan menjadi utuh sebagai Bangsa dan Negara yang merdeka.

    Demikian juga dengan Ignatius, gelombang besar cara hidup spiritualitas Ignatian yang tersebar dimana-mana saat ini, tidaklah berawal dari cita-citanya untuk mengubah dunia, namun gelombang itu dimulai dari riak kecil pertobatan pribadi, setelah nyaris kehilangan jati diri dihantam peluru meriam yang membekas dalam. Ignatius menemukan titik terendah dalam hidupnya saat itu, kejayaan diri sebagai ksatria, membuatnya hilang arah, ketika mendekam dalam kamar pemulihan tanpa kejelasan masa depan. Titik terendah, berubah menjadi titik balik, saat dia menemukan cita- cita baru, sebuah pertobatan pribadi, dari ksatria yang gemar berbagai kenikmatan duniawi, menjadi peziarah, dengan niat pertobatan lewat mati raga dan mendera diri.

    Mendidik diri, mengasah gergaji

    Kisah BU dan Santo Ignatius memaparkan sebuah fakta, bahwa proses belajar, dan pendidikan adalah langkah awal yang menjadi bahan bakar perubahan dalam diri dan dalam orang orang yang didampingi. BU tidak serta merta memberikan pendidikan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitar tempatnya hidup, namun mengawalinya lewat pengorganisasian dan pengembangan anggota, yang kemudian berdaya, dan mampu berbagi kepada sesama.

    Jauh sebelum masa BU, Santo Ignatius sudah mengalami tahap menempa diri yang menghadapkannya dengan kenyataan untuk belajar. Relasinya dengan Tuhan berawal dari kenaifan diri yang melihat hukuman dan pertobatan adalah bentuk relasi dengan Tuhan. Namun Tuhan mengajar Ignatius dengan cara-Nya, sehingga ia menemukan proses pengolahan, pembentukan dan penerimaan diri, sebagai pribadi yang utuh. Tuhan mendidik layaknya seorang guru, yang memberikan pengajaran lewat berbagai peristiwa hidup, dan terutama, lewat perjumpaan Ignatius dengan dirinya sendiri.

    Maka tidaklah berlebihan, bila refleksi saya hari ini, menyajikan sebuah pembelajaran, bahwa sebuah gerakan perubahan besar, selalu berawal dari kesediaan diri untuk belajar, menempa diri dan terus mengasah gergaji*. Hanya dengan kesadaran diri seutuhnya, kita dapat membuat gelombang dan gerakan yang konsisten untuk berubah kearah yang lebih baik. Perubahan besar tentunya tidak selalu berkisah tentang narasi besar dalam hidup, tapi justru dari narasi narasi kecil yang utuh. Apakah saya sadar hari ini? apakah saya hendak memulai hari lebih pagi? Apakah saya akan meluangkan waktu untuk berdoa bersama? Apakah saya mau memperbaiki kesalahan saat bekerja? Apakah saya konsisten berkomunitas? Apakah saya menyadari sungguh setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang sejalan dengan kehendak-Nya? Apakah saya mampu berbuat lebih baik? Semua hanya dapat dijawab ketika saya mau belajar dan mengembangkan diri.

    Berbagi hati, membentuk empati

                    Pribadi yang selalu mau untuk belajar, bisa kita kenal lewat para penikmat budaya refleksi. Mereka yang tak jemu, untuk melihat kisah hidup, sebagai guru dan pendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu kita memahami berbagai peristiwa hidup, dengan kacamata yang baru. Proses ini, membantu keselarasan pola  berpikir, merasa, dan bertindak.

    Dalam CLC, kita tahu bahwa budaya refleksi adalah budaya dasar yang selalu disandingkan dengan budaya berbagi. Kita meyakini, bahwa dengan berbagi isi hati, kita dapat terus mempertajam kemampuan kita merasa. Kemampuan mengenali dan mengelola perasaan akan membuat kita lebih jernih melihat peristiwa hidup, baik lewat peristiwa hidup pribadi, maupun mereka yang berbagi dalam kelompok. Bila kita sungguh mengenali rasa dalam diri, dan kemudian dengan pengetahuan yang selalu kita tambah, kita akan mempu mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan, dengan sadar dan utuh.

    Keinginan kita untuk selalu belajar lewat refleksi diri, akan menggiring kita untuk menemukan rasa dan empati. Berempati berarti mengubah rasa menjadi tindakan, memperkuat niat dengan keutuhan diri, yang kemudian memunculkan konsistensi dalam bertindak. Sebuah riak kecil yang menciptakan gelombang yang membesar, hanya akan terjadi, ketika riak kecil terus terjadi, terpelihara dan konsisten.

    Komunitas dan kisah perubahan

                    Saya mengenali CLC sebagai keluarga besar, yang menyediakan ruang dan penghuni, yang konsisten menjadi cermin bagi diri dan sesama untuk berefleksi. Dan dari setiap perjumpaan, proses belajar terjadi. Dari berbagai kisah hidup, berbagai proses pembelajaran dan perubahan dilakukan. Kita melihat betapa spiritualitas Ignatian dan semangat kebangkitan BU, terpatri dalam proses ini. kita menempa diri dengan terus belajar lewat refleksi, kemudian mendorong perubahan lewat empati yang sungguh diyakini. Maka kebangkitan diri adalah konsekuensi yang akan kita terima, saat kita terus belajar mengembangkan diri dan tak ragu mengaktualisasikan empati kita. Maju sebagai pembawa perubahan akan menjadi tantangan yang ada di depan kita. Maka mari kita bertanya pada diri kita sebagai CLC, sudahkan saya berkomunitas untuk bangkit bersama? sudahkah saya berani menjadi pembawa perubahan?

    Maka kisah Kebangkitan Nasional, sama seperti napas Siritualitas Ignatian, sebuah kisah mendidik diri lewat refleksi, yang mendorong perubahan perubahan kecil dan besar dalam hidup, sampai akhirnya di suatu titik, kita sungguh dapat berkisah tentang perubahan baik yang dapat kita lakukan, sendiri, maupun bersama. Kisah kebangkitan diri akan terpampang jelas saat Kisah Perubahan terjadi. Beranikah kita untuk berubah? Beranikah kita membawa perubahan? Hari ini? Selamat Hari Kebangkitan Nasional, selamat merefleksikan Tahun Ignatian.

    Curriculum Vitae

    Foto-foto Rius bersama anggota CLC di Bandung

    Foto-foto Rius bersama tim Asia Pasific CLC

    Refleksi Sahabat CLC – “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS”

    Memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan sekaligus ikut merayakan pembukaan Tahun Ignasius Loyola bersama para Jesuit, kami sajikan tulisan dari Profesor Dr. Paul Suparno, SJ, M.S.T. yang biasa kami panggil dengan Rm. Paul.

    Rm. Paul menyelesaikan karya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada akhir tahun 2020. Saat ini beliau tinggal di Kolese St Ignasius Kotabaru Yogyakarta.
    Beliau adalah Asisten Gerejani CLC di Indonesia. Dan juga sebagai pastor pendamping CLC di Yogyakarta.

    Berikut kami sajikan tulisan beliau dengan judul tulisan “HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS“.

    Selamat membaca dan berefleksi. AMDG.


    HARI KEBANGKITAN NASIONAL & PERTOBATAN IGNATIUS

    Oleh Paul Suparno, S.J.

    Hari Kebangkitan Nasional

                Pada tanggal 20 Mei 2021 ini, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Apa yang kita peringati dan bagaimana kita akan memperingatinya?

                Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita ingat gerakan Budi Utomo, yang didirikan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dokter Soetomo serta teman-temnnya. Dokter Wahidin, dokter Jawa yang sangat murah hati untuk membantu orang lain agar maju. Setelah pension dari dokter, ia menjual banyak hartanya dan digunakan untuk membantu pendidikan orang lain. Ia keliling Jawa mencari dana untuk membeayai pelajar-pelajar yang miskin tetapi pandai. Ia giat membantu pendidikan.

    Ia mengumpulkan beberapa mahasiswa kedokteran STOVIA Jakarta seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusuma,  dan Suraji untuk mendiskusikan pembentukan suatu badan, yang nantinya disebut Budi Utomo (20 Mei 1908).  Awalnya perkumpulan ini lebih bergerak membantu dalam dunia pendidikan, tetapi kemudian dikembangkan dalam bidang politik membantu gerakan kesatuan bangsa dan kemerdekaan.  Gerakan ini kemudian memancing timbulnya banyak gerakan pemuda di Indonesia ini, yang nantinya mengerucut dalam gerakan pemuda Indonesia dan gerakan menuju kemerdekaan.

    Peringatan pertobatan St. Ignatius

    Hari ini Jesuit memperingati 500 tahun bertobatnya St. Ignatius Loyola pendiri Serikat Jesus. Suatu pengalaman mendalam pribadi, yang akhirnya menjadi awal dari gerakan perubahan hidup orang sampai dengan munculnya Serikat Jesus.

    Ignatius, yang sering disebut Inigo, awalnya adalah seorang tentara yang begitu punya ambisi kuat untuk mengabdi raja dan nantinya dapat mempunyai kehormatan seperti raja. Namun setelah peristiwa Pamplona, dimana ia mengalami patah kakinya dalam peperangan di Pamplona; ia tidak mungkin lagi menjadi seorang militer yang hebat. Ia mengalami frustrasi berat karena kakinya cacat, panjang sebelah.

    Dalam kekeringan yang berat dan kefrustrasian itu, ia disentuh Tuhan lewat bacaan buku santo-santa yang mengkisahkan kehidupan Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus mengikuti Yesus.  Sebenarnya yang ia cari adalah buku-buku kepahlawanan atau roman, tetapi yang ada di rumahnya waktu itu hanya buku riwayat santo-santa. Dalam pergulatan besar, ia merasakan bahwa setiap kali ia memikirkan untuk menjadi satria hebat mengabdi raja dan memikirkan mempunyai istri cantik, hatinya menjadi senang, namun lama kelamaan perasaan itu hilang dan yang tinggal adalah malah kekeringan, kesepian, desolasi. Sedangkan, kalau ia memikirkan untuk mengikuti teladan  Santo Fransiskus yaitu mengabdi Yesus, itu terasa berat pada awalnya, tetapi setelah lama ia merasa damai, merasa gembira, mengalami konsolasi. Akhirnya ia mengubah hidupnya. Ia yang tadinya ingin menjadi seorang satria yang terhormat dengan kekuasaan dan isteri yang cantik, berubah menjadi kesatria Yesus, yaitu ingin mengikuti Yesus seperti dialami oleh Santo Fransiskus Asisi dan Dominikus.

    Pertobatan pribadi ini, teryata menggerakkan dia untuk membagikan pengalamannya  kepada orang-orang lain dalam latihan rohani yang ia berikan dan tawarkan kepada orang-orang yang dijumpai dan ia pandang mampu. Dalam perjalanan, ternyata banyak orang yang cocok dibimbing dan mengalami pertobatan hidup seperti dia sendiri.

    Pengalaman pertobatan itu dengan seluruh prosesnya ditulis dalam Latihan Rohani  yang dapat digunakan orang untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya dan menemukan panggilan Tuhan bagi hidupnya. Lewat pengalaman itu pulalah akhirnya Ignatius memilih beberapa teman yang menjadi awal dari Serikat Jesus. Lewat pengalaman pribadinya itulah, ia menawarkan sentuhan Tuhan kepada banyak orang untuk dapat juga menemukan Tuhan dalam hidupnya dan hidup bahagia bersama Tuhan.  

    Kesamaan menjadi penggerak awal

    Bagi saya yang menarik merefleksikan tentang Wahidin dengan gerakan kebangkitan nasional Budi Utomo dan Pertobatan Ignatius, adalah bahwa keduanya menjadi awal, menjadi pemacu, menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan baru dan kehidupan yang baru.

    Budi Utomo akhirnya memunculkan gerakan nasional yang lain di Indonesia ini.  Gerakan ini akhirnya menyadarkan kepada banyak pemuda akan pentingya persatuan bangsa, pentingnya bekerjasama sebagai warga, dan akhirnya memacu munculkan gerakan kearah kemerdekaan Indonesia. Semangat Budi Utomo menggerakkan anggotanya dan memberikan inspirasi kepada kelompok lain untuk lebih ikut terlibat memikirkan kebutuhan bangsa Indonesia.

    Pertobatan Ignatius, mengubah Ignatius menjadi sahabat Tuhan, dan ingin menyerahkan seluruh hidupnya pada Yesus. Semangat ini  tidak dinikmati sendiri, tetapi selalu ditawarkan kepada orang lain sehingga orang lain juga mengalami semangat itu dan dapat hidup sebagai sahabat Yesus yang sejati.  Pertobatannya membantu banyak orang mengalami pertobatan, perjumpaan dengan Tuhan, dan bersemangat untuk menyebarkan semangat itu kepada orang lain. Semangatnya menjadi pemicu untuk gerakan batin dalam Tuhan bagi orang lain.

    Apa artinya bagi kita

    Ada dua hal yang bagi saya dapat diambil dan dikembangkan dengan merefleksikan dua peristiwa itu.

    1. Saya dapat lebih menangkap semangat yang dikembangkan oleh Wahidin lewat gerakan Budi Utomo-nya dan menangkap semangat Ignatius yang mempengaruhi banyak orang.  Dengan demikian saya akan lebih tahu dan lebih dapat digerakkan sendiri oleh semangat itu.
    2. Semangat yang aku punyai, harus saya tularkan kepada orang lain dan kelompok lain. Lewat hidup dan semangat kita, kita ikut menawarkan semangat kebangkitan nasional itu dan pertobatan Ignatius itu. Caranya misalnya :
      • Aku mulai berpikir bukan hanya diriku, tetapi kebutuhan bangsa ini, kebutuhan orang lain;
      • Aku lebih mau kerjasama dengan orang lain dalam membangun bangsa ini sebagai satu saudara;
      • Aku tidak menikmati semangat itu sendirian tetapi rela berbagi pada yang lain.

    Selamat merayakan hari kebangkitan nasional dan selamat meresapi kehidupan dan semangat Ignatius untuk dapat lebih memajukan kehidupan bangsa kita dan dunia kita.

    Renungan Harian: 20 Juni 2021

    Renungan Harian
    Minggu, 20 Juni 2021
    Hari Minggu Biasa XII

    Bacaan I: Ayb. 38: 1. 8-11
    Bacaan II: 2Kor. 5: 14-17
    Injil: Mrk. 4: 35-40

    Hanya Tuhan Yang Mampu

    Suatu ketika saya bertemu dengan istri kawan saya, dalam sebuah acara gereja. Karena dia datang sendirian sementara biasanya selalu berdua dengan suaminya, saya bertanya
    ”Tumben datang sendiri, suami kemana? Biasanya selalu berdua seperti truk gandeng.”

    “Nanti setelah acara selesai aku cerita. Ceritanya panjang,” jawabnya.

    “Tetapi kalian baik-baik aja kan, gak sedang ribut?” tanya saya penasaran.

    “Nggak, nggak, kami rukun dan baik-baik,” jawabnya meyakinkan saya.
     
    Pada saat makan malam, setelah acara selesai istri teman saya itu mengajak saya bicara. Setelah agak menyingkir dari keramaian dia mulai bercerita:

    “Wan, sesungguhnya suami sedang di dalam penjara. Kamu kaget kan? Apalagi saya. Bulan lalu kantornya diaudit, nah hasil audit itu ketahuan bahwa ada sejumlah uang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Jumlahnya besar banget, mendengar jumlahnya saja aku sampai gemeteran. Menurut suamiku, dia dan teman-teman di keuangan tidak pernah tahu soal penggunaan uang itu dan bagaimana uang itu dicairkan. Suami dan 2 orang teman di kantor hanya mencatat pengeluaran dan mengeluarkan uang berdasarkan perintah, dan uang keluar tercatat dengan rapi. Kuasa mengeluarkan uang ada di tangan si Bos.
     
    Beberapa kali suami dan teman-temannya diperiksa polisi dan semua menunjukkan bukti-bukti yang ada. Tetapi yang tidak dimengerti adalah setelah pemeriksaan yang ke 3, suami dan 2 temannya ditahan, sementara si Bos tidak tersentuh, jangankan ditahan diperiksa saja tidak. Wan, bisa dibayangkan betapa hancurnya kami mengalami hal itu. Belum lagi di saat seperti itu banyak yang menawarkan bantuan agar suami dibebaskan tetapi minta imbalan yang tidak mampu kami penuhi. Saya selalu bilang ke suami, coba cari bukti-bukti lain yang menguatkan pernyataan kalian. Tetapi suami selalu bilang, bahwa semua bukti sudah diserahkan, dan tidak berguna. Ada kekuatan besar yang dihadapi suami dan teman-temannya. Suami selalu bilang bahwa yang bisa mengalahkan kekuatan itu hanya Tuhan. Maka dia selalu mengajak saya untuk berdoa dan berdoa.”
     
    Satu bulan kemudian, teman saya menelpon saya: “Wan, terima kasih ya dukungan doa-doamu. Aku sudah keluar dan dinyatakan tidak bersalah. Wan, ini mukjizat luar biasa dalam hidup kami. Saya sudah pasrah, dan hanya bisa berdoa, karena yang saya dan teman-teman hadapi adalah tembok kekuasan besar. Tuhan, tidak pernah tidur, dan tidak pernah meninggalkan serta membiarkan umatNya hancur. Selalu ada pertolongan luar biasa, meski untuk sampai pada saatnya itu butuh perjuangan dan kepasrahan luar biasa.”
    “Syukur pada Allah, selamat ya, semoga pengalaman ini menjadi berkat,” jawab saya ikut bersyukur.
     
    Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda, dan danau pun menjadi teduh sekali.”
     
    Bagaimana dengan aku? Adakah aku selalu berpegang pada Allah saat ada badai dalam hidupku?
     
    Iwan Roes RD

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 19 Juni 2021

    Renungan Harian
    Sabtu, 19 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 12: 1-10
    Injil: Mat. 6: 24-34

    Siapa Dia?

    Di sebuah paroki, ketua dewan paroki selalu dijabat oleh 2 orang yang sama; kalau satu menjadi ketua, yang satu menjadi wakil, demikian sebaliknya. Saya tidak tahu persis mengapa terjadi begitu, menurut dugaan saya kedua orang itu merupakan tokoh dan sesepuh di paroki itu sehingga entah pastor parokinya tidak berani mengganti dengan orang baru, atau karena orang-orang yang diminta menggantikan tidak berani.
     
    Karena ketua dan wakil ketua orangnya sama hanya berganti peran maka seluruh pengurus dewan paroki orangnya juga itu-itu saja, hampir tidak ada yang berganti kecuali karena sudah tidak mampu menjalankan karena sakit atau meninggal. Dapat dibayangkan bahwa regenerasi hampir tidak ada. Sudah barang tentu paroki tetap jalan meski tidak ada pembaharuan-pembaharuan.
     
    Suatu ketika terjadi pergantian pastor paroki. Pada saat pergantian dewan paroki, pastor paroki yang baru menunjuk seorang bapak yang sederhana. Beliau tidak pernah menonjol di paroki namun beliau dikenal sebagai seorang bapak yang baik dan hubungan dengan umat yang lain amat baik. Beliau orang yang rendah hati, sopan dan hormat dengan orang lain. Penunjukkan bapak ini tentu saja menghebohkan umat dan “melukai” kedua bapak yang sudah selalu menjadi ketua dan wakil ketua. Sempat terlontar ucapan dari bapak ketua dewan paroki yang akan digantikan: “Siapa dia? Paroki mau hancur memilih orang seperti itu?”
     
    Pada saat pelantikan beliau mengatakan: “Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, sebagaimana bapak ibu dan saudara-saudari pikirkan demikianpun yang saya rasakan bahwa saya tidak layak dan tidak pantas untuk menjadi ketua dewan paroki. Ketika saya diminta oleh pastor paroki rasanya saya seperti diberi batu besar dipunggung saya untuk saya angkat. Siapa saya? Dan apa kemampuan saya? Maka saya langsung menolak, karena saya tidak mampu. Namun pastor mendesak saya dan meyakinkan saya untuk menerima tanggung jawab ini. Kata-kata pastor amat menyentuh yang membuat saya tidak bisa untuk menolaknya. Beliau mengatakan bahwa kelemahan dan kekurangan yang saya miliki adalah keterbukaan saya agar Tuhan semakin terlibat dalam hidup saya.”
     
    Dalam perjalanan ternyata bapak itu dapat menjalankan tugas sebagai ketua dewan paroki yang luar biasa.  Banyak inovasi yang dibuat dan yang lebih penting beliau amat dicintai oleh umat. Orang yang awalnya diremehkan dan dipandang sebelah mata ternyata mampu menjalankan tugas yang luar biasa. Sebagaimana yang beliau sampaikan sumber keberhasilannya adalah kelemahan dan kekurangan dirinya yang menjadi sarana Allah semakin terlibat dalam dirinya.
     
    Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.”
     
    Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku melihat kelemahan dan kekuranganku?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 18 Juni 2021

    Renungan Harian
    Jum’at, 18 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 11: 18. 21b-30
    Injil: Mat. 6: 19-23

    Mata Curiga

    Beberapa waktu yang lalu ketika saya tinggal di Pastoran Unio Kramat VII Jakarta, suatu sore saya ingin membeli kabel data ke sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senin, Jakarta. Saya pergi ke tempat itu dengan menumpang mikrolet. Saya menghentikan Mikrolet yang tidak penuh dengan penumpang. Di dalam mikrolet itu ada 4 orang penumpang semua ibu-ibu. Ketika saya masuk ke dalam mikrolet, dan duduk, saya melihat semua ibu-ibu dengan cepat mendekap erat-erat tas bawaan mereka sembari melihat saya dengan mata yang curiga.

    Dalam hati saya berkata: “Waduh, mereka pikir saya ini copet yang hendak beraksi.”
     
    Di depan saya, duduk seorang perempuan muda, dugaan saya seorang yang pulang dari kantor. Ketika saya duduk di depannya, di segera menarik-narik rok pendeknya agar bisa menutupi paha dan lututnya. Sebenarnya saya tidak memperhatikan dia, tetapi karena dia sibuk justru membuat saya melihat apa yang sedang dilakukan. Dia melakukan itu sembari matanya tajam melihat saya seolah-olah saya ini penjahat yang hendak menelan dia.
     
    Tentu apa yang dilakukan orang-orang di dalam mikrolet yang melihat saya tidak bisa disalahkan mengingat ada banyak kejahatan di sekitar mereka, atau bahkan mereka sudah punya pengalaman tidak menyenangkan berkaitan dengan situasi di kendaraan umum. Di samping adanya banyak berita yang mewartakan adanya banyak kejahatan baik dalam bentuk pencopetan, kekerasan maupun bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan.
     
    Mengingat peristiwa tersebut, saya sadar betapa pada masa sekarang ini amat sulit menemukan mata yang ramah, mata yang tidak curiga terhadap orang lain. Jangankan di kendaraan umum rentan dengan kejahatan, bahkan di dalam gereja pun menemukan mata yang ramah, yang memandang orang lain sebagai sesama sudah langka. Pengalaman hidup dan sikap hidup seseorang mempengaruhi cara seseorang melihat orang lain dan sebaliknya cara seseorang melihat sesuatu mempengaruhi cara seseorang bersikap dan bertindak.
     
    Betapa menyenangkan dan membuat diri aman serta nyaman manakala bertemu dengan orang-orang yang matanya melihat dengan ramah dan sejuk. Namun lingkungan dan situasi membentuk seseorang sulit menemukan mata yang ramah dan sejuk itu.

    Benarlah sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”
     
    Bagaimana dengan aku? Adakah aku mempunyai mata yang selalu ramah dan sejuk  memandang orang lain?
     
    Iwan Roes RD

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 17 Juni 2021

    Renungan Harian
    Kamis, 17 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 11: 1-11
    Injil: Mat. 6: 7-15

    Doa Dengan Hati

    Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan seorang dokter di facebook yang berisi sebuah himbauan kepada khalayak untuk menjaga diri karena akhir-akhir semakin banyak orang yang terpapar virus covid 19. Saya mengutip lengkap tulisan  yang dibuat dr. Teguh:
    “Kami mohon kerjasamanya.
    Ketika akhir april pasien covid mulai berkurang, kami mulai optimis. Sayangnya saat ini jumlah pasien covid kembali meningkat tinggi. Jumlah kamar di RS kembali terisi penuh dan tidak mampu menampung semua pasien. Kami juga capai dan tertekan dengan kondisi ini. Kadang kami juga putus asa tanpa kejelasan kapan semua ini berakhir.
    Kami tak mampu mengerti mengapa masih banyak orang yang tidak disiplin memakai masker dan abai dengan protokol kesehatan. Mengapa ada orang-orang yang justru bangga dan pamer ketika mampu melanggar larangan mudik dan berkerumun. Bahkan marah-marah ketika diingatkan untuk mematuhi semua upaya yang dibuat untuk mencegah penyebaran covid. Dan ketika mereka atau keluarganya terpapar dan sakit, menuntut kami harus mampu menyembuhkan mereka.
    Tetapi percayalah, kami tetap bekerja, tetap berjuang dengan sisa tenaga dan kekuatan kami untuk merawat dan menolong pasien-pasien kami.
    Marilah kita bekerjasama, masyarakat tertib mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti arahan pemerintah. Kami terus berjuang melakukan tugas pelayanan kami.”
     
    Harapan dan keluhan yang disertai niat dan semangat luhur untuk terus berjuang menyelamatkan sesamanya yang ditulis oleh dr. Teguh kiranya merupakan ungkapan hati seluruh tenaga kesehatan. Bukan sekedar mengeluh, marah dan terserah, tetapi sebuah ajakan untuk bersama-sama. Ungkapan yang amat menyentuh dan “miris” keluar dari kedalaman hati para pejuang kehidupan.
     
    Apa yang diungkapkan itu bagi saya bukan hanya ajakan untuk masyarakat, tetapi lebih dari itu merupakan doa yang setiap hari didaraskan oleh para tenaga kesehatan. Betapa indah doa yang menunjukkan ungkapan kedalam hati yang amat personal kepada Dia yang diimaninya sebagai sumber pengharapan. Saya membayangkan kalimat-kalimat itu diungkapkan dalam doa kepada Tuhan Bapa yang maha kasih. Bukan kata-kata indah yang dirangkai dan didaraskan tetapi untaian ungkapan hati yang paling dalam. Dan itulah doa yang sesungguhnya. Doa yang menunjukkan intimitas dengan Tuhan dan Bapanya sebagai sumber kekuatan dan harapan.
     
    Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Yesus bersabda, doa yang baik bukan karena panjangnya dan indahnya kata-kata, tetapi doa yang keluar dari hati dan yang mengungkapkan iman serta intimitasnya dengan Allah. “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.”
     
    Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku berdoa?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 16 Juni 2021

    Renungan Harian
    Rabu, 16 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 9: 6-11
    Injil: Mat. 6: 1-6. 16-18

    Tuhan Yang Membalas

    Selesai misa siang terakhir ada sepasang suami istri menemui saya ingin berbicara secara pribadi, maka saya minta mereka untuk menunggu di ruang tamu. Setelah saya selesai menyapa umat yang pulang misa, saya menemui bapak ibu tadi di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sejenak, bapak itu mulai bercerita:
    “Romo, akhir-akhir ini kami hampir setiap hari ribut dan sering kali menjadikan kami seharian tidak berbicara. Kami mohon nasehat romo agar suasana rumah kami menjadi damai kembali.”
     
    “Bapak, ibu, menurut bapak ibu apa yang menjadi sumber keributan?” tanya saya.

    “Romo, ini lho, bapaknya yang selalu bikin jengkel, dan tidak pernah sadar. Dia itu sudah amat sering dibohongi orang. Teman-temannya pinjam uang, tetapi tidak ada yang kembali, begitu juga saudara-saudaranya selalu ngandel, setiap kali kekurangan selalu minta bantuan dan selalu langsung diberi. Dia tidak pernah berpikir bahwa keluarga kami sendiri juga banyak kebutuhan. Setiap kali saya minta dia berpikir dan agar tidak begitu saja memberi bantuan atau pinjaman, dia malah ngomel-ngomel,” ibu itu menjelaskan.
     
    “Romo, saya selalu ngomong sama dia, kalau ada orang pinjam atau minta bantuan itu pasti karena sedang kekurangan dan amat butuh. Maka kita kalau bisa wajib membantu. Betul keluarga kami tidak berlebihan tetapi dengan membantu orang lain juga tidak menjadi kekurangan banget, hanya beberapa kebutuhan yang harus direm atau ditunda. Soal ada yang pinjam tidak mengembalikan menurut saya karena mereka tidak mampu mengembalikan dan saya percaya Tuhan yang akan selalu memberikan rahmat kepada keluarga kami. Romo, saya belajar dari orang tua saya, kita itu harus selalu menabur kebaikan dalam bentuk apapun. Tugasnya menabur dan menabur, jangan berpikir kapan panen, percaya pada penyelenggaraan ilahi, Tuhan akan selalu mencukupkan,” bapak itu memberikan alasan.
     
    Saya bisa mengerti kejengkelan ibu itu, berhadapan dengan sikap suaminya, namun demikian saya amat kagum dengan kemurahan dan kepasrahan bapak itu. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus:

    “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit pula. Sebaliknya orang yang menabur banyak akan menuai banyak pula. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya.”
     
    Bagaimana dengan aku? Adakah aku murah hati untuk menabur kebaikan?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 15 Juni 2021

    Renungan Harian
    Selasa, 15 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 8: 1-9
    Injil: Mat. 5: 43-48

    Peduli

    Sebagaimana kita ketahui bersama, sektor ekonomi  menjadi salah satu yang mengalami dampak terbesar dari pandemi covid 19. Dampak pandemi covid 19 pada sektor ekonomi menyebabkan banyak orang berkurang pendapatannya baik karena dikurangi oleh perusahan maupun karena mengalami penurunan pendapatan karena usaha turun; banyak orang kehilangan pekerjaan; orang-orang yang mencari pekerjaan semakin sulit dan masih banyak lagi. Sementara itu kebutuhan hidup justru meningkat. Orang harus membeli masker yang tidak bisa dikatakan murah, membeli pembersih tangan, membeli kuota internet untuk keperluan sekolah bahkan harus membeli perangkat agar dapat mengikuti sekolah secara daring.
     
    Dengan situasi yang semacam itu dapat dimengerti dan dirasakan bahwa banyak orang mengalami kesulitan dan beban berat untuk memenuhi kebutuhan hidup hariannya. Hal itu dirasakan oleh banyak orang, termasuk umat di paroki tempat saya diutus. Namun demikian, situasi yang amat berat dirasakan oleh umat, tidak menjadikan umat berkurang atau kehilangan kasih dan kepedulian terhadap sesamanya.
     
    Kepedulian dan kasih umat kepada sesamanya kami rasakan dalam beberapa hal. Pertama, bagaimana umat saling memberi perhatian kepada saudara-saudara selingkungan dan warga sekitar. Umat memberikan informasi ke paroki bahwa ada saudara-saudaranya yang sungguh membutuhkan bantuan dan mereka mau mengambilkan bantuan sembako dan atau bantuan lain untuk saudara-saudaranya yang membutuhkan.
    Hal kedua, ketika kemampuan keuangan paroki mulai menipis  untuk menyediakan bantuan bagi umat dan warga yang berkekurangan, bantuan dari umat untuk tersedianya bahan-bahan bantuan luar biasa. Sungguh dalam jumlah yang tidak terbayangkan mengingat situasi yang amat sulit.
     
    Dari dua hal di atas 8
    artinya umat sudah memberi dengan segala kekurangannya. Dalam kekurangan dan kesulitan umat justru menjadi terbuka pada dorongan kasih dan kepedulian. Bahkan menurut saya pribadi adanya pandemi covid memberikan rahmat di balik bencana. Rahmat yang tidak terduga tetapi memberikan rahmat kemajuan rohani dan pribadi bagi umat. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Selagi dicoba dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap, dan meskipun sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”
     
    Bagaimana dengan aku? Bagaimana aku selalu terdorong gerakan kasih untuk peduli pada sesamaku?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 14 Juni 2021

    Renungan Harian
    Senin, 14 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 6: 1-10
    Injil: Mat. 5: 38-42

    Meretas Rantai Dendam

    Beberapa tahun yang lalu ketika saya menjalani perutusan di sebuah SMU suatu kali saya dihadapkan pada kejadian dimana dua kelompok murid saling mengejek dan saling menantang untuk berkelahi. Saya tidak tahu persis apa persoalannya tetapi mereka selalu saling mengejek. Awalnya saya pikir itu guyon dan masalah anak-anak yang akan segera berlalu. Namun ternyata tidak demikian, mereka selalu saling ejek bahkan hal itu terjadi di luar sekolah. Oleh karenanya saya mengumpulkan kedua kelompok itu untuk mengetahui duduk persoalannya dan mendamaikan mereka.
     
    Dalam pertemuan yang amat seru itu mereka saling menuduh satu sama lain sebagai biang keributan. Saya mengajak semua untuk mendudukkan persoalan dengan tenang, dan mengajak mereka untuk berdamai. Akhirnya mereka mau berdamai satu sama lain, dan berjanji untuk tidak lagi memancing-mancing keributan lagi.
     
    Namun ternyata perdamaian itu tidak berlangsung lama, keributan dan saling ejek itu terjadi lagi. Entah siapa yang lebih dahulu memancing keributan tetapi keributan yang terjadi lebih tajam dari yang sebelumnya. Kedua kelompok itu selalu saling menantang untuk berantem. Karena keributan itu mengganggu teman-teman yang lain maka suatu hari saya meminta kedua kelompok itu untuk bertemu dengan saya setelah pelajaran selesai.
     
    Setelah pelajaran selesai dan semua murid yang lain sudah pulang saya menemui kedua kelompok itu di lapangan basket sekolah. Saya bertanya kepada mereka apa sebenarnya yang mereka mau. Mereka menjawab bahwa mereka mau memenuhi tantangan untuk berantem. Ketika saya tanya apakah mereka sungguh-sungguh ingin berantem dan berani, mereka mengatakan semua berani. Maka saya minta pimpinan kelompoknya untuk maju dan saya mengatakan bahwa sekarang mereka akan berantem satu lawan satu, yang kalah harus mengakui kalah dan berjanji tidak boleh dendam. Mereka semua sepakat.
     
    Maka pimpinan kelompok maju untuk saling berhadapan satu sama lain. Setelah saling berhadapan saya tanya sekali lagi, apakah mereka sungguh berani berantem, ternyata mereka berdua tidak berani. Kemudian saya tanya kepada anggota kelompok siapa yang berani untuk berantem supaya maju, ternyata tidak ada seorangpun yang maju. Karena tidak ada yang berani maka saya memberikan hukuman kepada mereka dan memberikan nasehat kepada mereka pentingnya untuk rendah hati, berani mengukur kemampuan diri sendiri.
     
    Sejak saat itu dua kelompok menjadi berdamai. Dendam akan terus melahirkan dendam, itu yang selalu terjadi, tidak jarang dendam menjadi turun temurun. Kerendahan hati, dan kasih menjadi modal dasar untuk meretas rantai dendam. Sebagaimana diajarkan Yesus sejauh diwartakan dalam injil Matius untuk memberikan pipi kiri bila pipi kanan ditampar. Tentu maksudnya bukan seperti yang tertulis melainkan mengajak untuk rendah hati dan mengasihi. “Janganlah kalian melawan orang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”
     
    Bagaimana dengan aku? Apakah aku berani meretas rantai dendam dalam diriku?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 13 Juni 2021

    Renungan Harian
    Minggu, 13 Juni 2021
    Hari Minggu Biasa XI

    Bacaan I: Yeh. 17: 22-24
    Bacaan II: 2Kor. 5: 6-10
    Injil: Mrk. 4: 26-34

    Ingin Suci

    Beberapa waktu yang lalu saya menerima tamu sepasang suami istri. Bapak ibu itu meminta saya untuk menasehati putrinya yang paling besar. Bapak ibu itu merasa khawatir dengan perilaku putrinya itu. Menurut mereka, putrinya sering kali menyiksa diri, dengan memukul badannya dan sering kali puasa tidak makan. Sekarang ini putrinya sedang sakit, tetapi tetap berpuasa dan menyiksa diri.
     
    Malam harinya saya mengunjungi rumah keluarga itu dan mencoba bertemu dengan putrinya. Saat diberitahu bahwa romo ingin bertemu, dia bersedia untuk bertemu. Saya diantar ke kamar anak itu. Anak itu kelihat pucat dan lemas, sehingga ketika berusaha untuk duduk saya meminta agar tetap berbaring saja. Ketika saya tanya apakah dia sakit, dia menjawab bahwa dirinya tidak sakit, memang badannya lemas, tetapi ini semua untuk menaklukan badan. Ketika saya tanya mengapa dia berbuat seperti itu dia menjawab: “Romo, menurut bapak (dia menyebut sebuah nama) bahwa kita sulit untuk menjadi suci dan dekat dengan Tuhan karena roh kita terbelenggu oleh badan ini, maka badan harus dikalahkan. Romo, kalau saya melakukan ini semua adalah cara saya mengalahkan badan saya. Saya ingin menjadi orang suci, dan caranya dengan menyiksa badan agar dengan demikian saya bisa menguasai badan saya, dan roh saya menuju pada Tuhan.”
     
    Saya amat prihatin dengan pemahaman anak ini. Saya tidak tahu apa yang diajarkan kepadanya sehingga dia melakukan praktek seperti ini. Saya cukup lama mendengarkan dia menceritakan usahanya untuk menjadi orang suci sesuai dengan ajaran yang dia terima. Kemudian saya mengajak dia melihat bahwa tubuh adalah anugerah Tuhan, supaya jangan dirusak. Kedua yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan mengalahkan tubuh, bukan dengan menyiksa diri seperti itu. Dengan berbagai cara saya menjelaskan agar dia paham. Akhirnya saat saya menawari makan bubur dia mau makan dan berjanji tidak akan menyiksa tubuhnya lagi.
     
    Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus: “Sebab itu, kami berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepadanya.”
     
    Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku berjuang untuk semakin dekat dengan Tuhan?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Renungan Harian: 12 Juni 2021

    Renungan Harian
    Sabtu, 12 Juni 2021

    Bacaan I: 2Kor. 5: 14-21
    Injil: Mat. 5: 33-37

    Kesetiaan

    Suatu sore, saya menerima tamu seorang ibu. Ibu itu datang minta didoakan dan berkat agar kuat. Saya bertanya pada ibu itu apa maksud agar kuat, apakah sedang sakit atau karena apa.
    Ibu itu menjawab dengan pendek bahwa ia mohon agar kuat menjalani hidupnya. Saya menjawab bahwa saya dengan senang hati berdoa dan memohonkan berkat agar ibu kuat menjalani hidup. Ketika saya mengajak hening sebentar untuk berdoa, ibu itu mulai menangis, maka saya diam dulu membiarkan ibu itu menangis.

    “Romo, sebelum doa, apakah romo punya waktu untuk mendengarkan cerita saya?” tanya ibu itu.

    “Silahkan ibu, saya akan mendengarkan,” jawab saya.
     
    “Romo, beban hidup saya amat berat. Saya tidak mengerti, apakah saya ini tertipu atau bodoh. Teman-teman dan keluarga saya mengatakan bahwa saya ini bodoh.
    Romo, ketika kami masih pacaran, saya kenal suami saya sebagai seorang pria yang baik, sabar, pekerja keras meski tidak romantis dan agak cuek. Setelah 6 bulan pacaran kami menikah. Keluarga setuju kami menikah, mengingat bahwa pacar saya kelihatan baik dan menurut orang tua bibit, bobot dan bebetnya baik.
     
    Romo, kami menjalani hidup perkawinan dengan baik, kami berdua kerja sehingga ekonomi kami cukup baik. Kami bisa beli rumah dan punya mobil. Sampai suatu sore rumah kami didatangi polisi dengan surat perintah penggeledahan rumah kami. Saya shock ketika tahu bahwa ini semua karena suami saya ditangkap atas penggunaan narkoba. Rumah kami “diacak-acak” tetapi tidak ditemukan apapun berkaitan dengan narkoba. Saya ditanya dan memang saya tidak pernah tahu kalau suami saya pemakai.
     
    Romo, mobil kami jual, agar suami bisa pulang. Suami minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Saya menerima dan percaya dengan janjinya. Akibat kasus itu, suami saya diberhentikan dari tempat kerjanya. Maka sekarang saya menjadi tulang punggung keluarga, sembari menunggu suami mendapatkan pekerjaan baru. Ternyata romo, kejadian itu bukan yang terakhir, belum juga 6 bulan suami ditangkap dengan kasus yang sama. Suami minta agar saya merelakan rumah untuk biaya dia keluar dan direhab. Saya turuti romo, karena saya kasihan kalau suami harus dihukum. Kami sekarang sewa rumah kecil. Selesai direhab suami kembali ke rumah dan kami hidup biasa lagi. Tetapi 3 bulan kemudian ditangkap lagi. Dan kali ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Saya harus merelakan suami saya dihukum.
     
    Suami marah-marah, menuduh saya tidak cinta lagi, dan senang kalau dirinya dihukum. Saya hanya diam, mendengarkan semua tuduhan itu. Saya beberapa kali bilang ke dia, bahwa sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Romo, belum juga saya bisa menerima semua peristiwa itu, ada orang yang menagih hutang, karena ternyata suami saya punya hutang yang cukup besar. Untung, masih untung romo, hutang bisa diangsur, sehingga saya mengangsur hutangnya. Romo, karena beban keuangan yang cukup berat, saya tinggal dengan orang tua saya.
     
    Romo, orang tua, saudara-saudara dan teman-teman saya menyarankan agar saya meninggalkan suami saya. Mereka berpendapat bahwa orang seperti suami saya tidak layak untuk diperjuangkan; dia sudah tidak akan bisa sembuh lagi. Saya menolak saran-saran itu, saya masih berharap bahwa entah kapan suami saya akan sadar kembali hidup sebagai manusia normal. Itulah mengapa saya selalu dikatakan bodoh oleh keluarga dan teman-teman. Romo, saya berpegang pada doa-doa saya, agar saya diberi kekuatan untuk menjalani ini semua dan suami saya menjadi sadar. Saya berharap dengan cinta dan doa-doa suami saya bisa bertobat,” ibu itu bercerita.
    “Wow, gila, luar biasa ibu ini,” kata saya dalam hati.
     
    Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan surat Paulus kepada jemaat di Korintus:
    “Maka dalam  Kristus kami meminta kepada kalian: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, agar dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah.”
     
    Bagaimana dengan aku? Apakah aku selalu berjuang untuk berdamai dengan Allah?
     
    Iwan Roes RD.

    Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

    Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

    Undangan Acara CLC
    Senin Kedua

    Kami undang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Romo Angga Indraswara, SJ. (Romo Angga) untuk berdiskusi tentang “Discerment Ignasian dan Hiruk-Pikuk Politik: Berimajinasi bersama St. Ignasius”.

    Acara kami selenggarakan pada:
    Hari Senin, 14 Juni 2021
    Pukul 7 malam (19:00) WIB

    Link Zoom
    https://zoom.us/j/6358985886?pwd=OHpDMEZOWE1ZeXl5bFMwcEJpNTI3QT09

    Meeting ID: 635 898 5886
    Passcode: clc

    CP: Putri (CLC Yogyakarta)

    Berkah Dalem
    CLC di Yogyakarta

    PS. Jika Anda berkenan, mohon bantu kami untuk mengedarkan undangan ini ke kelompok CLC Anda atau teman-teman simpatisan CLC/yang tertarik dengan Ignatian yang Anda kenal. Terima kasih.