Refleksi Sahabat CLC – “KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Drs. Y.I. Iswarahadi, M.A., S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Iswara atau Rm Is, dengan judul tulisan “KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA“.

Rm. Iswara telah berkarya di Studio Audio Visual (USD/Puskat) sejak 1985. Selain itu, ia juga mengampu matakuliah “Media Pembelajaran”, “Komunikasi dan Media”, dan “Public Speaking dan Teater” di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik – FKIP – Universitas Sanata Dharma; serta matakuliah “Komunikasi Sosial” di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

.

KOMUNIKASI DALAM LATIHAN ROHANI ST. IGNASIUS LOYOLA

Oleh Y.I. Iswarahadi SJ

        Sebagai seorang Jesuit, saya pernah menjalani Latihan Rohani (LR)  secara penuh (30 hari) sebanyak tiga kali: yakni dua kali di novisiat  dan satu kali selama masa tersiat. Setiap tahun saya juga menjalani Latihan Rohani selama 8 hari.  Selain itu, saya juga pernah membimbing “retret 8 hari” untuk kaum religius kurang lebih sebanyak 20 kali. Meskipun demikian, saya bukan seorang ahli Latihan Rohani.  Dalam rubrik yang terbatas ini saya  mencoba memaparkan aspek komunikasi dalam Latihan Rohani St Ignasius Loyola.  

        Doa pada dasarnya adalah sebuah komunikasi antarpribadi, yaitu antara pribadi manusia dan pribadi ilahi. Doa juga merupakan bagian penting dari Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Lalu apa itu Latihan Rohani? Latihan Rohani adalah retret (olah batin)  yang bertujuan  mengajak peserta (retretan)  untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan mengenai hidupnya. Dengan kata lain,  kegiatan retret itu menolongnya untuk mengikuti Kristus lebih dekat. Mencari dan menemukan kehendak Tuhan merupakan pengalaman hidup yang dasariah dan menentukan. Pengalaman ini diperoleh lewat doa, latihan-latihan olah batin dan pendampingan dari pembimbing retret. Ignasius sendiri sudah memperoleh pengalaman itu di Manresa, Spanyol. Lalu dalam tathun-tahun terakhir di Roma Ignasius menyempurnakannya, agar LR dapat berguna bagi orang lain. (Bdk. Darminta, J., SJ, “Pengantar”, Seri Ignasiana 5: Latihan Rohani St. Ignasius Loyola. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993, hlm. 8).  

         Perlu diperhatikan bahwa Latihan Rohani dimulai dengan merenungkan kebenaran-kebenaran abadi, yaitu penciptaan, dosa, dan karya penyelamatan. Melalui pokok-pokok itu,  retretan diajak untuk berkonfrontasi (berkomunikasi) dengan dirinya sendiri. Kemudian ada kesempatan untuk memperdalam pengertian batin tentang Kristus, agar retretan semakin baik dalam mengikuti dan mengabdiNya. Untuk itu, para retretan mengkontemplasikan misteri-misteri hidup Kristus: pelayanan, penderitaan dan kebangkitanNya. Puncak Latihan Rohani adalah kontemplasi untuk mendapatkan Cinta.  Selain itu, Latihan Rohani dibagi dalam empat bagian yang disebut sebagai empat minggu. Pembagian empat minggu hanyalah untuk menunjukkan bahwa Latihan Rohani terdiri dari empat langkah besar sesuai dengan dinamika karya keselamatan. Lamanya  latihan tiap minggu tergantung sekali pada proses perjalanan rohani yang dialami oleh setiap retretan. (bdk. Darminta, J., SJ, 1993: 8 & 17).

         Berdasarkan pengalaman saya, aspek komunikasi pertama yang paling awal  terjadi adalah komunikasi antara retretan dan pembimbing. Komunikasi ini berlangsung secara periodik sesuai kebutuhan. Pembimbing memberikan bahan, memberikan rambu-rambu bagi peserta. Sebaliknya, retretan bisa membagikan pengalaman doa atau pertanyaan metodologis yang kemudian mendapatkan feedback dari pembimbing. Dalam proses pendampingan seorang pembimbing harus bersikap netral.  Aspek komunikasi kedua terjadi pada saat retretan memahami materi (misalnya cerita Kitab Suci) dan mencecap-cecap maknanya di dalam batin. Dalam arti tertentu retretan berkomunikasi dengan pengarang Kitab Suci yang diinspirasikan oleh pribadi ilahi ketiga, Roh Kudus. Dalam proses pengolahan internal itulah terjadi proses komunikasi di dalam batin.  Dalam arti tertentu,  pada setiap latihan  retretan mencoba menangkap pesan Kitab Suci  yang dapat mengubah hidupnya.

        Pada setiap latihan  retretan mengawali latihan dengan menyampaikan doa permohonan yang isinya disesuaikan dengan bahan dan dinamika retret. Memohon kepada Tuhan  merupakan aspek komunikasi yang ketiga. Doa permohonan ini mengawali  latihan-latihan dalam setiap minggu. Misalnya:  dalam latihan pertama dari Minggu I retretan menyampaikan permohonan kepada Tuhan agar semua maksud, perbuatan dan pekerjaan diarahkan melulu pada pengabdian dan pujian kepada Allah yang Mahaagung (LR 46). Isi permohonan selalu disesuaikan dengan bahan maupun dinamika retret yang sedang dijalani selama 4 minggu.

         Kemudian setiap kali mengakhiri setiap latihan, retretan melakukan percakapan dengan pribadi-pribadi ilahi. Misalnya: Allah Bapa, atau Kristus, atau Bunda Maria. Dalam LR 53, misalnya,  disebutkan bahwa peserta membayangkan Kristus hadir di hadapannya, tergantung di kayu salib. Retretan bertanya kepada Kristus dalam bentuk percakapan: bagaimana Dia sang Pencipta sendiri telah berkenan menjadi manusia, bersedia sengsara, wafat demi dosa-dosa manusia. Retretan bertanya kepada Kristus: “Apa yang telah kuperbuat bagi Kristus, apa yang sedang kuperbuat bagi Kristus, dan apa yang harus kuperbuat bagi Kristus?” Sambil memandang Kristus yang tersalib, retretan merasa-rasakan apa yang timbul di dalam hati.  Isi percakapan tergantung pada dinamika yang dialami retretan. Percakapan yang terjadi dalam setiap latihan selama 4 minggu ini merupakan aspek komunikasi yang keempat.

        Terkait aspek komunikasi yang kedua, apabila materinya berupa film, di sana pun ada komunikasi. Seperti kata Pater Pungente SJ dalam buku Finding God in the Dark (Ottawa: Novalis, 2004, hlm. 16-17),  pada saat kita nonton film, kita tidak hanya dihibur, tetapi kita sedang dibentuk. Kita berhadap-hadapan dengan cerita-cerita yang membentuk apa yang mungkin terjadi, dan kita menghayati kemungkinan-kemungkinan itu. Doa Ignasian menggunakan imajinasi untuk menghadirkan dunia kita, dan mengijinkan kita membuka diri terhadap kehadiran Tuhan yang dinamis di dalam dunia. Tuhan ingin secara penuh hadir di hadapan kita dan di dalam diri kita. Dan perjumpaan muka dengan muka antara kita dan Tuhan terjadi dalam kontemplasi kita. Oleh sebab itu, film sebagai media komunikasi merupakan cara kontemporer untuk masuk ke dalam pewahyuan timbal balik antara kita dan Tuhan.

         Demikianlah beberapa aspek komunikasi yang saya ketahui dan alami dalam Latihan Rohani St. Ignasius Loyola.  Aspek-aspek  komunikasi ini tidak bisa dilepaskan dari seluruh dinamika Latihan Rohani. AMDG.

***

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

DOKUMENTASI KEGIATAN LAIN-LAIN

Rama Iswara (nomor 2 dari kiri) saat berperan menjadi anggota DPR bersama rama Van Lith SJ dalam film “Betlekem Van Java”.

https://youtu.be/vBepsYnv5U0

Rama Iswara (baju kuning) bersama crew studio Audio Visual PUSKAT.

Sumber: https://www.wartakita.org/rama-iswarahadi-tugasnya-di-media-komunikasi-belum-pernah-ditugaskan-di-paroki/

.

https://www.youtube.com/watch?v=2zMUkBKYcaM

Refleksi Sahabat CLC – “ KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI ”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Hartono Budi SJ. atau yang biasa disapa dengan Rm. Hartono, S.J. dengan judul tulisan “Kaum Muda dan Percakapan Rohani”.

Rm. Hartono SJ saat ini mengajar di Loyola School of Theology, Manilla. Beliau tinggal di Arrupe International Residence, Manila, Philipina.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

KAUM MUDA DAN PERCAKAPAN ROHANI

Oleh Rm. Hartono Budi SJ

Dalam sebuah acara pertemuan orang muda CLC diperkenalkan sebuah dinamika percakapan rohani yang menarik minat banyak di antara mereka. Ada yang mengatakan, merasa tidak pernah ada yang mendengarkannya atau sebaliknya tidak pernah mengalami bahwa “mendengarkan dengan kesungguhan hati” saja adalah hal yang tidak mudah apalagi berpikir bahwa hal itu sudah seperti pelayanan tersendiri, yang sebetulnya sudah cukup lazim dalam ranah konseling.

Sungguh menyapa hati kami ketika dijelaskan bahwa Allah berbicara dan berkarya melalui masih-masing pribadi dan masing-masing dari kami khususnya kaum muda. Awalnya hal demikian rasanya mustahil karena kami memang tidak pernah mendapat pengertian seperti itu dan juga tidak pernah mengalami diperhatikan sebagaimana ketika orang mendengarkan Sabda Tuhan. Setiap pribadi adalah bagaikan satu huruf yang dipilih Allah sendiri, dan yang dalam kebersamaan, ingin menyampaikan sabda-Nya atau kata-kata-Nya yang bisa mengubah hati Maria atau Yusuf, Teresa Avila, Ignatius dari Loyola, atau Carlo Acutis. Pelan-pelan kami bisa melihat poin-nya bahwa sebuah percakapan rohani yang berisikan aktifitas mendengarkan dengan sepenuh hati (bukan sambil lalu apalagi sambil mengoperasikan telepon genggam) dan juga bicara dengan sepenuh maksud hati (bukan sekedar bicara semau dan sesukanya tanpa direncanakan apalagi dipikirkan lebih dahulu) bisa benar membuka ruang bagi Roh Kudus yang pada saatnya ingin berbicara kepada kita, sekarang dan saat ini. Percakapan rohani itu berjalan menurut tiga putaran. Beginilah yang pernah terjadi.

Putaran pertama. Kelompok orang muda sekitar 6 orang dipersilakan sharing tentang isi hati masing-masing yang paling signifikan selama sekitar 5 menit. Pertemuan dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang dipilih secara sukarela dan sudah lebih berpengalaman dalam dinamika percakapan rohani tiga putaran ini. Ia juga yang akan membuka dengan doa pendek sesuai dengan maksud pertemuannya dan mengatur waktunya dengan cukup disiplin. Setiap putaran diakhiri dengan saat hening sebentar, barang semenit atau dua menit dan setiap peserta perlu rela sharing sekitar waktu 5 menit itu.

Seorang rekan muda saat itu sharing tentang penyakit minor di pinggang bawah yang mengganggunya. Sebetulnya tidak perlu operasi apa pun tapi 3 pendapat dokter yang berbeda membuat dia bingung dan kebingungannya berkelanjutan dan menjadi nada utama kehidupannya ke depan.

Putaran kedua. Setelah saat hening, masing-masing dari kami berbagi kata hati tentang hal-hal yang paling berbicara di hati dari sharing teman-teman dalam kelompok ini. Sebagai CLC-er mereka telah mempelajari spiritualitas Ignasian dan membuat beberapa kali latihan rohani St. Ignatius. Oleh karena itu pula, beberapa orang memperhatikan kegundahan teman di atas dan mencermati kebingungan yang berkelanjutkan itu.

Putaran ketiga. Setelah saat hening, masing-masing diajak untuk menyadari sapaan Allah atau suara-Nya bagi mereka saat ini. Mereka diajak peka terhadap gerakan Roh Kudus yang menggerakkan hati mereka. Menarik sekali, beberapa peserta mulai mohon terang Roh Kudus bagi kehidupan dan perjuangannya sehari-hari serta persahabatan yang saling mendukung. Peserta lain menambahkan doa untuk tidak terseret dalam kebingungan yang terus menerus dan mohon keberanian untuk mengambil keputusan dalam terang iman.

Beberapa waktu sesudah pertemuan CLC dengan percakapan rohani ini, orang muda yang punya penyakit kecil itu mukanya tampak lebih cerah. Bicaranya tidak hanya tentang penyakit dan kebingungannya tetapi juga tentang kesediaannya untuk mendukung teman lain. Paling tidak itulah yang disaksikan teman-temannya yang juga bisa merasakan kedamaian hatinya saat berjumpa.

Pendampingan orang muda juga dengan menfasilitasi sebuah percakapan rohani yang dikembangkan dari pengalaman pembedaan roh-roh oleh St. Ignatius Loyola ini memang dapat menghasilkan buah-buah yang cocok untuk kaum muda yang mencari arah, perlu ambil keputusan atau bahkan bertanya tentang makna dan tujuan hidup manusia. Kaum muda juga bisa diajak ber-discernment tentang pelayanan untuk membantu orang yang sedang “mencari” Tuhan atau pun yang ingin melayani kaum miskin dan ingin ikut aktif merawat “rumah kita bersama” yaitu alam semesta ini. Percakapan rohani dalam kelompok CLC dapat membantu menemukan kehendak Tuhan berkaitan dengan preferensi apostolik universal Serikat Yesus saat ini.

Lampiran-lampiran Tambahan:

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Audiensi CLC Indonesia dengan Monsigneur alm Mgr Puja di Green House, April 2009
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

.

Perayaan Natal CLC Yogyakarta di Aula SMA Kolese de Britto, Maret Th. 2010
(Sumber: FB Pak Gunarto)

.

.

Bersama CLC di Yogyakarta, Perayaan Ultah Rm Hartono SJ, Mei 2014
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI KEBERSAMAAN DENGAN PARA JESUIT DI KOMUNITAS 

,

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Februari 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Juni 2018
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

.

Arrupe International Residence chapel, Manila, Philipina. Perayaan Malam Tahun 2019.
(Sumber: Fb Rm Hartono SJ)

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 21/22 Januari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 28/29 Januari 2021

.

gnatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 4/5 Februari 2021

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 25/26 Februari 2021

.

Ignatian Spiritual Exercise – Winter Spring 2021 (10 sesi):Retreat Panjang Online berdasarkan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola, 6/7 Juni 2021

.

.

YOUTUBE …

https://www.youtube.com/watch?v=EAO_p1MwGLM
https://www.youtube.com/watch?v=8UMCmfCmjCI
https://www.youtube.com/watch?v=-ATrDZr2VTw
https://www.youtube.com/watch?v=rlQhu7w52ig
https://www.youtube.com/watch?v=5B5X7dCQ0kY
https://www.youtube.com/watch?v=6Hl5wL0gNv8

Refleksi Sahabat CLC – “CINTA, KASIH, HARAPAN, DAN COMPASSION”

Dalam rangka ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Gerardus Hadian Panamokta , S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Okta, S.J. dengan judul tulisan “Cinta, Kasih, Harapan, dan Compassion“.

Rm. Okta, S.J. saat ini adalah Pamong di Kolese Gonzaga Jakarta sejak 8 Januari 2018 lalu.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Cinta Kasih, Harapan, dan Compassion

Oleh : Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Bulan Februari dekat dengan bulan kasih sayang. Pasalnya, hari kasih sayang termuat di tanggal 14 Februari. Harapannya bulan kasih sayang tahun ini dirayakan dalam situasi yang lebih nyaman untuk berjumpa. Apalah arti kasih sayang tanpa perjumpaan langsung? Situasi berkehendak lain. Manusia-manusia di bumi ini masih kelimpungan dengan serangan cinta virus corona. Virus ini sungguh sayang dengan manusia sehingga mencari berbagai varian untuk dapat menghampiri manusia yang bahkan sudah divaksinasi. Tulisan singkat ini merupakan refleksi saya atas cinta kasih yang berwujud bela rasa atau compassion serta harapan.

Cinta Kasih Berujung Bela Rasa

Saya terkesima dengan cara orang-orang muda yang saya jumpai dan temui setiap hari selama lima tahun terakhir. Mereka punya kreativitas dalam mengungkapkan kasih sayang. Positif arahnya dan bentuknya. Bahkan satu kelompok menjadi semacam agen pemasaran dan distribusi pesan serta bingkisan yang ditujukan dari satu siswa ke siswa lainnya. Mereka pun tidak melupakan para guru dan karyawan untuk disapa dan diberi buah tangan. Kartu ucapan unik, cokelat, bunga, hingga boneka menjadi simbol yang berseliweran kala hari kasih sayang diselenggarakan dan dirayakan.

Tahun lalu pergerakan simbol-simbol tersebut berubah menjadi representasi digital. Jarak memisahkan antar pribadi. Namun perhatian dan kasih sayang satu dengan yang lain tak lenyap. Dengan kreatif, orang-orang muda ini memanfaatkan teknologi digital seperti surat elektronik, serta gambar digital untuk menjamin pesan kasih sayang terkomunikasikan. Simbolnya berubah tetapi pesannya terawat.

Bagaimana dengan hari kasih sayang tahun ini? Jawabannya belum pasti. Sembari menunggu virus itu terus melancarkan kangen dan rindunya pada tubuh manusia, orang-orang muda ini menjamin dirinya untuk berkreasi dan berinovasi. Saya kagum karena mereka adaptif.

Saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk menemani dan mendampingi orang-orang muda yang bersemangat sekaligus bergairah. Mereka pun juga rapuh karena hampir dua tahun terkurung di rumahnya. Sebagai pendamping dan pembimbing, hati saya kerap tersayat ketika situasi semakin memburuk. Menyampaikan kabar yang tidak enak menjadi hal yang amat enggan saya lakukan. Namun, saya wajib melakukannya. Mengambil langkah, keputusan, dan menyampaikan sesuatu yang berat dengan manusiawi menjadi tantangan nyata di situasi pandemi ini.

Pertanyaan saya adalah mampukah bulan cinta kasih ini mendorong diri dan semua saja untuk sampai pada sikap bela rasa? Sederhananya ialah cinta kasih yang altruis. Cinta kasih yang mengarah ke luar, ke sesama, ke siapa saja bahkan dengan mereka yang belum kita kenal. Cinta kasih jenis ini melampaui cinta kasih parental, cinta kasih dalam level eros, dan cinta kasih filia atau persahabatan. Cinta kasih yang berujung pada bela rasa atau compassion. Mampukah itu?

Belajar dari Ignasius Loyola

Sejak Tahun Ignasian dibuka, para pengikut, pemerhati, serta penggiat Spiritualitas Ignasian merenungkan makna peringatan 500 tahun pertobatan Santo Ignasius Loyola. Yang dikenang dari 500 tahun lalu itu ialah peristiwa luka Inigo di medan pertempuran kota Pamplona. Luka tersebut mengajak Inigo untuk mau tidak mau ambil jarak dari keseharian bahkan dari impian-impiannya. Bagi saya, ada dua peristiwa penting pasca Pamplona yang dapat menjadi titik pembelajaran untuk menjadi pribadi altruis dan compassionate person. Peristiwa pasca Pamplona itu ialah di puri Loyola dan gua Manresa.

Inigo di Loyola ialah pasien yang mendapat perawatan pasca luka di medan tempur. Tak hanya terluka kakinya, hati dan impiannya pun luka bahkan remuk redam. Inigo memikirkan, menimbang-nimbang ulang dirinya dan masa depannya. Di puri Loyolalah, Inigo dengan amat peka meneliti batin dengan gerak-geriknya. Gerak-gerik pertama mengantarnya pada situasi yang dekat dengan Allah. Gerak-gerik yang lainnya yang berlawanan membawanya pada kondisi yang jauh dari Allah. Konsolasi dan desolasi. Inigo meyakini bahwa gerak-gerik batin yang membawa pada konsolasi itulah yang mesti dipilih. Inigo berkomitmen untuk itu dengan melepaskan impian-impiannya menjadi kesatria yang dipuja oleh putri-putri bangsawan. Inigo menggantinya dengan impian menjadi kesatria Kristus seperti Santo Fransiskus Asisi dan Santo Dominikus. Pasca sembuh dari luka, Inigo memutuskan berziarah. Di momen ini, arah gerak cinta dan pengabdian Inigo masih berpusat pada dirinya dan Allah. Akal budi, hati, dan kehendaknya masih dalam proses dididik oleh Allah di tahap berikutnya. Peristiwa di puri Loyola layak disebut sebagai masa-masa awal virus corona melanda dunia. Di masa itu, manusia belum dapat bergerak dan berinisiatif lantaran alat tes, layanan kesehatan, serta vaksinasi masih belum maksimal.

Inigo di gua Manresa mengalami peristiwa yang serupa tetapi tidak sama dengan di Puri Loyola. Keserupaan itu ialah dirinya yang berada sendiri, mandiri, dan berelasi eksklusif dengan Allah. Perbedaannya terletak pada inisiatifnya. Di Puri Loyola, Inigo tak berdaya, tak sukarela. Sebaliknya, di Gua Manresa, Inigo dengan pilihan bebas melakukan ‘retret agung’ panjang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah. Pada pengalaman Manresa, Inigo sudah mengalami perjumpaan dengan banyak orang. Peziarahan yang ia lakukan pasca Puri Loyola melatihnya untuk pelan-pelan membuka diri pada orang lain. Inigo memulainya dengan mencari orang lain sebagai pembimbing rohaninya. Di sini pula, Inigo tinggal di Rumah Sakit dan melayani orang lain. Inigo di Manresa merupakan pembelajar yang setia, jatuh bangun, namun ia taat dan setia dididik oleh Allah. Pasca sebelas bulan di Manresa, Inigo sudah menjadi pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dengan menyelamatkan orang lain, maka dirinya pun selamat. Wawasan Inigo akan pelayanan menjadi semakin altruis. Sang kesatria Kristus ini tak hanya berpikir, merasa, dan berkehendak untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi keselamatan sesama. Semoga pengalaman di Gua Manresa menjadi pemantik bagi manusia saat ini yang masih harus membatasi diri. Namun, cara pandangnya tidak hanya berpaku pada aku, aku, dan aku. Di fase di mana alat tes yang sedemikian mudah diakses, layanan kesehatan yang semakin membaik, serta vaksinasi yang makin masif, aku-aku tersebut semakin berinovasi dan berkreasi untuk berbela rasa kepada sesama.

Pengalaman Inigo di Puri Loyola dan Gua Manresa dekat dengan peristiwa yang kita alami nyaris dua tahun pandemi di Indonesia. Dua tempat bersejarah bagi Ignasius tersebut merupakan fase bertahap. Manusia saat ini pun sudah dalam periode yang berbeda dengan era pandemi awal. Semoga dengan semakin merenungkan perayaan Ignatius500, pertobatan diri ini sungguh berujung pada cinta kasih yang berbela rasa kepada sesama. Namun, apakah itu bela rasa?

Rasa Iba (pity), Simpati, Empati, dan Bela Rasa (Compassion)

Dalam keseharian, rasa iba (pity), simpati, empati, dan bela rasa (compassion) kerap digunakan secara manasuka. Keempatnya memang menunjukkan sikap altruis. Empat istilah tersebut memang menunjuk pada sikap positif terhadap sesama. Padahal keempatnya memiliki perbedaan.

Rasa iba (pity) merupakan sikap altruis paling dasar. Rasa iba atau pun rasa kasihan merupakan perasaan spontan atas sesama. Spontanitas rasa iba atau rasa kasihan hanya berhenti di situ saja. Rasa yang sedemikian cepat muncul dan lenyap.

Simpati berada di level setelah rasa iba. Istilah English-nya ialah we feel for the other person whom suffered. Dengan simpati, sudah ada sedikit kehendak untuk memahami dan membantu orang lain yang menderita.

Empati selangkah lebih maju dari simpati. Dengan empati, seseorang punya kehendak kuat untuk memahami pengalaman orang lain. With empathy we feel with the person. Diri yang berempati berarti mengambil rasa perasaan sesama dan menjadikannya milikku. Sikap empati ini amatlah mulia. Sampai sikap demikian, empati cukup. Empati belum mendorong seseorang untuk bergerak dan membantu secara konkret mereka yang membutuhkan.

Yang paling tinggi ialah compassion atau bela rasa. Mereka yang berbela rasa atau compassionate person ialah seseorang yang sungguh memahami rasa perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain serta kehendak untuk bertindak membantu orang lain tersebut. Aksi ialah titik pembeda bela rasa dengan empati.

Agar lebih memudahkan, mari ambil contoh dari kecelakaan lalu lintas di perempatan. Ketika terjadi kecelakaan, banyak orang tahu bahwa di situ terjadi kecelakaan. Banyak orang melihat. Banyak orang merasa iba atau pun merasa kasihan. Namun orang-orang yang merasa iba dan kasihan itu tetap melangsungkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tetap di kios dagangannya. Ada yang melanjutkan perjalanan. Ada yang menengok sejenak. Rupanya ada juga orang-orang yang berhenti sejenak, bercakap-cakap mengenai kecelakaan tersebut di sudut-sudut yang aman. Sekumpulan orang yang membicarakan korban kecelakaan tersebut menunjukkan sikap simpati. Mereka merasakan penderitaan si korban.  Selain sekumpulan ini, ada juga orang-orang yang bergerak mendekat, mengerubungi korban. Orang-orang yang mengelilingi korban ini sungguh merasakan betapa ngerinya kecelakaan tersebut. Semoga kecelakaan tersebut tidak menimpa dirinya. Orang-orang ini sudah mendekat tetapi hanya sampai situ. Terakhir ada satu dua orang yang bergerak cepat membantu, menolong korban. Ada yang memindahkan korban ke tempat yang aman. Ada juga yang menghubungi ambulans serta polisi, dsb. Satu dua orang inilah yang berbela rasa atau compassionate persons.

Ignasius Loyola dalam proses pertobatannya sejak di Benteng Pamplona, Puri Loyola, dan Gua Manresa dididik oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang berbela rasa, compassionate person. Ignatius tidak hanya merasa iba atau kasihan. Ignasius ke luar dari sikap simpatik. Ignasius mampu terhubung dengan sesama lewat empati. Lebih lagi, Ignasius beraksi untuk membantu sesama (compassion). Pada masa Ignasius hidup, rumah sakit merupakan tempat yang paling dihindari untuk dikunjungi. Fasilitas kesehatan belum sehigienis dan secanggih saat ini. Namun, Ignasius memilih untuk melatih diri melayani sesama demi kemuliaan nama Allah di rumah sakit.

Harapan akan Masa Depan

Setelah sebelumnya, saya mengajak Anda untuk melihat cinta kasih yang berujung pada aksi bela rasa, maka kini saya mengundang Anda untuk berharap, berpengharapan agar cinta kasih dan bela rasa sungguh terwujud.

Saya kagum sekaligus heran ketika Serikat Yesus universal memaparkan Preferensi Kerasulan Universal. Salah satu preferensi tersebut memadupadankan orang muda dengan harapan. Bunyinya demikian, “menemani/mendampingi kaum muda dalam membangun masa depan yang penuh harapan”. Bagi saya yang selama hampir 10 tahun menemani orang-orang muda usia remaja, preferensi ini tampak jelas dan mudah saat dunia ‘baik-baik’ saja. Saat pandemi virus corona merebak, harapan menjadi momok bagi saya untuk menemani dan mendampingi orang muda. Pandemi menempatkan orang-orang muda untuk selalu punya alasan untuk tidak berpengharapan. Orang-orang muda ini kecewa, sedih, dan marah dengan situasi. Sisi kodrati alamiah mereka sebagai remaja direnggut oleh pandemi. Mereka yang mesti belajar ke luar dari rumah serta keluarga untuk membentuk komunitas dan persahabatan, kehilangan kesempatan. Kaum muda dipaksa keadaan untuk mencari cara-cara baru untuk tumbuh dan berkembang sebagai generasi penyintas pandemi. Sering, generasi yang lebih dahulu dari mereka mengungkapkan rasa iba dan simpatik. Sayangnya, gap generasi ini nirempati dan juga nirbela rasa. Orang-orang muda kerap merasa tidak dipahami atas apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan. Bahkan orang-orang muda ini sendirian menghadapi penderitaan menyeluruh baik fisik dan psikis. Demikianlah rasa kagum dan heran saya atas kehendak besar Serikat Yesus untuk menemani orang muda di masa sulit ini agar harapan akan masa depan senantiasa ada di tangan mereka.

Dalam Berjalan Bersama Ignasius, Pater Arturo Sosa, SJ menyampaikan tanggapannya atas topik ini secara khusus mengenai ruang terbuka bagi orang muda di masyarakat dan Gereja serta sikap mendengarkan orang muda. Saya tuliskan saja jawaban beliau agar merawat harapan bagi kaum muda sungguh tersampaikan,

“… Di lingkungan pendidikan tersedia ruang-ruang yang bisa digunakan untuk mendengarkan anak muda. Kita sedang menjalani masa perubahan yang sangat besar dalam sejarah manusia, perubahan zaman, di mana Paus meminta kita dalam waktu bersamaan saat kita mendidik orang muda, kita juga harus belajar dengan mereka dan dari mereka. Kita, orang dewasa, perlu mempelajari antropologi baru dalam berelasi yang lahir pada era baru ini. Kita tempatkan dalam diri kita akan tantangan kesadaran hidup di zaman berubah ini. Mendengarkan anak muda adalah syarat untuk bisa melewati proses ini bersama-sama. Hal ini kita rasakan sebagai sebuah tuntutan. Menuntut pertobatan dari dalam diri kita sendiri. Sejauh kita Jesuit hidup otentik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan cara yang sesuai bagi kita, kita akan dapat menunjukkannya kepada orang muda.”

Terkait dengan pengalaman Pater Arturo Sosa, SJ mendengarkan orang muda, beliau menjawab,

” … Saya telah belajar dari orang muda bahwa kita harus melepaskan diri kita dari apa yang telah kita jalani dan bahwa kita tidak dapat menyakralkan pengalaman kita sendiri. Berpegang pada sesuatu dan melepaskan sesuatu adalah sesuatu yang sangat penting. Kita semua berpegang pada apa yang memberikan kepastian dan memberi rasa aman. Dengan cara ini, kita tidak ragu dan kita bisa bergerak maju dengan tengan. Sebagai orang dewasa kita terikat pada pengalaman ketika kita menjalani masa muda kita, tetapi kita harus belajar melepaskan diri dari hal itu.  … Orang muda memintamu keluar dari apa yang kamu yakini dan melihat sesuatu dari perspektif lain. Bisa jadi apa yang telah kamu lakukan dan cara bertindak itu sangat valid, tetapi ada juga cara yang lain. Kita harus belajar hidup dalam ketegangan ini, meskipun, saya ulangi sekali ini, ini bukanlah hal yang mudah.”

Tanggapan Pater Arturo Sosa, SJ menandaskan betapa pentingnya merawat ruang dialog yang terbuka untuk mendengarkan timbal balik yang saling menghargai, saling memahami, saling berempati, dan saling berbela rasa. Dengan cara inilah harapan akan dirawat dan diwujudkan.

Catatan mendorong aksi

Pada akhirnya cinta harus diwujudkan dalam tindakan. Di bulan Februari 2022 ini, aksi konkret bela rasa apa yang dapat aku buat bagi sesamaku?

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

Pertemuan Pengurus CLC Asia Pasific di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Mei 2017 #ASIAN YOUTH DAY 2017

Rm Okta : berdiri paling kiri, kedua tangan bersedekap

.

.

Menjadi Narasumber Pertemuan Senin Kedua CLC di Yogyakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is image-2.png

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN

BERSAMA KELUARGA : ORANGTUA DAN ADIK

Di Kolsani – Yogyakarta – 2016

Diakon Okta hadir dalam acara pernikahan adik -21 Mei 2016

BERSAMA KELUARGA JESUIT -saat tahbisan dll.

Tahbisan Imamat Juli 2017: Gereja St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tahbisan Imamat Juli 2017: Kolese St. Ignasius (Kolsani) Kotabaru Yogyakarta

Pose bersama Rm Angga SJ di Kolsani Yogyakarta

SEBAGAI PAMONG DI SMA KOLESE GONZAGA JAKARTA, DLL.

NOVENA ST IGNATIUS LOYOLA, 23 JULI – 31 JULI 2020

https://www.youtube.com/watch?v=R0i5Kil29D4

Novena Hari Pertama St. Ignatius Loyola

https://youtu.be/mhUCbGNgHg8?t=41

Novena Hari Kedua St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ofGcyEsujAQ

Novena Hari Ketiga St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=DmkStq4rnYQ

Novena Hari Keempat St. Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=3Jv0-iR4_Ts

Novena Hari Kelima St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=Ke9d9xr6u-w

Novena Hari Keenam St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=ISBAsQoPl1k

Novena Hari Ketujuh St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=U8J1UfXl5JU

Novena Hari Kedelapan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=KKoAWTpPv-4

Novena Hari Kesembilan St.Ignatius Loyola

https://www.youtube.com/watch?v=khLNNRsk5h8

.

.

WEBINAR JESUIT INDONESIA #2 – KEPEMIMPINAN SOLIDARITAS yang MENGOBARKAN HARAPAN

https://www.youtube.com/watch?v=O-mGDJZenhs

Refleksi Sahabat CLC – “HARAPAN ADALAH BENIH KASIH YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG”

Dalam rangka menyambut Adven dan ikut merayakan Tahun Ignasian (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022), kami sajikan tulisan refleksi Sahabat CLC: Rm. Prof. Dr. Antonius Sudiarja, S.J. atau yang biasa disapa dengan Rm. Dipo, S.J. dengan judul tulisan “ Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang “.

Rm. Dipo, S.J. saat ini adalah Asisten Gerejani Lokal CLC di Jakarta. Beliau saat ini tinggal di Kolese Hermanum, Jakarta.

Selamat membaca dan berefleksi.

Ad Maiorem Dei Gloriam.

IgnatiuS00

Harapan adalah Benih Kasih yang Tumbuh dan Berkembang

(A. Sudiarja, SJ)

Dari mana mesti kumulai refleksi ini? Hingga saat ini isu pandemi Covid-19 masih belum juga surut, sejak diumumkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia pada bulan Maret 2020. Tentu saja bukan hanya di Indonesia; namanya juga ‘pandemi’ (penyakit yang menjalar cepat di wilayah seluruh dunia) bukan endemi atau epidemi. Isu yang beredar pun berubah-ubah dari waktu ke waktu.  Saya masih ingat di awal-awal merebaknya penyakit ini, berbagai berita lewat media sosial, mengenai korban-korban yang terpapar ( satu orang dari komunitas saya meninggal sesudah dirawat hampir selama sebulan), lukisan penyakit yang mengerikan, suasana yang mencekam, keluarga yang dipisahkan oleh karena penyakit ini, tidak bisa menengok pasien, banyaknya angka kematian, penanganan yang lambat karena kurangnya perlengkapan dan obat-obatan, bahkan banyak  dari antara tenaga medis yang terpapar; kemudian munculnya kontroversi tentang vaksin yang berbeda, perdebatan panas memasuki ranah politik, saling menyalahkan dan mencurigai pihak mana yang menciptakan pandemi ini; Di tanah air ada kelompok yang melanggar larangan kumpul-kumpul, atau menyalahkan pemerintah, hingga perdebatan soal baik-tidaknya menyelenggarakan pilkada di masa pandemi dan masih ratusan persoalan, belum lagi kejahatan dalam penyalahgunaan fasilitas, penipuan dan eksploitasi ekonomis untuk mencari keuntungan di tengah situasi yang sulit.

Dilema yang akut adalah antara pembatasan yang seketat mungkin untuk mencegah penularan, di lain pihak desakan perlunya pelonggaran untuk kegiatan ekonomi, agar kehidupan ekonomi jangan sampai mati sama sekali. Sungguh tidak mudah pemerintahan, tidak hanya di Indonesia tetapi di mana pun, menata kehidupan bersama di masa seperti ini, karena ada banyak kepentingan, pemikiran, pengetahuan dan pengalaman berbeda yang menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan sosial politik. Padahal, dalam ‘situasi darurat’, selalu berlaku prinsip ‘we are in the same boat’; kita berada dalam satu perahu, kalau tidak kompak, kita semua celaka.  

Di beberapa negara di Eropa muncul berbagai protes, dari kalangan masyarakat yang ingin melawan prinsip kebersamaan ini, karena merasa dikungkung oleh peraturan dan pengaturan prokes yang ketat. Maka mereka tidak mau memakai masker dan tidak mau disuruh tinggal di rumah, atau pun dilarang untuk berkumpul-kumpul, karena menganggap ‘pandemi’ sekedar mitos atau isu yang berbau politik-ekonomi, yang mengelabui. Mereka tidak merasa dalam ‘keadaan darurat’. Tentu saja sikap seperti ini berpengaruh pada penanganan pandemi. Saya tidak mau mempersoalkan data dari akibat kebijakan dan reaksi masyarakat ini, melainkan mau merenungkan peristiwa-peristiwa ini dalam rangka refleksi akhir tahun 2021 untuk merajut harapan untuk tahun 2022.

Dari peristiwa-peristiwa di atas, memang tampak bahwa sulit menyatukan pandangan dan kebijakan untuk mengatasi bersama pandemi covid-19. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin hari, individualisme dan pengelompokan semakin berkembang, karena perbedaan keinginan dan pemikiran. Akan tetapi bukankah hal ini juga memperlihatkan bahwa keunikan, perbedaan dan kebebasan manusia semakin dihargai? Masalahnya, apakah keunikan, perbedaan-perbedaan dan kebebasan ini akan mengembangkan kebersamaan sebagai manusia atau menghancurkannya? Hal ini tergantung pada keberanian untuk ‘saling percaya’ dan kerelaan untuk ‘berkorban’. Inilah ukuran dari mutu masyarakat dalam hidup bersama.

Kalau kita perhatikan, sebetulnya banyak juga rahmat kebaikan yang kita terima selama pandemi ini, semacam ‘blessing in disguise’ yang patut kita sadari dan syukuri. Kesetiaan dan kerelaan para tenaga kesehatan yang meresiko hidup mereka dalam tugas-tugas merupakan ‘pengorbanan’ yang luar biasa, di tengah penolakan mereka yang tidak percaya dan meremehkan bahaya pandemi ini; Demikian juga kesediaan membantu dan menyumbang dari berbagai orang, instansi, kelompok-kelompok relawan merupakan rahmat yang kita terima. Kerjasama yang semakin tumbuh dan lain sebagainya.

Ada pepatah Latin (seingat saya dari Kardinal Newman) yang mengatakan: “In necessariis unitas, in dubitas libertas, in omnibus caritas” (Dalam hal yang mendesak perlu kesatuan, dalam keraguan ada kebebasan, dari segala hal cinta kasih). Mudah untuk mengatakan perlunya ‘bersatu dalam keadaan darurat’, tetapi tidak mudah, atau setidaknya masih ada yang ragu-ragu, ‘apakah sekarang ini keadaan sudah (atau masih) begitu darurat’, sehingga mereka ada yang tidak percaya dan menuntut kebebasan. Akan tetapi dan inilah ukuran atau indikasi dari mutu sebuah masyarakat, yakni kalau mereka, atau masing-masing orang, dalam keadaan apa pun melakukan segalanya dalam cinta-kasih.

Kesulitan yang mencolok menyangkut ‘pembatasan kegiatan’ (PMKL), terutama dirasakan oleh orang-orang kecil yang tidak bisa tidak harus bergerak untuk, mencari nafkah kebutuhannya sehari-hari, kalau tidak mau mati; sebab meski lautan (pandemi) mengganas, namun mereka tidak merasa dalam kapal yang sama (‘we are not in the same boat’). Tiba-tiba saya diingatkan pada kisah Buddhis, mengenai burung berkepala dua yang terukir pada dinding candi Mendut. “Jangan mengeluh!”, kata kepala burung yang di atas, yang selalu dapat makanan, “bukankah makanan ku sampai di perut yang sama, untuk kita”. Akan tetapi kepala burung yang di bawah tidak merasa senang, karena tidak selalu mendapat peluang untuk makan. Maka karena sikap kepala burung yang di atas itu, akhirnya ia memutuskan untuk makan makanan yang beracun. Akibatnya burung berkepala dua itu mati.

‘Keadaan darurat’ tidak memberi peluang yang sama bagi setiap orang, ada yang beruntung karena ia kaya sehingga bisa menyimpan makanan, ada yang rugi karena tidak bisa mencukupi makanan sehari-hari. Ada tuntutan moral bagi yang berkecukupan, membantu yang berkekurangan, kalau mau meyakinkan mereka bahwa ‘we are in the same boat’ dan tidak boleh merasa tenang dan senang, seperti kepala burung yang di atas itu. Hal ini juga merupakan indikasi, sejauh mana mutu kehidupan sudah dihayati secara bersama (in the same boat).

Sejauh mana tahun depan 2022 akan memberikan harapan, tergantung sejauh mana tahun 2021 yang berlalu sudah memperlihatkan indikasi-indikasi mutu kehidupan bersama, seperti kesadaran akan rahmat Tuhan, kemampuan untuk bersyukur, kesadaran akan ‘keadaan darurat’ dan kerelaan untuk berbagi atau berkorban, kesediaan membantu mereka yang ada dalam kesulitan. Harapan bukanlah ilusi yang diciptakan dari kekosongan, hanya karena terdorong oleh keinginan, melainkan kasih yang tumbuh dan berkembang dari benih yang sudah ditanamkan, dan orang tetap setia memeliharanya. Semoga demikian.*** 

Lampiran-lampiran Tambahan: 

DOKUMENTASI KEGIATAN DENGAN CLC 

.

BERSAMA CLC di YOGYAKARTA

Natalan di Aula SMA De Britto – 2010

.

.

BERSAMA CLC di JAKARTA

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Divine Love”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Darkness and Light”. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Juni 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in Friendship with Jesus.” Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 19 September 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

Menjadi narasumber Kegiatan Rutin Minggu Ketiga CLC di Jakarta pada acara Pendalaman Buku the First Spiritual Exercises Michael Hansen, S.J. dengan topik “Inner Peace in The Service of God“. Acara dilaksanakan pada hari Minggu, 21 November 2021, pk. 10.00 – 12.00 WIB. Melalui zoom.

.

.

DOKUMENTASI ANEKA KEGIATAN  

JURNAL PUSAT STUDI IGNASIAN – UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

.

.

SEKOLAH TINGGI FILSAFAR (STF) DRIYARKARA – JAKARTA

https://gagasmakna.wordpress.com/tag/stf-driyarkara/

.

.

Sabtu, 23 Januari 2021 — https://www.youtube.com/watch?v=LRa098FHvbk

.

.

Jumat, 6 Maret 2020 – https://youtu.be/5WazMHS1otE?t=450

Komunitas JumPer Daan Mogot – St. Paulus

https://www.facebook.com/103343051027713/posts/misa-jumper-6-maret-2020-oleh-rm-antonius-sudiarja-sj/217047676323916/

.

.

Buku digital yang ditulis oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/penulis/a-sudiarja-s-j

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menjadi-semakin-insani-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/menemukan-tuhan-dalam-segala-remah-remah-rohani

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/masih-ada-orang-baik-di-sekitar-kita-remah-remah-rohani

.

.

Buku yang diberi pengantar oleh Rm. A. Sudiarja, S.J.

https://obormedia.com/product/guruku-malaikat-jiwaku/

.

.

https://opac.perpusnas.go.id/ResultListOpac.aspx?pDataItem=Antonius%20Sudiarja&pType=Author&pLembarkerja=-1&pPilihan=Author

.

http://cn.sakikokoide.xyz/author/a-sudiarja

,

.

https://www.kompasiana.com/jeremiasjena/5c1af197ab12ae66f42fa076/pergilah-ke-mana-hati-membawamu#google_vignette

.

.

Kumpulan Esai (tulisan rekan-rekan untuk memperingati Ultah Ke-65 Rm. A. Sudiarja, S.J.)

https://shopee.co.id/Buku-Meluhurkan-Kemanusiaan-A-Sudiarja-i.6970153.5364639134

.

.

https://gerai.kompas.id/belanja/buku/penerbit-buku-kompas/bayang-bayang-kebijaksanaan-dan-kemanusiaan/

Renungan Harian: 23 Juni 2022

Renungan Harian
Kamis, 23 Juni 2022
Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Bacaan I: Yes. 49: 1-6
Bacaan II: Kis. 13: 22-26
Injil: Luk. 1: 57-66. 80

Ngudang

Nenek itu begitu bangga dengan kehadiran cucu pertamanya dan lebih membanggakan karena cucu pertamanya adalah laki-laki. Dalam pandangan nenek itu, cucu pertama laki-laki membanggakan karena akan menjadi penerus keturunan dan sekaligus penjaga keluarga. Kebanggaan nenek itu selalu diungkapkan dengan “ngudang” cucunya. (memuji dan sekaligus menyampaikan harapan. Setiap kali “ngudang” cucunya nenek itu selalu mengatakan kata-kata yang sama: “Cah bagus dhewe putune mbah putri, mripate clorot-clorot madhangi jagat. Gelis gedhe ya ngger dadi cah pinter lan wasis mben donyane dadi padhang. Suk yen mbah putri tindak ora perlu nggowo senter.” (Anak paling ganteng, cucu nenek. Matanya terang cerah, menerangi dunia. Cepat besar, jadi anak yang pandai dan bijak agar dunia menjadi terang. Nanti kalau nenek pergi tidak perlu membawa senter).
 
Sebuah “kudangan” yang luar biasa. Suatu saat saya pernah bertanya apa arti dari doa nenek itu. Pertama pada saat itu di desa itu belum ada listrik masyarakat desa itu menggunakan lampu minyak untuk rumahnya, dan kalau pergi keluar rumah mengandalkan senter sebegai penerang. Nenek itu menjelaskan sesuatu yang lebih dalam dari apa yang saya tangkap.

“Nenek berharap bahwa cucu suatu saat menjadi terang bagi dunia. Dunia yang gelap ini karena kurang hadirnya orang pandai yang bijak. Orang pandai mungkin banyak tetapi mana kala orang pinter tidak bijak maka membuat dunia yang gelap ini semakin menjadi gelap. Hanya orang pinter yang bijak yang membawa terang untuk dunia ini. Orang pinter yang bijak akan menuntun sesamanya menuju pada kesempurnaan hidup. Dan harapan nenek yang terakhir bahwa cucuku ini menyempurnakan hidup nenek, mengantar nenek pada kebenaran dan tujuan hidup yang sejati,” nenek itu menjelaskan dalam bahasa Jawa.
 
Saya tertegun mendengarkan penjelasan nenek itu. Sebuah “kudangan” yang sederhana namun mempunyai makna yang mendalam. Saya tertegun karena nenek sederhana, orang desa tidak pernah sekolah tetapi mempunyai pemahaman yang luar biasa. Saat saya tanya pada nenek itu dari mana hal-hal yang mendalam itu didapat; nenek itu mengatakan bahwa semua itu didapat dari pengalaman hidup.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam kitab Yesaya, Allah mengutus setiap dari kita menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar bangsa-bangsa sampai pada keselamatan. Kiranya seperti “kudangan” nenek itu, salah satu cara menjadi terang adalah berjuang menjadi orang yang pandai dan bijak. “Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari padaKu sampai ke ujung bumi.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 22 Juni 2022

Renungan Harian
Rabu, 22 Juni 2022

Bacaan I: 2Raj. 22: 8-13; 23: 1-3
Injil: Mat. 7: 15-20

Menggiurkan

Beberapa waktu yang lalu, saya dan keluarga berkunjung ke rumah saudara. Salah satu yang menarik dalam kunjungan itu adalah banyaknya tanaman buah di halaman rumah beliau. Pada saat itu sedang musim mangga, sehingga beberapa pohon mangga sedang berbuah dan beberapa sudah layak untuk di panen.
 
Salah satu pohon mangga menarik perhatian kami, karena buahnya amat besar. Saya belum pernah melihat jenis pohon mangga seperti itu dengan buah yang amat besar. Saya bertanya kepada beliau jenis mangga apa, beliau menjelaskan bahwa mangga itu jenis mangga impor tetapi soal nama dan asal usul jenis mangga itu saya sudah tidak ingat lagi; yang saya ingat hanya buah mangga itu amat besar untuk ukuran buah mangga.
 
Beliau menawari apakah kami mau membawa pulang buah mangga itu sebagai oleh-oleh. Menurut beliau buah mangga itu sudah tua bahkan beberapa sudah masak. Beliau mengatakan bahwa biasanya beliau memanen buah mangga itu dan dibagi-bagikan karena beliau hanya berdua sehingga tidak akan mampu menghabiskan. Dengan senang hati saya menerima tawaran beliau dan kami pulang membawa 1 dus buah mangga itu.
 
Esok hari saya tidak sabar untuk mencicipi buah yang menggiurkan itu sehingga saya memilih salah satu buah yang sudah masak. Buah mangga itu setelah dikupas warnanya kuning merona, aromanya harum dan daging buahnya amat tebal sungguh-sungguh luar biasa. Namun ternyata rasanya asam, tidak seperti yang saya bayangkan manis. Buah yang menggiurkan itu membuat saya tidak ingin menikmatinya lagi karena rasanya asam.
 
Buah yang menggiurkan ternyata tidak memberi kenikmatan seperti yang seharusnya. Dalam kehidupan beriman banyak orang menawarkan ajaran-ajaran dengan cara-cara yang luar biasa menarik. Mereka berpenampilan keren, cara mengajarkan menarik, memanfaatkan teknologi yang luar biasa sehingga menarik banyak orang. Namun apa yang diajarkan dan diwartakan menyesatkan membuat banyak orang berpaling dari imannya dan bahkan kehidupannya menjadi hancur.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, Tuhan mengingatkan agar selalu waspada, tidak mudah terpukau dengan apa yang dilihat. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kalian akan mengenal mereka.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 21 Juni 2022

Renungan Harian
Selasa, 21 Juni 202

PW. St. Aloysius Gonzaga
Bacaan I: 2Raj. 19: 9b-11. 14-21. 31-35a. 36
Injil: Mat. 7: 6. 12-14

Gerombolan

Beberapa hari yang lalu ada berita yang amat memprihatinkan terjadi di Bandung. Berita itu berkaitan dengan adanya 2 orang bobotoh (pendukung kesebelasan Persib) yang meninggal dunia akibat berdesak-desakan saat hendak masuk stadion untuk menyaksikan pertandingan kesebelasan kesayangan mereka Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya. Soal bagaimana persisnya peristiwa yang memakan korban itu belum jelas betul karena masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib.

Namun ada dugaan adanya sejumlah orang yang tidak mempunyai tiket memaksa masuk stadion untuk melihat pertandingan dengan menjebol salah satu pintu masuk. Sehingga peristiwa itu menyebabkan adanya desak-desakan penonton yang tidak bisa dikontrol.
 
Kejadian itu menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Dalam sebuah berita, pihak keluarga salah satu korban bercerita bahwa korban menabung agar dapat membeli tiket untuk melihat pertandingan. Cerita keluarga korban ini menimbulkan keprihatinan dan kepiluan. Orang yang punya niat baik menonton pertandingan dengan cara yang baik (resmi) bahkan karena keterbatasannya harus menabung tetapi justru menjadi korban akibat ulang sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sekelompok orang yang memaksakan kehendak atau mungkin menghalalkan segala cara untuk memenuhi atau mendapatkan apa yang diinginkannya.
 
Kisah menyedihkan tentang adanya sekelompok orang yang memaksakan kehendak untuk melihat pertandingan atau pertunjukan dengan cara llegal sehingga memakan korban sudah amat sering terjadi. Tentu ada banyak penilaian tentang kejadian seperti itu. Ada yang mengatakan bahwa banyak orang hendak menonton tetapi tidak mempunyai uang untuk membeli tiket, ada juga yang mengatakan mempunyai uang tetapi kehabisan tiket dan bahkan ada yang membuat penilaian bahwa itu fenomena kesenjangan sosial dan sebagainya. Apapun itu yang pasti ada tindakan-tindakan pemaksaan kehendak secara ilegal.
 
Dalam kehidupan sehari-hari kejadian-kejadian dimana seseorang memaksakan kehendak untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara-cara yang tidak baik atau tidak seharusnya atau bahkan menghalalkan segala cara amat sering terjadi dan dijumpai. Hal itu seringkali terjadi karena kesulitan untuk menempuh cara yang semestinya. Cara yang semestinya amat sulit dan banyak orang tidak mau berjuang atau malas berjuang sehingga mencari jalan pintas dan ujungnya membawa petaka.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius, menegaskan bahwa jalan menuju kehidupan harus diperjuangkan dengan luar biasa. Jalan menuju kehidupan tidak bisa ditempuh dengan jalan pintas dan hanya mengandalkan pemaksaan kehendak. Jalan pintas yang menggiurkan hanya akan menghantar pada kesesatan. “Masuklah melalui pintu yang sempit itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang telah masuk melalui pintu dan jalan itu. Tetapi sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikitlah orang yang menemukannya.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 20 Juni 2022

Renungan Harian
Senin, 20 Juni 2022

Bacaan I: 2Raj. 17: 5-8. 13-15a. 18
Injil: Mat. 7: 1-5

Remang-Remang

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama beberapa teman makan di sebuah warung soto. Warung soto itu selalu penuh dengan pengunjung dan memang warung soto itu sudah terkenal sejak saya masih kecil. Saat kami sedang menikmati semangkuk soto dan beberapa lauk pauk, di meja sebelah datang sekeluarga yang hendak menikmati soto.
 
Bapak yang bersama dengan keluarga itu sejak masuk warung nampak seperti orang yang gelisah, melihat ke kanan, ke kiri, memperhatikan ke atas dan jalanan depan warung soto itu. Setelah bapak itu duduk bapak itu memanggil pelayan, sebagaimana biasa pelanggan yang hendak memesan. Namun ternyata bapak itu tidak memesan tetapi justru meminta agar pelayan menghidupkan lampu di warung itu agar menjadi terang. Mendengar permintaan bapak itu saya merasa aneh karena dalam ruangan warung itu cukup terang. Pelayan itu menjawab bahwa lampu semua sudah dinyalakan; akan tetapi bapak itu mengatakan bahwa warung itu remang-remang.
 
Mendengar bapak itu mengatakan bahwa warung soto itu remang-remang saya dan teman-teman spontan tersenyum. Sementara istri dan anak-anak bapak itu menegur bapak itu dengan mengatakan bahwa bapak itu memalukan. Istri dan anak-anaknya tertawa terbahak dan meminta bapak itu membuka kacamata hitamnya. Sontak bapak itu tertawa sambil mengumpat pada dirinya sendiri atas kebodohan yang telah dilakukannya.
 
Saat seseorang memakai kacamata hitam maka segala yang dilihat oleh bapak itu menjadi lebih gelap apalagi ketika dalam ruangan menjadi terasa remang-remang. Setelah bapak itu membuka kacamata hitamnya barulah bapak itu menyadari bahwa warung soto itu terang benderang, selain cahaya matahari yang masuk juga lampu-lampu yang menyala.
 
Apa yang terjadi dengan bapak itu sering terjadi dalam diriku, ketika aku melihat orang lain. Sering aku  mengadili orang lain menggunakan kacamata yang saya pakai sehingga banyak hal menjadi tidak sesuai dengan pandanganku. Semua ukuran berdasarkan apa yang ada padaku. Sejauh tidak sesuai maka salah dan aku akan membuat penghakiman. Betapa penting aku melepaskan kacamataku, mengubah cara pandangku sehingga tidak menerapkan segala sesuatu berdasarkan ukuranku dan dengan demikian aku tidak mudah untuk mengadili orang lain.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 19 Juni 2022

Renungan Harian
Minggu, 19 Juni 2022
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Bacaan I: Kej. 14: 18-20
Bacaan II: 1Kor. 11: 23-26
Injil: Luk. 9: 1b-17

Berbagi

Beberapa waktu yang lalu, saat saya bersama dengan beberapa bapak muda sedang minum kopi dan ngobrol, salah seorang bapak menyampaikan berita bahwa salah satu umat yang akan menikahkan anaknya. Keluarga itu kami kenal sebagai keluarga yang amat baik, dalam segala keterbatasan dan kesederhanaannya selalu terbuka untuk membantu orang lain. Keluarga itu berprinsip kalaupun kalau tidak bisa membantu materi (karena keterbatasannya)pasti dengan rela hati membantu tenaga dan pikiran. Itulah yang mereka punya dan itu pula yang mereka berikan.
 
Teman tadi menyampaikan bahwa keluarga itu mau menikahkan anaknya dengan amat sederhana, tidak ada pesta apapun dan karenanya tidak mengundang tetangga maupun kenalan. Rencananya hanya akan minta ibadat pemberkatan perkawinan untuk anaknya dan sudah pulang ke rumah makan bersama keluarga inti saja. Orang lain hanya akan dimintai doa dari rumah masing-masing.

Mendengar berita itu seorang teman lain mengatakan bahwa itu pilihan baik, karena untuk mengadakan pesta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan lagi untuk keluarga itu tamu pasti banyak, untuk menentukan siapa yang diundang pun pasti mengalami kesulitan karena mereka amat dikenal. Teman lain mengatakan rasanya kok kasihan kalau keluarga itu harus mengadakan pernikahan anaknya tetapi hanya seperti itu, padahal keluarga itu selalu membantu orang lain tanpa pamrih.
 
Salah seorang teman mengatakan:
“mengapa tidak kita bantu, yuk kita kumpulkan beberapa teman dan kita yang mengadakan pesta pasti banyak yang mau bantu. Kita berbagai siapa menyumbang apa dan nanti semua kerja bakti baik yang memasak, menyiapkan dekor, menyiapkan koor dan lain-lain. Nanti tugasnya romo memberitahukan dan membujuk keluarga itu agar mau dipestakan.”

Semua teman yang ada di situ setuju dan berbagi tugas untuk menghubungi teman-teman lain serta menyiapkan pesta itu. Salah seorang teman menawarkan gudang beserta garasi untuk resepsi. Teman itu akan membersihkan dan mengecat gudang serta garasinya agar layak.
 
Dan terjadilah pesta yang luar biasa. Pesta yang luar biasa itu terjadi karena banyak orang yang berbagi, baik materi dan tenaga. Banyak ibu  yang membantu memasak dan menyiapkan snack, ada menyiapkan dekor, ada yang menyumbang kursi untuk tamu dan segalanya. Pesta itu membuat banyak orang heran dan bertanya-tanya berapa besar biaya yang dikeluarkan keluarga untuk menyelenggarakan pesta itu. Pesta itu sungguh-sungguh menjadi pesta cinta kasih, banyak orang sehati untuk berbagi dan berbagi sukacita dan semua orang yang hadir terlebih keluarga mengalami suka cita.
 
Ketika ada kasih dan kerelaan untuk berbagi maka apapun bisa dilakukan. Sebagaimana teman-teman pada waktu itu selalu mengatakan semua ini karena berkat Tuhan, kita yang mempunyai sedikit tetapi Tuhan telah menjadikan banyak, dari yang serba kekurangan menjadi berlebih dan yang paling penting Tuhan membuat menjadi sempurna. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Lukas: “Yang ada pada kami tidak lebih dari lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 18 Juni 2022

Renungan Harian
Sabtu, 18 Juni 2022

Bacaan I: 2Taw. 24: 17-25
Injil: Mat. 6: 24-34

Menikmati

Beberapa waktu yang lalu di sebuah tempat rekreasi, saya disapa seorang bapak. Bapak itu duduk di kursi roda, yang didorong oleh putranya. Saya tidak kenal bapak itu, tetapi karena bapak itu menyapa lebih dulu maka saya menghampiri bapak itu dan memberi salam. “Wah, bapak hebat, meski sudah sepuh masih mau menemani anak-anak dan cucu-cucu berjalan-jalan,” sapaku. “Bukan saya menemani mereka Pastor, tetapi mereka menemani saya,” jawab bapak itu.
 
Bapak itu mengajak saya untuk duduk dan minum kopi. Saya menerima ajakan itu karena memang saya sebetulnya mau minum kopi di tempat itu. “Pastor, saya ini beruntung karena anak-anak masih mau menemani saya jalan-jalan. Saya sekarang ini ingin menikmati hidup, saya ingin rekreasi dan saya senang menikmati alam. Setiap kali saya jalan-jalan seperti ini saya merasa amat bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan menikmati anugerah ciptaan yang luar biasa.
 
Pastor, sejak saya masih bujangan, apa yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa menjadi orang yang kaya. Setiap kali ada orang bertanya apa cita-cita saya, maka saya selalu menjadi menjadi orang kaya. Semua orang menertawakan saya; namun semakin saya ditertawakan semakin saya tertantang.
 
Saya selalu bekerja keras, hidup saya untuk bekerja dan bekerja. Setiap kali istri saya mengingatkan agar saya tidak terlalu ngoyo, tetapi saya selalu menjawab kalau tidak ngoyo tidak akan mendapatkan apa-apa. Saya selalu berpikir bagaimana saya bisa membiayai hidup kami, memberikan pendidikan dan segala yang layak untuk keluarga. Sering saya tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu. Maka jawabannya adalah kerja keras dan kerja keras. Sering anak-anak minta jalan-jalan tetapi saya selalu menjawab tidak ada waktu. Waktu adalah kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan uang.
 
Pastor, ternyata pandangan saya itu salah. Kenyataannya setelah mendapatkan semua saya justru jatuh sakit karena stroke. Dokter mengatakan bahwa saya terlalu tegang sehingga ada pembuluh darah yang pecah. Saya sempat stress dan sering marah-marah. Selama ini saya bekerja keras agar saya bisa menikmati hidup di suatu saat nanti. Saat saya sudah sampai pada titik dimana saya merasa aman justru saya sakit sehingga tidak bisa menikmati apa yang saya usahakan. Dokter menyarankan agar saya lebih rileks dan menikmati hidup. Mendengar hal itu awalnya saya marah, bagaimana saya bisa menikmati hidup dengan kenyataan bahwa saya tidak mampu untuk berjalan; jangankan berjalan untuk berdiri pun saya tidak mampu.
 
Untunglah anak-anak saya awalnya memaksa saya untuk jalan-jalan menikmati alam dan ternyata saya merasakan betapa menyenangkan dan membuat saya bersyukur. Maka sejak saat itu saya sering mengajak atau lebih tepatnya meminta anak-anak untuk menemani saya jalan-jalan.
 
Pastor, hidup ngoyo yang didorong oleh kekhawatiran ternyata bukan hal yang baik. Kerja kerasnya baik tetapi harus tahu diri bahwa harta bukan segalanya. Saat berpikir bahwa harta yang utama seperti yang saya alami, kita akan tersesat dan ujungnya seperti saya. Untunglah saya masih bisa menikmati hidup dengan segala keterbatasan saya. Hal yang sekarang saya rasakan adalah cinta; cinta Tuhan dan cinta keluarga. Dan itu yang paling penting dalam hidup saya. Saya bersyukur bahwa saya belum terlambat untuk sadar,” bapak itu berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, apa yang hendak kalian maka atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, apa yang hendak kalian pakai.”
 
Iwan Roes, RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 17 Juni 2022

Renungan Harian
Jumat, 17 Juni 2022

Bacaan I: 2Raj. 11:1-4,9-18,20
Injil: Mat. 6:19-23

Harta

Dalam pertemuan Regional CLC Asia Pasifik, hal yang sangat membahagiakan adalah soal perjumpaan. Kami bisa bertemu dengan rekan rekan sepeziarahan yang berasal dari berbagai negara.

Perjumpaan dengan teman lama adalah kegembiraan, dan berjumpa teman baru, yg baru pertama kali berjumpa, memberi energi yg luar biasa.

Namun hal serupa juga saya rasakan, ketika bertemu rekan-rekan satu komunitas, baik kelompok kecil, lokal, dan Nasional. Bukan soal dimana dan dalam rentang waktu berapa lama, namun setiap perjumpaan menjadi berharga. Tentunya merasakan kebahagiaan dan rasa mendalam dalam komunitas adalah proses, bukan hal instant.

Setiap upaya dan keterlibatan, serta kepercayaan setiap anggotalah yang membuat komunitas menjadi berharga dan harta bagi satu sama lain. Komunitas menjadi oase dan tempat “nge-charge” yang terpercaya, layaknya keluarga.

Seperti tertulis, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Adakah kita melihat, merawat dan menjaga komunitas kita sebagai sesuatu yg berharga? Sebagai tempat hati kita berada?

Greg Tjai

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 16 Juni 2022

Renungan Harian
Kamis, 16 Juni 2022

Bacaan I: Sir. 48: 1-14
Injil: Mat. 6: 7-15

Doa

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah pertemuan lingkungan terjadi suasana yang tidak enak. Seorang ibu marah dan langsung pulang padahal pertemuan lingkungan baru terjadi. Saya bisa mengerti bahwa ibu itu marah dan pulang karena ibu itu merasa dipermalukan di depan semua umat yang ikut pertemuan itu.
 
Kejadian itu bermula ketika pertemuan lingkungan akan dimulai. Ketua lingkungan menawarkan kepada umat yang hadir, siapa yang bersedia memimpin doa pembuka. Semua diam tidak ada yang memberi tanggapan. Lalu ada seorang ibu yang menawarkan diri untuk memimpin doa tetapi ketua lingkungan meminta selain ibu itu, karena tampaknya ibu itu sudah amat sering memimpin doa. Ketua lingkungan meminta seorang ibu untuk memimpin dan dengan bujukan ketua lingkungan akhirnya ibu itu memimpin doa.
 
Ibu itu berdoa dengan kata-kata yang sederhana dan singkat, seingat saya ibu itu berdoa mengucap syukur atas berkat  Tuhan sehingga bisa berkumpul dan mohon berkat untuk pertemuan. Selesai berdoa, ibu yang tadi menawarkan diri untuk berdoa berkomentar bahwa doa dari ibu yang memimpin tadi jelek. Kata-kata dalam doanya tidak indah dan terlalu singkat seperti doa anak kecil yang baru belajar berdoa. Ibu itu juga mengatakan kalau tidak bisa lebih baik tidak usah memimpin.
 
Ibu yang memimpin doa itu tersinggung dan mengatakan bahwa dirinya juga tidak meminta untuk memimpin dan saat ditawari sudah menolak. Ibu itu juga mengatakan bahwa dia hanya bisa berkata seperti itu. Masih menurut ibu itu doanya singkat karena Tuhan sudah tahu apa yang kita minta. Ibu itu menegaskan bahwa setiap hari dia berdoa dengan cara seperti itu, meski demikian ibu itu merasa bahwa doanya didengarkan Tuhan dan banyak permohonan yang dikabulkan. Ibu yang menegur tadi malah mengatakan bahwa ibu itu tidak menunjukkan sebagai orang katolik yang baik karena tidak bisa berdoa. Saat saya mencoba menengahi, ibu yang memimpin doa itu sudah langsung pergi karena merasa malu.
 
Suasana pertemuan menjadi tidak nyaman. Saya kemudian mengajak umat yang hadir untuk berbagi pengalaman tentang doa pribadi. Hampir semua mengatakan bahwa tidak bisa berdoa dan tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata indah pun juga tidak bisa doa yang panjang. Mereka mengatakan bahwa dalam berdoa mereka menggunakan kata-kata sendiri bicara seperti kepada bapaknya.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini, Tuhan mengajarkan berdoa. Doa yang sederhana tetapi penuh iman. “Jadi janganlah kalian seperti mereka. Karena Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepadaNya.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Juni 2022

Renungan Harian
Senin, 13 Juni 2022
PW. St. Antonius dari Padua

Bacaan I: 1Raj. 21: 1-16
Injil: Mat. 5: 38-42

Ikhlas

Suatu sore saya kedatangan tamu seorang teman. Kedatangannya sungguh-sungguh menjadi kejutan bagi saya, karena saya sama sekali tidak menduga akan dikunjungi teman saya itu. Teman saya itu sudah lama sakit sehingga tidak memungkinkan untuk bepergian cukup jauh. Dia hanya tinggal di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tiduran. Maka saat berjumpa sungguh menjadi perjumpaan yang menggembirakan karena dia terlihat sungguh sehat dan segar.
 
“Wah, luar biasa, aku senang melihat kamu segar dan sehat. Jujur aku tidak menyangka bahwa kamu bisa sampai di sini. Kamu akhirnya berobat kemana?” tanya saya sebagai sapaan.

“Aku tidak berobat kemana-mana, dan obat dari penyakitku yang sudah bertahun-tahun itu adalah ikhlas,” jawabnya. Dia menangkap kebingunganku dengan jawabannya maka dia melanjutkan:

“Wan, sesungguhnya apa yang menyebabkan aku sakit begitu lama dan seperti kamu tahu sudah banyak dokter yang membantu dan tidak sembuh adalah dendam. Kamu tahu betapa aku benci dan dendam dengan sahabatku yang menjadi rekan bisnisku. Aku pernah cerita bahwa dia mengkhianati aku dan membawa lari uang yang amat banyak dari bisnis berdua.
 
Benar Wan, aku selalu bilang ke kamu dan ke semua orang bahwa aku sudah mengikhlaskan apa yang dia bawa. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak pernah mendendam dan aku sudah mengampuni tetapi sesungguhnya tidak. Aku selalu berpikir bagaimana saya membalas dia, aku selalu berdoa bahkan agar dia celaka biar dia tahu rasa. Setiap hari, setiap saat aku selalu dihantui dengan pikiran untuk balas dendam sementara di depan semua orang aku mengatakan bahwa aku tidak dendam. Semua itu berakibat rusaknya kesehatanku.
 
Puji Tuhan aku disadarkan bahwa aku harus sungguh-sungguh mengampuni dan mengikhlaskan semua. Suatu saat aku sudah putus asa dengan semua ini, dan aku berpikir lebih baik aku mati. Aku merasa sudah tidak berdaya untuk melampiaskan dendamku dan dengan kondisiku merepotkan dan membebani keluargaku. Saat aku berpikir kematian, ada hal yang mengganjal yaitu dendam itu. Aku berpikir bahwa aku akan mati dengan tidak damai. Aku ingin mati dengan damai. Saat itu aku sadar bahwa kalau aku mati harta dan semuanya sudah tidak berguna lagi, maka aku pikir sudah saatnya aku melepaskan sungguh-sungguh.
 
Wan, disaat seperti itu aku berdoa dan hanya satu doaku aku mengatakan pada Tuhan bahwa aku sudah merelakan semua itu dan aku sudah mengampuni dia. Aku sekarang sudah siap untuk dipanggil. Tapi anehnya justru malam itu aku bisa tidur nyenyak yang selama ini tidak pernah kualami sehingga pagi hari aku bangun rasanya lebih ringan dan segar. Sejak saat itu berangsur-angsur aku menjadi sehat. Aneh ya Wan, disaat aku rela untuk mati tetapi justru diberi hidup. Aku jadi sadar bahwa apa yang membuat aku sehat adalah ikhlas. Dendam hanya menghasilkan penyakit, mungkin kalau aku bisa membalas, dia pasti akan membalas juga nanti anak-anakku dan anak-anaknya saling membalas dendam. Memang ikhlas butuh perjuangan panjang harus mengalami sakit yang luar biasa tetapi hasilnya membuat aku menjadi lebih hidup.”
 
Kisah teman saya menyadarkan saya  bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan hanya akan merusak diri sendiri dan orang lain tetapi membalas kejahatan dengan kasih memberi hidup yang lebih baik. Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Matius: “Tetapi Aku berkata kepadamu: “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya bila orang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Juni 2022

Selamat Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Hari ini, Anda kami ajak merenungi kehadiran Tritunggal Mahakudus, dalam hidup keseharian Anda.

Apa makna Tritunggal Mahakudus dalam hidup Anda?

Bila berkenan, Anda dapat berbagi, di WAG, FB dan IG kami, mari berbagi.

Tuhan memberkati.

CLC di Indonesia

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.