Refleksi Sahabat CLC – “HIDUP BARU KARENA MARIA”

Pada bulan Mei bulan Maria ini kami sajikan tulisan refleksi dari Bp. Drs. T. Adi Susila, MM. dengan judul tulisan “Hidup Baru Karena Maria”.

HIDUP BARU KARENA MARIA

Oleh: Tarcisius Adi Susila

Mei adalah bulan Maria. Seorang imam Yesuit, Gerard Manley Hopkins, yang me­ning­gal pada usia 44 tahun di Dublin, meninggalkan sebuah kenang-kenangan be­rupa puisi berjudul “Magnificat Mei”. Tradisi yang terkait dengan Mei bulan Maria, bukanlah berasal dari Gerard Manley Hopkins SJ, tetapi dari para imam Yesuit yang tinggal di Kolese Roma (Collegium Romanum, sekarang Universitas Gregoriana), yang kini sudah berumur lebih dari 450 tahun, yang memperkenalkan kebiasaan mem­per­­sembahkan bulan Mei untuk menghormati Bunda Maria.

Pada tahun 1563, tujuh tahun setelah Ignatius wafat, seorang imam Ye­suit, Jean Leunis SJ, diutus Serikat Yesus untuk menjadi pamong bagi para maha­siswa yang tinggal dan belajar di Ko­lese Roma. Sebagai pendidik, dia memben­tuk sebuah komunitas Kaum Muda yang diberi nama Prima Primaria (cikal bakal dari Kongre­gasi Maria, Sodality of Our Lady, atau di kelak kemudian hari menjadi Chris­tian Life Com­munity), sebuah komunitas pembinaan kaum muda yang ber­lindung pada Bunda Maria. Bisa dipahami bahwa pada abad 15-16, telah ber­kembang dengan subur devosi kepada Bunda Maria karena pengaruh dari sekolah spiritu­alitas Pe­rancis. Jean Leunis, waktu itu masih frater skolatistik, memperke­nal­kan prak­tek-praktek hidup rohani yang mem­bantu kaum muda bertumbuh dalam iman, seperti: devosi kepada Trinitas, adorasi Ekaristi, devosi kepada Hati Kudus, dan devosi kepada Bunda Maria.

Ignatius Loyola adalah pendiri Serikat Yesus (1540). Dia memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Bagi Ignatius, semua bulan dipersembahkan untuk Bun­da Maria. Maria mempunyai peranan yang penting dalam panggilan Ig­na­tius. Jauh sebelum ditahbiskan menjadi imam (sebelum mendirikan Serikat Yesus), dia telah mengembangkan afeksi yang mendalam kepada Bunda Maria. Terutama, karena visi yang telah mengubah hidupnya, yaitu bahwa dia mempunyai Maria Bunda Al­lah. Bunda Maria itulah yang membantu Ignatius hingga akhirnya menda­patkan ka­runia indulgensi penuh bagi hidup masa lampaunya. Pengalaman rohani ini men­jadi titik puncak pertobatan Ignatius sekaligus awal dari hidupnya yang baru.

Ignatius, yang lahir tahun 1491 dalam keluarga bangsawan Basque Spanyol, adalah anak termuda dari 13 bersaudara. Ibunya sendiri sudah meninggal dunia, tidak lama sesudah melahirkan Ignatius. Ignatius dibesarkan oleh seorang ibu ang­kat, yang secara kebetulan bernama Maria. Ketika umur 7 tahun, kakaknya yang tertua, Martin, yang mewarisi keluarga kerajaan, menikah dengan Magdalena Ara­oz, yakni perempuan yang menantikan diri bisa menjadi pengganti ratu Spanyol, Isabella. Ferdinand, suami Isabella, adalah pendukung finansial untuk kegiatan eks­plorasi Christophorus Columbus, yang mengadakan penjelajahan ke dunia baru. Columbus yang melakukan penjelajahan dunia baru itu, berumur sebaya dengan Ignatius, bahkan hanya selisih 1 tahun lebih tua. Menarik bahwa kapal yang dipakai oleh Columbus untuk penjelajahan dunia baru itu adalah kapal yang dengan nama Santa Maria.

Martin, kakak Ignatius, dan pasangan barunya mendapatkan hadiah berupa lukisan yang menggambarkan kabar sukacita malaikat Tuhan kepada Maria (Annun­ciation), sebuah hadiah perkawinan dari Ratu Isabella. Lukisan yang sungguh mem­punyai arti bagi hidup mereka itu ditaruh di dalam sebuah kapel yang dibangun di dalam puri Loyola. Sejak masih berumur 7 tahun, Ignatius sudah melihat lukisan itu. Di puri Loyola itu pun juga Ignatius pernah melihat sebuah patung Bunda Maria Risang Sungkawa (Sorrowful Mother).

Semua ingatan akan Bunda Maria tidaklah secara ajaib membuat Ignatius men­­jadi seorang Santo. Pada kenyataannya, Ignatius bertumbuh sebagai pribadi duniawi, yang terobsesi oleh hal-hal duniawi, kisah kepahlawanan tokoh-tokoh dunia, bermimpi menjadi prajurit kerajaan dan secara intens meniti karir hingga punya nama besar. Pertobatan yang dialami Ignatius adalah karena intervensi dari Bunda Maria. Karena itu, Ignatius bersyukur bahwa dirinya tergerak untuk bergeser dari ambisinya menjadi pengabdi Ratu duniawi menjadi pengabdi Ratu surgawi, yakni Santa Perawan Maria. Fokus perhatian di dalam hidupnya tertuju pada Yesus Kristus, Anak Maria itu.

Ketika Ignatius terluka dalam perang di Pamplona pada tahun 1521, karena terkena bom pada kakinya persis pada bulan Mei, dia diantar pulang oleh tentara Perancis ke puri Loyola, dan dirawat oleh Magdalena, kakak iparnya, yang mera­watnya hingga pulih kembali sehat. Ignatius pernah meminta kepada Magdalena supaya bisa menyediakan buku-buku bacaan yang menyajikan cerita kepahlawanan dan kisah-kisah percintaan. Tetapi kakak yang baik itu justru memberikan buku-buku devosi, antara lain: Kisah hidup Yesus Kristus (Vita Christi), yang ditulis oleh Ludolph Sa­xony, seo­rang biarawan Kartusian, dan buku tentang hidup para Santo (Flos Sanctorum), yang ditulis oleh Jacobus Voragine, seorang biarawan Dominikan.

Buku-buku itu memiliki peran pen­ting dalam pertobatan Ignatius. Ignatius sa­ngat terkesan dengan buku bacaan ten­tang hidup Yesus Kristus yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Karena sangat mengesankan, Ignatius menggaris-bawahi kata-kata Yesus dengan tinta me­rah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Seba­gaimana Ignatius berpikir ten­tang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dan Maria, demikian juga ia me­renungkan hidup para santo, suatu kehausan rohani yang tumbuh di dalam batin Ignatius.

Pada suatu malam, ketika terbangun dari tidur, Ignatius mendapatkan pe­nam­pakan dari Bunda Maria yang menggendong Yesus. Penampakan itu meme­nuhi hati Ignatius dengan perasaan damai yang mendalam. Pada saat yang sama, ia merasa jijik yang mendalam dengan hidup masa lampaunya. Ignatius menyadari bahwa kehausan seksual telah membawa dirinya kepada kehampaan. Karena itu, mulailah ia meninggalkannya dan menggantikannya dengan kasih. Ia merindukan seluruh hidupnya untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

Melalui penampakan Maria dan Yesus, pikiran-pikiran yang mengganggu Ig­natius hingga kehilangan pegangan dalam hidup, digantikan dengan kebijak­sanaan dan kedamaian. Sejak saat itu, Ignatius mengalami karunia pertobatan, perubahan batin, transformasi diri. Sampai pada akhir hidupnya, Ignatius dapat mengarahkan dirinya untuk hidup murni tanpa menyesal, karena ia telah belajar mengatur ulang kehendaknya dalam hal keintiman dan kebersatuannya dengan Allah.

Meskipun Ignatius tahu bahwa Maria adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang sama seperti manusia lain pada umumnya, ia juga menyadari bahwa Maria te­lah menerima rahmat yang istimewa. Itulah mengapa Ignatius tetap menjaga kedekatannya dengan Maria dalam seluruh hidupnya. Pada gilirannya, Maria mem­bantu untuk membentuk diri Ignatius menjadi imam dan guru rohani.

Paus Fransiskus adalah imam Yesuit dan putra Ignatius. Selama berkunjung ke Naples Perancis pada Maret 2015, ia menekankan betapa pentingnya peran Maria dalam menggerakkan panggilan imam dan religius, yakni: makin mendekatkan me­reka dengan Yesus. Paus Fransiskus mengatakan: “Bagaimana saya bisa meyakin­kan bahwa sa­ya mengikuti Yesus? Bunda-Nya membimbing kita menuju Yesus. Imam, religius entah lelaki atau perempuan, (sia­pa saja) yang tidak mencintai Bun­da Maria, yang tidak berdoa kepada Bunda Maria, atau yang tidak berdoa Rosario, … Jika tidak menginginkan Bunda-Nya, maka Bunda-Nya juga tidak akan memberi­kan kepada mereka Putra-Nya.”

Kegiatan- CLC-DI-INDONESIA

CLC Berdoa Rosari 2021

Menyambut Bulan Maria yg jatuh pada bulan Mei, seperti biasa, CLC yg berdevosi pada Maria merayakannya dengan berdoa Rosari bersama.

Tahun ini, Exco sudah menyiapkan panduan Doa Rosario yg akan kita doakan bersama setiap harinya.

Silakan memilih waktu terbaik anda disetiap harinya, siapkan diri sebaiknya, agar tak terputus niat dan doa kita, akan ujud ujud doa yg kita persembahkan bagi Sang Bunda.

Selamat memasuki Bulan Maria, CLC Berdoa Rosari.

An.
ExCo CLC di Indonesia

Renungan Harian : 14 Mei 2021

Renungan Harian
Jum’at, 14 Mei 2021
Pesta St. Matias Rasul

Bacaan I: Kis. 1: 15-17. 20-26
Injil: Yoh. 15: 9-17

Dipilih

Dalam suatu perjumpaan dengan beberapa teman yang bekerja sebagai pegawai negeri (ASN) maupun BUMN berkisah tentang betapa sulit menjadi “kaum minoritas”. Kesulitan pertama-tama bukan dalam soal bergaul dengan teman-teman, tetapi kesulitan lebih pada soal jenjang karir. Oleh karena itu teman itu memberikan saran untuk orang-orang muda agar berjuang luar biasa. Sebagai minoritas harus lebih kreatif, lebih hebat dalam banyak hal. Orang baik, orang hebat jumlahnya sudah banyak, maka kalau tidak menjadi lebih baik dan lebih hebat tidak akan terpilih. Ada tuntutan untuk unjuk kemampuan dengan luar biasa.
 
Hal berbeda bicara soal keterpilihan, ketika berbicara dengan para calon pengantin. Para calon pengantin bila saya tanya mengapa memilih orang ini menjadi pasangan hidupmu, maka kebanyakan dari mereka akan menjawab karena mau menerima dirinya apa adanya, penuh perhatian, merasa nyaman dan cocok. Ketika ditanya lebih lanjut apakah anda tahu kelemahan dan kekurangan pasanganmu, mereka menjawab dengan yakin tahu. Saat diminta menyebutkan biasanya menyebut beberapa hal, dan diakui oleh pasangannya. Namun meski tahu dan sadar akan kelemahan serta kekurangan pasangannya tidak menyurutkan niat dan langkahnya untuk tetap memilih orang itu menjadi pasangan hidupnya. Sudah barang tentu jawaban mereka karena cinta.
 
Bertolak dari dua hal tersebut di atas, saya bertanya pada diri sendiri, mengapa Tuhan memilih saya? Kalau berdasarkan nilai lebih, pasti saya tidak terpilih karena ada begitu banyak orang yang punya nilai lebih. Kiranya saya tidak dapat bersaing. Kiranya Tuhan memilih saya lebih karena Ia mencintai aku. Melihat pengalaman para calon pengantin mereka tidak hanya melihat kemampuan dan kelebihan tetapi mau menerima apa adanya.
 
Tuhan memilih aku karena Ia mencintai aku, karenanya Ia mempercayakan banyak hal kepadaku. Siapa aku? Sehingga dipilih dan dipercaya. Tuhan pasti tahu persis kelemahan dan kekuranganku dan Ia percaya kepadaku karena Dia selalu hadir dan menjadikan diriku bisa menerima kepercayaan itu.

Sebagaimana sabdaNya sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap.”
 
Bagaimana dengan aku? Apa yang hendak kulakukan dengan Tuhan yang telah memilih diriku?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 13 Mei 2021

Renungan Harian
Kamis, 13 Mei 2021
Hari Raya Kenaikan Tuhan

Bacaan I: Kis. 1: 1-11
Bacaan II: Ef. 1: 17-23
Injil: Mrk. 16: 15-20

Taat Tanpa Pamrih

Di makam Sosro Kartono, ada tulisan nasehat luhur, kiranya sumbernya sudah ada dalam ajaran luhur dalam tradisi  Jawa. Nasehat itu berbunyi:
 
“Suwung Pamrih Tebih Ajrih.
(Kosong dari pamrih dan jauh dari takut)
 
Suwung pamrih, tebih ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaaken dhateng Gusti.
(Kosong dari pamrih, jauh dari rasa takut, hanya mencari sesuatu yang baik, semua saya pasrahkan pada Allah)
 
Yen kulo ajrih kenging dipun wastani ngandhut pamrih utawi ancas ingkang mboten sae.
(Kalau saya takut dapat dikatakan punya pamrih atau punya niat yang tidak baik)
 
Luh ingkang medal saking manahk dede luhipun tangis pamrih, nanging luh peresaning manah suwung pamrih,”
(air mata yang keluar dari hati bukan air mata tangis pamrih, tetapi air mata yang perasan hati yang kosong dari pamrih).
 
Nasehat yang amat bagus dan luar biasa. Sebuah nasehat agar orang bertindak atau menjalankan segala sesuatu bukan karena pamrih, dan juga kalau menjalankan segala sesuatu jangan takut dengan apapun, takutlah dengan keinginan akan pamrih. Semua tindakan dasarnya karena keinginan untuk mencari hal-hal yang baik dan berani berserah pada Allah.
 
Nasehat yang tidak mudah untuk dijalankan. Betapa sulit menjalankan sesuatu tanpa pamrih, apapun tindakan sering berdasarkan atas pamrih sesuatu. Bagaimana aku bisa membebaskan diri pada pamrih?
 
Dalam nasehat itu dikatakan yang dicari hanyalah hal-hal yang baik dan segalanya dipasrahkan pada Allah. Artinya bertindak mencari hal-hal yang baik akan tetapi bukan untuk kepuasan diri atau kepentingan diri, semua dipasrahkan pada Allah. Kiranya kata kunci adalah pasrah pada Allah. Berserah total pada Allah tanpa mengharapkan apapun.
.
Kiranya itulah yang dilakukan para Rasul setelah Yesus naik ke surga. Mereka pergi mewartakan kabar gembira, tujuannya satu yaitu mewartakan kabar gembira, bukan mencari kepentingan sendiri dan bukan pula mencari kepuasan diri. Para murid sungguh menggantungkan dirinya pada penyelenggaraan ilahi, sehingga Allah ikut serta dalam karya mereka dan meneguhkan karya mereka. “Maka pergilah para murid memberitakan injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bisa pasrah sepenuhnya pada Tuhan dan jauh  pamrih?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 12 Mei 2021

Renungan Harian
Rabu, 12 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 17: 15. 22-18:1
Injil: Yoh. 16: 12-15

Dorongan Roh Baik

Saya kedatangan tamu seorang bapak muda yang ingin konsultasi. Bapak itu bercerita bahwa usahanya selalu bangkrut. Sudah berkali-kali dan bermacam-macam jenis usaha tidak pernah berhasil. Menurutnya, dia sudah bekerja keras tetapi usaha tidak pernah lama. Beberapa tahun usahanya jalan tetapi entah bagaimana kemudian semakin turun dan bangkrut.
 
Bapak itu bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan orang “pinter” yang dapat melihat sumber masalah yang menyebabkan usahanya selalu bangkrut. Menurut orang “pinter” itu sumber segala persoalan adalah istrinya. Istrinya disebut sebagai penutup pintu rezekinya, maka usulannya adalah istrinya diceraikan. Bapak itu menjadi bimbang, karena merasa bahwa apa yang dikatakan orang “pinter” itu sesuai dengan apa yang dia alami. Sementara dia amat mencintai istrinya dan menurutnya istrinya amat baik, selalu mendukung dan mengerti dirinya.
 
Bapak itu bertanya apa yang harus dilakukan? Saya menegaskan bahwa perkawinan katolik tidak dapat diceraikan maka saya minta bapak menimbang-nimbang dengan baik apa yang dikatakan oleh orang “pinter”  itu. Saya meminta  bapak itu untuk melihat dengan teliti dan tenang, melihat data-data berkaitan dengan usaha-usaha yang telah bangkrut.  Ditimbang-timbang dan dibawa dalam doa, jangan cepat-cepat mengambil keputusan.
 
Dua hari kemudian bapak itu datang lagi dan menyampaikan bahwa dia sudah sadar bahwa sumber masalah berkaitan dengan usahanya yang bangkrut bukan istrinya. Dia sadar bahwa apa yang disampaikan orang “pinter” itu tidak benar. Bapak itu bercerita bahwa dirinya sudah yakin bahwa dirinya tidak akan menceraikan istrinya, apapun yang terjadi dia tetap akan mempertahankan keutuhan keluarganya.
 
Bapak itu semakin yakin dengan keputusannya setelah dalam doanya, bapak itu merasa semakin tenang dan damai, dan lebih bersemangat untuk memulai usaha yang baru. Mendengarkan semua penjelasan bapak itu, saya mengatakan syukur kepada Allah dan mengucapkan selamat kepada bapak itu. Saya menyampaikan bahwa bapak telah berani jujur dengan dirinya sendiri dan mau  mendengarkan suara Roh Kudus.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”
 
Bagaimana dengan Aku, beranikah aku jujur dengan diri sendiri dan mendengarkan Roh Kudus?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Renungan Harian: 11 Mei 2021

Renungan Harian
Selasa, 11 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 16: 22-34
Injil: Yoh. 16: 5-11

Disapih

Sudah hampir 1 tahun saya memelihara burung lovebird di sebuah kandang berukuran 3m x 3m x 2m. Awalnya saya memelihara 8 pasang, sekarang sudah beranak pinak menjadi lebih dari 20 ekor. Memelihara burung menjadi hiburan yang menarik selama masa pandemi, selain mendengarkan kicauan yang ramai, dan warna-warni warna bulunya juga melihat tingkah polah burung-burung itu. Duduk menikmati secangkir kopi sambil melihat burung-burung itu menjadi segar.
 
Salah satu hal yang menarik adalah ketika burung itu mulai akan bertelur. Burung betina dan jantan akan mengumpulkan serpihan-serpihan kayu, daun atau kertas untuk dibuat sarang. Setelah bertelur, selama ini saya lihat burung-burung itu bertelur 2 sampai 3 butir, lalu betina akan mengerami. Selama mengerami telur-telurnya, burung jantan akan membantu betina untuk mendapatkan makanan.
 
Setelah menetas, burung betina akan menjaga sarangnya dengan amat ketat. Burung itu menjadi galak apabila ada burung lain yang mulai mendekati sarangnya. Betina akan mencari makan dan menyuapi anak-anaknya. Saat bulu-bulunya sudah mulai lengkap maka anak-anak burung itu mulai keluar dari sangkar dengan pengawasan ketat dari induknya. Selang beberapa hari anak-anak burung itu akan mulai belajar terbang. Selama masih belajar terbang, selalu ditemani oleh induknya kemanapun anak-anak itu hinggap. Hingga saatnya anak-anak burung itu sudah dianggap mampu untuk mandiri maka “disapih” oleh induknya dan tidak boleh lagi masuk ke sarang induknya. Mereka harus membangun sarang sendiri.
 
Induk burung-burung itu tahu persis kapan anak-anaknya harus berpisah dengan dirinya. Saya melihat ketika anaknya mulai diusir dan dilarang masuk berarti anak-anak itu sudah disapih. Dan saat itu anak-anak burung itu berjuang untuk mendapatkan sarang. Selama belum mendapatkan sarang anak-anak burung itu akan tidur di ranting-ranting yang ada di kandang itu. Tidak jarang anak-anak burung itu harus berkelahi dengan burung lain untuk mendapatkan sarang dan makanan.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes, Tuhan Yesus akan kembali ke pada Dia yang telah mengutusNya. Ia pergi dan akan mengutus Roh Penghibur untuk menemani dan menjaga para muridNya. Ia pergi karena melihat bahwa para muridNya sudah mampu untuk berjuang sendiri. Yesus seolah “menyapih” para muridNya agar lebih berkembang dalam hidup berimannya. “namun benar yang Kukatakan kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang kepadamu; sebaliknya jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”
 
Bagaimana dengan aku? Adakah aku menjadi semakin dewasa dalam hidup beriman?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia. 

Kegiatan CLC-DI-YOGYAKARTA

Undangan Acara CLC Senin Ke Dua

Kami mengundang semua sahabat CLC untuk duduk bersama Romo Gerardus Hadian Panamokta, Sj (Romo Okta) dengan judul ” Menurutmu itu cinta? Tunggu dulu!
Refleksi relasi orangtua, remaja dan gereja.

Acara kami selenggarakan pada:
Senin, 10 Mei 2021
Pukul 6 sore (18:00)

Link Zoom akan dibagikan sebelum acara.
CP: Putri (CLC Yogyakarta)

Berkah Dalem
CLC di Yogyakarta

Renungan Harian : 10 Mei 2021

Renungan Harian
Senin, 10 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 16: 11-15
Injil: Yoh. 15: 26-16:4a

Allah yang Kukenal

Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami situasi yang amat mencekam, ketika sekelompok orang dari kelompok garis keras mendatangi kapel di stasi dan menuntut agar kapel itu ditutup. Situasi amat mencekam karena mereka berteriak, marah-marah, dan tidak bisa diajak berdialog. Mereka datang dengan tujuan bahwa kapel itu harus tutup.
 
Saya ingat persis bahwa pada saat itu aparat keamanan yang datang bukan membubarkan mereka tetapi justru meminta saya agar menyetujui kapel itu ditutup agar situasi menjadi kondusif. Bagi saya pribadi tidak pada situasi tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui. Seandainya saya tidak menyetujui kapel pasti dirusak, dan yang lebih berbahaya adalah umat di sekitar kapel akan mengalami tekanan.
 
Sudah barang tentu situasi ini amat memprihatinkan, apalagi sampai sekarang kapel itu tidak bisa digunakan.
 
Sikap seperti sekelompok orang yang radikal itu, pernah juga terjadi di dalam Gereja. Pada masa lalu Gereja pernah berpandangan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya ada dalam Gereja, sehingga mereka yang di luar Gereja harus dibuat bertobat dan masuk menjadi anggota Gereja. Dalam prakteknya tidak jarang usaha-usaha semacam itu menggunakan sarana kekerasan.
 
Sikap-sikap semacam itu ada banyak contoh di dalam agama apapun. Semua meyakini bahwa apa yang telah dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan adalah cara untuk memuliakan Allah yang diimaninya. Semua tindakan itu diyakini menghasilkan anugerah bahkan jaminan keselamatan. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa mereka yang bertindak semacam itu melakukan dengan penuh kebanggaan.
 
Menarik sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes. Yesus bersabda: “Bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat baik bagi Allah. Mereka berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.”
Sabda Tuhan bahwa mereka berbuat demikian karena mereka tidak mengenal Allah. Maka pertanyaannya adalah pengenalan akan Allah macam apa yang diyakininya. Demikian pun dalam skala kecil ketika aku menghina dan merendahkan kepercayaan dan keyakinan lain, pertanyaan yang sama tetap berlaku Allah mana yang kukenal dan kuyakini.
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian : 9 Mei 2021

Renungan Harian
Minggu, 9 Mei 2021
Minggu Paskah VI

Bacaan I: Kis. 10: 25-26. 34-35. 44-48
Bacaan II: 1Yoh. 4: 7-10
Injil: Yoh. 15:9-17

Para Penyembah Allah

Beberapa waktu lalu jagad dunia maya dihebohkan dengan berita tentang Paul Zhang. Dia seorang yang mengaku pendeta yang lewat kanal youtube-nya telah menghina agama Islam dan umat Islam. Cara bicaranya yang ceplas ceplos cenderung kasar sehingga banyak orang yang merasa terhina dengan pembicaraannya. Sekarang Paul Zhang menjadi buron Kepolisian Indonesia dan bahkan Interpol.
 
Sebaliknya ada juga orang-orang yang mengaku Ustad dan menghina agama Kristen. Beberapa diantaranya mengaku mantan pastor bahkan lulusan universitas Vatikan yang dalam ceramahnya merendahkan agama Kristen. Tetapi beberapa orang itu sampai sekarang tidak pernah diburu Kepolisian Indonesia.
 
Fenomena orang-orang beragama yang merasa bahwa agamanya yang diyakininya adalah agama yang paling benar dan paling baik  semakin marak. Sudah barang tentu adalah hal yang wajar dan sah bahwa orang merasa bahwa agama yang diyakini sebagai agama yang paling baik dan paling benar; namun amat disayangkan bahwa untuk menunjukkan bahwa agama yang diyakini sebagai agama yang paling baik dan paling benar dengan cara menjelekkan agama dan kepercayaan lain. Hal itu diperparah dengan adanya tekanan-tekanan yang menyebabkan orang yang berkeyakinan berbeda sulit untuk menjalankan agama dan keyakinannya.
 
Tantangan besar bagi semua umat manusia adalah hidup dalam damai dalam perbedaan keyakinan. Hidup dan hayatilah bahwa agama dan keyakinan yang dipilih adalah sarana terbaik untuk mendekatkan diriku pada Allah, dengan menghargai bahwa ada orang lain yang memilih agama dan keyakinan yang berbeda.
 
Betapa mengerikan bahwa Allah yang diimani dan disembah adalah Allah yang penuh kasih, Allah yang murah hati tetapi para penyembahNya justru bertikai, saling menghina dan menyingkirkan, jauh dari kasih. Bukankah Allah yang diimani dan disembah oleh agama dan keyakinanku serta yang diimani dan disembah oleh agama dan keyakinanmu adalah Allah yang Esa, Allah yang menciptakan bumi dengan segala isinya? Bukankah agama,keyakinanku dan  agama, keyakinanmu cara mewujudkan iman dengan berbagi kasih, hidup baik dan benar? Kita memang berbeda dalam mengungkapkan iman kita: cara berdoa, cara beribadah dan sebagainya.
 
Andai semua dari kita sadar bahwa sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan orang. Andai kita sadar bahwa setiap orang dari bangsa manapun, dengan agama dan keyakinan manapun yang takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada Allah.
Sebagaimana diwartakan dalam kisah para Rasul: “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Setiap orang  dari bangsa manapun yang takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku bagian dari orang yang sudah sadar?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.

Renungan Harian: 8 Mei 2021

Renungan Harian
Sabtu, 08 Mei 2021

Bacaan I: Kis. 16: 1-10
Injil: Yoh. 15: 18-21

Susah Menjadi Orang Baik

Dalam sebuah perjumpaan dengan seorang teman, dia mengatakan betapa susahnya untuk menjadi orang baik. Dengan bercanda saya mengatakan seandainya jadi orang baik itu gampang maka dunia ini sudah penuh dengan orang baik. Teman saya tertawa terbahak dan mengatakan:
“Betul juga ya. Tetapi maksud saya begini mo.
Romo tahu bahwa saya adalah mantan pecandu. Untuk sungguh-sungguh keluar dari situasi itu amat sulit. Dulu saya pernah cerita pergulatan pribadi saya untuk tidak memakai obat-obatan lagi. Namun selain hal itu saya mengalami saya dijauhi bahkan dibenci oleh teman-teman main dan kongkow saya. Mereka menganggap bahwa saya menjadi berbahaya bagi mereka. Mereka menjadi curiga dengan saya, jangan-jangan saya menjadi informan polisi yang akan menangkap mereka. Mereka teman-teman main saya sudah puluhan tahun. Dengan saya berhenti menjadi pemakai, saya seperti diasingkan oleh teman-teman. Saya gak punya teman lagi mo.
 
Ok, saya dijauhi oleh teman-teman main karena mereka menganggap saya sudah berbeda dari mereka karena sudah bukan pemakai lagi; tetapi ketika saya mau terlibat di Gereja juga susah. Semua orang memandang saya seperti orang yang menjijikkan dan harus disingkiri. Mereka beranggapan bahwa saya seperti orang kusta yang akan menularkan penyakit kusta kepada mereka. Bahkan ketika pastor paroki memberikan kepercayaan kepada saya untuk melakukan suatu tugas, banyak orang protes dan meminta pastor paroki agar membatalkan tugas yang diberikan kepada saya.
 
Apa iya sih mo, orang seperti saya ini harus hidup sendiri menyepi dan kesepian? Apa iya saya ini sudah tidak layak lagi di masyarakat dan Gereja? Saya mengakui dan menyadari bahwa saya ini dulu pecandu dan banyak dosa, tetapi saya sekarang berjuang untuk hidup baik. Itu mo kenapa saya bilang susah mau menjadi orang baik. Jujur lebih gampang kalau saya  kembali menjadi pemakai, teman-teman saya amat “welcome”.”
 
“Iya memang sulit bro untuk menjadi orang baik. Tantangan dan penderitaan setiap orang berbeda-beda dalam usaha menjadi orang baik. Ketika saya berbeda dengan yang lain, tidak usah bicara soal benar dan tidak benar, baik dan tidak baik,  itu saja sudah merupakan kesulitan dan bisa menimbulkan penderitaan bagi diri kita, apalagi menyangkut suatu kebenaran dan kebaikan.
 
Dirimu sudah memilih untuk hidup lebih baik, melepaskan diri dari obat-obatan, dan mau masuk dalam komunitas Gereja agar dapat semakin dekat dengan Allah. Pasti dirimu akan mengalami pergolakan dan tantangan yang luar biasa. Kalau ngomong rohani, setan tidak akan terima ada sahabatnya yang meninggalkan dirinya. Bro, jangan melihat bagaimana orang memandang dirimu, tetapi hidupi jalan baru yang sudah kamu pilih, tekuni jalan itu. Jangan berpikir apa yang bisa kamu terima, jangan berpikir akan menjadi begini dan begitu. Jalani dan tekuni pilihan hidupmu itu, sebagaimana yang bilang bahwa dirimu ingin dekat dengan Tuhan. Pilihan hidupmu adalah dekat dengan Tuhan, jadi tujuannya jelas dekat dengan Tuhan, bukan dengan pastor, bukan dekat dengan aktivis Gereja, atau siapapun. Jalani dan hidupi pilihan-pilihan yang membuat dirimu semakin dekat dengan Tuhan, meskipun jalan itu tidak mudah bro. Tuhan tidak kehabisan rahmat untuk itu,” jawab saya untuk meneguhkan teman.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam injil Yohanes: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu.”
 
 Bagaimana dengan aku? Adakah aku mau tekun berjuang untuk hidup lebih baik?
 
Iwan Roes RD.

Anda juga bisa membaca Renungan Harian melalui akun Instagram CLC Indonesia. Silakan kunjungi dan follow Instagram CLC Indonesia.