Bernafas Bersama

Bersama dengan komunitas Ignatian sedunia, sama halnya dengan CLC Dunia, CLC Indonesia mendukung Gerakan Doa bersama.


Bernapas Bersama

CLC bergabung dengan Keluarga Ignatian untuk Malam Doa Ignatian Global #SeasonOfCreation2020 #BreathingTogether

Hari ini, di dunia kita yang terluka, kita berjuang untuk bernapas. Mari kita bergabung dengan keluarga Ignatian dalam doa Jumat depan, 25 September.

“Kirimkan Rohmu, ya Tuhan, dan perbarui wajah bumi!”

Vigil akan disiarkan pada jam 8 malam di Manila (jam 7 malam di Jakarta/WIB).

Christian Life Community Dunia

Menemukan Allah di Masa Pandemi

CLC Surabaya akan mengadakan Refleksi Iman pada bulan September 2020 secara online melalui Zoom.

Kami mengangkat tema “Menemukan Allah di Masa Pandemi“. Romo Herman Joseph Soehardiyanto, S.J. akan membimbing acara ini.

Silakan registrasi di link ini dan mengisi formulirnya.

Kami akan mengirimkan Link/ID Zoom melalui no. HP/Email yang terdaftar minimal pada H-1 sebelum acara.

Kami berharap para sahabat CLC se-Indonesia untuk ikut serta dalam acara ini. Sabtu, 26 September 2020, pukul 18:00 – 19:30 WIB.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Bp. Surya.

Sampai bertemu di acara Refleksi Iman CLC Surabaya.

Renungan Harian: 25 September 2020

Renungan Harian
Jumat, 25 September 2020

Bacaan I : Pkh. 3: 1-11
Injil    : Luk. 9: 19-22

Nggege Mangsa

Waktu itu saya pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Hari itu guru-guru ada rapat, sehingga semua murid dipulangkan. Sesampai di rumah, saya bilang ke ibu kalau saya lapar. Mungkin kebiasaan pulang sekolah itu makan, jadi meski pulang lebih awal saya merasa lapar.
 
Ibu menjawab bahwa nasinya belum masak. Ibu baru selesai “ngaru”. (pada masa itu beIum memakai rice cooker). Ibu meminta saya untuk membantu meletakan “dandang” (tempat untuk menanak nasi) ke atas “anglo” dan berpesan kalau sudah bunyi “kemrengseng” (bunyi air mendidih) agar memberi tahu ibu. Waktu itu ibu sedang sibuk menjahit.
 
Rasanya menunggu nasi menjadi masak, lama sekali, karena perut sudah keroncongan. Beberapa kali saya bertanya pada ibu: “Bu, wis mateng?” (Bu, nasi sudah masak?) karena saya beberapa kali bertanya, ibu berhenti menjahit dan menasehati saya.
 
“Mas, jadi orang itu harus sabar. Masak nasi itu ada aturannya agar nasi tanak (benar-benar masak). Kalau dipaksakan nasi menjadi tidak enak dan bisa bikin sakit perut. Nanti, kalau sudah besar, apapun harus sabar dan ikut aturannya (prosesnya)  “aja nggege mangsa tundhane ora becik” (jangan mendahului/memaksakan waktunya, jalan pintas nanti akhirnya tidak baik). Semua ada waktunya, meskipun menunggu itu tidak enak bahkan menyakitkan tetapi kalau waktunya tiba semua menjadi baik.
 
Mas, nanti kalau sudah besar, kalau merasakan hidup itu sulit, gelap dan penuh derita, jangan “nggege mangsa” jalani semua dengan sabar dan ikhlas. Asal kita mau berusaha dan berjuang, waktunya akan datang, kesulitan akan teratasi, gelap berubah menjadi terang dan penderitaan menjadi kebahagiaan. Tetapi semua itu ada waktunya, jadi kalau sudah tiba waktunya semua itu membahagiakan.” Ibu mengakhiri nasehatnya.
 
Waktu itu saya tidak mengerti apa yang ibu katakan pada saya, baru setelah ibu pergi, saya menyadari nasehat yang amat bagus dari ibu. Ada kecenderungan dalam diriku tidak sabar, “grusa-grusu” dan instant. Lupa bahwa segala sesuatu ada prosesnya dan ada waktunya. Cepat belum tentu menjadi lebih baik demikian pula lambat belum tentu menjadi lebih buruk, semua tergantung proses yang dijalani.
 
Seperti kata pengkhotbah dalam bacaan hari ini: “Untuk segala sesuatu ada waktunya……..Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
 
Bagaimana dengan diriku? Mau dan rela untuk sabar dan tekun mengikuti dan menjalani proses?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 24 September 2020

Renungan Harian
Kamis, 24 September 2020

Bacaan I : Pkh. 1: 2-11
Injil    : Luk. 9: 7-9

R i s a u

Perayaan ekaristi pada pagi hari itu agak gaduh, sehingga saya menghentikan khotbah saya. Kejadian itu berawal adanya anak kecil yang menangis menjerit memanggil-manggil mamanya.

“Mamaaaaa,” teriak anak itu sambil menangis.

Sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan anak kecil yang menangis itu, karena memang itulah anak kecil. Namun tidak berapa lama setelah anak kecil itu teriak, di bangku lain ada seorang ibu yang berteriak-teriak dan jatuh pingsan.                                     
Semua umat terkejut dan sontak perhatian ke arah datangnya suara anak yang teriak dan ibu yang teriak diiringi bunyi sesuatu yang jatuh. Pada awalnya semua menduga bahwa anak kecil yang teriak itu adalah anak ibu yang jatuh pingsan, ternyata bukan. Anak yang nangis langsung digendong ibunya dan dibawa keluar sedang beberapa umat mengangkat ibu yang pingsan itu untuk mendapatkan perawatan. Setelah situasi agak tenang, saya melanjutkan perayaan ekaristi.
 
Seusai perayaan ekaristi ada seorang ibu menemui saya dan menyampaikan  bahwa ibu yang tadi pingsan sudah pulih. Ibu itu meminta saya untuk mendoakan ibu yang pingsan tadi.
Setelah saya menyapa umat yang pulang gereja, saya menemui ibu yang tadi pingsan untuk mendoakan.
 
“Bagaimana ibu, sudah sehat? Ibu ke gereja dengan siapa?” sapa saya.

“Sudah pastor, terima kasih. Saya ke gereja sendiri. “

 “Ibu yakin sudah sehat dan bisa pulang sendiri?”

“Sudah pastor terima kasih, saya sudah kuat, saya tidak apa-apa” jawab ibu dengan sopan.

“Ibu masuk angin? Atau ibu sebelumnya sudah tidak enak badan?” tanya saya.

“Tidak pastor, saya sehat. Saya terkejut mendengar teriakan anak kecil itu” jawabnya.

“Oh, maaf ya, ibu jadi terganggu,”

“Tidak pastor, saya yang minta maaf. Saya boleh cerita sedikit?” pinta ibu itu.
“Oh, silahkan ibu.”
 
“Pastor, ketika saya mendengar anak kecil itu menangis dan teriak memanggil mamanya, saya tidak tahan. Setiap kali mendengar anak kecil teriak memanggil mamanya, hati saya rasanya seperti disayat-sayat.” Ibu itu bercerita dengan berurai air mata.
 
“Pastor, kejadian itu kira-kira 15 tahun yang lalu. Saat itu, karena saya tertarik dengan laki-laki lain, saya meninggalkan rumah, suami dan anak saya. Diawali dengan keributan besar dengan suami saya, saya pergi dari rumah. Ketika saya pergi, anak saya yang waktu itu umur 2 tahun, menangis teriak, panggil-panggil saya, di dekapan papanya. Tetapi saya sudah tidak mempedulikan, tekad saya sudah bulat untuk pergi. Maka kalau dengar anak kecil menangis berteriak memanggil mamanya, saya selalu ingat peristiwa itu. Peristiwa yang selalu menghantui hidup saya.” Ibu itu berkisah.
 
“Ibu, pernah bertemu dengan anak ibu?” tanyaku.

“Belum dan saya belum mau bertemu,” Jawabnya.

“Ibu tahu dimana anak ibu tinggal?”

“tahu pastor, dia pernah menghubungi saya dan ingin bertemu.”

“Kenapa ibu tidak mau menemuinya? Kiranya perjumpaan itu menjadi saat untuk berdamai dengan anak ibu dan ibu menjadi damai dengan hidup ibu.”

“Tidak pastor, saya tidak mau kalau nanti saya bertemu dan saya dihina dan direndahkan. Biar, saya menderita dengan bayangan yang menghantui saya dari pada saya dihina dan direndahkan”

Saya diam, tidak bisa mengerti dan tidak tahu apa yang harus saya katakan
 
Betapa di dalam kehidupanku, aku sering kali lebih memilih penderitaan yang disebabkan oleh bayangan masa laluku, demi memelihara dan menghidupi kesombonganku. Bukankah setiap dari aku mempunyai bayang-bayang gelap? Dan bukankah bayangan gelapku akan menjadi komposisi indah bagi hidupku mana kala aku mau menerima, memeluk dan menyelaraskannya?

Betapa aku harus berani dan rela merendahkan diri, serta menderita agar bayangan hitamku menjadi selaras?
 
Kiranya pengalaman Herodes dalam sabda Tuhan sejauh diwartakan Lukas hari ini, menunjukkan kerisauan dan kecemasan akan masa lalu: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”
 
Dalam peziarahan hidup dalam terang dan menuju “Sang Cahaya”, bayangan gelapku selalu muncul dan mengikuti. Akankah aku mampu melupakan dan menghilangkannya?
Bukankah yang dapat kulakukan adalah menyelaraskan dengan hidupku, sehingga menjadi kompisi indah bagi hidupku? Aku, bayangan gelapku dan “Sang Cahaya” adalah komposisi indah hidupku.
 
Persoalannya adakah kemauan dan kemampuan untuk menyelaraskannya.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 23 September 2020

Renungan Harian
Rabu, 23 September 2020

PW. St. Padre Pio 
Bacaan I : Ams. 30: 5-9
Injil    : Luk. 9: 1-6

C u k u p

Sore itu, saat saya sedang menikmati matahari tenggelam yang bulat memerah di halaman gereja, ada bapak tua yang memikul keranjang bambu. Karena sering ada orang yang salah jalan masuk halaman gereja, maka saya mengira bapak tua itu orang yang salah jalan. “Bapak mau kemana, ini tidak ada jalan lagi,” sapaku.

“Bapak tidak salah jalan nak, bapak mau menawari apakah mau membeli keranjang?” Jawab bapak itu. “Saya gak mau beli pak,”
“tolong beli, ini bagus dan dari pagi belum ada yang beli” pinta bapak itu.
 
Saya iba melihat bapak tua itu. Seharusnya beliau istirahat di rumah, tetapi masih harus berjualan. Bapak tua itu badannya sudah bungkuk, dan kulit wajah sudah berkeriput menunjukkan usianya. Kemudian bapak itu saya ajak duduk di pastoran, dan saya beli 6 keranjang yang di bawanya.
 
Bapak itu saya tawari makan, beliau menolak. Tetapi setelah saya desak beliau mau. Saya meminta  ibu yang membantu di pastoran untuk menyiapkan makan. Saat saya tawari minum teh atau kopi beliau menjawab: “Aki, minum air putih saja cukup, nak.”
“Aki, tidak minum kopi?” tanyaku.
“Minum, tetapi sekarang cukup air putih,” jawabnya.

Saya minta agar bapak tua itu disediakan kopi, selain air putih.
 
Bapa tua itu mengambil nasi sedikit, sayur dan sepotong tempe. Ayam goreng, tahu dan ikan asin, tidak diambilnya.

“Kek, jangan malu ya, kenapa lauk yang lain tidak diambil?” tanyaku.

“Ini sudah cukup untuk aki.” Jawabnya.

Sambil menemani beliau makan, saya ngobrol dengannya. Bapak tua, itu bercerita bahwa istrinya membuat keranjang dan beliau yang menjualnya. Hasil menjual keranjang cukup untuk makan sehari-hari dengan istrinya, karena beliau hanya tinggal berdua sedang anak-anaknya sudah berkeluarga dan berpisah. Hari itu, ia membawa keranjang lebih banyak dari biasanya karena berharap ada kelebihan uang untuk membeli obat buat istrinya. Sayang hari itu, dagangannya sampai sore tidak laku.
 
Setelah selesai makan, saya membayar enam keranjang yang saya beli, dan memberi sedikit uang untuk bapak itu. Saya terkejut, karena bapak itu hanya mau menerima uang sejumlah harga keranjang. Saya agak sedikit memaksa, tetapi beliau tetap tidak mau menerima.

“Nak, apa yang aki terima sudah cukup untuk makan besok dan beli obat untuk nini. Riski ini sudah cukup, dan biar besok aki kerja lagi. Nanti kalau aki terima uang ini,  besok aki jadi malas kerja.” Jawabnya dengan tersenyum.

Saat saya menjabat tanganya sambil sedikit membungkuk memberi hormat, bapak itu menepuk pundak saya dan berkata:

“sing sehat dan selalu berkecukupan ya nak.”
 
Saya menatap punggung bapak tua itu yang pergi meninggalkan pastoran. Saya tersentak dengan perjumpaan dan pembicaraan yang amat singkat itu. “Orang yang luar biasa, yang dikirim Tuhan untuk mengajariku agar selalu berpikir cukup,” pikir saya dalam hati. Orang yang amat langka di masa sekarang, di mana banyak orang berlomba untuk mengumpulkan dan menumpuk.
 
Sebagaimana nasehat dalam kitab Amsal: “Janganlah aku kauberi kemiskinan atau kekayaan; biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Jangan sampai kalau aku kenyang, lalu menyangkalMu”
 
Berkata cukup membutuhkan keberanian yang luar bisa dan kepasrahan yang luar biasa pula. Adakah aku berani mengatakan cukup?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 22 September 2020

Renungan Harian
Selasa, 22 September 2020

Bacaan I : Ams. 21: 1-6. 10-13
Injil    : Luk. 8: 19-21

Tetangga Baru

Tetangga baru di kampung kami itu biasa kami panggil pak Raden. Entah siapa namanya karena tidak ada di antara kami yang mengenalnya. Bahkan pak RT pun tidak tahu siapa namanya karena tidak pernah lapor. Kami memanggil pak Raden, karena beliau mempunyai kumis yang tebal, mirip tokoh pak Raden dalam film Unyil.
 
Sudah beberapa bulan beliau tinggal di kampung kami tetapi tidak ada satupun yang mengenalnya. Beberapa orang yang berpapasan dengan beliau dan menyapanya tidak pernah ada yang mendapatkan balasan. Sehingga orang di kampung kami enggan menyapanya.
 
Beberapa kali pak Raden, mengadakan hajatan, tetapi tidak seorangpun  warga di kampung kami yang diundang. Banyak tamu yang datang, tetapi entah mereka datang dari mana.
Pernah suatu ketika pohon besar di depan rumah pak Raden dahan yang besar patah dan menimpa pagar dan halaman rumahnya, warga kampung yang hendak membantu membersihkan justru diusir.
 
Pada suatu malam, terdengar teriakan minta tolong dari rumah pak Raden. Warga kampung berdatangan tetapi tidak bisa masuk menolong, karena pintu pagar terkunci. Untunglah ada beberapa orang muda yang berani memanjat pagar sehingga bisa membuka pintu pagar.
 
Ternyata bu Raden sakit dan tidak sadarkan diri. Di rumah itu ternyata hanya ada bu Raden dan anak perempuannya. Warga segera membawa bu Raden ke klinik rawat inap. Dan ternyata bu Raden harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Beberapa warga kampung kami mengantar sampai di rumah sakit besar, dan bahkan menunggu sampai ada keluarganya yang datang.
 
Sejak peristiwa itu, pak Raden menjadi ramah dengan warga kampung kami dan mau ikut pertemuan bapak-bapak. Beliau sekarang sudah di kenal oleh warga kampung kami.
 
Benarlah kata pepatah, saudara yang terdekat adalah tetangga yang terdekat. Sebagaimana dalam kitab Amsal: “Siapa yang menutup telinga bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 21 September 2020

Renungan Harian
Senin, 21 September 2020

Pesta St. Matius Rasul
Bacaan I : Ef. 4: 1-7. 11-13
Injil    : Mat. 9: 9-13

C a n t i k

Setiap kali ada kerja bakti membersihkan gereja dan sekitarnya, ibu muda itu selalu membersihkan tempat-tempat yang tidak dikerjakan orang lain. Dia selalu bekerja sendiri, dan menyendiri, begitu selesai dia langsung pulang; tidak pernah ikut kumpul-kumpul dengan umat yang lain.
 
Beberapa kali saya melihat ibu ikut misa tetapi selalu di luar tidak pernah masuk ke gereja, meski saat itu gereja tidak penuh. Pernah saya menegur agar masuk tetapi dia tetap tidak bergeming. Ibu itu tidak pernah menyambut komuni, dan begitu selesai berkat langsung pulang.
 
Pernah suatu saat, ketika saya tidak mempersembahkan misa, saya mencoba menyapa ibu itu, tetapi ibu kelihatan tidak ingin bicara dengan saya, hanya tersenyum dan segera menghindar. Saya pernah bertanya pada salah satu umat tentang ibu itu, ia menjawab: “Memang selalu begitu pastor.”
 
Suatu sore, ibu muda itu datang, dia meminta ijin untuk membersihkan patung bunda Maria, dan Hati Kudus Yesus. Saya mempersilakan, dan ibu segera meninggalkan saya untuk ke gereja. Sejak saat itu tiga kali dalam seminggu, di sore hari ibu membersihkan patung dalam gereja.
 
Suatu malam, beberapa tokoh umat dan sesepuh datang menemui saya ingin berbicara. Salah satu bapak bertanya kepada saya: “Maaf, Pastor, apakah benar, pastor yang mengijinkan ibu itu membersihkan patung-patung dalam gereja?” “Iya betul” jawab saya.
“Pastor harus segera menghentikan dan melarang ibu itu untuk membersihkan lagi.” Bapak itu dengan tegas sedikit emosi meminta saya. “lho memang dia merusak?” tanyaku dengan agak terkejut.
“Tidak Bapak Pastor, dia itu orang yang tidak pantas untuk itu, dia itu pelacur.” Jawab bapak itu. Saya sekarang benar-benar terkejut. Untuk menutupi keterkejutan, saya bertanya: “Bapak-bapak yakin dan tahu persis?” “Kami tahu persis, dia tiap malam selalu ada di tempat itu, beberapa dari kami melihat dengan mata kepala kami sendiri.” Bapak itu menegaskan.
Dengan bercanda, sambil tertawa kecil saya menimpali: “lho jangan-jangan bapak-bapak yang melihat itu pelanggannya?” Hanya dua orang yang tertawa bersama saya, yang lain tertunduk dengan wajah tegang; mungkin candaan saya menyinggung mereka.
 
“Bapak-bapak, adakah yang salah dengan orang yang membersihkan patung-patung itu?” tanya saya. Dengan nada bercanda saya melanjutkan: “Begini, nanti kalau bunda Maria dan Tuhan Yesus protes, saya akan menghentikan.”
Mereka, diam dan masih tetap mendesak saya agar menghentikan ibu itu untuk membersihkan patung-patung itu.
 
Malam itu saya merenung: “Apa yang akan dikatakan bunda Maria dan Tuhan Yesus? Adakah orang itu akan dihakimi?”
Aku bertanya dalam diriku: “Adakah aku lebih pantas dari ibu itu? Ibu itu dianggap tidak pantas karena semua orang melihat dia sebagai orang yang tidak pantas, sedang dalam diriku mungkin lebih banyak hal yang tidak pantas.”
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Matius menyejukkan diriku: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit.”
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 20 September 2020

Renungan Harian
Minggu, 20 September 2020

Hari Minggu Biasa XXV
Bacaan I  : Yes. 55: 6-9
Bacaan II : Flp. 1: 20c-24. 27a
Injil     : Mat. 20: 1-16a

Metanoia

Bapak itu setiap hari ikut misa harian. Belum tua benar menurut saya, masih kelihatan gagah, sporti, hanya karena rambutnya yang memutih sehingga kelihatan bahwa beliau sudah tua.
Setiap kali ikut perayaan ekaristi selalu kelihatan berurai air mata.
 
Hal yang menarik perhatian saya adalah, setiap kali habis misa pagi selalu meminta pengakuan dosa. Saya menyarankan agar bapak itu tidak mengaku dosa setiap hari, tetapi cukuplah sebulan sekali. Tetapi beliau selalu datang meminta pengakuan. Dan setiap beliau meminta pengakuan tidak mungkin saya menolaknya.
 
Dengan mempertimbangkan untuk kemajuan hidup rohaninya, saya bertanya apakah beliau mau bicara dengan saya di luar kamar pengakuan. Dan beliau menyetujui. Kami pun membuat kesepakatan hari dan waktu untuk bertemu.
 
Pada hari dan waktu yang telah disepakati, kami bertemu untuk ngobrol. Saat perjumpaan itu, hal pertama yang saya tanyakan:
“Bapak, kenapa bapak mengaku dosa setiap hari?”

Beliau terdiam sejenak lalu menjawab:
“Romo,saya takut mati dan masuk neraka, karena saya banyak dosa.”

“Bapak, apakah bapak bisa bercerita kenapa menjadi takut?” tanya saya.
 
“Romo, saya orang yang banyak berbuat dosa sejak masa muda saya. Saya banyak berbuat dosa pada orang tua saya, istri saya, anak-anak saya dan orang-orang di sekitar saya. Saya sudah mengaku dosa ke banyak pastor, tetapi kemudian mereka menolak untuk memberi pengakuan ke saya karena saya setiap hari mengaku dosa.
Romo, saran dan nasehat para romo sudah saya jalani. Saya sudah meninggalkan dunia gelap saya. Sekarang saya banyak ikut persekutuan doa, dan doa di rumah yang selama sekian puluh tahun tidak pernah saya lakukan.
 
Saya sudah mengakui semua kebejatan saya di hadapan orang tua, istri dan anak-anak saya. Dan puji Tuhan mereka semua mengampuni saya.” Tutur bapak itu.

“kalau demikian apa yang membuat bapak risau?” tanya saya.
 
“Romo, saya sering melihat video cerita tentang orang-orang yang mati suri. Cerita tentang neraka dan hukumannya. Saya takut romo. Saya sekarang ini sulit tidur karena takut kalau tidur lalu saya mati. Saya takut kalau mati masuk neraka dan dihukum.
 
Saya sudah lebih dari tiga tahun ini berjuang untuk menjauhi kejahatan. Hal-hal yang masa lalu saya lakukan sebagai kesenangan sudah tidak saya lakukan lagi. Hidup saya isi dengan doa. Tetapi tetap tidak bisa menghilangkan rasa takut saya, bahkan semakin hari semakin takut mati. Saya takut hukuman dari Tuhan.” Bapak itu mengakhiri ceritanya.
 
Bertobat tidak berarti hanya tidak melakukan kesalahan atau kelemahan yang sama lagi akan tetapi berani membongkar cara pandang lama, menjadi cara pandang baru. Cara pandang lama bertobat agar lolos atau bebas dari hukuman, menjadi cara pandang baru bertobat agar aku semakin menikmati kasih Allah. Dari ketakutan akan hukuman menjadi menikmati dan mensyukuri kasih Allah.
 
Setiap malam dalam doa malam, kita diajak untuk memeriksa batin, kita seringkali terjebak untuk membuat litani dosa bukan melihat tawaran kasih Allah sepanjang hari. Setiap kali ekaristi, kita diajak untuk mengakui dan menyesali segala kelemahan dan dosa, tapi kita sering kali terjebak untuk membuat litani dosa, yang berakibat fokus pada hukuman, bukan pada pengakuan atas kelemahan dan dosa. Karenanya kita melewatkan begitu banyak tawaran kasih Allah.
 
Betapa dalam hidupku seringkali terjebak dengan dosa dan hukuman; Allah yang siap menghukum melemparkan aku ke dalam neraka. Aku lupa betapa Allah penuh kasih dan penyayang. Aku terbebani oleh dosa dan ketakutan akan hukuman.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius menyadarkan akan belas kasih dan keadilan Allah. Allah bukan Allah yang menghukum tetapi Allah yang menyelamatkan; bukan Allah yang membinasakan tetapi Allah yang menghidupkan.
 
Adakah keberanian dalam diriku untuk membongkar cara pandangku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 19 September 2020

Renungan Harian
Sabtu, 19 September 2020

Bacaan I : 1Kor. 15: 35-37. 42-49
Injil    : Luk. 8: 4-15

Neng, Ning, Nung, Nang

Hari-hari di minggu awal mulai hidup di novisiat, salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah latihan doa dasar yang biasa kami singkat menjadi latdoda. Setiap hari  60 menit di pagi hari  dan 30 menit di sore hari kami para kandidat novis menjalani latdoda didampingi para frater secundi (tahun kedua). Fr. Sunu dan Fr. Dhesi yang selalu bergantian mendampingi kami.
 
Kami mulai belajar “ritual” sebelum memulai berdoa. “Ritual” itu adalah kami berdiri satu atau dua langkah di belakang tempat kami akan berdoa. “Ritual” itu kami sebut dengan laku penghormatan. Kami diajak untuk menyadari diri mengenai apa yang hendak kami lakukan, kepada siapa kami menghadap, siapa diriku di hadapan Dia yang padaNya aku berhadapan.
 
Setelah itu baru kami duduk dan mulai berlatih konsentrasi dengan cara penyadaran diri, baik merasakan anggota tubuh, mendengar-dengarkan maupun dengan merasakan nafas. Berhari-hari itu yang kami latih, agar kami mampu berkonsentrasi, tidak mudah terpengaruh hal-hal di luar diri kami, dan kami menjadi peka dengan sentuhan-sentuhan dan gerak roh.
Setelah semua itu kami jalani, kami baru dilatih untuk berdoa dengan cara meditasi dan kontemplasi.
 
Pada saat itu kami rasakan sesuatu dari bagian yang harus kami jalani. Saya tidak merasakan kedalam arti latihan-latihan semua itu. Bahkan saya merasa bahwa hal itu hanya berlaku dalam upaya agar bisa berdoa meditasi dan kontemplasi.
 
Filosofi jawa neng, ning, nung, nang menyadarkan saya betapa dalam sebuah pemahaman, apa yang kami jalani dengan latdoda bukan hanya untuk kepentingan doa, tetapi lebih dari itu untuk peziarahan hidup.
 
“Neng” adalah kependekan dari “jumeneng” yang berarti sadar, berdiri dan bangun untuk melakukan tirakat atau semedi. Seseorang diajak untuk membangkitkan kesadaran dalam batinnya, mau kemana, untuk apa, mau menghadap siapa dan siapa diriku di hadapan dia yang akan kujumpai. Dalam praktek hidup sehari-hari adalah kesadaran dan kemampuan menempatkan diri dalam hubungan dengan Tuhan dan sesamaku.
 
“Ning” adalah kependekan dari “mengheningkan”, yang berarti mengheningkan akal, pikiran, perasaan dan perilaku sehingga berkesinambungan. Menyelaraskan daya cipta dan rasa yang selalu terbuka pada kehendak roh baik. Dalam kehidupan sehari-hari membawa diri untuk selalu “eling lan waspada” (selalu sadar/aware) yang pada gilirannya menjadikan diri mampu mengalahkan ke-aku-an yang menghasilkan ketulusan hati.
 
“Nung” adalah kependekan dari “kasinungan”, yang berarti terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Seseorang akan mendapatkan daya-daya ilahi yang menghantarnya untuk mampu menemukan kasih Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Sehingga tidak ada lain dalam dirinya selain memancarkan kasih.
 
“Nang” adalah kependekan dari “menang” yang berarti seseorang telah menang terhadap dirinya, mampu menguasai diri, mampu dengan jernih membedakan gerakan-gerakan mana yang datang dari roh baik dan mana yang datang dari roh jahat. Seseorang menjadi bahagia lahir batin. Seseorang yang mencapai tahap ini hidupnya sungguh diletakan pada Tuhan.
Sehingga ia tidak memilih sehat lebih dari pada sakit; memilih kaya lebih dari pada miskin dan memilih hidup lebih dari pada mati, asal semua demi kemuliaan Allah.
 
Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa menyiap diri, menjadi tanah yang subur bagi Allah. Kiranya itulah yang di Sabdakan Yesus sejauh diwartakan Lukas: “Barang siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah mendengar.”
 
Aku mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, mempunyai mata tetapi tidak melihat dan mempunyai hati tetapi tidak mencinta.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Menimba Semangat dari Santo Fransiskus Xaverius

CLC Jakarta telah mengadakan Pertemuan Bulanan pada hari Minggu, 20 September 2020 secara online melalui Zoom.

Kami mengangkat tema “Menimba Semangat dari Santo Fransiskus Xaverius“. Romo Sudiardja S.J. akan menjadi pendamping acara ini. Setelah pertemuan, kami akan melanjutkannya dengan misa.

Kami ucapkan terima kasih untuk para sahabat CLC yang sudah ikut serta dalam pertemuan ini.