Renungan Harian: 4 Agustus 2020

Renungan Harian
Selasa, 04 Agustus 2020

PW. St. Yohanes Maria Vianney
Bacaan I: Yer. 30: 1-2.12-15.18-22
Injil   : Mat. 15: 1-2.10-14

Penuntun

Entah kapan persisnya saya mendengar kisah ini. Pak Moedjanto, beliau adalah mantan guru sejarah di Seminari dan kemudian menjadi dosen sejarah, bercerita. Dalam sebuah acara hajatan ada seseorang yang bertanya kepada tamu sebelahnya tentang pekerjaannya. Tamu itu menjawab bahwa pekerjaannya adalah dosen. Mendengar jawaban itu, tamu yang bertanya, bertanya lagi soal berapa buku yang sudah ditulisnya.
 
Dari cerita itu saya berpikir kalau orang bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya seorang imam, apa yang akan ditanyakan pada imam itu. Sudah pasti tidak akan ditanya berapa buku yang telah dihasilkan, mungkin orang akan bertanya apakah imam itu sering membaca kitab suci sehingga sudah khatam beberapa kali; mungkin ditanya berapa banyak dirinya berdoa; mungkin ditanya apakah masih terus belajar atau tidak;  atau mungkin ditanya bagaimana dirinya mempersiapkan khotbah yang menarik.
 
Andai benar itu yang ditanyakan, jawaban apa yang akan kuberikan? Apakah saya membaca Kitab Suci?  Saya membaca, tapi belum pernah khatam. Apakah saya berdoa? saya berdoa tapi sedikit, meditasi sering bolong, dan sering banyak melantur kalau tidak mengantuk. Apakah saya menjalankan doa brevir? Saya berdoa walau kadang bolong. Apakah saya terus belajar? Saya belajar sendiri itupun kalau ingat. Apakah aku mempersiapkan khotbah? Saya mempersiapkan khotbah, tetapi seberapa mendalam, he……..he.
 
Sebagaimana seorang dosen yang bertugas menuntun mahasiswa agar memiliki dan menguasai dasar ilmu dan dasar keahlian maka buku yang ditulis menjadi ukuran seberapa serius dan seberapa mendalam beliau mempersiapkan diri untuk menuntun mahasiwa; demikian pula pertanyaan-pertanyaan untuk para imam juga menjadi ukuran seberapa serius dan mendalam saya sebagai imam mengolah dan mempersiapkan diri agar dapat menuntun umat.
 
Manakala jawabanku masih seperti di atas, menunjukkan betapa dangkal dan “sambalewanya” (kurang serius, sering abai) dalam mengolah dan mempersiapkan diri. Dengan demikian bagaimana mungkin saya bisa menuntun umat? Dengan demikian nyatalah kritik Yesus sebagaimana disampaikan Matius: “Mereka itu orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.”
 
Jangan-jangan aku bukan seperti orang buta menuntun orang buta akan tetapi orang buta menuntun orang yang bisa melihat.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 3 Agustus 2020

Renungan Harian
Senin, 03 Agustus 2020

Bacaan I: Yer. 28: 1-17
Injil   : Mat. 14: 22-36

Nina Bobo

Dalam sebuah pembicaraan dengan almarhum Mgr. Alexander Djajasiswaja, beliau mempunyai keprihatinan mendalam berkaitan dengan cara kami memberi retret atau rekoleksi. Beliau prihatin karena dalam retret atau rekoleksi, kami para frater sering kali jatuh pada sebuah dinamika kelompok yang cenderung ke bermain dan hura-hura.
 
Menurut beliau retret atau rekoleksi yang seperti itu tidak banyak memberi manfaat karena hanya seneng-seneng aja dan setelah selesai apa yang tersisa hanyalah pengalaman kelucuan-kelucuan dan seneng-seneng. Dan hal itu jauh dari harapan dan tujuan dari retret dan rekoleksi.
 
Retret dan rekoleksi seharusnya menyadarkan dan menggugah peserta agar dapat lebih maju dalam hidupnya. Orang perlu di goncang dan ditatapkan dengan kenyataan siapa dirinya sesungguhnya. Dengan demikian peserta dapat mengoreksi diri. 
 
Metode menurut beliau boleh apa saja, bahkan dengan bermainpun tidak menjadi soal akan tetapi perlu jelas bahwa metode itu harus menghantar pada tujuan retret atau rekoleksi itu sendiri.
 
Retret dan rekoleksi yang jatuh pada senang-senang saja banyak diminati orang karena itu memberi penghiburan sesaat. Hal semacam itu menina bobokan orang sehingga orang lupa dengan kenyataan diri yang sesungguhnya.
 
Sebagaimana kritik Yeremia kepada nabi-nabi palsu yang memberi harapan palsu kepada umat Israe di pembuangan. Nubuat-nubuat palsu itu menina bobokan umat Israel sehingga tidak sadar akan kesalahan mereka dan tidak bertobat.
 
Dalam banyak pengalaman umat lebih senang mendengarkan khotbah-khotbah yang lucu, khotbah-khotbah yang menghibur dengan menyanyi dan semacamnya. Isi khotbah seringkali menjadi nomor sekian. Tidak jarang umat mengatakan: “Saya sudah capai bekerja jadi ke gereja untuk mendapatkan hiburan bukan untuk merenungkan lagi.”
 
Bagaimana dengan aku ? 
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 2 Agustus 2020

Renungan Harian
Minggu, 02 Agustus 2020

Minggu Biasa XVIII
Bacaan I  : Yes. 55: 1-3
Bacaan II : Rom. 8: 35.37-39
Injil     : Mat. 14: 13-21

N g o b r o l

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kunjungan seorang teman. Teman saya ini dulu kami kenal sebagai seorang frater yang saleh. Hidup doanya baik, refleksi-refleksinya mendalam, studinya luar biasa, dan selalu ramah dengan siapa saja. Sekarang dia  sudah berkeluarga dan mempunyai 3 orang putra putri.
 
Saat kami ngobrol-ngobrol sambil minum kopi, tanpa maksud serius, hanya sekedar bercanda saya bertanya: “Bro, apa sih yang tersisa dari formatio (pendidikan) kita yang ada dalam hidupmu berkeluarga?.”
Dengan spontan dan cepat dia menjawab: “Refleksi.”
“Ha ? kamu masih selalu bikin refleksi ? hebat amat.” Kataku.
“Ya bukan refleksi yang seperti kamu bayangin kali Wan, saya hanya ngobrol-ngobrol aja dengan istri.” Jawabnya.
“Ya, tapi itu tidak terjadi sejak awal, kalau gak salah ingat baru setelah anakku ketiga lahir.” Tambahnya.
“Emang kenapa Bro?” tanyaku.
 
“Entah kapan aku lupa, istriku itu ngomong: “ Mas, waktu kita itu habis untuk kerja, urusan rumah, anak-anak dan Gereja. “
Aku lempeng aja jawab: “Ya, itukan pilihan kita, panggilan dan perutusan kita djeng.” Eeee istriku marah: “Susah ya ngomong sama bekas frater. Nasib, nasib.” Aku kaget dan tercenung. 
 
Esok hari, setelah anak-anak tidur, aku bilang ke istriku:
“Djeng, ngeteh yuk.” Istriku kaget, tetapi dia bikin teh. Sambil minum teh, aku ngobrol dengan istri. Aku tanya hari ini anak-anak ngomong apa ke mamanya, terus aku cerita tadi anak-anak ngomong gini. Aku tanya perasaannya hari ini gimana, juga apa yang diharapkan dariku.
 
Sejak saat itu, setiap malam sebelum tidur, entah sambil ngeteh, atau mijitin istri atau sambil tiduran, kami selalu ngobrol. Lama-lama obrolan kami menjadi lebih mendalam, bukan soal-soal yang rutin, tetapi lebih ke pengalaman perasaan. Dan yang menarik, kami selalu mempunyai niat bersama untuk esok hari. Hidup kami jadi lebih indah Wan, he……he.
 
Itu yang saya sebut refleksi Wan. Sebenarnya bagi kami, kami lebih ingin punya waktu untuk menyendiri barang sebentar seperti examen lah biar gak tersesat dalam perutusan ha………..ha. Sori,  bekas aja sok-sok an.” 
 
Mendengarkan sharing teman saya, saya diingatkan betapa penting mengambil waktu untuk masuk dalam kesunyian. Dalam kesunyian aku bertemu dengan diriku sendiri lepas dari segala hiruk pikuk dan puja puji. Dalam kesunyian aku dihadapkan pada diriku sendiri yang sesungguhnya, siapa diriku, dari mana asalku, mau kemana langkahku, jalan mana yang kupilih dan seterusnya.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius, menegaskan pentingnya untuk masuk ke dalam kesunyian . Sebagaimana Yesus yang selalu mencari waktu untuk masuk ke dalam kesunyian.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 1 Agustus 2020

Renungan Harian
Sabtu, 01 Agustus 2020

PW. St. Alfonsus Maria de Ligouri
Bacaan I: Yer. 26: 11-16: 24
Injil   : Mat. 14: 1-12

Berangus

Seorang teman yang dikenal punya karir yang cukup cemerlang di sebuah perusahaan besar, sekarang hidup di desa sebagai petani dan penggerak petani di sebuah desa. Saya kagum dengan keberaniannya untuk meninggalkan kemapanan hidup di kota besar dan memilih menjadi petani dan penggerak petani. Dia mengusahakan pertanian organik dan menggerakan rekan-rekannya di desa tempat dia tinggal untuk ikut menjadi petani organik.
 
Dia bercerita di awal usahanya sungguh sulit bahkan hidup pas-pasan.  Tabungan selama bekerja di perusahaan besar habis dan memasarkan hasil pertanian organik tidak mudah. Hasil pertanian organik harga jualnya lebih mahal dibanding dengan hasil pertanian bukan organic, sementara konsumennya amat terbatas.
 
Saat ngobrol dengannya dan saya memuji pilihan hidupnya sebagai petani, dia mengatakan bahwa apa yang dijalaninya sekarang merupakan konsekuensi atas usaha menyuarakan kebenaran. Dia menjadi petani karena dia diberhentikan dari perusahaan tempat dia bekerja.
 
Dia bercerita:
“Wan, saat itu saya mendapat promosi untuk menduduki posisi tinggi di perusahaan itu. Dengan posisi itu saya bisa mengetahui seluruh sepak terjang perusahaan. Awalnya saya hanya tahu satu bagian saja yang setiap hari saya geluti.
 
Saat saya duduk di posisi itu, saya tahu bahwa ternyata perusahaan selama ini telah banyak merugikan masyarat dan bahkan membahayakan masyarakat. Perusahaan itu membuang limbah yang berbahaya tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Memang kalau harus mengolah limbah terlebih dahulu membutuhkan biaya yang cukup besar, dan itu pasti mengurangi keuntungan perusahaan.
 
Wan, kamu tahu, pada masa itu semua dapat diselesaikan dengan uang. Dan jumlah uang untuk menyelesaikan itu amat sedikit dibanding dengan biaya mengolah limbah. Jadi sejak berproduksi perusahaan itu sudah membuang limbah berbahaya keluar pabrik begitu saja.
 
Saat saya tahu hal itu, dalam sebuah pertemuan dengan petinggi-petinggi perusahaan saya menyampaikan betapa berbahayanya limbah yang dibuang tanpa pengolahan terlebih dahulu. Dan betapa mengerikan dampaknya bagi masyarakat. Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan, dan saya mengatakan seharusnya perusahaan berani mengurangi keuntungan untuk mengelola limbah.
 
Dua hari setelah pertemuan itu, saya diberhentikan dari perusahaan itu. Saya sungguh terkejut dengan kejadian itu. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Satu pihak saya marah dengan kejadian itu, namun dilain pihak saya bahagia karena saya sudah menyampaikan kebenaran.”
 
Banyak orang yang tidak senang mendengar kebenaran yang telah dilanggar olehnya. Mana kala orang itu mempunyai kuasa maka ia bisa menggunakan kekuasaan untuk menutup kebenaran itu. Maka sering terjadi orang yang menyuarakan kebenaran akan diberangus agar kebenaran itu tidak terungkap.
 
Pertanyaan besar bagiku adalah apakah aku berani menyuarakan kebenaran dengan resiko mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 31 Juli 2020

Renungan Harian
Jumat, 31 Juli 2020

Pw. St. Ignatius Loyola
Bacaan I: 1Kor. 10: 31-11: 1
Injil   : Mat. 13: 54-58

Pak Senin

Lelaki setengah umur dengan perawakan kecil, tidak terlalu tinggi dan cenderung kurus dengan senyumnya yang khas, itulah pak Senin. Kami selalu memanggilnya pak Senin, itulah yang saya tahu. Sedang siapa nama lengkapnya, entahlah.
 
Pak Senin adalah karyawan dapur di Novisiat St. Stanislaus, Girisonta. Saya tidak ingat persis apakah pak Senin bisa memasak, seingat saya beliau hanya membantu Suster memasak dan membersihkan peralatan, membersihkan dapur dan menyiapkan makan.
 
Hal yang menarik dalam diri beliau adalah keramahannya. Beliau selalu menyapa setiap frater dengan ramah dan dengan senyumnya yang khas. Pak Senin selalu menampakkan kegembiraan dalam kerja. Rasanya belum pernah kami melihat beliau bekerja tidak dengan gembira. Bahkan pada saat habis kena marah Suster pun, beliau tetap menyapa kami dengan ramah.
 
Melihat bagaimana pak Senin menjalani pekerjaannya menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan dengan bahagia, meski dalam situasi yang tidak menyenangkan. Apapun pekerjaan dijalani dengan gembira. Dan yang menjadi lebih penting adalah dalam bekerja memancarkan kasih bagi semua orang yang ditemui.
 
Kiranya itulah ciri orang yang bekerja atau bertindak demi kemuliaan Tuhan. Sebagaimana disampaikan St. Paulus kepad umat di Korintus: “Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu demi kemuliaan Allah.”
 
Kapan ya aku bisa seperti pak Senin dalam menjalani perutusanku?
 
AMDG
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 30 Juli 2020

Renungan Harian
Kamis, 30 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 18: 1-6
Injil   : Mat. 13: 47-53

O j e k

Pagi itu saya akan mengikuti sebuah acara di suatu institusi di kawasan Senayan, Jakarta. Kemarinnya saya sudah bertanya ke sopir yang akan mengantar, dibutuhkan waktu berapa lama dari Wisma Unio Kramat VII sampai ke senayan. Menurut Mas sopir butuh waktu satu setengah jam biar aman. Maka kami memutuskan berangkat dari Wisma Unio jam 8 pagi karena pertemuan akan dilaksanakan jam 10 pagi.
 
Jam 8 pagi saya berangkat ke Senayan diantar sopir. Sepanjang perjalanan arus lalulintas lancar walau agak ramai. Namun tiba di daerah Menteng, lalulintas menjadi lambat karena macet. Saya tenang-tenang di mobil karena waktu masih cukup luang. Namun tak berapa lama perjalan sungguh-sungguh terhenti. Semua kendaraan tidak bisa bergerak, tanpa kami tahu apa sebabnya. Saya masih tenang-tenang karena memang inilah Jakarta.
 
Ternyata sesudah menunggu sekian lama, kemacetan tidak terurai dan kendaraan belum bergerak sedikitpun. Ketika melihat jam ternyata sudah jam 9.15. dengan agak panik saya memutuskan untuk turun dan mencari ojek. Setelah berjalan sebentar, di ujung gang ada pangkalan ojek.  Saya minta salah satu abang ojek untuk mengantar ke Senayan. Abang ojek meminta ongkos Rp. 50.000,- saya tidak pikir panjang menyetujui asal bisa cepat sampai. Abang ojek mengatakan hanya butuh waktu 20 menit.
 
Ojek dikemudikan dengan amat cepat lewat gang-gang sempit dan beberapa kali melawan arus. Wow, perjalanan yang begitu mengerikan. Sejujurnya saya amat takut, karena abang ojek mengemudikan begitu berbahaya, seolah-olah tidak sedang membawa penumpang. Dalam hati sempat menyesal naik ojek tetapi tidak ada pilihan lain. Saya berpikir seolah-olah nyawa ini dipertaruhkan. Saat saya minta agar hati-hati, abang ojek mengatakan supaya saya tenang dan percaya saja. Aduh saya harus mempercayakan hidup saya pada abang ojek yang tidak saya kenal ini. Akan tetapi tidak ada pilihan lain selain pasrah.
 
Dan benar tidak berapa lama saya sudah sampai di depan kantor dimana saya akan mengadakan pertemuan. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit abang ojek mengantar saya. Saya lega turun dari ojek. Lega karena saya selamat dan lega karena saya tidak terlambat untuk mengikuti pertemuan di kantor itu.
 
Pengalaman naik ojek membuat aku merenungkan hubunganku dengan Tuhan. Aku berani dengan rela mempercayakan nyawa dan hidup saya kepada abang ojek yang tidak saya kenal bahkan saya dengan rela membayarnya. Bagaimana aku dengan Tuhan? Tuhan yang selalu menjamin hidupku dan memberiku dengan cuma-cuma. Kenapa aku sulit untuk mempercayakan hidupku padaNya?
 
Hidupku di hadapan Tuhan seperti tanah liat di tangan tukang periuk; Tuhan dengan mudah untuk membentuk atau menghilangkan saya. Namun kenyataannya Tuhan membentukku dan menjamin kelangsungan hidupku.
 
Apa yang menghalangi aku untuk mempercayakan hidupku padaNya?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 29 Juli 2020

Renungan Harian
Rabu, 29 Juli 2020

Pw. St. Marta
Bacaan I: 1Yoh. 4: 7-16
Injil   : Yoh. 11: 19-27

Mengalah

Suatu pagi, ibu ngomel-ngomel ke bapak karena menurut ibu, bapak tidak mau mendengarkan ibu dan tidak mau menurut. Bapak hanya diam selama ibu ngomel. Masalahnya sederhana, di kebun belakang rumah ada pohon pisang kepok yang sudah tua. Biasanya pisang itu akan dipanen ketika sudah “suluh” (ada yang nampak sudah menguning).
 
Entah bagaimana, ibu melihat bahwa pisang kapok itu sudah “suluh” dan meminta bapak untuk menebang. Tetapi menurut bapak belum, memang sudah tua tetapi belum suluh. Bapak sudah mengatakan ke ibu bahwa itu belum “suluh”, tetapi ibu tetap bersikeras bahwa pisang itu sudah “suluh”.
 
Saat bapak mau menebang pohon pisang kepok itu, beberapa tetangga mengatakan jangan dulu, sayang, tunggu “suluh”, dan menurut saya memang belum “suluh”. Akhirnya bapak memutuskan untuk tidak menebang. Karena hal itu ibu ngomel-ngomel ke bapak.
 
Sore itu meski bapak sudah mandi, bapak ke kebun belakang dan menebang pohon pisang. Setelah pisang dipanen dan ditunjukkan pada ibu bahwa belum suluh, ibu bukannya berhenti ngomel tetapi tetap menyalahkan bapak kenapa bapak tidak memberitahu ibu bahwa pisangnya belum “suluh”. Bapak dengan tenang menjawab: “ya wis diimbu wae mengko sedino rong dina lak wis mateng kabeh.” (ya udah diperam saja, nanti satu atau dua hari pasti sudah matang semua.)
 
Saya bertanya kepada bapak, kenapa bapak hanya diam dan tidak menunjukkan bahwa ibu yang salah. Bapak menjawab:
“Bapak mengalah kepada ibu, karena bapak mencintai dan menghormati ibu. Mengalah bukan berarti kalah. Mengalah itu sikap orang yang dewasa, orang yang bisa mengendalikan diri dan yang jernih melihat pokok persoalan.
 
Ada banyak persoalan yang akan selesai dengan sendirinya ketika kita diam, contohnya dengan ibu. Kalau bapak menyalahkan ibu, masalah tambah besar, tetapi ketika bapak diam masalah selesai. Bapak tidak harus mempermalukan ibu, dengan menunjukkan bahwa ibu salah, tetapi ibu akan tahu bahwa dirinya yang salah. Dan setelahnya ibu damai, bapak damai, bapak dan ibu damai.
 
Mengalah itu artinya mengalahkan diri sendiri, dan itu berarti kita menang, menang melawan ego dan nafsu kepuasan diri. Mengalah, seolah-olah kita kalah tetapi sesungguhnya kitalah pemenangnya. “menang tanpo ngasorake” (menang tanpa merendahkan dan mempermalukan.
 
Le, (panggilan sayang untuk anak laki-laki) mengalah itu bisa terjadi kalau kita punya kasih dan hormat kepada orang lain. Karena dengan mengalah kita  memanusiakan orang lain. Semua orang butuh dihormati, butuh disanjung dan butuh ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi. Maka banyak orang akan menjadi lebih tenang dan damai, ketika lagi emosi dan marah, kita “nylondhohi” (merendahkan diri) dan mengalah.
 
Kehebatan dan kekuatan seorang laki-laki dalam mencintai itu terletak pada kemampuannya “ngemong” (mengasuh dan menjaga dengan penuh cinta). Dalam ngemong termuat kemampuan mengalah dan “nylondhohi”. “
 
“Wah sulit pak….” kataku.

Bapak menjawab:
“Yen gampang donya wis tentrem wingi-wingi.” (kalau mudah dunia sudah damai dari dulu).
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 28 Juli 2020

Renungan Harian
Selasa, 28 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 14: 17-22
Injil   : Mat. 13: 36-43

K e r i n g

Dalam sebuah kesempatan mendampingi retret anak-anak SMU, pagi itu saya meminta peserta untuk mencari barang-barang yang ada di sekitar mereka yang melambangkan siapa diri mereka. Semua peserta mencari barang, ada yang membawa bunga, pensil, air dan lain-lain. Setelah semua mendapatkan barang yang menjadi simbol dirinya, mereka sharing tentang simbolnya.
 
Ada satu simbol yang dibawa peserta seketika menyedot perhatian saya. Dia membawa sebuah pot dengan tanaman yang sudah kering, tinggal batang sudah tidak ada daunnya lagi. Tanah dalam pot kering kerontang, kiranya pot dan tanaman itu memang sudah dibuang tidak dipelihara lagi.
 
Ketika giliran anak itu sharing, dia hanya mengatakan ini simbol saya, dan kemudian diam tidak mengucapkan apa-apa lagi. Dia diam terpaku, tatapan wajah kosong. Sesaat saya menunggu kalau-kalau dia akan melanjutkan sharingnya. Selama kurang lebih 10 menit dia tetap diam terpaku, semua peserta hening menunggu. Ketika saya sapa dia, apakah sudah cukup, dia mengangguk dan kembali ke tempat duduk.
 
Saat istirahat siang, saya ajak anak itu untuk ngobrol. Saya mulai dengan tanya tentang kesehatan, tentang harapannya ikut retret ini. Kemudian saya bertanya tetang simbol dirinya. Mengapa dia memilih simbol itu. Dia menangis, bibir bergetar tetapi tidak mengeluarkan satu katapun. Saya diam menemani. Setelah menjadi tenang, dia mulai bercerita.
 
“Romo, simbol itu melambangkan diri saya sesungguhnya. Saya seperti tanaman yang kering karena tanahnya gersang tidak ada air. Saya ini seperti tanaman itu yang sudah dibuang, dan tidak diurus lagi. Pot itu saya temukan diantara tumpukan sampah dan brangkal di belakang sana. Sudah dibuang dan tidak dibutuhkan lagi.
 
Romo,  sejak kelas 5 SD saya tinggal dengan nenek. Papa dan mama sudah bercerai. Papa sudah punya istri lagi dan punya 2 anak; mama juga sudah punya suami lagi dan punya 3 anak. Papa dan mama masih membiayai hidup saya, bahkan apapun yang saya minta pasti akan diberi. Tetapi seringkali saya merasa bukan itu yang saya butuhkan. Saya gak tahu ya mo, sering saya merasa pengin dipeluk papa, dipeluk mama, bahkan saya pengin dimarahi oleh mereka, tapi itu tidak pernah terjadi.
 
Romo, saya sering iri dengan anak-anak papa dan anak-anak mama, mereka punya papa dan mama, mereka bisa pergi bareng, foto-foto bareng, sedangkan saya? Saya memang ada nenek tetapi saya kasihan dengan nenek. Nenek dari jam 6.30 sudah buka toko grosir sampai nanti jam 5 sore. Saya tahu nenek pasti capek.
 
Romo, sering saya merasa sebagai anak yang paling menderita, saya sering bertanya kenapa tidak ada orang yang mencintai saya, kenapa saya seperti disingkirkan? Kadang saya merasa kenapa saya tidak mati saja?” Saya terpaku mendengar ceritanya. Penderitaan yang luar biasa yang dirasakan anak ini.
 
Pengalaman itu menyadarkan saya, penderitaan terbesar manusia adalah ketiadaan cinta. Orang yang paling menderita adalah orang yang tidak mengalami cinta.
 
Nabi Yeremia melukiskan umat Israel yang kehilangan cinta Allah dengan amat baik. Gambaran penderitaan akibat kehilangan cinta Allah.
 
Pertanyaan besar bagiku apakah aku merasa menderita karena kehilangan cinta Allah?
Jangan-jangan aku tidak merasakan apa-apa, kehilangan cinta Allah karena aku tidak pernah menyadari dan merasakan cinta Allah.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia.
 Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 27 Juli 2020

Renungan Harian
Senin, 27 Juli 2020

Bacaan I: Yer. 13: 1-11
Injil   : Mat. 13: 31-35

G i l a

Lelaki itu setiap hari berjalan menyusuri jalan raya desa itu. Sepanjang jalan dia selalu ngomong sendiri dan tersenyum-senyum. Tidak ada satu orangpun yang tahu apa yang diomongkan dan juga tidak tahu apa yang membuat dia tersenyum. Pakaiannya kumal, rambutnya gimbal karena nampaknya tidak pernah mandi.
 
Kendati kami mengenalnya sebagai orang gila, tetapi semua orang yang lewat jalan itu tidak ada yang takut atau terganggu karena dia tidak pernah mengganggu orang lain. Dia kelihatan hidup dalam dunianya sendiri.
 
Ada pemandangan yang menarik yaitu setiap siang hari ada mobil minibus bagus yang menghampirinya dan memberi dia nasi bungkus, serta sebotol air mineral. Orang yang turun dari mobil memberikan nasi bungkus kelihatan tidak takut dengan orang gila itu, meski yang turun terkandang perempuan atau anak remaja.Tidak banyak orang yang tahu siapa orang gila itu dan siapa yang setiap siang memberi makan orang gila itu.
 
Suatu ketika, saat saya sedang memperhatikan orang yang turun memberi nasi bungkus, ada seorang bapak yang berkata: “Itu keluarganya.” Saya terkejut dan agak malu karena ketahuan sedang memperhatikan orang gila itu. Bapak itu mengatakan kenal dengan orang gila itu dan keluarganya.
 
Bapak itu bercerita: “Orang muda itu menjadi gila setelah gagal menjadi kepala desa. Dia anak mantan kepala desa. Keluarganya adalah keluarga terhormat dan terpandang di desanya. Meski sudah lama tidak menjabat sebagai kepala desa, orang tuanya tetap dipanggil pak Lurah, dan dihormati semua warga desanya. Pak Lurah dianggap sebagai orang yang berjasa besar memajukan desanya. Pak Lurah mempunyai 3 orang anak laki-laki dan 1 orang perempuan. Keempat anaknya semua telah lulus sebagai sarjana. Semua telah sukses dengan pekerjaannya, 3 orang tinggal di kota besar sedang 1 anak laki-laki tinggal di desa mengurus sawah dan membuka penggilingan padi.
 
Orang gila ini anak tertua pak Lurah, dan telah hidup sukses di kota besar. Atas bujukan beberapa orang, dia mencalonkan diri untuk menjadi kepala desa. Orang tua dan semua keluarga tidak setuju, karena dia sudah lama meninggalkan desanya sehingga tidak banyak lagi  warga desa yang mengenal dia selain bahwa dia adalah anak pak Lurah.
 
Orang tua dan keluarganya menyarankan kalau mau jadi kepala desa nanti periode berikut, sedangkan masa sekarang tinggalah di desa dan buka usaha di desa agar dikenal oleh warga.
Namun nampaknya dia lebih percaya pada beberapa orang yang mendukungnya. Pak Lurah selalu mengingatkan bahwa yang mencalonkan dirinya bukan orang baik, mereka hanya memanfaatkan dirinya untuk memperoleh keuntungan.
 
Anak ini malah marah dan menganggap keluarganya tidak sayang dengannya. Padahal keluarganya “ngeman” (menyayangi) dan ingin dia menjadi hebat dan terhormat.
 
Dalam beberapa kesempatan dia mengatakan bahwa dirinya sudah bukan lagi bagian dari keluarga pak Lurah, dia lebih baik tidak dianggap anak dan saudara. Dia beranggapan bahwa mereka yang mendukung inilah yang menjadi saudaranya.
 
Dalam pemilihan dia kalah telak dengan calon yang terpilih, sementara hartanya sudah habis. Istrinyapun sudah meninggalkan dia karena sudah ditalak tiga olehnya.
Dan karena hal itu dia menjadi gila seperti sekarang.”
 
Hubunganku dengan Tuhan seringkali seperti orang gila ini dengan keluarganya. Allah begitu mencintai aku, dan menuntunku untuk sampai pada keluhuranku sebagai manusia. Akan tetapi sering kali aku lebih memilih ilah-ilah lain atau menuruti hawa nafsuku sendiri manakala keinginan, doa dan harapanku tidak dikabulkan. Aku sering kali tidak melihat bahwa apa yang kumohon tidak dikabulkan karena Tuhan “ngeman” diriku.
 
Akibatnya aku sering kali sungguh-sungguh menjadi tidak berguna, kehilangan semua rahmat dan keadaan berahmat. Bukan karena aku dibenci Tuhan tetapi karena aku meninggalkan Tuhan.
 
Sebagaimana keluhan Tuhan terhadap Israel yang disampaikan nabi Yeremia: ”Bangsa yang jahat ini akan menjadi seperti ikat pinggang yang tidak berguna untuk apapun.”
 
Iwan Roes RD

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.