Refleksi Sahabat CLC – “ DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Rosario, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ atau yang biasa disapa dengan Rm. Nano SJ dengan judul tulisan “Devosi Itu Dialog; Bukan Monolog”.

Rm. Nano yang setelah selama 11 tahun menjadi Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta, sejak 2 Agustus 2021 menjalani perutusan baru yaitu bertugas sebagai Koordinator Formasi Awam Sahabat Ignatius, tinggal di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

DEVOSI ITU DIALOG; BUKAN MONOLOG

P. Agustinus Setyodarmono, SJ

Saya bukan pendoa rosario yang baik. Rasanya garing kalau berdoa rosario. Pendoa setia doa Malaikat Tuhan setiap jam 12.00 dan 18.00? Tidak juga. Saya juga bukan penghayat doa novena Salam Maria. Kering rasanya. Monolog.

Ada 2 cara yang saya nikmati sebagai cara berelasi dengan Bunda Maria. Cara 1 berakar pada pengalaman masa kecil jalan kaki ke Sendangsono mulai dari pinggir jalan raya Slanden pada tahun 1980-an. Mobil parkir di tepi jalan. Orangnya berjalan. Di bulan Mei biasanya musim hujan. Kondisi jalan masih dari tanah. Belum diaspal. Akibatnya jalanan becek, berlumpur dan licin. Peziarah terpeleset jatuh karena jalan licin adalah pemandangan biasa. Di kanan kiri jalan ada cukup banyak penjual tongkat bambu. Ada deretan pengemis meminta sedekah dari peziarah yang berjibaku dengan kondisi jalan yang licin. Ada penjual bengkoang, timun, kesemek (atau kledung, atau apel genit).

Berjalan kaki penuh perjuangan dari Slanden ke Gereja Paroki Promasan adalah etape 1. Etape 2 adalah mengikuti jalan salib Tuhan Yesus mulai dari Gereja Paroki Promasan ke Sendangsono. Rasanya lebih real mengikuti jalan salib itu karena kondisi jalan: becek, berlumpur dan licin. Saya belajar yang namanya ziarah itu adalah berlelah-lelah jalan kaki, sambil ndremimil doa Salam Maria, plus merenungkan jalan salib Tuhan Yesus.

Sampai di Sendangsono, istirahat. Ekaristi. Makan bekal yang dibawa dari rumah: arem-arem, teh manis, telur rebus. Perjalanan kembali ke mobil di bawah tetap sama: becek, berlumpur dan licin. Inilah miniatur hidup: becek, berlumpur dan licin. Dengan restu dan doa dari Bunda Maria, insyaallah tidak jatuh. Kalaupun jatuh, ada banyak teman seperjalanan yang murah hati membantu bangun lagi.

Cara kedua adalah membaca kisah-kisah Bunda Maria yang dituliskan oleh para penginjil. Matius dan Lukas menuliskan kisah awal Bunda Maria menerima kabar gembira, melahirkan di Betlehem, mengungsi ke Mesir, kembali ke Palestina sampai kisah-kisah di bawah salib Tuhan Yesus.

Cara 1 membaca: membayangkan hadir dalam peristiwa-peristiwa yang dikisahkan membuat saya merasakan yang dialami Bunda Maria. Cara ini membuat saya merasa dekat dengannya.

Cara 2 membaca: menggunakan kisah-kisah yang dialami Bunda Maria terjadi dalam hidup pribadi saya atau orang lain yang dekat dengan saya. Cara ini membantu saya untuk merasakan bahwa Bunda Maria menyertai perjalanan hidup saya.

2 cara ini membantu saya merasakan yang namanya: dialog dan bukan monolog.

Jakarta, 27 September 2021

nanosj


Lampiran :

MATERI ppt tentang Devosi Bunda Maria

MENG-IMITASI MARIA – Sebuah Cara Berdevosi

Lampiran Tambahan :

KEGIATAN-KEGIATAN DALAM KAITAN TUGAS PERUTUSAN SEBAGAI KOORDINATOR FORMASI AWAM SAHABAT IGNATIUS, sejak 2 Agustus 2021.

KEGIATAN BERSAMA KOMUNITAS SAHABAT IGNATIUS :
SCHOOLED BY THE SPIRIT (SBS),
CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC),
LATIHAN ROHANI PEMULA (LRP),
MITRA IGNASIAN,
IGNATIAN TALK -YAYASAN SESAWI,
SAV PUSKAT -BINCANG MoTv,
dll.

SOON
(YouTube) (BERSAMA SBS) Schooled By The Spirit (SBS) -THE SHADOW / Angk.IV – 24 Oktober – 12 Desember 2021, via zoom

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara Pertemuan Pengurus, dll CLC Lokal Yogyakarta -“Mengenal lebih jauh CLC”, Senin, 20 September 2021, via zoom.

(BERSAMA CLC) Hadir dalam acara CLC Lokal Jakarta -“KETERPURUKAN YANG MEMBANGKITKAN”, Minggu, 18 Juli 2021, via zoom

(YouTube) Latihan Rohani Pemula (LRP) -Ngobrol tentang Pengambilan Keputusan Secara Ignatian Bersama Rm. Nano SJ -9 September 2021, via zoom

( Latihan Rohani Pemula / LRP ) Memberikan Peneguhan pada acara Pleno Penutupan Latihan Rohani Pemula Season5 , Minggu, 12 September 2021, via zoom.

KEGIATAN PROMPANG (PROMOSI PANGGILAN) SJ

(YouTube) PROMPANG SJ -Rangkaian Kegiatan AYOK (A Joyful Vocation Week 2021; Tim Promosi Panggilan dari Lembaga Hidup Bakti (Ordo Religius, Tarekat, Kongregasi) dan Diosesan, 2021, via zoom

30 Jui 2021

22 April 2021

15 Juni 2021

(YouTube) Mitra Ignatian HSPMTB -Peran Bunda Maria dalam Hidup Yesus: Minggu, 23 Mei 2021 via zoom.



(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Spiritualitas Hati : 10 April 2021, via zoom.

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part2) : 7 November 2020, via zoom.
Link : https://www.youtube.com/watch?v=vzPmTyvjFpo

Mistik Santo Ignatius Loyola (part2) 7 November 2020

(YouTube) Yayasan Sesawi -IGNATIAN TALK .. Mistik Ignatius Loyoloa (part1) : 3 Oktober 2020, via zoom.

3 Oktober 2020

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part2) : 5 September 2020.

(YouTube) SAV Puskat .. Bincang MoTv bersama Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ (part1) : 29 Agustus 2020.

(YouTube) Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisodo – Stasi Maria Assumpta Glodogan, Paroki Girisonta, Ajakan untuk Berbagi, 28 Agustus 2020, via zoom.

Sumber : https://www.facebook.com/LatihanDoaDanHidupRohani/photos/a.1760328837392961/4285102308248922/

Refleksi Sahabat CLC – “BELAJAR MEREFLEKSIKAN KETERLIBATAN ALLAH DALAM HIDUPKU SEHARI-HARI”

Dalam merayakan Pesta Hari St. Ignasius dan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan juga untuk menyambut Bulan Kitab Suci Nasional, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC yaitu Pater RD Rusbani Setyawan dengan judul tulisan “Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari”.

Rm Iwan adalah Pendamping CLC di Bandung. Sebagai pastor, Rm Iwan bertugas sebagai Pastor Paroki Salib Suci Kamuning Bandung dan sebagai Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Bandung.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam. IgnatiuS00

Belajar Merefleksikan Keterlibatan Allah dalam Hidupku Sehari-hari

Oleh RD Rusbani Setyawan

Dalam sebuah pertemuan para penggiat Kitab Suci, saat itu sedang dibahas sebuah teks Kitab Suci. Para ahli Kitab Suci menyampaikan pendapatnya dengan didasarkan analisis-analisis kata dan kalimat berdasarkan bahasa-bahasa asli. Amat menarik mengikuti diskusi yang terjadi karena berbagai pendapat dan adanya saling mengkritisi satu sama lain. Bahkan pada saat itu terjadi sedikit perdebatan berkaitan dengan penafsiran huruf tertentu yang mempengaruhi arti.

Di tengah diskusi yang hebat itu, tiba-tiba ada seorang bapak yang adalah sopir dari salah seorang romo, berkata: “Para romo, kalau Sabda Tuhan begitu sulit dan rumit, maka kami orang yang bodoh ini tidak akan mengenal Tuhan dan tidak bisa masuk surga.” Perkataan bapak itu membuat semua yang sedang berdiskusi menjadi diam dan merenung. Perkataan bapak itu amat kuat bergema dalam diri saya. Setiap kali saya mempersiapkan renungan untuk homili selalu berusaha untuk menawarkan sesuatu yang menurut saya sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup sehari-hari.

Ketika menulis renungan harian, saya belajar untuk melihat pesan teks Kitab Suci dalam pengalaman hidup sehari-hari. Sudah pasti tidak mudah bagi saya yang amat terbatas. Tantangan besar adalah bagaimana membuat renungan yang sederhana dan sungguh-sungguh menampilkan pergulatan hidup sehari-hari.

Dalam perjalanan menulis renungan, saya mendapatkan banyak tanggapan berupa sharing-sharing dari para pembaca. Berdasarkan tanggapan-tanggapan itu, saya merasakan dan semakin yakin bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci itu begitu dekat dengan hidup keseharian kita semua. Dari situlah saya menemukan kesadaran bahwa Sabda Tuhan sejauh diwartakan dalam Kitab Suci adalah bentuk keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Allah yang bertindak untuk manusia dan bersama manusia.

Dengan demikian menuliskan renungan bukan hanya soal merefleksikan Sabda Tuhan tetapi lebih dari itu adalah merefleksikan keterlibatan Allah dalam hidup sehari-hari. Merefleksikan karya Allah dalam kehidupan umatnya.

Iwan Roes RD.

Tulisan Renungan Harian oleh Rm Iwan yang diunggah di website CLC Indonesia : https://clcindonesia.wordpress.com/category/renungan/

DOKUMENTASI

Tahun 1984. Seminari Mertoyudan
Tahun 1986. Seminari Mertoyudan
Ulang Tahun Imamat : 10 Juli 2015


KEGIATAN BERSAMA UMAT/MASYARAKAT/KOMUNITAS

TOUR KE HOLY LAND .. Oktober 2009
(video) https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436879977273/
https://www.facebook.com/100000328842437/videos/100436023310692/

DI GEREJA/PAROKI

Tahun 2010
Tahun 2010 : Juli

Tahun 2011: Oktober
Tahun 2011: November

Tahun 2011: Di Gereja Katedral St Petrus Bandung

Tahun 2012

Tahun 2013

Memberi Sakramen Perkawinan

Berfoto Bersama Umat

Tahun 2014 : Bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo

Tahun 2015 – di Subang
Bersama Uskup Bandung: Mrg Anton

Tahun 2016: 17 Agustus


BERSAMA CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Tahun 2009
Bersama Ibra dkk.

Bersama Rius dkk.


DALAM KEGIATAN CLCL NASIONAL INDONESIA …

Menjadi Pembimbing Refleksi dll –
Gua Maria Tritis Wonosari – Journey to The South –
31 Agustus – 4 September 2018


Acara Permainan untuk bahan refleksi peserta :

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322103018410/

https://www.facebook.com/1010520480/videos/10215322105218465/

Renungan Harian: 23 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 23 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 8: 1-11
Injil: Luk. 13: 1-9

Kesempatan

“Sebetulnya aku tidak ingin menyalahkan lingkungan bahwa aku terjerumus dalam dunia hitam ini. Tetapi kenyataannya  aku jatuh dalam dunia ini karena pergaulanku. Sejak SMP aku sudah mengenal obat-obatan dan kemudian lebih lagi mengenal Narkoba. Awalnya aku selalu dapat barang-barang itu dari teman-temanku tapi lama kelamaan, aku harus membeli sendiri. Awalnya aku bisa membeli barang dengan uang jajanku, dan pemberian orang tua. Kemudian aku sering minta ke orang tua, karena uang jajanku tidak cukup lagi memenuhi kebutuhanku bahkan aku sering marah dan ngamuk bila aku tidak mendapat uang yang aku minta.
 
Akibat kecanduan itu, berkali-kali aku harus dirawat di rumah sakit karena kelebihan dosis. Tetapi semua itu tidak membuat aku jera bahkan semakin dalam kecanduanku. Di hadapan keluargaku aku memang selalu berpura-pura bahwa aku sudah tidak terlibat dengan Narkoba. Aku menunjukkan bahwa aku bekerja agar keluargaku percaya bahwa aku sudah tidak terlibat dengan barang-barang haram itu. Sampai kemudian aku menikah dan keluarga semua bersyukur karena menganggap aku sudah sembuh.
 
Kebutuhan ku akan barang haram semakin besar sehingga saat barang-barang di rumah sudah tidak ada yang bisa dijual lagi, aku mulai mencuri barang-barang di kantor. Akibatnya aku ketahuan dan dibawa ke kantor polisi. Berkat usaha keluargaku aku bisa dibebaskan dan kembali ke keluargaku. Setelah keluar dari penjara, aku kumpul dengan teman-temanku sesama pencandu dan di saat itu aku over dosis dan dibawa ke rumah sakit. Menurut cerita istriku saat itu aku sudah tidak bisa tertolong lagi, namun entah bagaimana aku bisa melewati masa krisis itu.
 
Begitu aku keluar dari rumah sakit, istriku ngomong: “Berkali-kali kamu diberi kesempatan hidup, dan terakhir kemarin sebenarnya kamu sudah mati. Kalau sekarang kamu masih bisa hidup itu sungguh-sungguh mukjizat. Sekarang terserah kamu, mau tetap seperti ini dan ujungnya mati atau mau menggunakan kesempatan ini. Aku sudah pasrah, kamu mau hidup ayo kita bangun hidup kita, tetapi kalau kamu mati ya silahkan.” Kata-kata istriku seperti petir di telingaku dan membuat aku berkeputusan untuk berubah. Aku ngomong ke istriku: “Aku mau berubah, aku mau direhab, tolong bantu aku.” Istriku memelukku, “Kamu pasti bisa, ayo kita bangun hidup kita,” kata istriku sambil berlinang air mata, “ seorang teman berkisah tentang hidupnya.
 
Seperti kata para bijak: “Kesempatan tidak datang dua kali”, maka tinggal bagaimana aku menggunakan kesempatan yang ada dan tersedia bagiku. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Tuhan memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki diri. “Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!”.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mau dan mampu menggunakan kesempatan yang diberikan kepadaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat, 22 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 7:18-25a
Injil: Luk. 12: 54-59

Tidak Mau Tahu

“Romo, hati saya sungguh-sungguh hancur, saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana. Saya berdosa, amat berdosa; saya benar-benar salah. Seandainya saya berani lebih tegas dan mau sedikit ribut mungkin semua ini tidak akan terjadi.
 
Romo, suami saya tahu bahwa pandemi covid ini amat berbahaya dan penularannya juga sudah kemana-mana. Dia juga bercerita kalau beberapa temannya sudah terpapar dan harus dirawat di rumah sakit. Dia juga bercerita bagaimana teman-temannya menderita akibat terpapar virus ini. Bahkan dia juga menceritakan beberapa temannya yang meninggal akibat virus covid.
 
Romo, dia sadar bahwa semua orang bisa terpapar virus covid ini sehingga dia selalu menjaga kami, saya dan anak-anak. Dia selalu menjelaskan harus bersih, harus jaga jarak dan semua hal agar kami semua selamat. Bahkan dia melarang kami untuk membeli makanan dari luar, anak-anak dilarang jajan. Dia minta saya untuk selalu memasak dan bikin camilan untuk anak-anak. Saya melakukan semua itu karena saya tahu semua demi kebaikan kami.
 
Tetapi, sikap dia terhadap dirinya, soal menghadapi pandemi ini yang sering bikin kami ribut sehingga pada titik tertentu saya mengalah, karena tidak mau ribut terus. Dia yang tahu dan sadar akan bahaya virus ini, dia justru abai dengan segala yang dia katakan pada kami. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang sehat, punya antibodi yang baik sehingga dia tidak akan tertular. Dia selalu marah kalau saya ingatkan agar tidak kumpul-kumpul dengan temannya. Dia selalu mengatakan agar saya tidak parno, dan minta saya untuk mengerti bahwa dia dan teman-temannya adalah orang-orang sehat dan punya kekebalan tubuh yang baik.
 
Sampai kemudian dia terpapar dari temannya yang juga meninggal karena covid. Saya menyesal dan selalu dibayangi dosa besar. Seandainya saya tidak menyerah, seandainya saya mau ribut setiap hari demi keselamatan dia, pasti dia sekarang masih bersama kami. Romo, hari-hari saya terasa gelap dan air mata ini rasanya sudah kering,” seorang ibu bercerita saat saya merayakan ekaristi mengenang 7 hari suaminya dipanggil Tuhan.
 
Mendengar cerita ibu itu, saya seperti ditegur keras juga. Betapa dalam banyak hal saya tahu, saya sadar bahkan saya bisa memberi tahu orang lain, tetapi untuk diri sendiri tidak peduli, tidak mau tahu, malas tahu. Dalam banyak segi kehidupan itu yang sering terjadi, termasuk dalam hidup beriman. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”.
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sadar akan tanda-tanda yang diberikan kepadaku dan telah memutuskan dengan benar?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Oktober 2021

Renungan Harian
Kamis, 21 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 6: 19-23
Injil: Luk. 12: 49-53

Mengobarkan Api

“Romo, kami berdua sudah memutuskan bahwa kami akan berpisah. Kami mohon saran romo, langkah-langkah apa yang harus kami tempuh. Kami berharap bisa resmi pisah sesuai dengan aturan Gereja, tetapi kalau tidak mungkin kami akan pisah secara sipil.
 
Romo, ini keputusan kami berdua, bukan karena ada orang ketiga atau yang lain. Semua murni dari kesadaran kami berdua bahwa kami tidak mungkin melanjutkan hidup perkawinan kami. Berpisah adalah pilihan yang baik bagi kami, kiranya dengan berpisah kami jadi lebih tenang dan lebih bahagia.

Karena kalau kami melanjutkan hubungan kami maka yang terjadi kami malah sering ribut, dan cenderung saling menyakiti. Soal anak-anak tidak ada masalah, kami sudah bicara dengan mereka dan mereka tidak ada keberatan apapun; bahkan mereka mengatakan itu ide yang baik daripada mereka melihat kami sering ribut.
 
Romo, setelah  20 tahun kami menjalani hidup perkawinan, semakin lama kami semakin tidak mengenal satu sama lain. Saya berpikir kemana, dia berpikir kemana. Kami juga merasakan bahasanya menjadi aneh satu sama lain sudah tidak nyambung sehingga hal-hal sepele menjadi besar karena salah mengerti, salah tangkap. Kami sendiri bingung dengan situasi ini dan itulah romo, kami pikir berpisah adalah pilihan terbaik,” seorang suami menjelaskan maksud kedatangannya.
 
Setelah berbincang cukup lama, mendengarkan cerita dari pasangan itu, kami ( saya dan pasangan suami istri itu) menemukan bahwa sumber dari permasalahan adalah tidak adanya komunikasi diantara keduanya. Keduanya amat sibuk bekerja, saat pulang ke rumah sibuk dengan urusan rumah, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mereka sendiri berbicara dari hati. Semua pembicaraan selalu berkaitan dengan hal-hal teknis dan fungsional. Mereka saling mencintai dan masih saling mencintai tetapi nyala api cinta itu tidak berkobar lagi.
 
Dalam pembicaraan mereka mencoba untuk menyediakan waktu berdua, menikmati waktu berdua, berbicara tentang rasa tidak tentang hal-hal yang sifatnya fungsional. Mereka berjanji paling kurang sekali dalam seminggu mereka akan menyediakan waktu untuk berdua, tanpa anak-anak tanpa orang lain; dengan harapan apinya bernyala kembali.
 
Syukur pada Allah setelah 3 bulan mereka menemukan nyala api cinta mereka kembali dan mencabut keputusan untuk berpisah. Mereka menemukan kembali gairah hidup perkawinan mereka, yang telah mereka bangun.
 
Membangun komunikasi pribadi yang intens, bukan komunikasi fungsional tetapi berani mengungkapkan rasa secara pribadi menjadi kunci mengobarkan api kembali. Pengalaman pasangan suami istri itu menyadarkan saya, untuk dapat mengobarkan api iman, api cintaku pada Allah kuncinya adalah membangun relasi personal dengan Allah. Bukan hanya sekedar rutinitas doa dan beribadat tetapi membangan rasa dalam doa-doa pribadi.  Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Aku datang melemparkan api ke bumi dan betapa Kudamba agar api itu selalu menyala!”.
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku mengobarkan api cintaku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Oktober 2021

Renungan Harian
Rabu, 20 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 6: 12-18
Injil: Luk. 12: 39-48

Persiapan

“Romo, saya amat bersyukur dengan segala berkat yang boleh saya terima dan saya alami. Hari-hari saya penuh syukur dan saya jalani dengan ringan. Saya bersyukur dan bahagia melihat anak-anak sudah berkeluarga dan mereka hidup mapan berkecukupan. Mereka telah memberi saya cucu-cucu yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Saya mengisi hari-hari saya dengan merawat tanaman; melihat-lihat kebun yang dikerjakan oleh dua orang pekerja; dan sesekali melihat sawah yang dikerjakan orang lain. Saya selalu mengatakan pada istri saya agar menikmati hari-hari kami berdua, jangan merepotkan anak cucu.
 
Romo, apa yang kami nikmati sekarang semua adalah berkat yang tidak pernah terbayangkan pada masa lalu. Kami berdua bekerja keras untuk menghidupi keluarga ini. Kami mengawali hidup dengan pas-pasan, dan kekuatan kami hanyalah doa.

Kami berserah dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan rahmatnya. Betul kami bekerja keras siang malam, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, ibaratnya; tetapi kami amat sadar dan yakin bahwa tanpa berkat dari yang di atas kami tidak akan bisa seperti sekarang ini.
 
Sejak dulu kami selalu membangun sikap berserah. Kami berdua selalu saling meyakinkan bahwa hidup di dunia ini tidak lama, maka kerja keras, duka lara kami juga hanya sementara. Maka kami tidak ingin muluk-muluk dengan hidup, pokoknya tugas kami bekerja keras untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga.

Bahkan kami juga sepakat siapapun yang ditinggal; bila salah satu dari kami dipanggil; kami tidak akan banyak meratap karena yang dipanggil sudah bahagia dan yang ditinggal harus segera melanjutkan hidup ini dengan kerja keras sebagai bentuk syukur atas rahmat yang ada sekecil apapun itu.
 
Di ujung usia kami, meski kami belum terlalu tua, kami telah menyiapkan segala sesuatu bila saat kami dipanggil tiba. Romo, lihat kamar yang di belakang itu isinya adalah perlengkapan kalau saat itu tiba. Kami telah menyiapkan peti jenazah, payung, papan nama, pakaian yang akan kami kenakan dan lainnya. Bukan maksud kami untuk “nggege mongso” (mempercepat waktu) tetapi lebih untuk pengingat bagi kami bahwa kami harus selalu siap bila saat itu tiba. Anak-anak protes dan marah, tetapi kami memberi penjelasan bahwa Tuhan memanggil bisa kapan saja maka harus tahu dan sadar untuk siap-siap untuk berpantas diri. Sehingga saat kami dipanggil kami bisa dengan pasrah dan gembira menerima panggilan itu. Kami ingin bila saat itu tiba kami bisa pergi dengan tersenyum,” seorang bapak bercerita ketika saya  berkunjung ke rumahnya.
 
Meski agak serem bagi saya, tetapi kata-kata bapak itu bahwa semua itu sebagai pengingat membuat saya kagum dengan kepasrahan dan imannya. Tidak banyak orang bisa sampai pada sikap seperti itu, bahkan saya sendiri pun masih jauh dari sikap seperti itu.

Bentuk kesiap sediaan yang luar biasa. Satu sisi tetapi bekerja dan menikmati hidup dengan syukur dan dilain pihak selalu siap bisa saatnya tiba.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan agar manusia selalu bersiap diri menghadapi panggilanNya. “Hendaklah kalian juga siap-sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak kalian sangka-sangka.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apakah aku bersiap diri?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 Oktober 2021

Renungan Harian
Selasa, 19 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 5: 12. 15b. 17-19. 20b-21
Injil: Luk. 12: 35-38

Penyesalan

“Setiap pulang kerja, sering aku melamun sambil melepas lelah sejenak.  Aku seorang pelayan toko; aku sudah bertahun-tahun kerja  sebagai pelayan toko. Sejak lulus SMA aku sudah bekerja sebagai pelayan toko.  Memang, aku telah beberapa kali berpindah tempat kerja, tetapi tetap sama sebagai pelayan toko. Aku melamun dan berandai-andai. Andai dulu aku tidak aneh-aneh mungkin hidupku tidak seperti sekarang ini. Aku melihat teman-teman kuliahku banyak yang sudah sukses, minimal mereka bekerja lebih baik tidak seperti aku seorang pelayan toko, dadaku terasa berdebar keras.
 
Aku sebetulnya bisa disebut anak yang beruntung. Setelah lulus SMA, orang tuaku tidak mampu membiayaiku kuliah karena memang kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Aku ditawari kerja jadi pelayan toko, dan aku juga ditawari kuliah sore hari. Aku bekerja dapat gaji untuk jajan dan keperluan sehari-hari sedang biaya kuliah ditanggung bos tempat aku bekerja. Namun karena kemalasanku dan ketidak sadaranku, aku sering begadang dengan teman-teman selepas kuliah. Akibatnya aku selalu terlambat kerja dan kerja juga tidak fokus. Akibatnya setelah satu tahun aku bekerja aku diberhentikan. Anehnya saat itu aku tidak merasa kecewa dan sedih. Aku berpikir tidak kuliah juga tidak apa-apa yang penting masih bisa main sama teman-temanku.
 
Selepas aku diberhentikan tidak sampai satu bulan aku dapat tawaran kerja sebagai pelayan toko. Dan aku beruntung karena bos tempat saya bekerja juga memberi kesempatan saya untuk kuliah. Namun lagi-lagi aku tidak sadar akan berkat ini. Aku tetap saja lebih banyak main di malam hari dan bahkan pergaulanku semakin tidak baik. Akibat dari semua itu aku harus menikah muda karena harus bertanggung jawab atas perbuatanku pada pacarku.
 
Aku harus menikah meski belum siap, dan harus mencari pekerjaan baru karena aku diberhentikan, sementara kuliahku banyak yang tidak lulus sehingga aku drop out. Jadilah aku seorang bapak dan seorang suami meski aku sebetulnya belum ingin. Sekarang aku bekerja dan harus bekerja karena harus menghidupi istri dan anak. Aku sekarang hidup pas-pasan cenderung berkekurangan. Itulah yang membuat aku sering melamun dan berandai-andai. Aku menyesali kehidupanku masa lalu tetapi hidupku tidak bisa diputar lagi,” seorang anak muda menceritakan kisahnya.
 
Kesempatan berahmat telah ia sia-siakan karena terlena dengan kesenangan-kesenangan pribadi. Kesetiaan dan ketekunan untuk menghidupi kesempatan berahmat hilang dari dirinya sehingga meninggalkan penyesalan. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengingatkan pentingnya untuk selalu setia dan tekun dalam menjalani perutusan, apapun itu bentuknya. Ketekunan dan kesetiaan itu akan mendatangkan rahmat. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku tekun dan setia dalam menjalani perutusanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Oktober 2021

Renungan Harian
Senin, 18 Oktober 2021
Pesta St. Lukas, Penulis Injil

Bacaan I: 2Tim. 4: 10-17b
Injil: Luk. 10: 1-9

Tim Pendahulu

Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berceritera bahwa salah satu tugas yang di embannya adalah menjadi tim pendahulu. Dia menjelaskan bahwa apabila ada pejabat akan mengunjungi suatu tempat, maka dia dan timnya akan datang terlebih dahulu ke tempat itu. Tim ini memastikan kesiapan segala sesuatu di tempat itu, baik dari sisi keamanan, pengaturan tempat, agenda kunjungan dan sebagainya. Semua harus dipersiapkan dengan teliti. Apabila semua hal sudah diperiksa dengan teliti dan semua sudah siap, maka pejabat bisa kunjungan ke tempat itu. Apabila beberapa hal belum siap dan bisa dikejar sebelum hari kunjungan maka harus segera dibereskan sehingga kunjungan dapat terlaksana. Namun apabila ada masalah-masalah yang tidak beres dan tidak dapat diselesaikan pada hari kunjungan dan masalah itu amat penting bagi keselamatan pejabat yang akan berkunjung maka kunjungan akan dibatalkan.
 
Tim pendahulu tugasnya cukup berat dan resiko juga tidak kecil. Tanggung jawab “keberhasilan” kunjungan, keselamatan pejabat yang berkunjung ada pada pundaknya. Apalagi bila kunjungan pejabat utama dibatalkan maka kekecewaan daerah yang akan dikunjungi ditimpakan kepada tim ini. Teman saya mengatakan meski tugas dan tanggung jawabnya cukup berat namun dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas,  dia bangga dan bahagia karena melihat apa yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas, Yesus mengutus 70 murid untuk mendahului ke tempat-tempat yang akan dikunjungiNya. Kiranya tugas para murid adalah mempersiapkan segala sesuatu agar kunjungan Yesus ke tempat itu memberikan buah bagi masyarakat di situ. Dengan kata lain para murid mempersiapkan jalan bagi Yesus. Para murid meskipun diberi kuasa namun bukan yang pertama dan utama untuk berkunjung, mereka adalah tim yang mempersiapkan. “Tuhan menunjuk tujuh puluh murid, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sebagai utusan telah mempersiapkan jalan untuk Tuhan dan bukan untuk diriku sendiri?
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Oktober 2021

Renungan Harian
Minggu, 17 Oktober 2021
Hari Minggu Biasa XXIX

Bacaan I: Yes. 53: 10-11
Bacaan II: Ibr. 4: 14-16
Injil: Mrk. 10: 35-36

Tumbal

Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih sebagai imam baru, saya menerima tamu sepasang suami istri. Sejak bertemu, ibu sudah berurai air mata; matanya sudah sembab nampaknya sudah banyak dia menangis. Sedang suami meski nampak kusut tetapi ada ketegaran dalam dirinya, dari sorot matanya menampakkan kekuatan dirinya. Saya menduga bahwa keduanya sedang menghadapi masalah berat.
 
“Romo, tolong nasehati istri saya, agar dia setuju dengan rencana yang kami tempuh untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami. Kami telah sepakat memilih jalan ini, tetapi kemudian istrinya keberatan dengan syarat yang harus kami jalani. Padahal syarat itu adalah syarat utama untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami.
 
Romo, kami selalu hidup dalam kesulitan; kami selalu kekurangan. Keperluan hidup sehari-hari kami selalu kesulitan, untuk makan harian kami serba kekurangan. Lalu kami mendapat saran dari seorang teman untuk bertemu dengan “orang pintar” yang bisa melihat permasalahan kami dan bisa memberikan jalan keluar. Teman kami ini dulu juga hidup seperti kami, dan sekarang sudah sukses dan hidupnya bahagia sejahtera.
 
Kami setuju dengan saran teman kami karena sudah melihat hasilnya sehingga kami berdua menemui “orang pintar” tersebut. Setelah bertemu beliau melihat bahwa keluarga kami ada “kutukan” sehingga harus dibebaskan dari “kutuk” itu. Kalau “kutuk” itu bisa hilang dari kami maka keluarga kami dan keturunan kami akan sejahtera. Beliau sanggup membebaskan “kutuk” itu dari keluarga kami dengan syarat kami rela mengorbankan anak bungsu kami. Anak bungsu kami ini akan menjadi korban pembebas “kutuk” bagi kami dan keturunan kami selanjutnya. Meskipun berat, saya setuju yang penting keluarga kami dan anak cucu kami kelak hidup bahagia dan sejahtera, namun istri saya tidak setuju. Dia tidak mau kehilangan anak kami; dia memilih tetap hidup seperti ini tetapi tidak kehilangan anak kami. Itulah romo, persoalan besar kami, maka kami mohon romo bisa menasehati istri saya. Korban ini sungguh-sungguh demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga kami,” bapak itu menjelaskan maksudnya.
 
Saya amat terkejut dan dicekam kengerian yang dalam. Sesuatu yang hanya saya lihat di film atau saya baca dari buku-buku cerita, sekarang saya hadapi. Saya menjelaskan kepada bapak itu bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang salah dan tidak baik. Sesuatu yang baik harus melalui proses yang baik, dengan cara-cara yang baik. Saya memberikan penjelasan cukup panjang untuk menyadarkan bapak itu. Namun bapak itu justru marah karena saya tidak mendukung dirinya. Bapak itu kemudian pergi dan mau mencari pastor lain, pastor senior yang bisa mendukung dirinya. Saya pastor muda dianggap tidak mengerti dan tidak punya pengalaman.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Markus, Yesus mengajarkan agar para muridnya mau memberikan dirinya sepenuhnya untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain; bukan mengorbankan orang lain demi kebahagiaan dirinya. “Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku sudah memberikan diriku untuk kebahagiaan orang lain?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-SURABAYA

Rekoleksi bersama CLC Surabaya

Teman² CLC Surabaya akan berbagi Cara Hidup Ignatian dengan mengadakan rekoleksi Online dengan tema

“Panggilan Kesucian untuk Dunia Masa Kini”

Berdasarkan referensi Surat Apostolik Gaidete et Exltate dari Paus Fransiskus.

📆 : Rabu, 20 Oktober 2021

🕐: Pkl. 18.⁰⁰ – 19.30 WIB

Link Akses:
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/87019059227?pwd=c1M3RDdxc0VXRDZtall0cndRYlJBdz09
Meeting ID: 870 1905 9227
Passcode: CLCSby

Rekoleksi akan dibimbing oleh:
Rm. Ignatius L. Madya Utama, SJ.

Silakan membaca terlebih dahulu dokumen tersebut (terlampir), dan gunakan tiga pertanyaan dibawah ini sebagai pemandu:
(1) Menurut pemahamanku, apa arti kesucian/kekudusan?;
(2) Apa arti kesucian/kekudusan menurut Gudete et Exultate?;
(3) Langkah-langkah konkret apa yang perlu aku lakukan agar pemahaman mengenai kesucian/kekudusan menurut Gaudete et Exultate menjadi pola merasa, pola berpikir dan pola bertindakku?

Sampai bertemu di Rekoleksi kita

AMDG

Renungan Harian: 16 Oktober 2021

Renungan Harian
Sabtu, 16 Oktober 2021

Bacaan I: Rom. 4: 13. 16-18
Injil: Luk. 12: 8-12

Selalu Tersenyum

Saya amat senang setiap kali mengunjungi ibu ini. Beliau selalu tersenyum dan selalu menampakkan wajah yang bahagia. Senyum kebahagiaannya memberikan kegembiraan bagi orang lain. Ternyata apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh banyak orang yang bertemu dengan ibu itu.
 
Saya kenal dengan ibu itu saat saya diminta memberikan sakramen pengurapan orang sakit pada beliau. Saat pertama kali saya bertemu saya tidak menyangka bahwa ibu itu sedang sakit, kecuali bahwa beliau sedang berbaring di tempat tidur.

Beliau menyapa saya dengan ramah dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Beliau tahu persis tentang penyakit yang dideritanya tetapi menampakkan seolah-olah bukan suatu beban bagi hidupnya.
 
Suami ibu itu menjelaskan bahwa ibu itu menderita kanker JJtulang dengan stadium lanjut. Kanker itu bukan hanya menggerogoti raganya tetapi juga memberikan rasa sakit yang luar biasa. Dokter yang merawatnya tahu persis akan rasa sakit yang mepoleh ibu itu; maka dokter memberikan obat untuk mengurangi r0asa sakit. Namun ketika diberi penjelasan tentang obat itu, ibu itu menolak, beliau mau menanggungnya. Ketika rasa sakit itu menyerang ibu itu hanya diam dan tangannya mengatup ofuntuk menahan rasa sakit. Tetapi tidak ada satu kata keluhan yang keluar dari mulutnya. Bahkan bila bertemu dengan orang lain beliau selalu  tersenyum meski saat itu sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.
 
Banyak orang heran akan kekuatan dan ketabahan ibu itu. Suami dan anak-anaknya yang sedih karena melihat istri dan ibu mereka sedang sakit seringkali justru terhibur dan dikuatkan oleh sikap ibu itu. Beberapa kali ibu itu justru menghibur dan menguatkan suami dan anak-anaknya.
 
Di saat terakhir hidupnya, ketika saya memberikan komuni kudus, ibu itu menyambut dengan tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sudah disembuhkan. Beberapa jam setelah menyambut Tubuh Kristus, ibu itu menghadap Tuhan dengan tersenyum. Melihat jenazahnya seperti melihat seorang yang tidur nyenyak dan sedang bermimpi indah karena ada senyum menghiasi bibirnya.
 
Bagi saya, ibu itu dalam sakitnya justru memberikan kesaksian luar biasa tentang imannya. Kekuatan ibu itu menanggung rasa sakit yang luar biasa dan kerelaanya menerima sakitnya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan imannya. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Barang siapa mengakui Aku di depan manusia, akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para malaikat Allah.”
 
Bagaimana dengan aku? Dengan cara apa aku memberi kesaksian tentang imanku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 15 Oktober 2021

Renungan Harian
Jumat, 15 Oktober 2021
PW. S. Theresia dr Yesus

Bacaan I: Rom. 4: 1-8
Injil: Luk. 12: 1-7

Pergulatan

Saya sering mendengar kritik dari banyak teman berkaitan dengan khotbah para imam. Teman-teman mengkritik bahwa khotbah para imam terlalu ngawang-ngawang sehingga tidak banyak berguna bagi umat. Sementara kritik lain yang benar tetapi cukup pedas adalah bahwa para imam berkhotbah tetapi tidak bisa menjalankan apa yang dikhotbahkan. Para imam seperti kaum Farisi. Sering kali pembelaan yang muncul dari diri saya adalah bahwa tidak semua yang dikhotbahkan bisa dilakukan oleh imam. Tentu jawaban saya ini hanyalah rasionalisasi yang tidak penting. Saya menyadari betul bahwa kritik teman-teman itu adalah kritik yang membangun dan baik.
 
Saya sendiri amat sadar beban yang tidak mudah ketika mempersiapkan khotbah. Bebannya bukan soal tafsir Kitab Suci dan penerapannya tetapi lebih beban bahwa apa yang saya khotbahkan sering kali masih jauh dari perilaku saya pribadi.

Seorang teman rahib OCSO (pertapaan Rawaseneng) pernah sharing bahwa dirinya sebenarnya berat untuk menjadi imam di pertapaan. Beban beratnya ada pada harus berkhotbah. Seorang imam di pertapaan harus berkhotbah untuk saudara-saudara sekomunitas yang setiap hari hidup bersama dengannya dan pasti kenal persis kehidupannya setiap hari. Berat karena satu pihak harus berkhotbah dan pihak lain perilakunya masih jauh dari apa yang dikhotbahkan.
 
Bagi saya setiap kali berkhotbah adalah tantangan dan pergulatan. Pergulatan untuk selalu menyadari betapa diriku masih jauh dari apa yang ku khotbahkan. Aku sadar saat aku berkhotbah hal pertama dan penting adalah aku mengkhotbahi diriku sendiri.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas mengingatkan dan menegur betapa godaan untuk menutupi kelemahan diri dengan berkhotbah yang muluk-muluk dengan kata-kata indah selalu ada pada diri saya. “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”
 
Bagaimana dengan aku? Sudah selaraskah antar tuturan ku dan perilaku ku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.