Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Pertemuan bulan September CLC Jakarta

Teman-teman CLC dan Para Sahabat Ignatius Ytk.
😍🥰🔥🌹
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita semua dalam keadaan sehat 🙏🏻❤️🍀

Realita bumi kita yang sekarang sedang menangis, memanggil setiap orang untuk peduli pada alam ciptaan ini.

Kita dipanggil untuk menanggapi ajakan Pater Arturo Sosa SJ untuk mengambil langkah konkret mewujudkan Preferensi Kerasulan Universal dimana kita berada.

Kami ingin mengajak teman-teman CLC dan para Sahabat Ignatius untuk belajar dan berproses bersama :

📌Tema
Merawat Rumah Kita Bersama

✅Narasumber :
Rm. Effendi Kusuma Sunur SJ
(Pastor Mahasiswa DIY),

Pertemuan dilakukan secara daring pada:

📅 : 25 September
Hari Minggu
🕰: 10.00-12.00 WIB

Mari teman-teman CLC dan Sahabat Ignatius, silakan bergabung dengan mengajak teman lain, para pemerhati bumi kita.

Kehadiran setiap orang adalah berkat dan sangat berarti untuk kita semua.
Terima kasih 🙏🏻🔥🥰

Salam kami,
Pengurus CLC Jakarta
AMDG 🤝✊🏻🙏🏻

Kegiatan CLC-DI-SOLO

CLC (Christian Life Community) Indonesia Lokal Solo mempersembahkan:

Refleksi : A Way of Self-Healing

Setiap kita pernah sakit, mungkin sedang dan akan mengalami sakit, baik sakit jasmani, pikiran maupun perasaan. Kita berusaha memeluk rasa sakit itu untuk memperoleh kesembuhan.
Dalam dunia yang sakit ini, kami mengundang anda semua untuk mengenal salah satu jalan untuk memperoleh kesembuhan dalam sarasehan “Refleksi:A Way of Self Healing”, yang akan kami selenggarakan pada:
Hari/Tgl. : Minggu 25 September 2022
Pukul : 10.00 – 12.30
Tempat : Aula Fransiskus Xaverius Paroki St. Antonius Purbayan
Narasumber: RM. Agustinus “Nano” Setyodarmono, SJ.

Kami nantikan kehadiran anda. Tempat terbatas.

Persembahan Kasih : 80k
Fasilitas: Gratis buku Jejak Refleksi Perjalanan Awam Sahabat Ignatius (edisi terbatas) dan Snack.

Informasi.
Dina (0816-6784-72)
Arani (0813-2993-4176)

Pendaftaran :
https://qrco.de/bdFGo7

Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 22 September 2022 pukul 23.00 WIB.

Refleksi Sahabat CLC – “DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan Penutupan Tahun Ignasian, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Dominico Savio Octariano, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Nico , dengan judul tulisan “Dianggap Gila Demi Kristus“.

Rm. Nico baru saja menyelesaikan studi spiritualitas di Comillas, Madrid, Spanyol. Sejak 21 Juli 2022 kembali ke Indonesia. Selanjutnya akan menjalani perutusan baru sebagai Socius Magister di Girisonta.

Selamat membaca dan berefleksi

Ad Maiorem Dei Gloriam.

.

“DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Selama setahun ini, di tahun Ignatian, kita pemerhati dan penghayat spiritualitas Ignatian mendapatkan kesempatan untuk mencecap-cecap banyak tema spiritualitas Ignatian lewat pertemuan-pertemuan di berbagai kelompok dan forum. Di dalam pertemuan itu, kita, sebagai peserta diperkaya, tidak hanya dengan paparan materi, diskusi atau tanya-jawab, namun juga lewat percakapan rohani, yakni sarana yang membuat tema-tema tersebut lebih membatin, karena daya-daya jiwa kita digerakkan.

St. Ignatius Loyola, dalam Latihan Rohani, menerangkan bahwa hidup kita itu digerakkan oleh 3 daya jiwa, yakni ingatan, pikiran dan kehendak (lih. LR 45, 50, 246). Bila dilihat dari sudut pandang pengolahan daya-daya jiwa, selama setahun ini, dalam berbagai forum diskusi dan pertemuan, kita lebih banyak melatihkan daya ingatan dan pikiran kita. Lalu bagaimana dengan daya kehendak? Daya kehendak pada diri kita dalam forum-forum itu juga sudah dilatihkan, namun baru sampai pada tahap dorongan atau keinginan internal saja.

Spiritualitas Ignatian bukanlah spiritualitas yang cukup puas atau berhenti pada transformasi batin atau internal saja. Spiritualitas Ignatian harus membawa seseorang sampai pada transformasi cara hidup. St. Ignatius dalam meditasi Tiga macam kerendahan hati, mengungkapkan bahwa kerendahan hati yang hendak dicapai atau cara hidup yang sempurna hendak dihayati adalah cara hidup yang meneladani dan menyerupai Yesus, yakni cara hidup dalam pengabdian, mau ikut memanggul salib Yesus di dunia dalam hidup keseharian kita (lih. LR 167).

Dalam nomer yang sama, LR 167, St. Ignatius bahkan menggunakan frase yang sangat khas: “Aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu”. Lalu apa artinya kerendahan hati tingkat 3 ini dalam spiritualitas Ignatian dan apa kaitannya dengan daya kehendak yang harus diaktualkan dalam hidup sehari-hari?

Sebagai peziarah Allah, St. Ignatius memberikan contoh lewat pengalaman personalnya. Autobiografi menceritakan pergulatan bagaimana Ignatius berjuang menghidupkan daya kehendaknya. Setidaknya ada 3 fase dalam hidup Ignatius, yang menunjukkan proses transformasi cara hidup atau cara dia mengaktualkan daya kehendaknya.

Hombre de Saco (manusia karung goni)

Pilihan Ignatius untuk membeli dan menggunakan pakaian yang berbahan karung goni (Autobiografi 18), bukanlah pilihan sesaat atau pilihan yang semata-mata demi pertobatannya, melainkan sebagai cara/bentuk hidup yang memang ia ingin jalani. Kehendak batinnya mengarah pada memilih cara hidup yang hina. St. Ignatius ingin benar-benar menghidupi cara hidup “gila demi Kristus” lewat penampilan fisik yang menyerupai orang gila.

Pada waktu itu, sangat jamak bahwa orang-orang yang ingin sungguh-sungguh berbakti kepada Allah, meninggalkan cinta dunia, dengan memilih hidup yang secara fisik memang kelihatan “meninggalkan dunia”. Cara hidup ini pada saat itu disebut sebagai cara hidup para “Santo gila” (el santo loco), yakni dengan meninggalkan keramaian, tinggal di hutan atau padang gurun, menggunakan pakaian seadanya, membiarkan penampilan fisik yang ala kadarnya, makan dari hasil hutan/alam, dan mengabdi Tuhan lewat doa dan puasa. Secara khusus, menurut Hieronimus Nadal, St. Ignatius, pada fase ini mencontoh cara hidup Santo Onofrius, seorang “santo gila” yang terkenal di gereja Barat. St. Ignatius mengatualkan daya kehendaknya dengan cara mengikuti hidup para “santo gila”.

Ayudar las animas (menolong jiwa-jiwa)

Kondisi fisik St. Ignatius yang seperti “santo gila” ini berlangsung cukup lama. Bahkan sepulang dari Yerusalem dan gagal tinggal di sana, dia masih mengenakan cara hidup demikian. Bahkan ketika dia melewati wilayah konflik, dan kemudian ditangkap oleh sejumlah prajurit karena dicurigai sebagai mata-mata, pada saat diinterogasi oleh komandan pasukan, sang komandan berkomentar “Orang ini gila, tidak punya pikiran, berikan barangnya dan suruh dia keluar” (Autobiografi 53).

Pasca Yerusalem, Ignatius sudah mulai menghidupi daya kehendaknya dalam fase yang berbeda. Dia melihat kegagalan tinggal di Yerusalem sebagai bagian dari kehendak Allah dalam hidupnya. Dalam refleksinya kemudian, adalah lebih baik cara hidup yang kemudian dia pilih adalah dengan membantu orang-orang dalam hidup imannya. Lalu dia mulai meninggalkan cara hidup “santo gila” dan memeluk cara hidup yang baru, yakni mengutamakan keselamatan jiwa-jiwa. Daya kehendaknya tidak lagi berhenti pada hanya keselamatan jiwanya sendiri, tetapi sekarang bekerja bersama Tuhan, dengan cara membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang lain.

Ad Maiorem Dei Gloriam (berakar dari pengalaman La Storta)

Pentingnya studi adalah bagian refleksi yang mendalam dari Ignatius, karena dengan bekal studi dan pengetahuan iman serta teologi yang memadai, maka “ayudar las animas” akan menjadi lebih mudah diterima. Studi di Barcelona, Alcala, Salamanca dan Paris menandai fase ini. Ignatius melewati proses jatuh-bangun dalam hal studi. Tetapi pengalaman studi ini benar-benar menjadi pondasi dasar bagi hidupnya. Daya kehendaknya yang menginginkan menyelamatkan jiwa-jiwa ditopang dengan modal studi yang sangat memadai pada zaman itu.

Selepas fase studi, Ignatius dan teman-temannya masih berketetapan untuk pergi ke Yerusalem. Tetapi karena keadaan pelayaran yang belum aman, mereka tidak mungkin ke sana. Lalu dalam perjalanan ke Roma, Ignatius singgah di kapel La Storta, dan di kapel itu, dia mengalami pengalaman peneguhan sekaligus mempertegas daya kehendaknya ke arah lebih spesifik lagi. Keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa diperteguh dengan penampakan La Storta dan Ignatius merefleksikan pengalaman itu sebagai gambaran cara hidup yang akan dia hadapi yakni memanggul salib bersama Yesus dan semua dikerjakan demi lebih besarnya kemuliaan Allah (AMDG). Fase yang ketiga ini adalah fase peneguhan cara hidup. Bagi Ignatius, ini adalah bentuk cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3. “Dianggap gila demi Kristus” dia hidupi dengan cara total dalam pengabdian pada Kristus, dengan menyelamatkan jiwa-jiwa.

Dari tema kecil tentang “Dianggap gila demi Kristus” ini, kita hendak belajar tentang bagaimana St. Ignatius mengaktualkan daya kehendaknya. Lalu, bagaimana dengan kita di akhir tahun pertobatan Ignatius ini, apakah tema-tema dari forum dan pertemuan yang sudah kita ikuti mengarah pada kemampuan mengaktualkan daya kehendak kita sampai ke cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3, sebagaimana diharapkan oleh St. Ignatius lewat Latihan Rohani? Semoga setelah tahun Ignatian ini, kita tidak lupa pada bagian yang penting ini. Spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas pengabdian. Semoga setelah ini, ketika kita kembali ke dalam realitas hidup dan pekerjaan kita, transformasi yang terjadi pada diri kita adalah tranformasi cara hidup yang semakin mengabdi Allah dan ikut memanggul salib bersama Yesus di dunia. AMDG.

Pesta St. Ignatius Loyola, 31 Juli 2022

Dominico Savio Octariano, SJ

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan:

KEGIATAN DENGAN CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Sentir y gustar internamente – Rekoleksi Penutupan Tahun Ignatian Bersama CLC di Jakarta : Minggu, 24 Juli 2022

.

KEGIATAN MENJADI NARASUMBER DALAM ANEKA WEBINAR …

.

.

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Renungan Harian: 21 Maret 2023

Renungan Harian
Selasa, 21 Maret 2023

Bacaan I: Yeh. 47: 1-9. 12
Injil: Yoh. 5: 1-3a. 5-16

Guyup

Beberapa waktu yang lalu saya merayakan misa requiem untuk seorang ibu, umat paroki di mana saya menjalani perutusan. Pada saat saya diminta untuk misa requiem, saya minta kepada pengurus pelayanan kedukaan paroki untuk mengajak teman-teman ikut merayakan ekaristi. Saya khawatir kalau misa nanti hanya sedikit orang yang ikut, mengingat ibu yang meninggal ini hidup sendiri.

Pada saat perayaan ekaristi, yang terjadi sungguh diluar dugaan saya. Perayaan ekaristi diiringi koor yang digagas oleh umat di lingkungannya, dan umat yang hadir luar biasa. Awalnya saya membayangkan yang ikut misa kurang lebih 25 orang saja ternyata kenyataan yang hadir 100 orang lebih. Sesuatu yang luar biasa dan mengharukan.

Saya kenal almarhum aktif dalam berbagai kegiatan paroki. Saya tahu dari cerita almarhum bahwa dia hidup sendiri, keluarga dan bahkan anaknya sendiri sudah tidak mempedulikan dirinya. Saya tahu juga bahwa almarhum ini orang sulit dan karenanya sering terjadi konflik dengan orang lain. Tetapi hal yang luar biasa adalah saat ibu ini sakit umat di lingkungannya yang membantu dan mengurusnya. Bahkan ketika sudah tidak dapat berbuat apa-apa ada umat di lingkunganya yang selalu mengirim makanan; ada yang mengusahakan perawat yang menolong dan juga orang yang bisa bebersih rumah. Beberapa kali terjadi anak yang kost harus membiayai pengobatan ibu ini karena tidak keluarganya yang membantu. Sampai di akhir hidupnya semua diurus oleh umat lingkungan dan orang-orang yang mengenal beliau.

Pengalaman ini membuat saya bahagia dan terharu. Sebagaimana saya sampaikan dalam homili saya, pengalaman bersama dengan ibu ini menunjukkan dan mewartakan inilah Gereja yang sesungguhnya. Gereja sebagai persekutuan, sebagai saudara yang saling mengasihi sebagai tubuh Kristus. Semua yang terlibat digerakkan oleh cinta persaudaraan yang luar biasa. Dan beginilah seharusnya Gereja hadir dan berkarya.

Gereja bukan hanya persekutuan ketika dalam gereja atau ikut perayaan ekaristi, tetapi Gereja selalu digerakkan dalam karya nyata hidup sehari-hari. Gereja memberikan dampak kasih yang nyata bagi sesama. Seandainya apa yang terjadi dengan ibu ini berkembang dalam karya-karya nyata sebagai wujud persekutuan maka Gereja hadir dan menghadirkan Kerajaan Allah; karena banyak orang mengalami perwujudan kasih yang nyata.

Sebagaimana dinubuatkan nabi Yeheskiel:
“Saya melihat air mengalir dari dalam Bait Suci dan kemana saja air itu mengalir semua yang ada di sana hidup.”

Semoga ada ibu atau bapak yang lain mengalami seperti ibu ini dan semakin banyak orang di paroki tergerak untuk bertindak sebagaimana dilakukan oleh umat untuk almarhum.

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Maret 2023

Renungan Harian
Senin, 20 Maret 2023
Hari Raya Yusuf, Suami SP. Maria

Bacaan I: 2Sam. 7: 4-5a. 12-14a. 16
Bacaan II: Rom. 4: 13. 16-18. 22
Injil: Mat. 1: 16. 18-21. 24a

Memilah dan Memilih

Seorang ibu menjadi penyedia bahan-bahan catering. Salah satu kliennya adalah sebuah kantin penyedia makan untuk karyawan sebuah pabrik. Salah satu item yang dipesan oleh katin itu adalah telur asin yang sudah masak. Ibu itu harus menyediakan 19 ribu butir telur asin yang dipesan oleh kantin itu. Ibu itu mempunyai rekanan pengrajin telur asin yang kualitas telurnya sudah terpercaya. Karena sudah bekerjasama cukup lama dan selama ini telurnya tidak pernah dipermasalahkan oleh katin pemesan, maka biasanya telur dari pengrajin langsung diantar ke kantin pemesan.

Pada suatu kali ada komplain dari kantin pemesan karena dari 19 ribu butir telur itu ternyata ada 2 butir telur yang rusak. Meskipun telor yang rusak itu belum dimakan sehingga tidak ada akibat yang ditimbulkannya akan tetapi pihak kantin pemesan tidak ingin hal itu terjadi lagi. Peristiwa itu membuat kegundahan ibu itu, sehingga sejak saat itu, ibu itu meminta para karyawan agar menyortir telur asin-telur asin supaya kejadian yang lalu tidak terjadi lagi.

Pada awalnya ibu itu mempekerjakan banyak karyawan untuk menyortir telur itu mengingat jumlahnya yang amat banyak dan juga usaha ibu ini masih skala rumahan. Meski sudah mengerahkan banyak karyawan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyortir telur. Saya pernah melihat bagaimana para karyawan itu menyortir telur. Telur dilihat satu persatu, ada retakan atau tidak, ada bau atau tidak, beratnya bagaimana dan sebagainya, untuk memastikan bahwa telur asin-telur asin itu semua baik.

Dengan berjalannya waktu tidak banyak karyawan yang dibutuhkan untuk menyortir telur dan juga tidak membutuhkan waktu yang banyak. Karyawan itu dalam penglihatan saya, melihat sepintas telur yang dipegangnya dan sudah dapat memastikan bahwa telur itu baik. Saya pernah bertanya apakah mereka yakin bahwa telur itu baik karena seolah-olah hanya dilihat sepintas. Karyawan itu menjawab bahwa mereka yakin bahwa telur itu baik. Mereka mengatakan bahwa dengan memegang saja mereka sudah tahu apakah telur itu baik atau tidak. Dan terbukti demikian. Ternyata kebiasaan menyortir telur menjadikan mereka menemukan rasa dengan memegang telur untuk membedakan mana yang baik dan tidak baik.

Pengalaman memilah dan memilih telur kiranya menjadi pelajaran dalam memilah dan memilih gerakan ataupun dorongan roh dalam diri. Mana dorongan yang datang dari Roh baik dan mana yang datang dari roh jahat. Pengalaman St. Yusuf untuk menceraikan bunda Maria secara diam-diam dan kemudian menerima kiranya sebuah pergulatan yang amat berat dan rumit. Namun karena kemampuan dan ketajaman dalam memilah dan memilih menjadikan ia dapat memilih pilihan yang terbaik yang datang dari Roh baik. Kemampuan dan ketajaman dalam memilah dan memilih karena adanya pengalaman yang berulang-ulang. Memilah dan memilih dengan teliti didasari kejujuran diri.

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 Maret 2023

Renungan Harian
Minggu, 19 Maret 2023
Minggu Prapaskah IV

Bacaan I: 1Sam. 16: 1b. 6-7. 10-13a.
Bacaan II: Ef. 5: 8-14
Injil: Yoh. 9: 1-41

“Permana”

“Permana” adalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya dapat melihat dengan jelas atau dapat mengetahui dengan jelas; dalam kebiasaan lebih banyak digunakan untuk arti dapat melihat dengan jelas. Ibu mengalami penurunan penglihatan karena penyakit yang dideritanya menyebabkan pendarahaan di mata. Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak dapat melihat dengan jelas, semua menjadi samar.

“Le, cah bagus, ibu saiki ora permana meneh yen nyawang apa wae,” itu yang dikatakan ketika saya bertemu.
(Nak, ibu sekarang sudah tidak dapat melihat apapun dengan jelas).

Sudah barang tentu hal itu membuat ibu sedih dan menderita walaupun itu tidak dinampakkan. Saya menggoda ibu dengan mengatakan bahwa saya sekarang tidak lagi percaya kalau ibu mengatakan bahwa saya bagus dan ganteng karena ibu tidak bisa melihat dengan jelas. Ibu biasanya tertawa setiap kali saya mengejek.

Penurunan penglihatan yang dialami oleh ibu tentu membuat beliau amat sedih karena banyak hal menjadi terhambat dan terganggu; terlebih ibu merasa dengan itu dirinya harus merepotkan orang lain khususnya bapak. Ibu tidak lagi bisa ikut kegiatan gereja atau lingkungan; ibu tidak bisa lagi membaca atau melihat televisi, tidak bisa lagi memasak dan tentu yang paling menyedihkan tidak lagi bisa melihat anak, menantu dan pertumbuhan cucu-cucunya. Meskipun ibu yakin cucu-cucunya ganteng dan cantik serta bertumbuh dengan baik tetapi beliau tidak dapat melihat dengan jelas perkembangan dan pertumbuhan mereka.

Setelah menjalani serangkaian operasi dan pengobatan, ibu akhirnya dapat kembali melihat dengan jelas. Ibu amat bahagia bahwa penglihatannya telah kembali seperti semula.

“Wah saiki donyane padhang jingglang, kabek sumelak, cetha wela-wela,” kata ibu. (Wah dunia sekarang menjadi terang benderang, semua bisa kelihatan dengan amat jelas).

“saiki ibu isa nyawang anak putuku sing bagus-bagus lan ayu-ayu,” tambahnya. (Sekarang ibu dapat melihat dan menyaksikan anak cucu yang bagus dan cantik).

Ibu seolah melihat segalanya menjadi baru dan mengagumkan karena beralih dari yang samar-samar menjadi jelas; dari yang agak gelap (remang-remang) menjadi terang benderang. Ibu melihat segalanya menjadi jauh lebih indah dari semula.

Pengalaman ibu yang mengalami terang setelah menjalani serangkaian operasi dan pengobatan membuat saya berpikir: “seandainya saya bisa menjalani serangkaian operasi dan pengobatan untuk mata hati saya maka aku akan melihat segala sesuatu dengan lebih baik; bukan hanya apa yang nampak tetapi lebih dalam dari apa yang nampak. Aku bisa melihat dan mengalami banyak rahmat lewat sekelilingku karena aku dapat melihat dan mengalami karya Allah. Aku tidak mudah tertipu dengan apa yang nampak dan menonjol tetapi aku bisa melihat hal yang tersembunyi yang ditawarkan Allah padaku.” Persoalannya tidak ada rumah sakit yang bisa mengobati mata hatiku.

Kiranya ketekunan dalam latihan rohani untuk mengembangkan cinta menjadi cara untuk membuat mata hatiku menjadi terang dan jernih.

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 18 Maret 2023

Renungan Harian
Sabtu, 18 Maret 2023

Bacaan I: Hos. 6: 1-6
Injil: Luk. 18: 9-14

Donatur

Suatu sore saya kedatangan tamu seorang bapak. Sejauh dalam ingatan saya, saya belum pernah bertemu atau melihat bapak itu di gereja. Biasanya meski tidak mengenal dan tidak bertemu tetapi saya ingat umat yang biasa datang ke gereja. Oleh karena itu dalam sapaan saya memperkenalkan diri dan berharap menjadi kenal dengan bapak itu. Bapak itu juga memperkenalkan namanya.

Dalam pembicaraan awal saya mengatakan bahwa rasanya belum pernah bertemu, dan bapak itu mengiyakan karena dia tidak pernah datang ke gereja, dan karena itulah sekarang datang bertemu. Bapak itu tinggal di paroki dimana saya menjalani perutusan dan ketika dia memperkenalkan istri dan anak-anaknya, ternyata saya kenal dengan istri dan anak-anaknya.

Bapak itu menyampaikan maksud kedatangannya untuk memberikan sumbangan. Bapak itu menyampaikan sumbangan agar digunakan untuk kegiatan paroki dan mohon didoakan untuk kegiatan dan usahanya. Satu hal yang menarik dan mengejutkan adalah bapak mengatakan bahwa dirinya amat sibuk nosehingga belum bisa ikut kegiatan gereja tetapi kalau membutuhkan dukungan dana bapak itu siap untuk membantu. Dalam pembicaraan berikut ternyata yang dimaksudkan belum bisa ikut kegiatan gereja itu bukan aktivitas dalam kegiatan tetapi tidak bisa ikut perayaan ekaristi. Dia mengatakan bahwa dirinya amat sibuk bahkan hari minggu pun tetap sibuk bekerja. Kalaupun hari minggu dia libur, baginya lebih baik digunakan untuk istirahat.

Sejujurnya saya bingung harus memberi tanggapan apa pada bapak itu. Sudah tentu saya senang menerima sumbangan akan tetapi saya keberatan dengan “embel-embelnya” seolah-olah ini sebagai 6pengganti (silih) dari ketidak hadirannya dalam perayaan ekaristi. Menerima sumbangan ini tidak enak, kalau menolak juga tidak enak. Menegur tidak enak tetapi tidak menegur saya merasa harus mengingatkan.

Dalam kebingungan saya menyampaikan:
“Bapak, mohon maaf, kiranya anak-anak dan ibu ingin merayakan ekaristi bersama dengan bapak. Saya sendiri juga ingin melihat bapak ke gereja merayakan ekaristi dengan keluarga. Maaf, kiranya anak-anak juga ingin menunjukkan kepada teman-temannya: “Ini bapak saya yang keren.” Maaf pak semua ini hanya rasa saya saja.” Bapak itu tertunduk diam tidak menjawab. Bapak itu kelihatan menahan air mata agar tidak jatuh.

“Maaf, romo saya mohon pamit, lain kali saya datang lagi. Tolong doakan saya,” bapak itu kemudian berdiri dan pamit untuk pulang.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 17 Maret 2023

Renungan Harian
Jumat, 17 Maret 2023

Bacaan I: Hos. 14: 2-10
Injil: Mrk. 12: 28b-34

Berkembang

Saya selalu bersyukur dan ikut bahagia melihat pasangan itu datang ke gereja berdua dan tidak jarang mereka bergandengan tangan. Saya juga bersyukur melihat kehidupan ekonominya juga nampak sudah lebih baik karena saya melihat mereka datang berboncengan dengan sepeda motor yang bagus. Saya bertanya kepada beberapa orang yang mengenal mereka tentang kehidupan mereka. Mereka yang saya tanya menjelaskan bahwa nampaknya kehidupan ekonomi pasangan itu memang sudah lebih baik karena suaminya sekarang sudah bekerja.

Beberapa tahun lalu istrinya datang dan mengatakan bahwa dia ingin bercerai sudah tidak tahan lagi dengan suaminya. Suaminya sudah lama tidak bekerja, bahkan sejak mereka menikah suaminya sudah tidak bekerja. Sesungguhnya dia tidak keberatan suaminya tidak bekerja tetapi berjuang untuk untuk mendapatkan pekerjaan atau mengurus rumah. Alih-alih mencari pekerjaan atau mengurus rumah, suaminya justru sering berjudi dan mabuk. Bagi dia yang membuat semakin tidak tahan adalah perilakunya yang semakin kasar. Setiap kali minta uang dan tidak diberi akan marah-marah dan merusak barang-barang di rumah.

Beberapa hari setelah kedatangan istrinya, saya memanggil mereka berdua. Saya menjelaskan pada suaminya bahwa istrinya tidak tahan perilakunya dan minta bercerai. Saya menegaskan kalau dia masih bisa seperti sekarang ini karena kerja keras istrinya dan betapa istrinya sesungguhnya amat mencintainya. Kalau sekarang istrinya meminta cerai karena sudah tidak tahan dan tidak ada gunanya meneruskan perkawinannya. Dalam pembicaraan yang cukup panjang, suami itu menangis dan mohon diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbaiki rumah tangganya.

Istrinya keberatan dengan permintaan suaminya karena sudah sering minta maaf dan sudah sering diberi kesempatan tetapi tetap tidak berubah. Istri bersikeras tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya; sudah terlalu sakit dan amat dalam lukanya. Pada saat istrinya berkeras, suami tetap mohon untuk dimaafkan dan diberi kesempatan. Saya berusaha membujuk istrinya untuk memaafkan dan memberi kesempatan sekali lagi. Setelah pembicaraan yang cukup lama, istrinya bersedia memaafkan dan memberi kesempatan.

Pengampunan dan kesempatan yang diberikan istrinya membuat suami menjadi lebih hidup. Dia tidak lagi judi dan mabuk. Dia mau bekerja serabutan sampai kemudian mendapatkan pekerjaan yang tetap. Apa yang saya lihat setiap kali mereka datang ke gereja dengan segala kemesraannya adalah buah pengampunan istrinya. Pengampunan bagai air yang mengairi tanah kering sehingga menumbuhkan tanaman yang layu hampir mati.

Tuhan selalu menyediakan pengampunan dan kesempatan bagiku untuk hidup lebih baik; bertumbuh dan berkembang hingga menghasilkan buah. Pengampunan Tuhan digambarkan bagai embun di padang gurun yang memberi kesegaran. Persoalannya apakah aku memohon dan memanfaatkan kesempatan itu.

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

KEGIATAN CLC-DI-JAKARTA

Para Sahabat CLC Ytk.

Cuaca kurang bersahabat, semoga tidak membuat ngantuk, tetapi tetap semangat ✊🏻🌷🤗😍

Akhir-akhir ini issue tentang Human Trafficking menjadi viral di sosmed.
Sebagian besar dari kita peduli dan ikut menandatangani petisi untuk Romo Paschalis yang dipolisikan karena melakukan tindakan dan pembelaan terhadap perdagangan manusia. Kita semua prihatin dan sedih dengan kasus ini. Ingin rasanya bisa berbuat sesuatu, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Sehubungan dengan issue ini, Romo Ismartono SJ akan mengajak kita untuk lebih aware dan share tentang human trafficking ini dari kacamata kita sebagai penganut Spiritualitas Ignasian.

Mari, kita datang di pertemuan yang akan diadakan pada :

Hari : Minggu
Tanggal : 19 Maret 2023
Tempat : Ruang Pertemuan Kolese Kanisius.
Tema : Human trafficking dan para penganut Spiritualitas Ignasian.

Pertemuan akan ditutup dengan misa bersama dipersembahkan oleh Romo A. Sudiarja SJ.

Silakan mengajak teman lain untuk hadir, Kehadiran setiap orang sangat berarti untuk kebersamaan dan dukungan bagi komunitas kita. 🙏🏻✊🏻🌻

Salam AMDG 💕🌷
Pengurus CLC Lokal Jakarta

Renungan Harian: 16 Maret 2023

Renungan Harian
Kamis, 16 Maret 2023

Bacaan I: Yer. 7: 23-28
Injil: Luk. 11: 14-23

Pekak

Pemandangan yang sudah umum atau lebih tepat, pemandangan yang banyak dijumpai pada diri orang muda khususnya pada masa sekarang ini adalah telinganya ada pelantang suara. Apakah itu pelantang suara yang kecil yang menempel di lubang telinga atau bentuk lebih besar yang menutup telinga. Biasanya mereka menggunakan pelantang suara itu untuk mendengarkan lagu.

Tentu ada sisi baiknya yaitu bahwa mereka mendengarkan lagu tanpa harus mengganggu orang lain karena dengan menggunakan pelantang jenis itu hanya dirinya yang mendengar. Kiranya masih banyak sisi baik yang dapat disebut namun saya ingin melihat sisi negatif dengan penggunaan pelantang tersebut.

Beberapa sisi negatif yang dapat disebut antara lain: dari sisi kesehatan, penggunaan pelantang dalam jangka waktu yang lama akan mempengaruhi kualitas pendengaran penggunanya, karena semakin lama pengguna cenderung untuk semakin menambah volume suara.
Dengan demikian dalam jangka waktu yang lama hanya suara-suara yang keras yang dapat didengarnya.

Sisi negatif yang lain dengan penggunaan pelantang itu membuat orang semakin berfokus pada kebutuhan diri sendiri. Dia akan fokus pada lagu yang didengarnya atau pekerjaan yang dikerjakan sembari mendengarkan lagu. Dengan menggunakan pelantang seakan mau mengatakan pada khalayak bahwa dirinya tidak mau diganggu. Bahkan ketika dipanggil pun dia tidak akan mendengar karena telinganya tertutup; apalagi menggunakan pelantang yang dilengkapi dengan peredam suara sekitar.

Pemandangan yang umum tadi menunjukkan bahwa banyak orang semakin berfokus pada diri sendiri dan cenderung untuk masa bodoh dengan apa yang ada di sekitarnya. Suara dari luar tidak akan masuk ke dalam dirinya dan situasi di luar dirinya juga tidak mendapatkan perhatian. Dengan berjalannya waktu orang akan menjadi pekak dan tidak peka lagi.

Dalam kehidupanku sehari-hari dalam hubunganku dengan Tuhan dan sesamaku semakin hari aku menjadi seperti orang yang menggunakan pelantang. Memang aku tidak menggunakan pelantang, tetapi aku menutup hatiku. Aku sibuk dengan diriku, sibuk dengan segala urusan demi kepentingan diriku. Semakin aku menyibukan diri dengan kepentinganku maka aku tidak akan mendengarkan suara dan situasi dari luar.

Aku tidak punya perhatian terhadap orang lain dan situasi di sekitarku. Aku menjadi masa bodoh dengan hal-hal di luar diriku. Maka aku juga tidak bisa mendengarkan suara Tuhan lagi, karena aku sudah tidak punya kepekaan akan situasi di sekitarku dan telah menjadi pekak. Suara hatiku berteriak keras tidak terdengar lagi karena aku telah pekak dan tidak peka lagi.

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Maret 2023

Renungan Harian
Rabu, 15 Maret 2023

Bacaan I: Ul. 4: 1. 5-9
Injil: Mat. 15: 17-19

Sejarah

Pelajaran sejarah, adalah salah satu pelajaran yang saya tidak suka, mungkin juga paling tidak saya suka. Sejak SD sampai dengan SMA pelajaran sejarah tidak pernah menjadi favorit saya. Setiap kali pelajaran sejarah rasanya tidak ada semangat untuk mengikuti bahkan cenderung tidak mendengarkan dengan cara mengerjakan yang lain.
Lebih parah lagi pada waktu saya SMA ada pelajaran sejarah dengan judul berbeda yaitu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.

Pelajaran sejarah tidak menarik bagi saya karena selama itu saya mendapatkan pelajaran sejarah hanyalah pelajaran menghafal tokoh, peristiwa dan cenderung menghafal tanggal dan tahun. Pada masa itu saya melihat pelajaran sejarah tidak ada pentingnya sama sekali; untuk apa menghafalkan tahun-tahun dan tanggal-tanggal rasanya tidak berarti untuk masa depan.
Rasanya tidak ada masalah dengan hidup saya jika saya tidak tahu kapan terjadinya perang Diponegoro, perang puputan atau perang di Ambarawa dan lain-lain.

Saat kuliah saya baru menyadari betapa penting belajar sejarah. Saya mendapatkan pencerahan dari seorang teman yang mengajak belajar sejarah bukan untuk menghafal tanggal dan tahun-tahun tetapi belajar semangat dan kesadaran para tokoh terhadap situasi sosial kemasyarakatan pada jamannya. Belajar menyadari dan mengerti kepekaan sosial kemanusiaan para tokoh berhadapan dengan situasi masyarakat. Dari situ saya menyadari betapa penting pelajaran sejarah.

Sejarah keselamatan orang Yahudi dan sejarah pengalaman nenek moyang dituntun Allah sampai pada tanah terjanji diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi. Mereka mengajarkan tentang Allah yang dahsyat, Allah yang mencintai umatnya, Allah yang setia dalam pelbagai peristiwa. Mereka mengajarkan Allah yang tidak pernah meninggalkan umatnya dan Allah yang selalu menerima kembali umatnya meski seringkali meninggalkanNya. Pengajaran ini bukan soal tahun tetapi soal pengalaman nenek moyang. Dengan pengajaran ini dimaksudkan agar bangsa Israel tidak pernah meninggalkan Allah dan selalu berpegang pada Allah.

Pendidikan iman pertama-tama bukan soal pengetahuan iman tetapi pengalaman iman. Pendidikan untuk mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari. Hanya lewat pengalaman iman bertumbuh dan berkembang.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian : 14 Maret 2023

Renungan Harian
Selasa, 14 Maret 2023

Bacaan I: T. Dan. 3: 25. 34-43
Injil: Mat. 18: 21-35

Sadar

Dalam acara Kick Andy, sebuah acara di sebuah televisi swasta menampilkan salah satu pelaku bom Bali. Sebagaimana kita ketahui, tragedi bom Bali telah menghancurkan banyak hal. Ada 200 orang meninggal, 200 orang terluka diantara mereka cacat permanen, merusak banyak tepat usaha dan fasilitas-fasilitas yang ada. Sebuah tragedi yang mengerikan dan memilukan. Bahkan untuk beberapa waktu banyak orang yang kehilangan mata pencahariannya.

Dalam acara itu pelaku mengakui perbuatannya dan tahu akibat dari perbuatannya. Dia menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah perbuatan yang sulit untuk dimaafkan dan dilupakan oleh banyak pihak. Dia menyesal atas apa yang telah diperbuatnya dan bertobat. Dia mengungkapkan tak henti-hentinya dia memohon ampunan dari Allah. Dia juga tak henti-hentinya mendoakan mereka yang menjadi korban.

Dia sekarang menikmati hidup di luar penjara karena dia sudah bebas bersyarat. Dari 20 tahun hukuman yang diterimanya, dia tidak harus menjalani sepenuhnya 20 tahun karena dia mendapatkan berbagai remisi hukuman. Kiranya dia berkelakuan baik selama menjalani hukuman sehingga mendapatkan remisi.

Kesadaran, penyesalan dan pertobatan yang diungkapkannya karena dia melihat Allah yang agung. Dia melihat siapa dirinya dihadapan Allah. Dia tahu bahwa telah salah memilih dalam upaya untuk menyembah dan mendekatkan diri pada Allah. Namun semua itu tidak serta merta membuat dirinya menjadi manusia bebas.

Allah yang maha rahim dan maha cinta pasti mengampuni segala kesalahan dan dosanya. Namun sepanjang hidupnya dia harus menanggung akibat dosanya. Saat mendapatkan bebas bersyarat ada sejumlah kontraversi. Beberapa negara memprotes pembebasan dia, terutama Australia karena banyak warganya yang menjadi korban. Orang-orang senegaranya pun juga khawatir akan dia. Banyak yang meragukan kesadaran, penyesalan dan pertobatannya. Dia memang sudah tidak dipenjara lagi tetapi kiranya dia tidak sungguh-sungguh menjadi manusia bebas; bebas dari pandangan miring dan kecurigaan banyak orang.

Lepas dari benar dan tidak; sungguh atau tidak tetapi dia mengungkapkan kesadaran akan apa yang telah diperbuatnya sebagai perbuatan salah dan dosa. Pertanyaannya dalam diri saya adalah kapan saya berani mengungkapkan kesadaran akan kesalahan dosa saya dan berani menanggung akibat kesalahan dan dosa saya?

Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Maret 2023

Renungan Harian
Senin, 13 Maret 2023

Bacaan I: 2Raj. 5: 1-15a
Injil: Luk. 4: 24-30

Angkuh

Suatu ketika dalam sebuah perayaan ekaristi, saat komuni terjadi sedikit keributan di barisan belakang. Saya tidak tahu persis apa yang menjadi sumber keributan tetapi sepintas dari depan saya melihat ada kemacetan dalam antrian dan ada sedikit ribut-ribut. Mungkin karena sedang misa dan saat penerimaan komuni sehingga tidak menjadi ribut besar dan mengganggu.

Setelah selesai perayaan ekaristi, saya bertanya kepada bapak prodiakon yang membagi komuni di belakang dimana ada keributan. Bapak prodiakon itu menjelaskan bahwa ada salah satu umat ketika dipersilahkan untuk mengantri tidak mau dan berusaha untuk mengantri ke depan di barisan tempat pastor membagi komuni. Petugas tata tertib mengingatkan salah satu umat itu untuk tetap mengantri di belakang bukan melewati barisan untuk ke depan. Tampaknya salah satu umat itu tidak terima dan terjadilah sedikit keributan.

Saya menduga bahwa salah satu umat itu tidak mau menerima komuni dari bapak prodiakon, sehingga memaksa untuk terima dari pastor. Saya sempat berpikir jangan-jangan salah satu umat itu punya masalah dengan bapak prodiakon itu; ternyata bapak-bapak prodiakon yang bertugas mengatakan bahwa memang salah satu umat itu tidak mau menerima komuni dari bapak prodiakon. Bahkan bapak-bapak prodiakon itu bercerita bahwa memang umat itu kalau misa di gereja lain juga tidak mau menerima komuni dari prodiakon.

Ketika saya ke luar untuk menyapa umat ada salah satu umat yang ingin bicara dengan saya. Salah satu umat itu dengan sedikit marah mengatakan bahwa dirinya tidak mau menerima komuni dari prodiakon. Dia mengatakan bahwa dirinya merasa tidak nyaman dan tidak pantas kalau menerima komuni dari prodiakon. Dia mengatakan bahwa prodiakon-prodiakon itu tidak pantas membagikan komuni dan menurutnya dirinya hanya mau menerima dari pastor.

Saya sudah berusaha menjelaskan sedemikian rupa tentang kewenangan bapak-bapak prodiakon untuk menerimakan komuni, tetapi tetap tidak berguna bagi umat itu. Dia juga mengatakan bahwa dirinya juga tidak pernah mau ikut doa di lingkungan karena dipimpin oleh prodiakon baginya itu tidak sah dan tidak layak untuk dirinya. Saya merasakan aroma keangkuhan yang luar biasa dari orang ini. Sampai saya berkata: “Apakah anda lebih suci, lebih saleh dan lebih baik dibanding bapak-bapak prodiakon ?” Dia tidak menjawab tetapi kelihatan amat tersinggung dan mengatakan: “Saya tidak akan misa lagi di gereja ini.” Saya tidak menjawab apapun, dan orang itu pun pergi.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar bahwa salah satu umat tersebut juga membuat masalah yang serupa dan marah-marah. Tetapi kemudian saya tidak tahu lagi kemana dia pergi merayakan ekaristi. Keangkuhannya telah menjadikan dirinya tertutup terhadap rahmat. Dia tidak pernah bisa mengerti dan juga tidak mau mengerti. Dia lebih mementingkan untuk menghidupi keangkuhannya daripada melihat rahmat yang tersedia.

Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.