Kegiatan CLC-DI-JAKARTA

Pertemuan bulan September CLC Jakarta

Teman-teman CLC dan Para Sahabat Ignatius Ytk.
😍🥰🔥🌹
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita semua dalam keadaan sehat 🙏🏻❤️🍀

Realita bumi kita yang sekarang sedang menangis, memanggil setiap orang untuk peduli pada alam ciptaan ini.

Kita dipanggil untuk menanggapi ajakan Pater Arturo Sosa SJ untuk mengambil langkah konkret mewujudkan Preferensi Kerasulan Universal dimana kita berada.

Kami ingin mengajak teman-teman CLC dan para Sahabat Ignatius untuk belajar dan berproses bersama :

📌Tema
Merawat Rumah Kita Bersama

✅Narasumber :
Rm. Effendi Kusuma Sunur SJ
(Pastor Mahasiswa DIY),

Pertemuan dilakukan secara daring pada:

📅 : 25 September
Hari Minggu
🕰: 10.00-12.00 WIB

Mari teman-teman CLC dan Sahabat Ignatius, silakan bergabung dengan mengajak teman lain, para pemerhati bumi kita.

Kehadiran setiap orang adalah berkat dan sangat berarti untuk kita semua.
Terima kasih 🙏🏻🔥🥰

Salam kami,
Pengurus CLC Jakarta
AMDG 🤝✊🏻🙏🏻

Kegiatan CLC-DI-SOLO

CLC (Christian Life Community) Indonesia Lokal Solo mempersembahkan:

Refleksi : A Way of Self-Healing

Setiap kita pernah sakit, mungkin sedang dan akan mengalami sakit, baik sakit jasmani, pikiran maupun perasaan. Kita berusaha memeluk rasa sakit itu untuk memperoleh kesembuhan.
Dalam dunia yang sakit ini, kami mengundang anda semua untuk mengenal salah satu jalan untuk memperoleh kesembuhan dalam sarasehan “Refleksi:A Way of Self Healing”, yang akan kami selenggarakan pada:
Hari/Tgl. : Minggu 25 September 2022
Pukul : 10.00 – 12.30
Tempat : Aula Fransiskus Xaverius Paroki St. Antonius Purbayan
Narasumber: RM. Agustinus “Nano” Setyodarmono, SJ.

Kami nantikan kehadiran anda. Tempat terbatas.

Persembahan Kasih : 80k
Fasilitas: Gratis buku Jejak Refleksi Perjalanan Awam Sahabat Ignatius (edisi terbatas) dan Snack.

Informasi.
Dina (0816-6784-72)
Arani (0813-2993-4176)

Pendaftaran :
https://qrco.de/bdFGo7

Pendaftaran akan ditutup pada hari Kamis, 22 September 2022 pukul 23.00 WIB.

Refleksi Sahabat CLC – “DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022) dan Penutupan Tahun Ignasian, kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Dominico Savio Octariano, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Nico , dengan judul tulisan “Dianggap Gila Demi Kristus“.

Rm. Nico baru saja menyelesaikan studi spiritualitas di Comillas, Madrid, Spanyol. Sejak 21 Juli 2022 kembali ke Indonesia. Selanjutnya akan menjalani perutusan baru sebagai Socius Magister di Girisonta.

Selamat membaca dan berefleksi

Ad Maiorem Dei Gloriam.

.

“DIANGGAP GILA DEMI KRISTUS”

Selama setahun ini, di tahun Ignatian, kita pemerhati dan penghayat spiritualitas Ignatian mendapatkan kesempatan untuk mencecap-cecap banyak tema spiritualitas Ignatian lewat pertemuan-pertemuan di berbagai kelompok dan forum. Di dalam pertemuan itu, kita, sebagai peserta diperkaya, tidak hanya dengan paparan materi, diskusi atau tanya-jawab, namun juga lewat percakapan rohani, yakni sarana yang membuat tema-tema tersebut lebih membatin, karena daya-daya jiwa kita digerakkan.

St. Ignatius Loyola, dalam Latihan Rohani, menerangkan bahwa hidup kita itu digerakkan oleh 3 daya jiwa, yakni ingatan, pikiran dan kehendak (lih. LR 45, 50, 246). Bila dilihat dari sudut pandang pengolahan daya-daya jiwa, selama setahun ini, dalam berbagai forum diskusi dan pertemuan, kita lebih banyak melatihkan daya ingatan dan pikiran kita. Lalu bagaimana dengan daya kehendak? Daya kehendak pada diri kita dalam forum-forum itu juga sudah dilatihkan, namun baru sampai pada tahap dorongan atau keinginan internal saja.

Spiritualitas Ignatian bukanlah spiritualitas yang cukup puas atau berhenti pada transformasi batin atau internal saja. Spiritualitas Ignatian harus membawa seseorang sampai pada transformasi cara hidup. St. Ignatius dalam meditasi Tiga macam kerendahan hati, mengungkapkan bahwa kerendahan hati yang hendak dicapai atau cara hidup yang sempurna hendak dihayati adalah cara hidup yang meneladani dan menyerupai Yesus, yakni cara hidup dalam pengabdian, mau ikut memanggul salib Yesus di dunia dalam hidup keseharian kita (lih. LR 167).

Dalam nomer yang sama, LR 167, St. Ignatius bahkan menggunakan frase yang sangat khas: “Aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu”. Lalu apa artinya kerendahan hati tingkat 3 ini dalam spiritualitas Ignatian dan apa kaitannya dengan daya kehendak yang harus diaktualkan dalam hidup sehari-hari?

Sebagai peziarah Allah, St. Ignatius memberikan contoh lewat pengalaman personalnya. Autobiografi menceritakan pergulatan bagaimana Ignatius berjuang menghidupkan daya kehendaknya. Setidaknya ada 3 fase dalam hidup Ignatius, yang menunjukkan proses transformasi cara hidup atau cara dia mengaktualkan daya kehendaknya.

Hombre de Saco (manusia karung goni)

Pilihan Ignatius untuk membeli dan menggunakan pakaian yang berbahan karung goni (Autobiografi 18), bukanlah pilihan sesaat atau pilihan yang semata-mata demi pertobatannya, melainkan sebagai cara/bentuk hidup yang memang ia ingin jalani. Kehendak batinnya mengarah pada memilih cara hidup yang hina. St. Ignatius ingin benar-benar menghidupi cara hidup “gila demi Kristus” lewat penampilan fisik yang menyerupai orang gila.

Pada waktu itu, sangat jamak bahwa orang-orang yang ingin sungguh-sungguh berbakti kepada Allah, meninggalkan cinta dunia, dengan memilih hidup yang secara fisik memang kelihatan “meninggalkan dunia”. Cara hidup ini pada saat itu disebut sebagai cara hidup para “Santo gila” (el santo loco), yakni dengan meninggalkan keramaian, tinggal di hutan atau padang gurun, menggunakan pakaian seadanya, membiarkan penampilan fisik yang ala kadarnya, makan dari hasil hutan/alam, dan mengabdi Tuhan lewat doa dan puasa. Secara khusus, menurut Hieronimus Nadal, St. Ignatius, pada fase ini mencontoh cara hidup Santo Onofrius, seorang “santo gila” yang terkenal di gereja Barat. St. Ignatius mengatualkan daya kehendaknya dengan cara mengikuti hidup para “santo gila”.

Ayudar las animas (menolong jiwa-jiwa)

Kondisi fisik St. Ignatius yang seperti “santo gila” ini berlangsung cukup lama. Bahkan sepulang dari Yerusalem dan gagal tinggal di sana, dia masih mengenakan cara hidup demikian. Bahkan ketika dia melewati wilayah konflik, dan kemudian ditangkap oleh sejumlah prajurit karena dicurigai sebagai mata-mata, pada saat diinterogasi oleh komandan pasukan, sang komandan berkomentar “Orang ini gila, tidak punya pikiran, berikan barangnya dan suruh dia keluar” (Autobiografi 53).

Pasca Yerusalem, Ignatius sudah mulai menghidupi daya kehendaknya dalam fase yang berbeda. Dia melihat kegagalan tinggal di Yerusalem sebagai bagian dari kehendak Allah dalam hidupnya. Dalam refleksinya kemudian, adalah lebih baik cara hidup yang kemudian dia pilih adalah dengan membantu orang-orang dalam hidup imannya. Lalu dia mulai meninggalkan cara hidup “santo gila” dan memeluk cara hidup yang baru, yakni mengutamakan keselamatan jiwa-jiwa. Daya kehendaknya tidak lagi berhenti pada hanya keselamatan jiwanya sendiri, tetapi sekarang bekerja bersama Tuhan, dengan cara membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang lain.

Ad Maiorem Dei Gloriam (berakar dari pengalaman La Storta)

Pentingnya studi adalah bagian refleksi yang mendalam dari Ignatius, karena dengan bekal studi dan pengetahuan iman serta teologi yang memadai, maka “ayudar las animas” akan menjadi lebih mudah diterima. Studi di Barcelona, Alcala, Salamanca dan Paris menandai fase ini. Ignatius melewati proses jatuh-bangun dalam hal studi. Tetapi pengalaman studi ini benar-benar menjadi pondasi dasar bagi hidupnya. Daya kehendaknya yang menginginkan menyelamatkan jiwa-jiwa ditopang dengan modal studi yang sangat memadai pada zaman itu.

Selepas fase studi, Ignatius dan teman-temannya masih berketetapan untuk pergi ke Yerusalem. Tetapi karena keadaan pelayaran yang belum aman, mereka tidak mungkin ke sana. Lalu dalam perjalanan ke Roma, Ignatius singgah di kapel La Storta, dan di kapel itu, dia mengalami pengalaman peneguhan sekaligus mempertegas daya kehendaknya ke arah lebih spesifik lagi. Keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa diperteguh dengan penampakan La Storta dan Ignatius merefleksikan pengalaman itu sebagai gambaran cara hidup yang akan dia hadapi yakni memanggul salib bersama Yesus dan semua dikerjakan demi lebih besarnya kemuliaan Allah (AMDG). Fase yang ketiga ini adalah fase peneguhan cara hidup. Bagi Ignatius, ini adalah bentuk cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3. “Dianggap gila demi Kristus” dia hidupi dengan cara total dalam pengabdian pada Kristus, dengan menyelamatkan jiwa-jiwa.

Dari tema kecil tentang “Dianggap gila demi Kristus” ini, kita hendak belajar tentang bagaimana St. Ignatius mengaktualkan daya kehendaknya. Lalu, bagaimana dengan kita di akhir tahun pertobatan Ignatius ini, apakah tema-tema dari forum dan pertemuan yang sudah kita ikuti mengarah pada kemampuan mengaktualkan daya kehendak kita sampai ke cara hidup dengan kerendahan hati tingkat 3, sebagaimana diharapkan oleh St. Ignatius lewat Latihan Rohani? Semoga setelah tahun Ignatian ini, kita tidak lupa pada bagian yang penting ini. Spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas pengabdian. Semoga setelah ini, ketika kita kembali ke dalam realitas hidup dan pekerjaan kita, transformasi yang terjadi pada diri kita adalah tranformasi cara hidup yang semakin mengabdi Allah dan ikut memanggul salib bersama Yesus di dunia. AMDG.

Pesta St. Ignatius Loyola, 31 Juli 2022

Dominico Savio Octariano, SJ

.

.

Lampiran-lampiran Tambahan:

KEGIATAN DENGAN CHRISTIAN LIFE COMMUNITY (CLC)

Sentir y gustar internamente – Rekoleksi Penutupan Tahun Ignatian Bersama CLC di Jakarta : Minggu, 24 Juli 2022

.

KEGIATAN MENJADI NARASUMBER DALAM ANEKA WEBINAR …

.

.

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Renungan Harian : 29 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 29 November 2022

Bacaan I: Yes. 11:1-10
Injil: Luk. 10:21-24

Bangga dalam syukur

Seorang adik memimpin sebuah kegiatan pelatihan. Kami memperhatikan dari belakang ruangan, ada berbagai rasa dihati saya, tapi bersiaga adalah yang paling terasa. Itu perhelatan pertama bagi adik kami ini untuk membawakan acara sendirian didepan peserta peserta senior.

Bersiaga sepanjang acara untuk turun membantu bila terjadi hal hal tak diinginkan, dan nyatanya, sampai selesai, saya bangga karena hanya perlu bersiaga, tanpa cemas dan lega melihat proses berjalan lancar. Saya dan beberapa teman senior senang dengan proses yang terjadi, dan sebelum kami sempat mengatakan banyak, beberapa peserta, termasuk yang senior menghampiri dan mengucapkan terima kasih dan memuji proses yang disajikan, termasuk untuk Tim dan Fasilitator utama yang fresh dan membantu proses belajar.

Saya bahagia karena merasa aman dan akan lancarnya kegiatan. Juga karena melihat adik kami yang berhasil menjalankan perannya, serta bahagia karena jerih payahnya belajar dan membekali diri terbayar lunas dalam proses.

Senang melihatnya bahagia dan menikmati perannya, serta menerima pujian dari orang orang dengan rendah hati.

“Syukur pada Tuhan bila sungguh membantu, terima kasih ibu….”jawabnya berkali kali menanggapi ucapan selamat dan terima kasih

Selepas acara, dalam evaluasi kegiatan, sang fasilitator utama mengatakan
“Mas terima kasih sudah melatih dan mendampingi proses belajar selama ini. 2 hari ini jadi pembuktian juga buat saya. Jujur masih agak deg deg an, apalagi saat agak lupa dan mas mba ada dibelakang, jadi panik. Tapi liat kalian senyum senyum tenang, buat PD naik dan terpacu. Dan saat butuh bantuan semua siap backup, itu jadi berasa jago banget lah”paparnya dengan senyum yang terus terpasang dibibirnya.

Sangat terbayang bahagianya Yesus, saat para murid yang diutus berdua dua, kembali membawa kabar bahagia akan Tugas mereka yang berjalan luar biasa. Saya rasa para orang tua akan merasakannya juga saat anaknya memberi rasa bangga. Guru merasakan hal yang sama pada kesuksesan murid murid nya, dan masih banyak lagi yang bisa merasakan ini. Mereka yang berproses bersama, setia, lalu melihat hasil yang membanggakan.

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Semoga kita boleh dipercaya menemani proses tumbuh kembang yang membawa kebahagiaan. Semoga kita bisa menjadi kebanggaan dan yang membuat Tuhan bahagia serta bersyukur.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 November 2022

Renungan Harian
Senin, 28 November 2022

Bacaan I: Yes. 2:1-5
Injil: Mat. 8:5-11

Saya tidak pantas

Sedari mengenal Ekaristi, dan mengikuti misa dengan sadar, saya merasa doa saat bagian Imam mengangkat hosti dan piala sebagai bagian yang sangat khusuk.

“Ya Tuhan, saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”

Ada rasa berserah yang dalam. Yang tak jarang membangun keyakinan yang kuat akan kuasa Tuhan dalam menyembuhkan kita, apapun sakitnya.

Bacaan hari ini mengingatkan kita akan asal muasal doa dalam Ekaristi ini. Bacaan hari ini juga mengingatkan kita bahwa perkataan ini bukan hanya soal Tuhan yang maha kuasa dan maha penyembuh, tapi juga soal seberapa besar dan kuat iman kita, yang percaya akan Tuhan yang ada dalam hati kita. Sungguhkah iman kita dapat sedemikian peka dan perhatian serta percaya, sedalam iman sang Perwira? Iman yang menembus banyak batas dan sekat.

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Semoga, iman kita sungguh terus bertumbuh, dan membawa kita pada kesembuhan.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 27 November 2022

Renungan Harian
Minggu, 27 November 2022

Bacaan I: Yes. 2:1-5
Bacaan II: Rm. 13:11-14a
Injil: Mat. 24:37-44

Menikmati dengan sadar

Pertama kali saya menempuh perjalanan dari Tahura Djuanda ke Maribaya adalah saat saya SD dalam salah satu kegiatan Pramuka. Saat itu saya bersama regu kami berkumpul di Tahura, dan memulai perjalanan menembus Gua Belanda.

Saya rasa saya hanya menikmati perjalanan dari titik kumpul sampai Gua Belanda. Setelah itu, jalur menanjak dan hutan yang cukup basah membuat perjalanan menjadi terlalu menantang. Saya ingat saat sampai di titik akhir, kami berkegiatan disana. Lalu saat akan pulang kami harus mendaki lagi menuju pintu keluar Jalan besar Maribaya.

Saat ditanya orang tua saya di rumah, saya tidak punya banyak cerita, selain sepatu yang kotor dan rasa lelah. Saat itu, tantangan dan ketakutan akan rute, serta target mencapai puncak dengan cepat, membuat saya tidak sadar dengan apa yang ada disekitar, dan tidak menikmati proses yang terjadi.

Tapi berbeda dengan perjalanan perjalanan selanjutnya. Saya tidak dibutakan oleh ketakutan, target dan kecepatan. Saya menjadi sadar akan berbagai tumbuhan dalam hutan, keunikan beberapa tanaman, sungai yang mengalir dibawah rute perjalanan, penangkaran rusa, bahkan belakangan dengan munculnya beberapa kios, saya dan teman teman sampai paham kios mana yang menyajikan pisang bakar terbaik, gorengan ternikmat, dan posisi duduk yang nyaman untuk berkumpul.

Kita sering dibutakan banyak hal, yang membuat kita tidak sadar dan tidak dapat menikmati akan apa saja yang ada dihidup kita. Kita sibuk dengan rutinitas, tapi tidak menyadari apa yang sebenarnya kita lakukan. Kita bekerja, tapi tidak sadar untuk apa, dan sebagai Kristiani, kita tidak sadar, dimana Tuhan di hari hari kita.

Memasuki masa Adven ini, Tuhan mengingatkan kita untuk selalu sadar dan berjaga, agar setiap langkah hidup kita, menjadi berkat dan kita selalu siap menyambut Tuhan.

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Memaknai hidup dengan sadar, berjaga dan menanti Tuhan dengan sabar, bersiaga, dan berjaga

Selamat Tahun Baru Kalender Liturgi

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 26 November 2022

Renungan Harian
Sabtu, 26 November 2022

Bacaan I: Why. 22:1-7
Injil: Luk. 21:34-36

Layak

Sekali waktu sepupu saya harus pindah kost, dan di kost yang baru dia tidak diperkenankan membawa hewan peliharaan, padahal dia baru saja mendapatkan anjing dari salah seorang muridnya. Alhasil, anjing ini dititipkan ke ibu saya, dengan janji saat sudah mendapatkan tempat yang lebih baik, anjing ini akan diambil kembali.

Dulu kami memelihara anjing, tapi karena sudah beberapa kali menguburkan mereka, dan tahu persis sedihnya kehilangan, maka kami tidak memelihara Anjing lagi. Tapi karena ini hanya untuk sementara, maka kami sepakat untuk mengasuhnya sementara waktu.

Setidaknya itu yang awalnya saya pikir. Dan hal itu berubah saat mam secara perlahan tapi pasti mulai membeli rantai anjing, lalu mangkok makannya, lalu mainan untuk dia gigit, dan sesekali saat belanja bulanan membeli makanan anjing. Disana saya tahu, anjing ini akan menetap.

Namanya Brownie, karena bulunya coklat. Betina dan berjenis Mongler. Nama yang teman saya bilang saat melihat foto brownie. Saya kira itu ras khusus, ternyata mongler yah Anjing kampung.

Dia tumbuh menjadi anjing penjaga yang sangat efektif, dimasa kecil dia masih sempat untuk dilatih ‘duduk’, ‘salam’, ‘rebah’, ‘guling’. Dia sadar dan tahu jam makannya. Dan dia BAB dan BAK di kebun depan.

Satu yang sulit dilatih dan menyebalkan saat terjadi, saat ditinggal di rumah, dia tidak mau BAK di kamar mandi. Sebenarnya karena dia tidak mau kena basah. Maka sasaran ya adalah keset kamar mandi.

Dia tahu saat dia berbuat salah. Dia akan menunduk saat bertemu kami dan setelah menunjukan diri sebentar, dia akan menjauh dan bersembunyi, sehingga kami tahu dia ‘ngompol’, begitu istilah kami. Selain ngompol, dia melakukan itu saat ketahuan melakukan kesalahan lainnya.

Saya percaya, rasa bersalah dan malu yang bisa dimiliki dan ditunjukan oleh seekor anjing, pastilah manusia miliki juga. Walau banyak hal bisa menyebabkan kita menutupi dan memalsukan rasa itu, tapi kita punya nurani yang mengenal rasa malu, rasa bersalah, perasaan tak layak dan sedih.

Dari bacaan hari ini, saya membayangkan, apa perasaan yang muncul dan akan seperti apa saya di hadapan Tuhan? Bila waktunya datang, apakah saya akan menunduk malu dan bersembunyi? Atau menatap lurus dengan senyum kebanggaan, bahwa saya berhasil menjalankan hidup yang dipercayakanNya dengan sebaik baiknya?

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Mari terus sadar diri, bawa dalam doa, agar kita mampu menjalankan peran kita di dunia dengan sebaik baiknya, hingga nanti kita dapat dengan yakin mempertanggungjawabkannya.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 25 November 2022

Renungan Harian
Jumat, 25 November 2022

Bacaan I: Why. 20:1-4,11 - 21:2
Injil: Luk. 21:29-33

Piramida kartu

Dalam Gladi Kepribadian untuk mahasiswa sebuah universitas, kami menggunakan metode Misi pribadi, untuk mengajak peserta mengalami tantangan pribadi yang biasa mereka alami. Tiap orang memiliki tugas yang berbeda, yang ditentukan berdasarkan hasil Psikotes, observasi dan wawancara kecil sebelum acara gladi/pelatihan dilakukan.

Banyak tantangan yang tampak konyol dan menggelikan, layaknya permainan tantangan dimasa kecil. Ada tugas menyapu lantai, menyusun kembali kendi pecah, mengurai benang kusut, menyusun puzzel, mengajak orang ngobrol saat mereka bertugas, dan lain sebagainya.

Sekali waktu seorang mahasiswi menanggapi Misi Pribadi ini dengan sangat mendalam. Tugasnya membuat piramida kartu di atas meja yang diletakan ditengah lapangan. Kartu tidak boleh ditekuk, harus digunakan semuanya, dan tidak ada alat bantu apapun.

Diawal proses dia tampak biasa dan masih tertawa melihat pekerjaan temannya yg lain, yang tampak lebih konyol dari misinya. Tapi proses tidak mulus juga untuk tantangannya. Berkali kali setelah sampai ke tumpukan ketiga, piramida runtuh. Ketika dia mulai serius, angin datang dan meruntuhkan piramida, beberapa kali kartu kartu tinggal bersisa 2 untuk ditumpuk, tapi sedikit goyangan tangan membuatnya runtuh.

Hampir 30 menit, saat peserta lain sudah mulai beres, dia masih harus menyusun dari awal. Kami perhatikan setiap peserta dalam proses mereka, dan kami melihat bagaimana dia menyusun piramida sambil menangis dalam diam.

Saat waktu sharing pengalaman, peserta diminta bercerita pada teman temannya, apa tugas mereka dan bagaimana pengalaman mereka. Banyak hal lucu dan membuat peserta tak habis pikir. Kemudian kami meminta sharing, apa pembelajaran mereka. Banyak yang mulai menebak mengapa mereka diberi tugas itu, banyak yang salah, tapi tidak sedikit yang tepat.

“Membangun piramida kartu sebenarnya bukan tugas utama saya. Saya tahu, tugas utama saya dalam misi pribadi saya adalah tidak frustasi, tidak takut dan anti terhadap perubahan dan kenyataan diri untuk berani memulai lagi, walau dari nol.

Saya memang sering mudah menyerah dan berhenti entah sampai kapan bila bertemu hambatan, apa lagi yang membuat saya jatuh. Butuh waktu lama, sampai saya tidak ada pilihan lain, baru saya memulai. Padahal jatuh dan bangun seharusnya jadi sandingan, saat jatuh, ya bangun. Tapi saya biasa diam dan membiarkan diri saya mengasihani diri sedemikian berlebihnya, sampai tampak berhenti dan siap mati.

Kalau saya tampak masih aktif, seringkali itu hanya pelarian untuk tidak mau menantang diri untuk memulai membangun kejatuhan saya, tapi pelarian agar tampak punya alasan, dan bisa menghindar dari tantangan saya yang sebenarnya.

Tadi di lapangan itu saya pikir panas yang bakal jadi gangguan, tapi melihat kartu jatuh itu menyeramkan dan menjadi gangguan terbesar saya. Saya tahu kalau runtuh harus dibangun lagi. Saya tahu itu tugas saya” paparnya dalam tangis yang tidak henti. Dalam gladi itu, peserta ini mendapatkan kesempatan untuk berefleksi dalam untuk dirinya.

Bukankah banyak dari kita mengalami hal yang sama? Walau sudah tahu, bahwa bila jatuh baiknya kita bangun, tapi kita takut dan khawatir, atau terlalu nyaman melantai, hingga tak mengumpulkan daya dan fokus untuk berdiri? Tidakah kita sadar bahwa keberanian untuk memulai lagi dari awal tidak selalu berarti kita memulai dari Nol. Kita tumbuh dari tunggul dan pohon yang sudah ada, melanjutkan proses kejatuhan kita, menjadi tunas baru yang penuh harapan.

Beranikah kita menjadi Tunas yang tumbuh saat satu siklus musim berlalu, entah dengan hasil baik, atau tak baik? Tapi yang pasti, dia berhasil terus hidup dan tumbuh, menuju musim baru.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.

Semoga Tuhan terus menemani kita, agar kita selalu berani untuk melepas musim yang lalu dan memulai lagi perjuangan yang baru. Untuk memaknai jatuh, sebagai awal proses bangun.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 24 November 2022

Renungan Harian
Kamis, 24 November 2022

Bacaan I: Why. 18:1-2,21-23; 19:1-3,9a
Injil: Luk. 21:20-28

Ruang kosong

Dalam sebuah proses kelayakan mengajar di sebuah institusi, saya harus mempelajari beberapa modul dan bersiap untuk serangkaian pelatihan dan ujian, sebelum nantinya dapat mengajar ditempat tersebut. Banyak bahan yang disiapkan, dan kami perlu menguasainya karena kami dipersiapkan untuk mengajarkannya nanti.

Bahan dalam bahasa Inggris membuat beban jadi bertambah. Bukan sekedar mempelajari, tapi ada beban untuk memahami konteks bahasa dan penggunaan yang paling tepat dalam bahasa Indonesia. Dalam proses, kami ditemani Trainer yang akan memeriksa setiap tahap pencapaian kami dan melakukan test diakhir setiap tahap.

Sekali waktu dalam pembahasan materi akhir, pelatih kami berbagi tentang persiapan diri

“Kalian tahu apa yang akan membuat kita bisa siap terhadap apapun yang akan terjadi didepan nanti? Terutama saat bertemu dengan berbagai macam peserta, dari berbagai level jabatan dan karakter?

Bersiap dengan setengah perencanaan ( have half the plan).

Yah mungkin itu terdengar bertolak belakang dengan persiapan yang kita lakukan sekarang, yang menuntut kalian memperhatikan setiap menit yang berjalan. Tapi yang saya maksud adalah, selalu tanamkan dalam benak kalian, bahwa semua dapat berubah. Kadang kita malah khawatir dan bingung serta cemas, saat persyaratan mengharuskan kita detail, namun perubahan dari luar mendesak kita. Maka tanamkan dalam benak kalian, bahwa saya sudah siap dengan penguasaan materi, dan saya juga siap saat perubahan dan penyesuaian diperlukan.

Buat saya pribadi, saya selalu membayangkan, selalu ada ruang kosong yang dapat kita isi dengan hal hal tak terduga.

ruang kosong ini memberi saya harapan dan keyakinan, bahwa kalau yang terburuk terjadi saya masih ada harapan untuk bergerak, dan berlindung.

have half the plan” katanya mengingatkan kami

Saya terkesan pada pesannya, sulit bagi saya untuk menerapkannya, tapi sangat masuk akal. Saat bersiap untuk setiap hal tak terduga dan selalu ingat akan harapan yang selalu ada, ini sangat menenangkan.

Bukankah juga menenangkan hati, saat kita membaca Injil hari ini yang memberi ruang kosong dari segala kepenatan kita, sebuah harapan dari segala beban dan ancaman yang sedang atau akan kita hadapi.

Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.

Ingatlah, Tuhan akan datang menemani dan menyelamatkan kita, lewat setiap hal dan orang yang ada disekitar.

Jangan hilang harapan, karena Dia ada.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 November 2022

Renungan Harian
Rabu, 23 November 2022

Bacaan I: Why. 15:1-4
Injil: Luk. 21:12-19

Dinilai

Sekali waktu dalam pelatihan persiapan memasuki dunia kerja, kami mengajak peserta bersimulasi, mulai dari proses mereka membuat lamaran, sampai persiapan pengelolaan keuangan saat diawal masuk dunia kerja.

Saat masuk tahap wawancara, saya melihat seorang peserta yang saya kenal secara pribadi. Dia orang yang supel, percaya diri dan easy-going. Tapi kali itu, dia tampak canggung dengan pakaian formil yang dia kenakan untuk sesi wawancara itu. Rekan saya yang mewawancaranya, sehingga saya tidak tahu persis bagaimana proses saat wawancara. Tapi setelah proses evaluasi simulasi wawancara saya baru paham bahwa dia gugup dengan proses penilaian yang kami berikan. Demikian juga dengan banyak peserta lainnya.

“Iya pak, rasanya nyata banget kami berhadapan dengan perwakilan perusahaan, dan kami merasa dinilai bukan saja soal kemampuan kami tapi diawali dari penampilan kami dari ujung kaki ke ujung kepala. Gugupnya buat buyar persiapan wawancara pak.”kata salah seorang dari peserta

“Iya pak, saya jadi tergoda untuk tidak menjadi diri saya, walau sekarang sudah diingatkan untuk menampilkan versi terbaik diri kita dihadapan pewawancara, tapikan justru karena takut dinilai buruk, malah pengennya menutupi diri”sahut yang lain.

Saya tertegun dan sadar, bahwa kondisi ini juga terjadi dalam hidup keseharian. Kita akan sulit menjadi diri kita, dan apa yang kita perjuangkan, saat kita tahu kita nilai, kita akan dinyatakan baik atau buruk, benar atau salah, dengan alat ukur yang disiapkan oleh orang lain dan belum tentu objektif. Mereka yang merasa memiliki kuasa lebih, akan memberikan pengaruh besar pada diri kita. Lalu bagaimana kita melanjutkan pilihan dan nilai diri kita?teguh pada nilai diri, atau berubah begitu saja.

Hari ini Tuhan mengingatkan, bahwa banyak pihak yang punya pengaruh dan kuasa akan berpotensi memberi pengaruh pada kita, mulai dari memberi penilaian sampai merenggut jati diri dan nilai nilai yang kira miliki. Apa yang akan kita lakukan?

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.
Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu.

Kita akan terus belajar teguh pada nilai nilai hidup kristiani, dan menjalankannya dalam kehidupan sehari hari, sebagai saksi akan kasih Kristus.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 November 2022

Renungan Harian
Selasa, 22 November 2022

Peringatan Wajib St. Sesilia
Bacaan I: Why. 14:14-20
Injil: Luk. 21:5-11

Bencana

Kemarin kita dikejutkan oleh berita Gempa M 5,6 yang menggungcang Cianjur, dan getarannya sampai terasa di Bandung dan Jakarta. Kita bersedih dan berduka atas meninggalnya korban bencana, juga mereka yang masih butuh perawatan medis, namun belum dapat dilayani dengan segera karena keterbatasan fasilitas disana, pasca gempa.

Tidak perlu hitungan menit, media media nasional meliput dan memberitakan apa yang terjadi disana. Demikian juga dengan video video amatir, yg berseliweran di media sosial dan jaringan komunikasi. Kita tahu semua sedang panik dan tampak bahwa pertolongan perlu dilakukan.

Saya sendiri termasuk yang tidak menyadari guncangan yg sampai di bandung adalah gempa. Saya mengetahuinya dari info di jaringan komunikasi, dan setelah selesai mengajar saya melihat berita di TV.

Wawancara di TV agak membuat saya bingung, karena tampak sekali narasumber yang mewakili BNPB seolah berkali-kali perlu mengklarifikasi pernyataan dan informasinya ke pewawancaranya. Terutama saat beliau mengimbau saat hari masih terang, baik penduduk melakukan pemeriksaan pada rumah rumah mereka, yang tidak rusak struktur dihimbau kembali dan tidak perlu semua warga mengungsi, dengan tetap waspada dan membuat alat penditeksi manual. Sementara yang rusak struktur dapat mencari tempat aman untuk mengungsi.

Tapi pewawancara dengan sengit mempertanyakan apa waktu penanganan bisa lebih cepat, bagaimana dengan dampak psikologis, trauma, belum ada bantuan dari pemerintah, banyak rumah yang tidak dibangun dengan konsep tahan gempa, dll.

Sontak narasumber bertanya
“Itu datanya dari siapa mba? Kalau ‘media Anda’ punya data ilmiah kami akan pakai data Anda”tanya narasumber sekaligus tantangan pada pewawancara, yang jelas membuat pewawancara bingung sendiri karena dia tidak sadar menyampaikan sesuatu yang tidak dia pahami, dan berpotensi menggiring opini yang tidak tepat.

Pesan wakil dr BNPB sebenarnya jelas. Ini adalah bencana dan ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak. ini kerjabersama yang dimulai dengan pemberdayaan di lokasi, yang paling dekat dan paling memungkinkan. Tidak panik, dan mulai memeriksa dan memastikan kondisi, agar warga tetap aman, saling bantu dan bantuan yang datang nantinya menjadi tepat guna dan sasaran.

Simpang siur bahkan konflik bisa terjadi dalam kondisi apapun. Termasuk dimasa kritis seperti saat bencana, itu bisa dan akan terjadi. Namun penting untuk selalu ingat bahwa ada penghargaan terhadap martabat manusia dan nilai nilai kemanusiaan yang perlu kita jaga dan menjadi pegangan. Karena Tuhan sejatinya ada disana, pada setiap manusia, dan peristiwa.

Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Dia ingin kita tetap waspada dan berjaga, jaga diri, jaga sesama, dan jaga alam.

Doa kita untuk Cianjur 🙏

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 November 2022

Renungan Harian
Senin, 21 November 2022
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah

Bacaan I: Why. 14:1-3,4b-5
Injil: Luk. 21:1-4

Hanya punya sedikit

Para senior pernah bercuriga, bahwa Relawan muda itu tidak akan dapat fokus menjalankan kerja di lembaga sosial itu, karena dia menolak menjadi pegawai tetap di lembaga itu dan memutuskan bekerja di Perusahaan lain, sambil tetap menjadi relawan disana.

“Mas, bukan saya tidak mau bekerja disini, tapi saya harus lebih mapan karena sudah harus menafkahi keluarga”jawab relawan muda yang baru saja lulus kuliah, namun punya tanggungan orang tua.

“Katanya kamu punya keprihatinan pada issue kita? Apa tidak lebih baik disini, apalagi ini sedang ada lowongan, besok besok kamu mau bergabung malah tidak bisa loh”seorang senior berniat membujuk

“Semoga saya tetap bisa bantu, walau tidak dapat gaji tetap dari sini mas. Dan saya berusaha untuk bantu sebisa saya”jawabnya tampak ragu.

Keraguan itu juga yang masih terus membayangi para senior dan teman teman lain. Tapi komitmen pribadi tidak bisa diukur hanya lewat omongan, tapi lewat perbuatan.

Dia tahu, bahwa lembaga itu tidak dapat memberi nafkah yang cukup, tapi nilai dan issue yg diperjuangkan sangat patut diupayakan. Maka setiap pagi, sebelum kerja dari pkl 09.00-17.00, dia selalu menyempatkan diri datang ke lembaga, mengerjakan tanggungjawabnya sebagai relawan, dari pukul 07.00 – 08.30. sepulang kerja, dia selalu mampir dan bekerja dari pukul 18 sampai pekerjaannya rampung. Lembaga tetap menerima pegawai baru, yang juga perlu relawan muda koordinir dan ajari. Bertahun tahun relawan ini memilih melakukan ini.

“Saya sadar, dengan tidak menjadi pegawai tetap, saya tidak bisa 100% hadir. Saya hanya punya sedikit, mungkin hanya punya 10% dibanding pegawai tetap, tapi saya akan berusaha, agar 10% yang saya beri, bisa setara 100% atau lebih dari yang lain”katanya saat tetap masih ada yang mempertanyakan komitmen nya memberi pelayanan di lembaga itu.

Walau bagi banyak orang dia tetap dilihat sebagai relawan, orang luar dan tidak dianggap serius, tapi yang tahu dengan apa yang dia kerjakan paham, bahwa yang dia beri dari keterbatasanya, lebih banyak dari banyak orang yang menjadi pegawai tetap disana.

Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya

Komitmen diri membawanya pada upaya tulus yang diberkati. Dari sedikit yang dia beri, menjadi berlimpah saat diterima orang lain.

Semoga kita bisa terus berbagi, walau dari keterbatasan yang kita miliki.

Ad Maiorem Dei Gloriam

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 November 2022

Renungan Harian
Minggu, 20 November 2022
HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Bacaan I: 2Sam. 5:1-3
Injil: Luk. 23:35-43

Sadar diri

Setelah selesai rapat, saya menyapa seorang rekan ketua divisi, yang saat dirapat tadi, untuk kesekian kalinya, dia ditegur dan disindir karena kesalahan dan kesalahan koordinasi anggota divisinya.

“Mas, dirimu baik baik?”saya menyapa untuk memastikan kondisinya

“Baik mas, aku baik baik saja, aku rapopo mas” sambil guyon, dia menjawab

“Oh syukurlah. Jujur saya khawatir dirimu tidak nyaman dan kesal oleh perlakuan beberapa teman yang mengungkit ungkit serta mengulang evaluasi kegiatan yang lalu.”saya menjelaskan

“Oh itu, yaaaah kalau dirasa rasa yah memang kesal mas, malu dan agak tidak terima, karena kan itu sudah di evaluasi, ngapain diungkit ungkit lagi.

Tapi aku sadar mas, evaluasi terjadi karena memang kesalahan dan pelanggaran yang aku serta divisi ku lakukan. Itu merugikan teman teman, bahkan ada yang sungguh kepahitan karena pertengkaran yang terjadi saat itu.

Jadi aku sadar diri mas. Bahwa ini masih masuk dalam proses perbaikan diri kami. Olok olok dan teguran berulang aku jadikan pengingat saja mas. Refleksi untuk tidak mengulangi kesalahan, dan bila nanti menjadi orang yang dirugikan, tetap punya belas kasih, karena sekarang aku tahu rasanya yang tidak nyaman ini”dia menjelaskan

Saya senang mendengar jawabannya, bukan hanya karena dia tidak marah, tapi karena refleksi dirinya yang mengingatkan saya, untuk menjadi pribadi yang mau belajar dari hal baik, pun buruk, serta tetap berendah hati untuk selalu tahu diri, dan sadar diri.

Kadang kita tersulut emosi, sehingga kehilangan jati diri kita. Kita sering lupa pada kondisi dan situasi sekitar, bahkan pada kondisi dan situasi diri.

Hari ini kita belajar dari penjahat yang disalib disisi Yesus. Kesadaran dirinya, membawanya berada disurga bersama Sang Raja.

Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

Semoga, kesadaran diri kita, selalu mengingatkan kita, bahwa Kristus adalah Raja, dan kita hamba hamba Nya. Semoga Teladan sang Raja, membawa kita Kesadaran Diri yang berbuah kasih.

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.