Kegiatan CLC-DI-SURABAYA

Rekoleksi bersama CLC Surabaya

Teman² CLC Surabaya akan berbagi Cara Hidup Ignatian dengan mengadakan rekoleksi Online dengan tema

“Panggilan Kesucian untuk Dunia Masa Kini”

Berdasarkan referensi Surat Apostolik Gaidete et Exltate dari Paus Fransiskus.

📆 : Rabu, 20 Oktober 2021

🕐: Pkl. 18.⁰⁰ – 19.30 WIB

Link Akses:
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/87019059227?pwd=c1M3RDdxc0VXRDZtall0cndRYlJBdz09
Meeting ID: 870 1905 9227
Passcode: CLCSby

Rekoleksi akan dibimbing oleh:
Rm. Ignatius L. Madya Utama, SJ.

Silakan membaca terlebih dahulu dokumen tersebut (terlampir), dan gunakan tiga pertanyaan dibawah ini sebagai pemandu:
(1) Menurut pemahamanku, apa arti kesucian/kekudusan?;
(2) Apa arti kesucian/kekudusan menurut Gudete et Exultate?;
(3) Langkah-langkah konkret apa yang perlu aku lakukan agar pemahaman mengenai kesucian/kekudusan menurut Gaudete et Exultate menjadi pola merasa, pola berpikir dan pola bertindakku?

Sampai bertemu di Rekoleksi kita

AMDG

Refleksi Sahabat CLC – “ DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Rosario, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Nano SJ dengan judul tulisan “Devosi Itu Dialog; Bukan Monolog”.

Rm. Nano yang setelah selama 11 tahun menjadi Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta, sejak 2 Agustus 2021 menjalani perutusan baru yaitu bertugas sebagai Koordinator Formasi Awam Sahabat Ignatius, tinggal di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG

P. Agustinus Setyodarmono, SJ

Saya bukan pendoa rosario yang baik. Rasanya garing kalau berdoa rosario. Pendoa setia doa Malaikat Tuhan setiap jam 12.00 dan 18.00? Tidak juga. Saya juga bukan penghayat doa novena Salam Maria. Kering rasanya. Monolog.

Ada 2 cara yang saya nikmati sebagai cara berelasi dengan Bunda Maria. Cara 1 berakar pada pengalaman masa kecil jalan kaki ke Sendangsono mulai dari pinggir jalan raya Slanden pada tahun 1980-an. Mobil parkir di tepi jalan. Orangnya berjalan. Di bulan Mei biasanya musim hujan. Kondisi jalan masih dari tanah. Belum diaspal. Akibatnya jalanan becek, berlumpur dan licin. Peziarah terpeleset jatuh karena jalan licin adalah pemandangan biasa. Di kanan kiri jalan ada cukup banyak penjual tongkat bambu. Ada deretan pengemis meminta sedekah dari peziarah yang berjibaku dengan kondisi jalan yang licin. Ada penjual bengkoang, timun, kesemek (atau kledung, atau apel genit).

Berjalan kaki penuh perjuangan dari Slanden ke Gereja Paroki Promasan adalah etape 1. Etape 2 adalah mengikuti jalan salib Tuhan Yesus mulai dari Gereja Paroki Promasan ke Sendangsono. Rasanya lebih real mengikuti jalan salib itu karena kondisi jalan: becek, berlumpur dan licin. Saya belajar yang namanya ziarah itu adalah berlelah-lelah jalan kaki, sambil ndremimil doa Salam Maria, plus merenungkan jalan salib Tuhan Yesus.

Sampai di Sendangsono, istirahat. Ekaristi. Makan bekal yang dibawa dari rumah: arem-arem, teh manis, telur rebus. Perjalanan kembali ke mobil di bawah tetap sama: becek, berlumpur dan licin. Inilah miniatur hidup: becek, berlumpur dan licin. Dengan restu dan doa dari Bunda Maria, insyaallah tidak jatuh. Kalaupun jatuh, ada banyak teman seperjalanan yang murah hati membantu bangun lagi.

Cara kedua adalah membaca kisah-kisah Bunda Maria yang dituliskan oleh para penginjil. Matius dan Lukas menuliskan kisah awal Bunda Maria menerima kabar gembira, melahirkan di Betlehem, mengungsi ke Mesir, kembali ke Palestina sampai kisah-kisah di bawah salib Tuhan Yesus.

Cara 1 membaca: membayangkan hadir dalam peristiwa-peristiwa yang dikisahkan membuat saya merasakan yang dialami Bunda Maria. Cara ini membuat saya merasa dekat dengannya.

Cara 2 membaca: menggunakan kisah-kisah yang dialami Bunda Maria terjadi dalam hidup pribadi saya atau orang lain yang dekat dengan saya. Cara ini membantu saya untuk merasakan bahwa Bunda Maria menyertai perjalanan hidup saya.

2 cara ini membantu saya merasakan yang namanya: dialog dan bukan monolog.

Jakarta, 27 September 2021

nanosj


Lampiran :

MATERI ppt tentang Devosi Bunda Maria

MENG-IMITASI MARIA – Sebuah Cara Berdevosi

Lampiran Tambahan :

KEGIATAN-KEGIATAN DALAM KAITAN TUGAS PERUTUSAN SEBAGAI KOORDINATOR FORMASI AWAM SAHABAT IGNATIUS, sejak 2 Agustus 2021.

KEGIATAN BERSAMA KOMUNITAS SAHABAT IGNATIUS :
SCHOOLED BY THE SPIRIT (SBS),
CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC),
LATIHAN ROHANI PEMULA (LRP),
MITRA IGNASIAN,
IGNATIAN TALK -YAYASAN SESAWI,
SAV PUSKAT -BINCANG MoTv,
dll.

SOON
(YouTube) (BERSAMA SBS) Schooled By The Spirit (SBS) -THE SHADOW / Angk.IV – 24 Oktober – 12 Desember 2021, via zoom

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara Pertemuan Pengurus, dll CLC Lokal Yogyakarta -“Mengenal lebih jauh CLC”, Senin, 20 September 2021, via zoom.

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara CLC Lokal Jakarta -“KETERPURUKAN YANG MEMBANGKITKAN”, Minggu, 18 Juli 2021, via zoom

(YouTube) Latihan Rohani Pemula (LRP) -Ngobrol tentang Pengambilan Keputusan Secara Ignatian Bersama Rm. Nano SJ -9 September 2021, via zoom

( Latihan Rohani Pemula / LRP ) Memberikan Peneguhan pada acara Pleno Penutupan Latihan Rohani Pemula Season5 , Minggu, 12 September 2021, via zoom.

KEGIATAN PROMPANG (PROMOSI PANGGILAN) SJ

(YouTube) PROMPANG SJ -Rangkaian Kegiatan AYOK (A Joyful Vocation Week 2021; Tim Promosi Panggilan dari Lembaga Hidup Bakti (Ordo Religius, Tarekat, Kongregasi) dan Diosesan, 2021, via zoom

30 Jui 2021

22 April 2021

15 Juni 2021

(YouTube) Mitra Ignatian HSPMTB -Peran Bunda Maria dalam Hidup Yesus: Minggu, 23 Mei 2021 via zoom.



(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Spiritualitas Hati : 10 April 2021, via zoom.

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part2) : 7 November 2020, via zoom.
Link : https://www.youtube.com/watch?v=vzPmTyvjFpo

Mistik Santo Ignatius Loyola (part2) 7 November 2020

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part1) : 3 Oktober 2020, via zoom.

3 Oktober 2020

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part2) : 5 September 2020.

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part1) : 29 Agustus 2020.

(YouTube) Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo – Stasi Maria Assumpta Glodogan, Paroki Girisonta, Ajakan untuk Berbagi, 28 Agustus 2020, via zoom.

Sumber : https://www.facebook.com/LatihanDoaDanHidupRohani/photos/a.1760328837392961/4285102308248922/

Refleksi Sahabat CLC – “BELAJAR MEREFLEKSIKAN KETERLIBATAN ALLAH DALAM HIDUPKU SEHARI-HARI”

Dalam merayakan Pesta Hari St. Ignasius dan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Kitab Suci Nasional, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC yaitu Pater RD Rusbani Setyawan dengan judul tulisan “Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari”.

Rm Iwan adalah Pendamping CLC di Bandung. Sebagai pastor, Rm Iwan bertugas sebagai Pastor Paroki Salib Suci Kamuning Bandung dan sebagai Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Bandung.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam. IgnatiuS00

Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari

Oleh RD Rusbani Setyawan

Dalam sebuah pertemuan para penggiat Kitab Suci, saat itu sedang dibahas sebuah teks Kitab Suci. Para ahli Kitab Suci menyampaikan pendapatnya dengan didasarkan analisis-analisis kata dan kalimat berdasarkan bahasa-bahasa asli. Amat menarik mengikuti diskusi yang terjadi karena berbagai pendapat dan adanya saling mengkritisi satu sama lain. Bahkan pada saat itu terjadi sedikit perdebatan berkaitan dengan penafsiran huruf tertentu yang mempengaruhi arti.

Di tengah diskusi yang hebat itu, tiba-tiba ada seorang bapak yang adalah sopir dari salah seorang romo, berkata: “Para romo, kalau Sabda Tuhan begitu sulit dan rumit, maka kami orang yang bodoh ini tidak akan mengenal Tuhan dan tidak bisa masuk surga.” Perkataan bapak itu membuat semua yang sedang berdiskusi menjadi diam dan merenung. Perkataan bapak itu amat kuat bergema dalam diri saya. Setiap kali saya mempersiapkan renungan untuk homili selalu berusaha untuk menawarkan sesuatu yang menurut saya sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari.

Ketika menulis renungan harian, saya belajar untuk melihat pesan teks Kitab Suci dalam pengalaman hidup sehari-hari. Sudah pasti tidak mudah bagi saya yang amat terbatas. Tantangan besar adalah bagaimana membuat renungan yang sederhana dan sungguh-sungguh menampilkan pergulatan hidup sehari-hari.

Dalam perjalanan menulis renungan, saya mendapatkan banyak tanggapan berupa sharing-sharing dari para pembaca. Berdasarkan tanggapan-tanggapan itu, saya merasakan dan semakin yakin bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci itu begitu dekat dengan hidup keseharian kita semua. Dari situlah saya menemukan kesadaran bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci adalah bentuk keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Allah yang bertindak untuk manusia dan bersama manusia.

Dengan demikian menuliskan renungan bukan hanya soal merefleksikan Sabda Tuhan tetapi lebih dari itu adalah merefleksikan keterlibatan Allah dalam hidup sehari-hari. Merefleksikan karya Allah dalam kehidupan umatnya.

Iwan Roes RD.

Tulisan Renungan Harian oleh Rm Iwan yang diunggah di website CLC Indonesia : https://clcindonesia.wordpress.com/category/renungan/

DOKUMENTASI

Tahun 1984. Seminari Mertoyudan
Tahun 1986. Seminari Mertoyudan
Ulang Tahun Imamat : 10 Juli 2015


KEGIATAN BERSAMA UMAT/MASYARAKAT/KOMUNITAS

TOUR KE HOLY LAND .. Oktober 2009
(video) https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436879977273/
https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436023310692/

DI GEREJA/PAROKI

Tahun 2010
Tahun 2010 : Juli

Tahun 2011: Oktober
Tahun 2011: November

Tahun 2011: Di Gereja Katedral St Petrus Bandung

Tahun 2012

Tahun 2013

Memberi Sakramen Perkawinan

Berfoto Bersama Umat

Tahun 2014 : Bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo

Tahun 2015 – di Subang
Bersama Uskup Bandung: Mrg Anton

Tahun 2016: 17 Agustus


BERSAMA CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Tahun 2009
Bersama Ibra dkk.

Bersama Rius dkk.


DALAM KEGIATAN CLCL NASIONAL INDONESIA …

Menjadi Pembimbing Refleksi dll –
Gua Maria Tritis Wonosari – Journey to The South –
31 Agustus – 4 September 2018


Acara Permainan untuk bahan refleksi peserta :

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322103018410/

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322105218465/

Renungan Harian: 19 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 19 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 5: 12. 15b. 17-19. 20b-21
Injil: Luk. 12: 35-38

Penyesalan

“Setiap pulang kerja, sering aku melamun sambil melepas lelah sejenak.  Aku seorang pelayan toko; aku sudah bertahun-tahun kerja  sebagai pelayan toko. Sejak lulus SMA aku sudah bekerja sebagai pelayan toko.  Memang, aku telah beberapa kali berpindah tempat kerja, tetapi tetap sama sebagai pelayan toko. Aku melamun dan berandai-andai. Andai dulu aku tidak aneh-aneh mungkin hidupku tidak seperti sekarang ini. Aku melihat teman-teman kuliahku banyak yang sudah sukses, minimal mereka bekerja lebih baik tidak seperti aku seorang pelayan toko, dadaku terasa berdebar keras.
 
Aku sebetulnya bisa disebut anak yang beruntung. Setelah lulus SMA, orang tuaku tidak mampu membiayaiku kuliah karena memang kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Aku ditawari kerja jadi pelayan toko, dan aku juga ditawari kuliah sore hari. Aku bekerja dapat gaji untuk jajan dan keperluan sehari-hari sedang biaya kuliah ditanggung bos tempat aku bekerja. Namun karena kemalasanku dan ketidak sadaranku, aku sering begadang dengan teman-teman selepas kuliah. Akibatnya aku selalu terlambat kerja dan kerja juga tidak fokus. Akibatnya setelah satu tahun aku bekerja aku diberhentikan. Anehnya saat itu aku tidak merasa kecewa dan sedih. Aku berpikir tidak kuliah juga tidak apa-apa yang penting masih bisa main sama teman-temanku.
 
Selepas aku diberhentikan tidak sampai satu bulan aku dapat tawaran kerja sebagai pelayan toko. Dan aku beruntung karena bos tempat saya bekerja juga memberi kesempatan saya untuk kuliah. Namun lagi-lagi aku tidak sadar akan berkat ini. Aku tetap saja lebih banyak main di malam hari dan bahkan pergaulanku semakin tidak baik. Akibat dari semua itu aku harus menikah muda karena harus bertanggung jawab atas perbuatanku pada pacarku.
 
Aku harus menikah meski belum siap, dan harus mencari pekerjaan baru karena aku diberhentikan, sementara kuliahku banyak yang tidak lulus sehingga aku drop out. Jadilah aku seorang bapak dan seorang suami meski aku sebetulnya belum ingin. Sekarang aku bekerja dan harus bekerja karena harus menghidupi istri dan anak. Aku sekarang hidup pas-pasan cenderung berkekurangan. Itulah yang membuat aku sering melamun dan berandai-andai. Aku menyesali kehidupanku masa lalu tetapi hidupku tidak bisa diputar lagi,” seorang anak muda menceritakan kisahnya.
 
Kesempatan berahmat telah ia sia-siakan karena terlena dengan kesenangan-kesenangan pribadi. Kesetiaan dan ketekunan untuk menghidupi kesempatan berahmat hilang dari dirinya sehingga meninggalkan penyesalan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan pentingnya untuk selalu setia dan tekun dalam menjalani perutusan, apapun itu bentuknya. Ketekunan dan kesetiaan itu akan mendatangkan rahmat. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku tekun dan setia dalam menjalani perutusanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 18 Oktober 2021
Pesta St. Lukas, Penulis Injil

Bacaan I: 2Tim. 4: 10-17b
Injil: Luk. 10: 1-9

Tim Pendahulu

Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berceritera bahwa salah satu tugas yang di embannya adalah menjadi tim pendahulu. Dia menjelaskan bahwa apabila ada pejabat akan mengunjungi suatu tempat, maka dia dan timnya akan datang terlebih dahulu ke tempat itu. Tim ini memastikan kesiapan segala sesuatu di tempat itu, baik dari sisi keamanan, pengaturan tempat, agenda kunjungan dan sebagainya. Semua harus dipersiapkan dengan teliti. Apabila semua hal sudah diperiksa dengan teliti dan semua sudah siap, maka pejabat bisa kunjungan ke tempat itu. Apabila beberapa hal belum siap dan bisa dikejar sebelum hari kunjungan maka harus segera dibereskan sehingga kunjungan dapat terlaksana. Namun apabila ada masalah-masalah yang tidak beres dan tidak dapat diselesaikan pada hari kunjungan dan masalah itu amat penting bagi keselamatan pejabat yang akan berkunjung maka kunjungan akan dibatalkan.
 
Tim pendahulu tugasnya cukup berat dan resiko juga tidak kecil. Tanggung jawab “keberhasilan” kunjungan, keselamatan pejabat yang berkunjung ada pada pundaknya. Apalagi bila kunjungan pejabat utama dibatalkan maka kekecewaan daerah yang akan dikunjungi ditimpakan kepada tim ini. Teman saya mengatakan meski tugas dan tanggung jawabnya cukup berat namun dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas,  dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengutus 70 murid untuk mendahului ke tempat-tempat yang akan dikunjungiNya. Kiranya tugas para murid adalah mempersiapkan segala sesuatu agar kunjungan Yesus ke tempat itu memberikan buah bagi masyarakat di situ. Dengan kata lain para murid mempersiapkan jalan bagi Yesus. Para murid meskipun diberi kuasa namun bukan yang pertama dan utama untuk berkunjung, mereka adalah tim yang mempersiapkan. “Tuhan menunjuk tujuh puluh murid, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sebagai utusan telah mempersiapkan jalan untuk Tuhan dan bukan untuk diriku sendiri?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Oktober 2021

Renungan Harian
Minggu, 17 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXIX

Bacaan I: Yes. 53: 10-11
Bacaan II: Ibr. 4: 14-16
Injil: Mrk. 10: 35-36

Tumbal

Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih sebagai imam baru, saya menerima tamu sepasang suami istri. Sejak bertemu, ibu sudah berurai air mata; matanya sudah sembab nampaknya sudah banyak dia menangis. Sedang suami meski nampak kusut tetapi ada ketegaran dalam dirinya, dari sorot matanya menampakkan kekuatan dirinya. Saya menduga bahwa keduanya sedang menghadapi masalah berat.
 
“Romo, tolong nasehati istri saya, agar dia setuju dengan rencana yang kami tempuh untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami. Kami telah sepakat memilih jalan ini, tetapi kemudian istrinya keberatan dengan syarat yang harus kami jalani. Padahal syarat itu adalah syarat utama untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami.
 
Romo, kami selalu hidup dalam kesulitan; kami selalu kekurangan. Keperluan hidup sehari-hari kami selalu kesulitan, untuk makan harian kami serba kekurangan. Lalu kami mendapat saran dari seorang teman untuk bertemu dengan “orang pintar” yang bisa melihat permasalahan kami dan bisa memberikan jalan keluar. Teman kami ini dulu juga hidup seperti kami, dan sekarang sudah sukses dan hidupnya bahagia sejahtera.
 
Kami setuju dengan saran teman kami karena sudah melihat hasilnya sehingga kami berdua menemui “orang pintar” tersebut. Setelah bertemu beliau melihat bahwa keluarga kami ada “kutukan” sehingga harus dibebaskan dari “kutuk” itu. Kalau “kutuk” itu bisa hilang dari kami maka keluarga kami dan keturunan kami akan sejahtera. Beliau sanggup membebaskan “kutuk” itu dari keluarga kami dengan syarat kami rela mengorbankan anak bungsu kami. Anak bungsu kami ini akan menjadi korban pembebas “kutuk” bagi kami dan keturunan kami selanjutnya. Meskipun berat, saya setuju yang penting keluarga kami dan anak cucu kami kelak hidup bahagia dan sejahtera, namun istri saya tidak setuju. Dia tidak mau kehilangan anak kami; dia memilih tetap hidup seperti ini tetapi tidak kehilangan anak kami. Itulah romo, persoalan besar kami, maka kami mohon romo bisa menasehati istri saya. Korban ini sungguh-sungguh demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami,” bapak itu menjelaskan maksudnya.
 
Saya amat terkejut dan dicekam kengerian yang dalam. Sesuatu yang hanya saya lihat di film atau saya baca dari buku-buku cerita, sekarang saya hadapi. Saya menjelaskan kepada bapak itu bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang salah dan tidak baik. Sesuatu yang baik harus melalui proses yang baik, dengan cara-cara yang baik. Saya memberikan penjelasan cukup panjang untuk menyadarkan bapak itu. Namun bapak itu justru marah karena saya tidak mendukung dirinya. Bapak itu kemudian pergi dan mau mencari pastor lain, pastor senior yang bisa mendukung dirinya. Saya pastor muda dianggap tidak mengerti dan tidak punya pengalaman.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus mengajarkan agar para muridnya mau memberikan dirinya sepenuhnya untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain; bukan mengorbankan orang lain demi kebahagiaan dirinya. “Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sudah memberikan diriku untuk kebahagiaan orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 16 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 4: 13. 16-18
Injil: Luk. 12: 8-12

Selalu Tersenyum

Saya amat senang setiap kali mengunjungi ibu ini. Beliau selalu tersenyum dan selalu menampakkan wajah yang bahagia. Senyum kebahagiaannya memberikan kegembiraan bagi orang lain. Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh banyak orang yang bertemu dengan ibu itu.
 
Saya kenal dengan ibu itu saat saya diminta memberikan sakramen pengurapan orang sakit pada beliau. Saat pertama kali saya bertemu saya tidak menyangka bahwa ibu itu sedang sakit, kecuali bahwa beliau sedang berbaring di tempat tidur.

Beliau menyapa saya dengan ramah dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Beliau tahu persis tentang penyakit yang dideritanya tetapi menampakkan seolah-olah bukan suatu beban bagi hidupnya.
 
Suami ibu itu menjelaskan bahwa ibu itu menderita kanker JJtulang dengan stadium lanjut. Kanker itu bukan hanya menggerogoti raganya tetapi juga memberikan rasa sakit yang luar biasa. Dokter yang merawatnya tahu persis akan rasa sakit yang mepoleh ibu itu; maka dokter memberikan obat untuk mengurangi r0asa sakit. Namun ketika diberi penjelasan tentang obat itu, ibu itu menolak, beliau mau menanggungnya. Ketika rasa sakit itu menyerang ibu itu hanya diam dan tangannya mengatup ofuntuk menahan rasa sakit. Tetapi tidak ada satu kata keluhan yang keluar dari mulutnya. Bahkan bila bertemu dengan orang lain beliau selalu  tersenyum meski saat itu sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.
 
Banyak orang heran akan kekuatan dan ketabahan ibu itu. Suami dan anak-anaknya yang sedih karena melihat istri dan ibu mereka sedang sakit seringkali justru terhibur dan dikuatkan oleh sikap ibu itu. Beberapa kali ibu itu justru menghibur dan menguatkan suami dan anak-anaknya.
 
Di saat terakhir hidupnya, ketika saya memberikan komuni kudus, ibu itu menyambut dengan tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sudah disembuhkan. Beberapa jam setelah menyambut Tubuh Kristus, ibu itu menghadap Tuhan dengan tersenyum. Melihat jenazahnya seperti melihat seorang yang tidur nyenyak dan sedang bermimpi indah karena ada senyum menghiasi bibirnya.
 
Bagi saya, ibu itu dalam sakitnya justru memberikan kesaksian luar biasa tentang imannya. Kekuatan ibu itu menanggung rasa sakit yang luar biasa dan kerelaanya menerima sakitnya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan imannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku memberi kesaksian tentang imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat, 15 Oktober 2021
PW. S. Theresia dr Yesus

Bacaan I: Rom. 4: 1-8
Injil: Luk. 12: 1-7

Pergulatan

Saya sering mendengar kritik dari banyak teman berkaitan dengan khotbah para imam. Teman-teman mengkritik bahwa khotbah para imam terlalu ngawang-ngawang sehingga tidak banyak berguna bagi umat. Sementara kritik lain yang benar tetapi cukup pedas adalah bahwa para imam berkhotbah tetapi tidak bisa menjalankan apa yang dikhotbahkan. Para imam seperti kaum Farisi. Sering kali pembelaan yang muncul dari diri saya adalah bahwa tidak semua yang dikhotbahkan bisa dilakukan oleh imam. Tentu jawaban saya ini hanyalah rasionalisasi yang tidak penting. Saya menyadari betul bahwa kritik teman-teman itu adalah kritik yang membangun dan baik.
 
Saya sendiri amat sadar beban yang tidak mudah ketika mempersiapkan khotbah. Bebannya bukan soal tafsir Kitab Suci dan penerapannya tetapi lebih beban bahwa apa yang saya khotbahkan sering kali masih jauh dari perilaku saya pribadi.

Seorang teman rahib OCSO (pertapaan Rawaseneng) pernah sharing bahwa dirinya sebenarnya berat untuk menjadi imam di pertapaan. Beban beratnya ada pada harus berkhotbah. Seorang imam di pertapaan harus berkhotbah untuk saudara-saudara sekomunitas yang setiap hari hidup bersama dengannya dan pasti kenal persis kehidupannya setiap hari. Berat karena satu pihak harus berkhotbah dan pihak lain perilakunya masih jauh dari apa yang dikhotbahkan.
 
Bagi saya setiap kali berkhotbah adalah tantangan dan pergulatan. Pergulatan untuk selalu menyadari betapa diriku masih jauh dari apa yang ku khotbahkan. Aku sadar saat aku berkhotbah hal pertama dan penting adalah aku mengkhotbahi diriku sendiri.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan dan menegur betapa godaan untuk menutupi kelemahan diri dengan berkhotbah yang muluk-muluk dengan kata-kata indah selalu ada pada diri saya. “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”
 
Bagaimana dengan aku? Sudah selaraskah antar tuturan ku dan perilaku ku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 14 Oktober 2021

Renungan Harian
Rabu, 13 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 2: 1-11
Injil: Luk. 11: 42-46

A d i l

“Romo, mohon romo berkenan berbicara dan mengingatkan suami saya. Seperti romo ketahui, suami saya amat aktif dalam pelayanan di gereja. Untuk urusan gereja pasti menjadi nomor satu bagi suami saya bahkan dia rela untuk mengambil cuti untuk tugas pelayanan. Hidupnya selalu pelayanan dan pelayanan.
 
Selain itu juga mohon romo mengingatkan agar dia tidak mudah memberikan bantuan uang ke orang lain. Romo, dia itu orang entah terlalu baik atau bodoh, dia mudah sekali membantu orang tetapi juga muda ditipu karenanya. Sudah berkali-kali dia membantu orang dan ujung-ujungnya dia kena tipu.
 
Romo, saya tidak melarang suami saya aktif dalam kegiatan pelayanan di gereja, bahkan saya senang dan bangga. Saya juga tidak melarang suami saya untuk membantu orang; saya senang punya suami yang murah hati dan peduli dengan orang lain. Namun saya berharap dia bersikap adil antara keluarga dan pelayanan. Romo, dia itu sama sekali tidak pernah memperhatikan rumah. Semua urusan rumah harus saya. Dia kerja dan pelayanan itu saja kerjanya. Pekerjaan rumah tidak sedikitpun yang disentuh.
 
Dia sibuk kerja dan pelayanan saya bisa mengerti, saya mengalah. Namun sikapnya itu berbeda 180 derajat saat di gereja dan di rumah. Saat pelayanan dia dikenal sebagai orang yang ramah, murah hati selalu menolong. Sedang di rumah dia itu sering marah-marah, selalu minta dilayani. Apalagi dengan anak-anak, dia sama sekali tidak perhatian. Beberapa kali anaknya tanya ini itu atau minta jalan-jalan, dia menjawab sibuk dengan marah. Belum lagi soal keuangan, dia di rumah amat pelit romo. Uang belanja rumah selalu dijatah, cukup tidak cukup segitu, anak-anak minta dibelikan mainan sederhana selalu dijawab tidak ada uang. Kalau anaknya merengek, anaknya akan dimarahi. Itulah romo, persoalan dengan suami saya, sekali lagi romo mohon agar romo berkenan untuk menasehati suami saya,” seorang ibu bercerita.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik sikap orang Farisi yang menjalankan aturan-aturan agama dan adat istiadat dengan sempurna namun semua itu hanya demi dilihat orang. Sementara di baliknya banyak melakukan tindakan ketidak adilan. “ Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi! Sebab kalian membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kalian mengabaikan keadilan dan kasih Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Sudah adilkah aku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 12 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 1: 16-25
Injil: Luk. 11: 37-41

Tertutup

Akhir-akhir ini masyarakat dipertontonkan seorang ilmuwan yang berpenampilan arogan. Ilmuwan ini menampilkan kesan sebagai orang yang luar bisa menguasai banyak bidang ilmu. Apapun persoalan bangsa ini beliau selalu tampil sebagai seorang analis dan hampir selalu memberikan kritik yang tajam, sarkas cenderung kasar. Bahkan dengan semua analisisnya apapun yang dilakukan pemerintah atau pemangku keputusan negeri ini salah. Tidak jarang beliau mengatakan bahwa semua pemangku keputusan negeri ini adalah orang dungu.
 
Sudah barang tentu pernyataan-pernyataan beliau sering menimbulkan kontroversi banyak yang beranggapan bahwa beliau asal bicara tidak mampu melihat sebuah persoalan dengan lebih utuh dan mendalam. Namun tidak sedikit pula yang mengatakan pernyataan-pernyataan beliau sebagai yang luar biasa hebat. Bahkan beberapa waktu yang lalu sekumpulan ilmuwan menolak bidang ilmunya disebut sebagai dasar analisis beliau.
 
Banyak orang yang mengenal beliau sebelum beliau banyak tampil di media agak terkejut dengan perubahan yang terjadi. Beliau sebelumnya dikenal sebagai orang yang bisa memberikan analisis cukup mendalam dan tajam. Beliau banyak memberikan inspirasi bagi orang muda untuk melihat persoalan dengan lebih dalam dan atmosfir yang lebih luas. Beliau mampu menghadirkan diskusi dan diskursus di kalangan anak muda mengenai persoalan yang tampaknya sederhana tetapi bisa diolah dengan mendalam. Lalu mengapa menjadi begitu berubah? Banyak orang muda yang mengagumi dan mengidolakan beliau menjadi bingung dengan perubahan ini.
 
Banyak orang berpendapat bahwa perubahan beliau karena keberpihakan beliau. Keberpihakan beliau menjadikan beliau tidak lagi obyektif dalam melihat fakta, data dan fenomena. Analisi beliau berdasar pada keberpihakan. Beliau pasti tahu sisi yang lain, beliau pasti sadar dengan adanya data, fakta dan fenomena yang berbeda namun karena sudah berpihak maka menjadi tertutup dengan sesuatu yang diluar frame keberpihakannya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik keras sikap orang Farisi yang tertutup hati dan budinya. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka dan kelompok mereka sehingga hati dan budinya tertutup. “Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang-orang yang dikritik Yesus dengan keras?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Kegiatan Minggu Ketiga

Memandang Segalanya Secara Baru dalam Kristus

Teman2 yang baik 🌻🥰

CLC Jakarta, turut serta merayakan Tahun Ignasian dengan acara Bedah Buku Berjalan Bersama Ignatius (Arturo Sosa SJ)
Acara akan dipandu oleh Rm. Ag. Setyodarmono SJ.
Koordinator Formasi Awam Sahabat Ignatius

Pertemuan (zoom) akan diselenggarakan pada
Hari : Minggu
Tanggal : 17 Oktober 2021
Jam : 10.00 – 12.00.

Mari teman-teman Sahabat Ignatius, kita ajak para pemerhati Spiritualitas Ignasian untuk join acara ini.

Terima kasih. 🙏🏻🔥
AMDG

Link zoom menyusul

DOKUMENTASI PELAKSANAAN KEGIATAN -MINGGU, 17 OKTOBER 2021

Renungan Harian: 11 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 11 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 1: 1-7
Injil: Luk. 11: 29-32

Percaya

Seorang anak muda mengaku dirinya seorang scientist. Dia mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan Tuhan karena Tuhan tidak bisa diterangkan dan dipahami dengan nalarnya. Dia hanya percaya pada ilmu pengetahuan karena baginya itu bisa dinalar dan dia hanya percaya pada hal-hal yang bisa diterangkan dengan ilmu pengetahuan.
 
Di antara teman-teman dekatnya dia dianggap sebagai orang yang luar biasa dan pandai. Apa pun bisa dia terangkan dan membuat teman-temannya kagum. Dia bukan seorang ilmuwan tetapi dia selalu mencari tahu tentang apa saja lewat internet. Dia mengatakan sudah membaca banyak kitab suci dari berbagai agama tetapi bagi dia semua adalah omong kosong karena semua itu hanya fantasi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
 
Dalam sebuah percakapan dengan ibunya, saat ibunya menolak ketika dia akan mendidik anak-anaknya menjadi scientist, dia mengatakan bahwa dia akan percaya pada Tuhan seandainya malaikat Gabriel datang kepadanya dan memberikan pesan dari Allah. Mendengar pernyataan anaknya itu, ibu tidak menjadi marah tetapi ibunya tertawa dan menjawab: “Siapa kamu? Sehebat apakah dirimu dan seberapa besar pengaruhmu bagi dunia dan manusia sehingga Tuhan harus mengutus malaikatnya kepadamu? Dan lagi seandainya betul malaikat Gabriel datang menemui kamu membawa pesan dari Allah apakah kamu akan percaya bahwa itu malaikat Gabriel? Dan apakah kamu percaya dan yakin dia datang membawa pesan Allah?
 
Nak, jika kamu tidak percaya tanda apapun tidak akan membuat dirimu menjadi percaya. Akan tetapi jika kamu percaya maka kamu akan melihat dan mengalami banyak tanda yang dari Tuhan dalam hidupmu setiap hari,” jawab ibunya.
 
Seperti anak muda tersebut, banyak dari kita orang beriman pun seringkali meminta tanda dari Tuhan. Tidak jarang kita meminta tanda-tanda luar biasa, mukjizat dalam hidup. Seperti nasehat ibu itu bahwa kalau kita percaya maka Tuhan selalu hadir dan terlibat dalam hidupku setiap hari melalui banyak tanda dan sarana. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengkritik orang-orang Yahudi yang selalu minta tanda. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku termasuk orang-orang yang sering meminta tanda dari Allah?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.